Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Celengan Rindu



Eneng sudah satu bulan di Jerman. Rumah Reino menjadi ramai. Sebenarnya Eneng bukan pertama kali bertemu Afnan ataupun Reino. Selalu saja penyakit lama kambuh. Pingsan lagi. Kali ini mereka tertawa melihat Eneng pingsan bukan lagi panik. Itu belum bertemu Alex. Entah apa jadinya jika Eneng bertemu Alex. Bisa kejang mungkin.


Setiap hari selalu saja ada orkes dadakan dirumah Reino. Dan siapa lagi pelakunya jika bukan Eneng. Afnan berasa kenikmatan surga ketika Eneng di Jerman. Setiap hari menu sambal terasi dan ikan asin selalu terpampang jelas di atas meja. Entah mengapa Afnan tak pernah merasa bosan dengan menu itu.


"Neng"


"Ya tuan"


"Bikinin nasi uduk"


"Okay"


Mendengar pamannya meminta makanan khas tanah air membuat Rashsya semakin mengoloknya. Apalagi Afnan memang bule yang hanya bisa makan dengan nasi. Jarang bisa makan roti ataupun gandum.


"Tampang bule. Mata abu. Lidah kampung"


"Heh. Lidah uncle ini bukan kampung. Tapi mencintai produk dalam negeri"


"Emang uwak dibikin di dalam negeri"


"Ya nggaklah impor punya"


"Bang. Mungkin waktu pembagian lidah, uwak kehabisan tiket ngantri bagian luar negeri. Jadi dapatnya dalam negeri"


"Bisa jadi ars. Dan parahnya si uwak ambil antrian penyuka terasi"


"Iya. Kasian kasian"


"Bisa gak kalian sehari saja tidak mengolok uncle. Dan panggil uncle not uwak"


"Tidak bisa"


Rashsya pergi meninggalkan Afnan yang sedang jengkel dengan kedua ponakannya itu. Mereka selalu menolak jika diminta memanggil uncle. Dan Afnan merasa heran pada dirinya sendiri, karena begitu mudahnya ditindas anak kecil.


Eneng sudah menyelesaikan pesanan Afnan, dan sudah dirapikan diatas meja. Selama di Jerman, Eneng hanya berbicara kepada si kembar, Ghaydan dan keluarga si kembar saja. Karena kebanyakan maid Afnan orang Jerman.


Pernah mereka mencoba mengajak eneng ngobrol. Karena gak paham Eneng cuma asal jawab. Yes yes. No no. Maid Afnan pusing sendiri lama-lama sama tingkat Eneng. Setiap bertemu atau berpapasan dengan eneng mereka hanya saling mengangguk saja.


"Tuan Afnan nasi uduknya sudah siap"


"Wokey"


Afnan langsung melejit kemeja makan. Bahkan keluarga lain belum ada yang masuk ruang makan, Afnan sudah lebih dulu mengambil makanan.


"Nikmat mana lagi yang kau dustakan Afnan. Cucok bener deh"


Salah satu maid Afnan yang mendengar Afnan berkata dalam bahasa gaul di Indonesia hanya bisa menatap bengong. Bahkan entah sudah piring Keo berapa Afnan makan nasi uduk.


.


.


Di tanah air, seseorang semakin galau. Pujaan hatinya masih berada di Jerman. Dia sangat menyesal karena saat bertemu di bandara hanya bisa mematung saja. Jika saat itu dia langsung memeluk Eneng, kemungkinan Eneng tidak akan pergi ke Jerman.


"Neng kapan kamu pulang. Apa kamu masih mengingatku neng"


Dia duduk di balkon kamarnya sambil menatap foto lama mereka.


"Kamu semakin cantik neng. Semakin gak sabar aku ingin melamar kamu. Aku gak peduli kamu sudah janda atau masih menjadi tunangan pria itu. Kamu harus menjadi milikku neng"


Semoga apa yang dirasakan pria itu bukanlah obsesi semata. Hidup diluar negeri selama lima tahun, tidak banyak merubah sifat dan kebiasaannya. Walaupun beberapa kali dekat dengan wanita, namun hatinya selalu ingin bersama Eneng. Bahkan mereka tidak pernah berkomunikasi lagi setelah kepergiannya keluar negeri kala itu. Dia hanya menanyakan kabar melalui Salsa.


Namun setelah Salsa juga memutuskan untuk berpindah negara, semakin sulit baginya mengetahui kabar Eneng. Dia menjadikan keadaan tersebut untuk melupakan Eneng, namun sayangnya tidak berhasil. Batinnya semakin tersiksa. Semakin dia ingin melupakan . Semakin besar tekadnya untuk mendapatkan hati Eneng.


"Apa gue susul saja dia ke Jerman ya"


"Tapi gue gak tau dimana dia tinggal. Dan juga gue baru masuk kerja lagi disini, gak bisa seenaknya cuti"


"Kalau gue harus bersabar lagi, sampai kapan kamu pulang neng. Kangen banget"


Dia mengusap foto dilayar ponselnya. Dibalik keolengan Eneng, terpancar ketulusan yang tidak pernah dia temui dari gadis manapun. Baginya status bukan menjadi penghalang. Keluarganya tidak pernah sekalipun menentukan pasangan dari status sosial. Cukup seiman.


"Sepertinya aku harus kembali menabung rasa rinduku ini neng. Dan pasti akan kita pecahkan bersama celengan rindu ini. Aku sangat merindukanmu neng"


Back to Jerman....


Hei, sayangku


Hari ini aku syantik


Bidadari di hatimu


Hei, sayangku


Perlakukanlah diriku


Seperti seorang ratu


Kuingin dimanja kamu


Hei, sayangku


Hari ini aku syantik


Bidadari di hatimu


Hei, sayangku


Perlakukanlah diriku


Seperti seorang ratu


Kuingin dimanja kamu


Emang lagi manja


Lagi pengen dimanja


Pengen berduaan dengan dirimu saja


Emang lagi syantik


Tapi bukan sok syantik


Syantik-syantik gini hanya untuk dirimu


Eneng bernyanyi sambil memegang gagang sapu seolah mikrofon. Bahkan dia bergoyang heboh. Arash membawakan MP3 portable dari Jakarta. Dan speaker alat musik tersebut lumayan keras walaupun bentuknya kecil. Afnan yang melihat Eneng berjoged, langsung tertular.


Afnan dan Eneng berkolaborasi bernyanyi dan berjoged. Jojo yang melihat suaminya menggila semenjak kedatangan Eneng. Hanya bisa menepuk jidat saja. Sedangkan Arjuna, bersikap seolah tak mengenal Afnan jika Afnan berjoged diteras depan.


"Jay. Boleh Daddy Rei tanya"


"Apa dad"


"Darimana. kamu menemukan makhluk langka kayak Eneng"


"Gak sengaja nemu diperempatan dad"


"Kamu kira uang koin jatuh Jay. Aku saja bingung Rei darimana nih anak bisa nemuin Eneng. Amazing banget"


"Benar banget. Rumah jadi rame. Boleh gak ditinggal disini Jay"


"Daddy ijin sama si kembar lah. Hak paten Eneng ada sama si kembar. Jay mah bagian pembayaran saja"


Kehebohan semakin menjadi kala Ghaydan ikut bergoyang ngebor. Entah berawal dari mana, Jay ikut tersetrum. Dan si kembar pun sama mereka memainkan alat musik buatan dadakan yang ada dirumah Reino. Silma yang melihat peralatan rumah tangganya digunakan sebagai alat musik, langsung protes.


"Ya Allah. Itu ember baru kemarin beli udah mau kalian hancurkan saja. Rugi bandar ini"


"Oma. Jangan kayak orang tipis aja. Ember berapa harganya. Gak sanggup beli, biar kami belikan sama pabriknya"


"Sombong amat kayak bapaknya"


"Jay kenapa harus bawa orkes keliling ke Jerman sih. Bikin rusuh saja"


"Oma jangan ngomel melulu. Keriput tambah banyak. Biaya operasi plastik mahal. Kecuali kalau bawa plastik sendiri"


"Nih anak benar-benar ya. Oma gemes sama kalian. Pengen nyubit pasti Daddy kalian ngamuk. Gak dicubit kalian menyebalkan"


Reino memeluk Sukma sambil tertawa. Dia tau istrinya bukannya marah keoada cucunya itu. Hanya saja begitulah cara Silma mengungkapkan rasa sayangnya kepada cucunya.


Kejutan tak terduga terjadi. Alex dan Nana serta si kembar Dito dan Dipta datang. Ini pertama kali Eneng bertemu langsung dengan Alex.


"Assalamualaikum gaesss"


"Waalaikumsalam. Grandpa"


"Hai boy. Apa kabar kalian"


Alex mendekap si kembar dan Ghaydan. Tak lama si kembar D juga menghampiri sepupunya. Mereka saling berpelukan. Ingat ada seseorang yang sudah berdiri mematung tanpa bisa bergerak. Alex tanpa sengaja menatapnya dan tersenyum.


Bugh....


"Jay kenapa dia kejang-kejang begini. Cepat panggil ambulance. Apa dia mengusap epilepsi Jay"


"Dia baik-baik saja. Dan harusnya Daddy Alex tidak tersenyum kepada dua tadi"


"Loh kenapa"


"Karena senyummu membunuh kewarasannya"


"Hah"


_______


Ayo kita pecahkan bersama akang...😂😂


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk gaesss