Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Musuh Dalam Selimut



Setelah kejadian emak menghilang dadakan beberapa hari yang lalu, Airil benar-benar membelikan peralatan karoke. Eneng juga membuatkan warung didepan rumahnya. Setiap hari emak mengajak para tetangga untuk berkaraoke ria. Hiburan baru tersebut menjadi daya tarik baru dikampung tersebut.


Sedangkan hubungan Eneng dan Airil sudah banyak kemajuan. Airil mulai berani menampakkan sikap posesif dan manjanya. Setiap ada kesempatan, Airil selalu meminta Eneng membawakan makanan ke rumah sakit. Setiap Eneng datang kerumah sakit, selalu menjadi pusat perhatian. Apalagi Gama juga sudah kembali kerumah sakit yang sama dengan Airil.


Dan ada sesuatu yang baru dari Eneng dan Airil juga baru menyadarinya. Awalnya Airil takut. Tapi lama-lama dia terbiasa. Eneng bisa melihat makhluk halus dirumah sakit. Seperti biasa, karena Airil hari ini masuk malam. Airil meminta Eneng membawakan makan malam. Dibalik permintaannya itu. Airil memang memiliki maksud terselubung. Dia ingin berduaan dengan eneng.


Airil mengirim pesan kepada Eneng, menanyakan keberadaan Eneng. Karena sudah tiga puluh menit yang lalu Eneng mengatakan sudah berangkat menuju rumah sakit tempat Airil bertugas. Dan harusnya Eneng sudah sampai. Tapi sudah lebih dari tiga puluh menit Eneng belum juga datang. Gama yang berada diruangan Airil, menggoda sahabatnya.


"Panik amat loe"


"Eneng kok belum sampai juga ya gam"


"Udah loe telpon lagi belum"


"Gak aktif"


"Waduh gawat ril"


"Kenapa gam"


"Loe kan tau cewek loe itu ajib. Jangan-jangan dia lagi godain para perawat baru ril. Kan mereka cowok-cowok bening"


"Sialan loe gam. Kenapa gak ingetin gue dari tadi sih"


Airil langsung berlari meninggalkan ruangannya. Gama yang melihat Airil terbakar oleh perkataannya, langsung tertawa terbahak-bahak. Airil mencari dipotong yang mengarah keruangannya. Namun hasilnya nihil. Dia berjalan dengan tergesa. Saat berpapasan dengan dua orang perawat, Airil mencoba bertanya.


"Sus"


"Ya dok"


"Tadi lihat tunangan saya gak kesini"


"Loh bukannya tunangan dokter udah dari tadi datangnya. Kita sempat ketemu didepan tadi"


"Benarkah. Tapi dia gak keruangan saya sus"


"Coba cari ditoilet dok. Mungkin si mbak lagi ke toilet"


"Oh ya. Makasih sus"


Kebetulan memang Airil berjaga malam. Dan kondisi rumah sakit lebih sepi jika dimalam hari. Sebenarnya Airil tidak mau meminta Eneng mengantarkan makanan. Mungkin karena memang rindu tak bisa diatur. Dia sudah hampir satu minggu tidak bertemu Eneng. Karena jadwal operasi yang padat. Sambil terus mencari Eneng, Airil bergumam pelan.


"Sayang kamu dimana sih"


Airil melongokkan kepalanya setiap melewati persimpangan lorong. Berharap ada Eneng nyempil disalah satu sudut lorong.


"Kamu kecantol setan mana sih neng. Kok ngilang gini"


Airil sudah memeriksa toilet. Tapi tidak ada tanda-tanda Eneng berada disana. Airil berjalan menuju taman belakang. Mungkin Eneng ada disana begitu pikir Airil. Namun belum juga sampai taman, Airil mendengar orang sedang berbicara. Dan suara itu dia sangat kenal.


Airil berlari untuk mendekati suara yang terdengar sedang ribut tersebut.


"Ck. Makanya jangan ngesot melulu. Gak capek apa"


"Capek lah"


"Tau capek kenapa ngesot terus"


"Kan nama gue suster ngesot. Kalau nungging jadinya suster nungging. Gimana sih loe"


"Ck. Siapa sih yang ngasih nama loe. Gak bagus banget. Sengsara kan loe suruh ngesot melulu. Gak gepeng tuh slebor sebelah"


"Gak cuma gepeng kali. Udah lurus"


"Ya udah balik badan ngesot nya biar imbang"


"Gak bisalah. Kan setingan gue cuma searah"


"Hidup loe penuh setingan tan. Setan"


Airil hanya berdiri dibelakang Eneng sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Air memang hanya bisa mendengar suara Eneng saja.


"Wah wah ada dokter ganteng. Samperin ah"


Eneng menoleh kebelakang. Dan langsung tersenyum kepada Airil. Airil pun membalas senyuman Eneng. Pengen peluk takut kejang.


"Akang"


"Kamu disini sayang. Ngapain"


"Aduh kang. Jangan panggil sayang. Gak kuat Eneng"


"Hahaha. Biasakan dong. Ngapain disini"


Eneng belum jawab pertanyaan Airil karena melihat sisetan ngesot mendekati Airil. Eneng langsung menarik kaki setan itu.


"Heh jangan celamitan loe ya. Itu jatah gue"


"Halah bagi dikit napa"


"Loe minta bagi dikit. Boleh. Tapi ada syaratnya"


"Apaan"


"Loe harus bisa ganti posisi. Loe kan ngesot ngadep kiri tuh. Sekarang loe ganti ngadep kanan"


"Gak bisalah. Setingan gue udah gini"


"Gue juga gak bisalah bagi-bagi laki gue ke loe. Dasar setan"


"Manusia gendeng. Mending gue pergi ajalah. Pusing diisini"


Eneng langsung merangkul lengan Airil. Airil mengambil bungkusan bekal yang dijinjing oleh Eneng. Mereka berjalan menuju ruangan Airil. Beberapa kali berpapasan dengan perawat dan dokter jaga, mereka selalu digoda.


"Kamu tadi ketemu siapa sih kok lupa nyamperin akang"


"Tuh ada suster ngepel"


"Suster ngepel. Siapa"


"Itu yang suka ngesot dilantai. Kan sama aja ngepel dia kang"


"Dia ngapain gangguin kamu"


"Tadi pas Eneng turun dari mobil, tuh setan gendolin kaki Eneng. Dia kira Eneng takut. Sengaja eneng diam aja. Tiap ketemu belokan sengaja Eneng pentokin tuh setan. Bukannya dilepas malah ngumpatin eneng. Ya udah tadi Eneng ajak ribut aja kang"


"Hahaha. Tuh setan gak ngamuk neng sama kamu"


"Gak cuma ngamuk kang. Tadi dia pergi sambil bawa gendongan. Mungkin cari rumah sakit lain kang"


"Hahaha. Ada-ada saja kamu neng"


Setan aja sampai kabur gara-gara eneng, gimana dengan manusia. Stress kalau gak kuat bisa gelo kali ya.


Airil membawa Eneng keruangannya. Dan beruntung Gama sedang memeriksa beberapa pasien. Sebenarnya Gama tidak jaga malam, namun karena ada panggilan operasi mendadak jadilah Gama menemani Airil.


"Maaf kang lama ya Eneng datangnya"


"Tadi akang kira kamu kecantol perawat baru neng"


"Emang ada perawat laki baru lagi kang"


"Ada. Baru masuk kemarin"


"Ganteng gak ganteng gak"


"Gantungan aku neng. Awas ya matanya lirik-lirik"


"Dikit kang"


"Gak boleh"


"Yaelah kang. Hati eneng cuma buat akang. Lagian kan cuma cari pencerahan"


"Tuh lampu biar cerah"


"Ih gitu amat yak"


"Jangan cari musuh dalam selimut neng"


"Kalau dalam selimut bukan musuh kali kang"


"Itu kan istilah neng"


"Iya tau. Tapi kalau dalam selimut itu bukan musuh tapi patner"


"Patner apaan neng"


"Patner perang panas kang"


"Maksudnya"


"Gak usah sok polos deh kang. Masa gitu aja gak paham"


"Beneran ini karena lapar masih gak nyambung"


"Ituloh kang. Perang panas dalam selimut yang hanya dilakukan sepasang pria dan wanita. Bahkan kipas dan AC menyalapun akan kalah"


"Heemmm"


"Ealah. Ternyata dokter kalangan lapar bisa lemot juga ya"


"Ngejek kamu neng. Udah jelasin"


"Musuh. Uh ah uh ah. Jaran goyang jaran goyang"


Eneng sambil memperagakan gerakan jaran goyang. Airil mulai paham. Gayung pun bersambut.


"Sepertinya kekasihku ini sedang memancing belut yang tidur"


"Emang belut bisa tidur kang"


"Belut spesial. Hanya kamu yang boleh tau"


"Benarkah. Mana Eneng mau lihat"


"Belum saatnya sayang. Takut dosa"


Airil sudah berdiri didepan Eneng. Dia berbicara sambil berbisik ditelinga Eneng. Jarinya menyusuri pipi Eneng. Dengan sentuhan lembut. Dan ada apa dengan Eneng.


Bugh


"Lah kok malah kejang. Duh Gusti"


________


Hai..hai...maaf telat..ada sedikit insiden tadi


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempolnya digoyang yuk