Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Di Bandara Ada...



Pria misterius yang merindukan Eneng benar-benar kecewa karena kehilangan jejak langkah eneng. Namun ingatannya tertuju kepada Salsa. Karena dia yakin Salsa pasti tahu dimana Eneng tinggal sekarang. Dan sebelum berangkat kesini, Salsa pernah memberitahu jika dia akan kembali ke tanah air karena ada acara dan juga merindukan Eneng.


Besok Salsa akan kembali. Dan dia sudah janji akan menjemput Salsa di bandara. Dia memilih kembali kedalam restoran.


"Loe kenapa kok langsung lari"


"Gue melihat dia melintas. Tapi sayang gue gak bisa ngejar dia"


"Move on dong. Kayak gak ada perempuan lain saja"


"Banyak perempuan lain tapi gak ada yang seperti dia"


"Loe balik ke apartemen apa rumah"


"Apartemen dulu saja. Rumah gue belum sempat dibersihkan"


"Ya sudah yuk balik"


"Oke. Gue juga masih jetlag"


Pria misterius itu pergi meninggalkan mall bersama temannya. Rasa lelah sudah mendera. Ingin rasanya segera merebahkan badan diatas kasur yang empuk.


.


.


.


Dirumah Jay sedang sibuk mengemasi barang-barang yang akan dibawa. Jay sengaja mengajak Eneng karena hanya Eneng yang bisa menangani kelakuan si kembar. Dan pastinya karena Afnan yang sudah cocok dengan masakan Eneng. Bahkan Afnan meminta dibawakan petai dan jengkol serta ikan asin dalam jumlah yang banyak. Dan satu yang harus ada. Terasi udang.


"Neng. Barang-barang bawaan kamu sudah siap belum"


"Sudah nyah"


"Bawa ke depan biar dimasukan bagasi mobil sekalian. Jangan lupa siapkan baju yang mau kamu pakai besok"


"Iya sudah nyah"


Eneng mengambil kopernya dan menaruh didalam bagasi mobil. Dia kembali kedalam rumah membantu si kembar yang belum selesai mengemasi barang.


"Abang Arsya mau bawa mainan"


"Gak usah dek. Besok beli saja disana. Jangan kayak orang gak punya duit dek"


"Baiklah"


Eneng sudah terbiasa dengan bahasa ya g digunakan si kembar. Si kembar tidak berkata demikian untuk merendahkan orang melainkan untuk membujuk Arsya agar barang yang mereka bawa tidak begitu berat.


"Neng. Besok loe satu tempat duduk sama kita ya"


"Lah emang tempat duduknya pisah mas"


"Gak tau juga. Daddy milihin tempat duduk dekat gak"


"Ya kalau gak bisa dekat gampang mas. Eneng bawa tikar saja. Kita duduk lesehan"


"Loe kira naik mobil pick up neng. Didalam pesawat mau lesehan. Gak sekalian makan lesehan didalam pesawat neng"


"Ide bagus. Nanti neng bawain termos nasi buat serumah"


"Iya lauknya semur jengkol. Sambel goreng petai sama sambal terasi ikan jambal"


"Cucok"


"Belum sempat makan loe dilempar dari atas pesawat lewat jendela neng"


"Kok gitu"


"Mereka langsung mual neng hirup aroma makanan kamu"


"Padahal jengkol dan petai itu makanan terendes. Nyatanya paman bule doyan"


"Uwak bule mah kelainan neng"


"Hahaha. Gapapa kelainan yang penting ganteng dah gitu badannya pengen diperlukin"


"Loe neng paling kalau lihat anak monyet dipakein jas, loe juga bakal meluk"


"Monyet mah beda mas. Masa monyet disamain sama paman bule"


"Berani loe neng"


"Gak lah mas. Langsung melotot tuh mata indah paman bule. Kan kasian Eneng bisa pingsan nanti"


"Hmm"


Akhirnya barang-barang si kembar sudah siap. Mereka tinggal menunggu Ghaydan datang. Karena setelah pulang dari mall, Ghaydan dijemput kedua orangtuanya. Dan baru malam ini diantar kembali kerumah Jay.


Pagi menjelang. Sang fajar sudah menampakkan semburat keindahannya. Eneng sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga Malik. Tak lupa sebelum berangkat, mereka akan mengunjungi kediaman kakek Alfatir untuk berpamitan.


"Neng sarapan sudah siap belum"


"Sudah semua nyah"


"Maaf saya gak sempat bantu"


"Gapapa nyah"


"Ya sudah tunggu yang lain kumpul kita langsung sarapan. Terus kerumah papanya suami saya"


"Iya nyah"


Semua keluarga berkumpul. Mereka sarapan bersama. Karena keluarga ini akan pergi dalam waktu yang lumayan lama, Jay memberikan uang makan kepada pegawai yang bertugas menjaga rumah.


Mereka akhirnya berangkat menuju kediaman kakek Alfatir. Disana sudah ada Aidil yang menunggu. Selama Eneng bekerja dirumah Jay, Eneng jarang bertemu Aidil. Kesan pertama bertemu Aidil. Eneng pingsan. Mereka hanya berpamitan saja, dan langsung berangkat menuju bandara. Awalnya mereka akan berangkat malam. Namun si kembar ingin berangkat pagi saja.


Rombongan Eneng sudah tiba dibandara. Kehebohan terjadi karena Eneng baru pertama kali masuk kedalam bandara.


"Wah mas ini kok kayak hotel. Terus pesawatnya masuk lewat mana mas"


"Ya lewat jalan neng"


"Emang pintunya muat"


"Gue gak mau jelasin pusing. Nanti loe lihat sendiri gimana caranya pesawat masuk"


"Asyiap"


Mereka masuk kedalam bandara untuk check in. Eneng yang membawa barang bawaan miliknya dan anak asuhnya dibantu oleh si kembar dan Ghaydan yang mendorong troli.


Salsa baru keluar dari pintu kedatangan. Dan seseorang sudah menunggu diluar bandara. Eneng Kembali ke mobil untuk mengambil barang yang tertingal. Ghaydan menyusul enneg karena topi kesayangannya juga tertinggal.


"Loh kok nyusul mas"


"Topi gue tertinggal neng"


"Oh ya sudah. Eneng tungguin"


Dari arah berlawanan Salsa berjalan bersama Panji dan pria tampan pemuja Eneng. Eneng berdiri menghadap kedalam dan tak lama Ghaydan bergelayut manja kepada Eneng. Eneng merangkul pundak Ghaydan.


"Neng gue ngantuk. Nanti dipesawat loe duduk didekat gue ya neng"


"Iya. Rebes asal mas kembar gak marah"


"Ck. Loe gitu neng. Gak sayang sama Atha"


"Sayang dong. Iya nanti bobok dipeluk Eneng"


"Beneran ya"


"Iya"


Salsa dan rombongan berjalan disaat bersamaan Eneng juga akan kembali masuk kedalam bandara. Salsa berhenti karena dia yakin jika yang dilihat adalah Eneng. Salsa spontan berteriak.


"Eneeenggggg"


Karena merasa namanya dipanggil Eneng berhenti dan menoleh. Eneng tersenyum sekaligus kaget melihat siapa yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Salsa berjalan perlahan karena sedang mengandung. Panji menuntun salsa. Sedangkan seorang pria tampan yang tak percaya ada eneng dihadapannya, masih diam mematung.


"Eneng gue kangen"


"Non. Non Salsa balik"


"Iya neng. Gue kangen loe"


"Eneng juga"


Mereka masih berpelukan. Tak lama si kembar datang memanggil Eneng karena mereka harus segera Chek in.


"Neng ayo masuk. Daddy sudah nunggu"


"Iya mas bentar"


Salsa menatap si kembar dan Ghaydan. Banyak pertanyaan ingin diucapkan. Namun belum sempat Salsa bertanya, Eneng sudah berpamitan.


"Non maaf. Eneng harus segera berangkat. Majikan Eneng sudah nunggu didalam"


"Kamu mau kemana neng"


"Eneng ikut majikan ke Jerman non"


"Apa kamu ke Jerman"


"Iya non"


"Lama kamu disana"


"Belum tau"


Arash yang sudah tidak sabar langsung menarik Eneng.


"Ayo buruan. Gak jadi Arash ajak main nanti"


"Iya mas"


"Maaf ya non, mas panji Eneng pergi. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Neng"


Eneng melambaikan tangannya masuk kedalam bandara. Seseorang yang masih diam terpaku, dia langsung berlari untuk mengejar Eneng. Bahkan dia sempat berteriak memanggil Eneng. Namun terlambat Eneng sudah masuk lorong menuju pesawat.


"Eneng. Tunggu neng. Jangan pergi neng"


Eneng masih bisa mendengar langsung menengok. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan.


"Akang"


"Eneng jangan tinggalin aku neng. Neng"


Si akang tampan meminta ijin untuk bisa masuk area bandara, namun tetap tidak diijinkan. Dia menangis karena Eneng pergi. Banyak pengunjung bandara melihat adegan itu. Panji berusaha menenangkan pria tersebut dan mengajaknya pergi. Agar tidak menjadi tontonan.


_____________


Maaf ya Mak othor memang pindah ke lapak lain. Tapi untuk Rashsya dan Eneng masih disini. Dilapak Sono ada cerita lain. Disini sangat mengecewakan 😂😂😂


Jangan lupa bahagia gaesss


jempolnya digoyang yuk