
Hari yang mereka nantikan tiba. Tati datang dengan penuh keangkuhan. Berdandan dengan gaya sosialita ternama. Perhiasan mentereng dia pamerkan dihadapan para warga. Sudah seperti toko mas berjalan. Namun masih haus akan harta.
Japri juga sudah ada disana. Hanya Dzaky yang masih mereka sembunyikan. Tati bahkan berani menyewa pengacara. Entah suami atau kekasih Tati status pria yang saat ini duduk disamping Tati. Gayanya tak kalah mentereng. Mungkin bagi mereka berdua bergaya seperti itu akan menakuti Eneng dan Airil. Setan saja takut sama Eneng, apalagi cuma Tati.
"Karena semua sudah berkumpul, sebaiknya kita mulai saja. Agar tak mengulur waktu. Saya sibuk gak bisa buang-buang waktu"
Pria yang berada disamping Tati yang memulai pembicaraan. Semua pun sepakat. Apalagi ini cuma hal sepele ya g dibesar-besarkan.
"Oke kita mulai. Sekarang saya mau mendengarkan apa yang menjadi keluhan pihak Ibu Tati"
Arif sebagai penengah langsung ke pokok masalah yang mereka ributkan. Tati dengan lantang mengatakan apa yang diinginkannya. Termasuk mengambil kembali Dzaky. Semua hanya tersenyum tipis saat Tati beradegan sedih seolah dia dipaksakan berpisah dengan Dzaky.
"Untuk lebih adil. Saya persilahkan saudara Japri memberi tanggapan, selaku ayah kandung Dzaky"
Japri hanya tersenyum sinis tanpa terlalu banyak perkataan yang dia lontarkan. Hanya cukup dengan satu kalimat saja.
"Kita lihat siapa yang akan terbukti bersalah. Tidak perlu dengan drama"
Arif mulai menjelaskan semua duduk masalah antara Tati dan Japri. Dari awal mula pernikahan mereka terjadi hingga lahirnya Dzaky yang tidak pernah dianggap oleh ibu kandungnya sendiri. Bayi malang yang baru berusia beberapa jam saja sudah ditinggal pergi oleh ibunya.
Semua bukti dikeluarkan dari pihak Japri. Bahkan semua bukti biaya rumah sakit Japri masih lengkap dengan nominal yang jelas.
"Bukti ini masih kurang tidak buat loe Tati"
"Kalian pasti memalsukan ini semua kan. Gak mungkin semua warisan dari kakeknya Dzaky habis begitu saja. Kalian cuma menipu"
"Itu semua kwitansi asli. Dan silahkan konfirmasi ke pihak rumah sakit atau kepada orang yang membeli tanah dan sawah itu. Ada nomor ponselnya. Silahkan kalau mau buktikan"
Tati saling pandang dengan lelaki yang berada disampingnya. Mereka mengalihkan rencana. Mungkin dengan membawa Dzaky, Japri akan memberikan sisa harta yang ada. Itu pemikiran Tati.
"Jelas kalian gak sanggup kan buat membesarkan Dzaky. Jadi Dzaky mau gue rawat"
"Heh. Anda lupa nyonya Tati, siapa yang membubuhkan tanda tangan disurat perjanjian ini satu jam setelah Dzaky lahir"
Japri menunjukkan surat berisi pernyataan bahwa Tati tidak mau merawat Dzaky dan didalam surat itu juga tertera jika Dzaky bukalah anak Tati. Dan sepenuhnya hak asuh Dzaky berada ditangan Japri. Surat tersebut kuat karena dibubuhi materai oleh Tati. Karena semua sudah ada direncana Tati dulu. Dan sekarang menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
"Bagaimana. Anda masih ngotot mengambil Dzaky dan menanyakan dimana sisa harta saya"
Tati hanya bisa menelan ludahnya kasar. Kali ini Tati benar-benar sudah tidak bisa bergerak lagi. Semua rencana yang disusun diotaknya sudah tak ada gunanya. Menguap begitu saja. Karena kesal tak mendapat hasil yang diinginkan, teman pria Tati langsung pergi meninggalkan rumah Arif. Tati berusaha mengejarnya. Begitu juga pengacara yang Tati bawa.
"Alhamdulillah. Akhirnya semua selesai dengan cepat"
"Iya benar. Yang penting sekarang Dzaky sudah aman"
"Dokter Airil terimakasih. Selama ini anda dan eneg sangat menolong saya dan Dzaky. Maaf dulu sempat mau merebut Eneng dari anda"
"Seharusnya saya yang meminta maaf kepada anda. Karena saya , neng jadi berpindah hati. Hahaha"
"Sudah takdirnya. Kalian cukup jalani saja alurnya. Lakukan yang terbaik"
Arif menengahi perdebatan Japri dan Airil. Mereka masih tinggal dirumah Arif untuk sekedar mengobrol saja.
"Jap. Loe gak kepikiran cari ibu buat Dzaky"
"Ada kang. Biar gimanapun Dzaky pasti membutuhkan sosok seorang ibu"
"Sudah ada pandangan atau mau kita carikan"
"Sudah ada kang. Cuma belum yakin saja dia mau sama gue"
"Sudah coba ngomong ke orangnya langsung"
"Belum kang"
"Lah terus tau darimana loe kalau dia gak mau sama loe jap"
"Ya cuma nebak-nebak saja sih kang"
"Siapa sih gue penasaran deh. Gue juga berhak tau siapa calon ibunya Dzaky. Biar bagaimanapun gue juga ayahnya Dzaky"
"Iya nanti kang kalau sudah yakin. Gue pasti cerita kok"
.
.
Lagi-lagi dirumah Eneng sedang ada keributan. Siapa lagi pelakunya jika bukan si kendil Jennar. Mendengar Eneng akan kembali ke ibukota, emak kembali berulah. Dia tidur diatas kap mobil Airil.
"Pokoknya emak mau ikut. Emak gak mau pisah sama Aa dokter"
"Gak muat mobilnya Mak"
"Emak bisa duduk didepan kaca sini kok"
"Kena angin entar malah terbang. Susah nangkapnya lagi'
"Emak bawa tali neng. Nih buat ikat badan emak biar gak terbang"
"Yang ada Eneng sama laki Eneng langsung diserang nitijen bermulut pedas tak kalah pedas sama level PPKM"
"Loe alasan banget sih neng. Pokonya emak ikut"
Eneng yang mondar-mandir menaikan barang bawaannya kedalam bagasi mobil dirusuh dengan ocehan emak. Emak Ijah bangkit entah mau kemana.
Eneng masuk kedalam rumah dan memeriksa kembali barang-barang yang akan dibawa pulang. Ribut diluar rumah semakin semarak.
"Eneng. Mak keluar dulu bentar"
Teriakan salah satu tetangga Eneng membuyarkan kenikmatan Eneng yang sedang menyantap balado jengki.
"Paan si neng ribut-ribut diluar"
"Gak tau Mak. Ntar Eneng lihat kedepan. Ada demo apaan"
Eneng berjalan keluar tapi lupa mencuci tangannya. Melihat beberapa tetangganya berkumpul didepan pintu rumahnya.
"Ada apaan Mpok rame banget"
"Neng loe buruan bantuin Mak Kodir"
"Kenapa"
"Emak ngamuk tuh mau ikut loe gak diijinin sama mang Kodir"
"Buruan neng"
"Ealah kendil jennar kalau gak kumat gak afdol"
Eneng berpamitan kepada emak dengan cara berteriak dari depan pintu. Setelah emak menyahut, Eneng langsung berlari menuju rumah emak. Sudah ada beberapa warga disana.
"Permisi. Miss unipers mau lewat"
Eneng lupa jika tangannya penuh cabe. Kedai lengannya digerakkan membuka kerumunan warga. Ada yang terkena kibasan tangan Eneng di pipinya. ada yang terkena rambut dan juga lengan mereka. Eneng berjalan santai masuk kerumah Mak Ijah.
"Ada apa seh mang"
"Tuh artis kita mau bunuh diri kalau gak diijinin ikut loe ke kota"
"Terus mamang diemin gitu"
"Ya diemin aja. Lagian kalau dilarang semakin kumat"
"Terus pohon mana yang mau dipakai bunuh diri"
"Pohon kelapa"
"Oh. Ya sana. Eneng mau lihat talinya diikat kemana"
"Makanya itu mamang lihatin aja neng"
Emak yang tadinya menangis sambil guling-guling, langsung bangkit dan berkacak pinggang. Dengan satu jari telunjuk mengarah kepada Eneng dan mang Kodir bergantian.
"Yang kalian lakukan itu jahat"
Emak langsung duduk diatas ranjang sambil manyun. Karena merasa kondisi sudah aman, Eneng pun keluar. Dan didepan rumah Mak Ijah semua berteriak kepanasan.
"Huahhhhhh panas. Air dong air"
"Pipi gue panas banget"
"Lengan gue juga"
Eneng mengerutkan dahinya. Melihat para tetangga berlarian mencari air untuk mengurangi rasa panasnya.
"Kalian kenapa"
"Gak tau neng ini panas banget. Kayak kena cabe"
"Mungkin dosa kalian banyak. Jadi kena adzab sekarang jadi panas"
"Masa sih neng"
"Kali aja"
Mereka saling berpandangan dan tiba-tiba kompak sujud meminta ampunan. Namun tetap saja masih panas.
"Gue balik dulu gaes. Masalah selesai"
Gak ada tanggapan karena warga sedang sibuk mencari air. Karena masih kepanasan mereka semua masuk ke Empang ikan nila.
Byur
Eneng yang belum jauh kembali menoleh. Melihat ikan jadi-jadian lagi mangap-mangap mencari udara.
"Ck ck. Gak mau kalah sama nila"
________
Jangan lupa Senin gaes vote dong
Jangan lupa bahagia gaesss
jempolnya digoyang yuk