
"Kalian bisa gak diam bentar aja. Pusing Abang"
Almeer sudah mulai kesal dengan dua pasang anak kembar yang super aktif. Ammar dan Ashraf yang bisanya mudah diatur, kini sama mengesalkannya dengan duo F. Dari beberapa foto yang sudah diambil hanya empat foto yang lolos. Dua kembar bersaudara melihat jam dinding dan mengingat sesuatu.
"Bang Dean Dean. Sudah waktunya"
Ammar melihat ke arah jam juga dan mengerti maksud Fathan. Mereka berhenti berlarian dan langsung duduk anteng didepan televisi yang berada diruangan make up. Almeer hanya mengikuti mereka dari belakang. Dan langsung menepuk jidat saat tau apa yang sedang mereka tonton.
Upin dan Ipin inilah dia kembar seiras itu biasa...Upin dan Ipin ragam aksinya kau disenangi siapa jua....Upin dan Ipin selamanya....
Arash yang kembali memeriksa pekerjaan anak-anaknya. Betapa terkejutnya Arash melihat ruangan pemotretan berubah menjadi gudang dengan barang berserakan. Kini para asisten fotografer Arash sedang berusaha merapikan kembali. Arash melihat sang fotografer sedang duduk sambil memijat keningnya.
"Kenapa Yo"
"Aduh bos. Mereka benar-benar gak bisa diam"
"Masa sih. Biasanya Ammar dan Ashraf anteng-anteng aja"
"Awalnya anteng bos. Datang kembar satu lagi langsung ancur"
"Tapi sudah dapat fotonya belum"
"Sudah bos. Baru dikit. Tapi ini benar-benar amazing. Kembar satu lagi looknya menjual banget bos. Ini foto yang saya ambil bukan sesuai arahan bos. Tapi sesuai dengan tema kita"
Rio melihatkan hasil jepretan asalnya. Dan membuat Arash sangat puas. Walaupun tidak sesuai arahan, ekspresi keempatnya natural.
"Ammar dan Ashraf senyum ini Yo"
"Nah itu dia bos. Sisi baik Thian dan Fathan bisa membuat Ammar dan Ashraf mengeluarkan senyumannya"
"Dimana sekarang mereka"
"Kurang tau bos. Tadi sama mas Almeer"
Arash melihat kesekitar ruangan. Dan melihat Almeer berdiri didepan pintu ruangan make up sambil menatap kearah dalam ruangan. Arash berjalan mendekati sang putra. Dan menepuk pundak Almeer.
"Ada apa bang"
"Lihat tuh para tuyul suruh kerja malah nonton tuyul negeri tetangga"
"Hadeh. Angel wes angel"
"Mau gimana ini yah"
"Hem. Coba biar ayah yang ngomong sama mereka"
Arash berjalan kearah depan layar televisi dan sengaja memposisikan dirinya untuk menghalangi gambar yang ada dilayar. Thian dan Ashraf yang kaget karena layar televisi tiba-tiba tertutup tubuh Arash, langsung berteriak.
"Agrhhh. Raksasa muncul bang"
"Serang"
Mereka tak melihat jika itu Arash. Mereka berfikir itu Almeer. Bantal sofa yang sedang mereka pegang otomatis melayang kearah Arash. Arash yang tak bisa mengelak, lebih memilih menghindar.
"Kalian berani ya sama ayah"
Keempatnya hanya menengok sekilas melihat ke Arash dan kembali fokus pada layar televisi.
"Ohhhhhh"
Arash kesal diabaikan keempatnya. Lalu berjalan kearah kabel televisi tertancap. Arash langsung mencabut kabel tersebut. Keempatnya menampakkan wajah cemberut. Sedangkan Almeer yang sangat paham keempatnya langsung panik. Jika melepaskan sambungan kabel televisi adalah cara efektif sudah dia lakukan sejak tadi.
Arash yang merasa tindakannya sudah benar dengan santai mendekati mereka berempat. Almeer hanya diam melihat apa yang ayahnya bisa lakukan setelah mengganggu kesenangan keempat tuyul kaya raya itu.
"Dah. Duo Gunawan sudah habis. Sekarang kembali kerja"
Keempatnya menatap tak suka pada Arash. Ammar bertanya kepada Arash maksud perkataannya tadi.
"Gunawan"
"Iya duo Gundul menawan"
Almeer menahan tawanya. Tak menyangka jika ayahnya cukup familiar dengan istilah anak jaman now. Keempat tuyul ajib itu masih tak bergeming dari tempatnya.
"Ayolah bro. Kita cari duit dulu"
Keempatnya kompak berdiri. Arash tampak tersenyum karena merasa telah berhasil merayu keempat anak itu. Awalnya Almeer sudah merasa ayahnya cukup jago juga menangani keempat biang onar itu. Namun ternyata....
"Woy kalian mau kemana. Balik sini"
Tak ada jawaban apapun dari keempatnya. Mereka berjalan keluar ruangan pemotretan. Almeer dan Arash mengejar mereka bahkan memegang bahu keempatnya. Tak ada respon apapun. Mereka terus berjalan. Arash menghalangi jalan mereka. Namun Arash lupa jika duo Dean mempunyai kartu matinya.
"Stop. Ayah bilang berhenti"
Mereka berhenti sesuai kemauan Arash, namun tak mengatakan apapun. Tatapan mereka sangat tak nyaman. Almeer sudah tersenyum melihat dari belakang.
"Kalian mau kemana. Ayo balik buat cari duit"
"Nggak"
"Oh sudah berani sekarang. Oke ayah gak kasih uang jajan"
Ammar mengeluarkan ponselnya dan menanggapi tantangan ayahnya.
"Oke. Tak masalah. Tapi jangan salahkan kami kalau video ini sampai diponselnya Buna sekarang juga"
Ammar memperlihatkan sebuah video dimana Arash sedang melepas dan menyobek-nyobek poster milik Jungkook favorit Icha. Dan juga Kaos oleh-oleh dari Korea yang dibelikan Meera saat dia menonton konser BTS. Bahkan benda paling berharga yang Meera berikan saat berhasil fansign dengan mereka. Foto Meera dan Jungkook dengan ucapan spesial untuk Icha. Saat itu Icha memang tidak bisa ikut ke Korea karena sakit.
Arash langsung panik. Bak orang yang tertangkap basah sedang selingkuh. Almeer tertawa terbahak-bahak di belakang mereka. Almeer sudah tahu tidak akan mudah membujuk empat bocah ajaib yang sudah terganggu kesenangannya.
"Bagaimana ayah"
"Oke. Oke. Ayah salah. Maafin ayah. Sekarang kalian mau gimana"
"Nonton Upin Ipin yang tadi"
"Oke ayo kita tonton. Tapi habis itu kerja ya"
"Hem"
Keempatnya kompak melihat jam ditangannya. Mereka tahu acara dua kembar negeri tetangga sudah habis, jadi percuma saja kembali keruangan tadi. Mereka memilih tetap melanjutkan acara ngambeknya.
"Heh mau kemana. Katanya mau lihat Pipin Pipin"
"Telat dah habis"
"Masa sih. Masih kok. Ayo kita nonton bareng"
"Ogah"
Arash benar-benar frustasi menghadapi keempat anak itu. Almeer mendekati ayahnya dan menepuk pundak sang ayah memberi semangat.
"Semangat ayah. Hadapi dengan senyuman. Hahahaha"
"Senyuman gundulmu bang"
Arash menatap tajam kearah Almeer yang nampak biasa saja melihat kelakuan keempat adiknya itu. Arash mulai curiga.
"Abang kamu sengaja ya. Sebenarnya kamu tau kan mereka susah diganggu"
"Ya begitulah"
"Kenapa gak bilang dari tadi sih bang"
"Biar ayah juga merasakan gimana rasanya jadi Almeer. Pusing yah"
"Tenang yah. Al sudah punya plan B buat mereka"
"Apaan bang"
"Ayo kita keruangan Al yah"
"Mereka disana"
"Pastinya. Mereka pasti disana. Bentar Almeer bawa beberapa baju yang belum mereka pakai"
"Oh gitu. Apa akan berhasil"
"Gak yakin sih yah. Tapi kita coba"
"Baiklah. Ayah ikuti saran kamu bang"
Arash sudah merasa sangat pusing menghadapi keempatnya. Jika ditanya, Arash lebih memilih berdebat dengan klien daripada mengahadapi empat bocil onar itu.
Arash dan Almeer berjalan menuju ruangan Almeer. Ruangan Almeer memang berdinding kaca jadi mudah dilihat apa yang sedang terjadi didalam.
"Tuh lihat lagi konser kan mereka"
"Rusuh amat bang"
"Hancur ruangan Al yah"
"Sabar bang. Hadapi dengan senyuman bang"
"Kayak kenal kata-katanya"
"Hehehe"
Mereka berjalan menuju ruangan Arash. Mereka langsung masuk dan melihat ulah keempatnya yang melonjak kesana kemari. Dari atas sofa berpindah keatas meja. Keempatnya sedang menyanyikan lagu dari boyband Korea BTS. Almeer membuka laptopnya. Dan langsung membuka aplikasi pemesanan tiket. Arash hanya diam melihat apa yang sedang Almeer lakukan untuk menjinakkan tuyul yang sedang menggila.
"Ehem. Lihat Abang punya apa"
Awalnya mereka cuek. Dan saat mereka fokus menatap layar laptop Almeer. Keempatnya melonjak kesenangan dan langsung meraih laptop Almeer.
"Daebak. Abang punya tiket konser BTS. Mauuu"
"Kita mauuu Abang"
Keempatnya langsung mendadak heboh. Almeer tersenyum licik dan rencananya mendekati berhasil.
"Boleh. Tapi ada syaratnya"
"Apaaaaa"
Keempatnya menjawab dengan antusias. Almeer tak mau melepaskan kesempatan emas itu. Perjanjian pun segera mereka bicarakan.
"Lanjutkan pemotretan. Setelah selesai ada empat tiket buat kalian. Gimana"
"Yah. Gak asyik"
"Gak mau. Ya udah. Abang jual aja. Pasti banyak yang mau"
"Jangannnn"
"Ya udah. Deal gak. Gampang loh syarat Abang"
Keempatnya saling berpandangan. Dan berbicara menggunakan bahasa isyarat alis dan mata.
"Oke kita setuju. Cuma sehari ini saja kan"
"Enak aja sehari. Tiketnya mehong gaess"
"Terus sampai kapan"
"Kalian berempat tanda tangan kontrak selama satu tahun. Gimana deal"
"Kok lamaaa"
"Ya sebanding lah sama harga tiket kalian. Gak setuju ya sudah. Abang gak maksa kok"
Duo Dean kenbali protes kepada sang Abang mengenai kontrak yang baru saja diucapkan. Karena mereka selama ini tidak merasa menandatangani kontrak.
"Abang. Kami berdua selama ini gak pernah tanda tangan kontrak loh. Kok sekarang pake kontrak"
"Awalnya memang gak pake kontrak. Tapi sekarang Abang ingin kita profesional. Jadi gak ada yang dirugikan. Lagian kalian dapat bonus diawal kalau setuju. Tiket konser tower seluler"
"Enak aja tower seluler. BTS bang"
"Lah kan kalau disini sebutan buat tower seluler. Dah lah pokoknya itu. Gimana setuju gak"
"Oke tapi kita juga punya syarat"
"Apalagi. Ribet amat"
"Abang gak setuju. Kami juga gak setuju. Gak bisa lihat konser gapapa"
"Ya sudah apa"
"Setiap jam Upin Ipin kami gak mau diganggu. Kami gak muat pake lipstik dan bedak. Gak boleh buat kami bosan"
Arash dan Almeer sama-sama geleng kepala. Menghadapi keempat bocil itu serasa menghadapi anak sekampung. Mereka terlalu licik dan licin.
"Oke Abang setuju kecuali make up. Itu wajib. Abang akan biang ke bagian make up buat mengurangi riasan kalian. Kita sama-sama tulis syarat-syarat tadi diperjanjian. Biar kalian gak sesukanya. Abang paham seperti apa kalian"
"Oke. Deal. Bohong awas bang"
"Gaklah. Selagi nyiapin surat perjanjian. Kalian ganti kostum lanjutkan pemotretan hari ini"
"Oke"
Bak anak bebek yang akan kembali kekandangnya. Mereka berempat menurut dan Almeer memindahkan lokasi pemotretan di balkon ruangannya. Karena mereka tidak mau diruang pemotretan. Arash memberi ucapan bangga kepada Almeer yang tahu cara mengatasi keempat bocah tengil itu.
"Hebat bang. Hebat. memang Abang pawang mereka. Salut ayah"
"Jangan senang dulu yah"
"Kenapa memangnya"
"Ayah harus ganti uang Almeer yang buat beli tiket"
"Lah kirain Abang ikhlas"
"Aduh yah. Kalau cuma dua jutaan gapapa. Ini puluhan yah. Habis tabungan Almeer yah"
"Hadeh. Belum jadi untung malah buntung"
"Judulnya berat di ongkos yah"
"Heem"
____
Tuyul gauul... kebanyakan akal....
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk