Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Dr. Gama



Pria muda itu masih mengikuti Salsa dan Eneng hingga didepan gerbang rumah salsa. Eneng mendorong perlahan kursi roda tersebut hingga masuk kedalam ruang tamu rumah salsa. Didalam seorang dokter tampan telah menunggu salsa.


"Assalamualaikum wahai penghuni surga. Eneng pulang"


"Waalaikumsalam. Kok lama nak"


"Iya pap. Tadi keasyikan main ditaman"


Seila melihat seorang dokter sedang meminum teh hangatnya. Salsa langsung memanggil dokter tampan itu.


"Kak Gama. Sudah lama"


"Hai sal. Belum lama kok. Wah sekarang lebih ceria ya"


Gama berdiri mendekat kearah salsa, dan berjongkok dihadapan salsa. Dia mencoba memukul pelan lutut salsa. Salsa yang terkejut dan reflek kakinya bergerak.


"Auw"


"Reflek yang bagus. Tinggal latihan saja. Kamu akan segera kembali normal Sa"


"Makasih kak"


Mereka melupakan seseorang yang sudah berdiri mematung dibelakang salsa dan gama. Mulutnya yang menganga dan mata melotot kearah gama. Gama yang melihat seseorang yang menurutnya aneh itu langsung bertanya kepada salsa.


"Sa, dia siapa"


Salsa dan papinya menoleh kearah Eneng. Papi salsa langsung tertawa melihat reaksi eneng melihat gama.


"Oh dia Eneng, perawat baru aku kak"


"Hahaha. Neng mingkem dong. Baru lihat yang bening langsung sinyalnya ilang dia"


Salsa menepuk jidatnya melihat kelakuan Eneng. Gama berjalan mendekat kearah Eneng untuk berkenalan.


"Hai saya Gama"


Eneng hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya saja. Bahkan uluran tangan gama tidak dibalasnya. Gama yang bingung mencoba bertanya kepada salsa.


"Dia kenapa sih. Tuna wicara apa"


"Dia mah suka gitu kak. Kalau lihat orang tampan. Semoga aja gak pingsan"


"Bisa gitu ya"


"Coba aja kalau gak percaya. Kakak pegang tangannya"


Gama mengikuti saran salsa. Dia langsung meraih telapak tangan Eneng dan kembali memperkenalkan diri.


"Hai saya Gama. Salam kenal ya Eneng"


Eneng tersadar saat tangan gama menjabatnya erat. Tatapan Eneng beralih pada kedua tangan mereka yang saling bertautan. Tiba-tiba....


"Aa Minho. Akhirnya kamu datang untuk melamar ku"


Bukan hanya gama, papi salsa langsung kaget mendengar perkataan aneh Eneng. Salsa langsung tanggap dengan maksud Eneng"


"Eneng dia bukan Lee Minho. Dia gama"


"Maksudnya dia apa sih sa"


"Eneng mengira kakak aktor Korea idolanya. Yang katanya mau jadi suami Eneng"


Gama dan papi salsa langsung tertawa mendengar penjelasan salsa. Eneng yang mengagumi ketampanan gama langsung mendekap erat tangan gama.


"Aa Minho ayo kita kawin"


"Hahaha. Sadar neng. Saya Gama dokternya salsa. Bukan Lee Minho"


"Oh Aa ayo kita ke KUA"


Tawa papi salsa semakin menjadi. Mendengar suaminya tertawa menggelegar, mami salsa langsung keluar dari kamarnya.


"Ada apa sih kok kayaknya kalian seru banget"


"Ini loh mam, si gama diajak ke KUA sama Eneng"


"Kok bisa"


Salsa menceritakan apa yang terjadi sehingga membuat Eneng tiba-tiba akan membawa gama ke KUA. Mami salsa hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Eneng.


"Eneng saya gama. G-A-M-A. Gama. Bukan Lee Minho. Saya orang Indonesia bukan Korea"


"Gapapa lah kawe kawe yang penting ganteng kayak babang Minho"


"Om bantuin gama dong"


Eneng berjalan mendekati arah gama. Belum juga papi salsa mengucapkan satu kata, Eneng sudah pingsan saat bisa menatap wajah gama dengan sangat dekat.


Brught


"Eneng"


"Loh kok malah pingsan. Kamu apakan gam"


"Gama gak ngapa-ngapain om. Gama aja juga bingung"


"Apa dia pingsan karena mencium bau kak gama"


"Enak aja. Aku gak bau ya salsa"


"Ck Eneng mah ada-ada saja"


Geulis sedang membawa tumpukan pakaian yang sudah rapi milik majikannya. Saat melintas diruang tamu, dia melihat Eneng pingsan langsung meletakkan keranjangnya dan mendekati eneng.


"Iya Lis. Tapi gue gak tau kenapa dia pingsan. Tiba-tiba aja jatuh"


Geulis mengamati dengan seksama. Apakah benar eneng pingsan sungguhan atau pura-pura. Namun Gama langsung mengatakan jika Eneng benar-benar pingsan bukan pura-pura.


Geulis baru sadar Eneng masih memegang telapak tangan gama. Dan geulis sudah paham penyebab Eneng pingsan.


"Apa tadi sebelum pingsan, Eneng menatap wajah dokter dengan sangat dekat"


"Iya. Kenapa memangnya Lis"


"Huh pantesan. Dia gak kuat lihat wajah orang tampan. Pasti langsung pingsan"


"Whattt"


Baik keluarga salsa dan dokter gama, sama-sama kaget mendengar penjelasan geulis. Gama yang seorang dokter merasa aneh dengan apa yang dialami oleh Eneng.


"Maksudnya gimana Lis. Kok saya gak paham"


"Hem. Tapi dokter jangan ketawa ya"


"Iya"


"Jadi di desa kami itu minim pria tampan. Dan Eneng termasuk pemuja pria tampan. Bahkan saat saya bawa pacar saya pulang yang kulitnya kaya bule, Eneng langsung pingsan"


Pada kenyataannya Eneng pingsan melihat pacar geulis karena bule kampung.


"Hah ada yang kayak gitu"


"Ada. Ini buktinya dok"


"Terus obatnya gimana dong"


"Gampang. Serahkan saja pada geulis"


Geulis langsung mendekat kearah telinga Eneng dan membisikkan sesuatu. Seketika Eneng langsung membuka matanya.


"Neng japri nyariin loe tuh"


Melihat eneng langsung terduduk, membuat semua orang bingung. Apalagi Eneng tiba-tiba bertanya sesuatu yang Tek dimengerti.


"Mana teh. Dimana dia. Berani banget nyariin gue teh. Gue sunat otongnya baru nyahok dia"


"Tenang. Dia gak jadi kesini. Katanya diare"


"Huh. Untunglah"


Gama sebagai dokter, langsung mengeluarkan stetoskopnya untuk memeriksa kondisi eneng. Dan terjadi lagi..


"Neng buka dulu kancing baju kamu"


"Hah. Langsung tembak aja sih pak dokter. Kan Eneng malu. Masa disini"


"Terus mau dimana neng. Buruan buka kancing baju kamu neng. Apa harus saya yang membukanya"


Dengan pasrah Eneng tidur terlentang. Membuat gama semakin bingung saja. Bahkan salsa dan kedua orangtuanya juga sama bingungnya.


"Loh malah tiduran. Ayo buruan buka kancing baju kamu neng"


"Eneng pasrah. Mau diapain aja sok atuh mangga. Mau didepan banyak orang juga gak papa kok"


Suara Eneng dibuat secara seksi mungkin. Gama hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Eneng. Gama mendekati tubuh Eneng. Dia membuka satu kancing baju Eneng teratas. Eneng mencekal tangan gama sebelum melanjutkan membuka kancing dibawahnya.


"Dok. Pelan-pelan saja ya"


"Iya neng. Kamu tenang saja"


Gama melanjutkan membuka kancing baju kedua. Wajah Eneng memerah. Bahkan dia hanya senyum-senyum tak jelas. Gama pun membalas senyumannya.


"Neng saya masukin ya. Maaf kalau agak dingin"


"Duh dok. Gak pake pemanasan dulu"


"Memangnya badan kamu dingin neng, kok minta pemanasan"


"Kan kalau dipilem-pilem itu kan gitu"


"Itu kan dipilem-pilem neng. Sekarang kan prektenya langsung. Sudah siap"


"Oh siap dok. Siap bangetttt"


"Tahan ya. Saya akan pelan-pelan kok. Biar kamu gak kaget"


"Iya dok"


"Siap"


"Heem"


Sesuatu yang dingin menerpa kulit Eneng. Eneng yang memejamkan mata saat diperiksa malah berteriak.


"Emak eneng diperawani"


_______


Maaf ya kemarin eneng lagi jalan-jalan. Sekarang sudah balik


Jangan lupa bahagia gaesss


jempolnya digoyang yuk


Happy reading