Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Emak...



"Neng. Loe belum berasa gitu"


"Berasa Mak"


"Ya udah buruan ke rumah sakit. Jangan sampai brojol dirumah"


"Berasa lapar Mak"


"Semprul emang loe neng. Pokoknya kalau udah mules langsung ngomong. Jangan diam saja neng"


"Iya Mak. Tenang aja Eneng diawasi kunkun"


"Tumben si Ono gak nampak"


"Lagi semedi Mak"


"Baguslah. Gak merusuh"


Emak sudah berada dirumah Eneng dari kemarin pagi. Dan sore nanti giliran ibu dan bapak Airil yang akan datang. Mereka sangat antusias menyambut kelahiran cucu mereka.


"Neng. Semua perlengkapan buat lahiran udah loe siapin kan"


"Udah Mak. Ada diatas sofa kamar"


"Mak cek lagi gapapa neng"


"Ya Mak"


Emak masuk kedalam kamar Eneng, mencoba memeriksa ulang barang-barang yang akan dibawa Eneng ke rumah sakit.


"Hem. Sudah lengkap"


Emak beranjak menuju box bayi didalam kamar eneng. Satu box bayi besar untuk kedua anak kembarnya. Airil memang sempat merenovasi kamarnya menjadi lebih luas. Emak berjalan menuju ruang tengah. Kunkun yang melihat cara jalan emak, langsung berkomentar.


"Neng. Emak bunting berapa bulan. Kok sama gedenya kayak perut loe"


"Bertahun-tahun malah Kun. Bukan bulan lagi"


"Haha. Yang ini udah mau brojol. Yang Ono masih bunting terus"


"Loe Kun, kalau ngomong suka benar"


Enak duduk disofa didepan Eneng. Sofa untuk empat orang hanya muat untuk emak seorang.


"Si air mancur gak bisa cuti apa neng"


"Gak bis Mak"


"Bini mau lahiran malah ditinggal kerja"


"Itulah resikonya Mak punya laki dokter"


"Besan emak kapan nyampai neng"


"Sore nanti Mak. Nunggu Juna pulang sekolah"


"Neng. Siang-siang gini makan rujak es krim seger kali ya"


"Mantap tuh Mak"


"Belinya dimana"


"Jauh mak. Didekat perempatan depan"


"Sini biar gue yang beliin neng"


"Heh Kun, sadar diri napa. Kalau loe yang beli pada kabur semua. Lagian mana ada setan keliaran siang-siang gini"


"Huh. Ya udah deh"


"Bentar Eneng coba pesen pake aplikasi Mak"


Eneng membuka ponselnya. Mencoba mencari penjual makanan yang sedang diinginkan emak melalui aplikasi online.


"Ada nih Mak. Mau cabe berapa"


"Lima cukup"


"Kun loe mau gak"


"Mau dong neng"


"Heh setan makannya menyan kali, bukan rujak es krim"


"Kun kan setan milenium Mak"


"Sudah nih. Tinggal tunggu didepan aja"


"Neng. Emak mau jalan-jalan didepan bentar ya. Cari angin"


"Ya. Tapi jangan ngilangin lagi Mak"


"Iya iya"


Emak berjalan keluar rumah. Niat awalnya memang mau duduk didepan teras saja, namun keinginan itu oleng saat melihat orkes dangdut keliling lewat didepan rumah eneng.


"Woy bang berhenti"


Salah satu anggota orkes dangdut berhenti saat emak meneriakinya. Dan anggota lain pun juga ikut berhenti.


"Kenapa Bu"


"Mainin lagi buat gue. Yang lagi hits"


"Oke"


Suara musik mulai terdengar. Lagu yang sedang populer mendung tanpo udan, terdengar merdu. Emak pun tak mau kalah saingan. Emak berjoged sambil bernyanyi. Beberapa warga komplek luar mendengar suara musik. Dan melihat emak berjoged dan bernyanyi, mereka pun terhipnotis.


"Kun diluar ribut apaan sih"


"Bentar gue cek neng. Loe diem aja disitu. Ngilu gue lihat loe jalan"


"Hmm"


Si Kun melesat kedepan rumah melihat kondisi yang terjadi. Saat melihat emak sedang berjoged asyik sambil bernyanyi, Kun hanya bisa menggeleng kepala. Kun juga melihat Ono sudah stay mengawasi emak.


"No awasi big mommy. Awas lepas"


"Asyiap"


Kun kembali kedalam dan melaporkan keadaan didepan rumah kepada Eneng.


"Emak lagi nyewa orkes dangdut keliling neng"


"Eh. Ada yang lewat depan rumah Kun"


"Iya"


"Beres neng. Ono sudah standby nangkring di pohon"


"Heh Kun. Rujaknya udah mau nyampe"


"Sini duitnya biar gue yang bayar"


"Gak usah bikin berita piral Kun. Bantuin gue berdiri"


"Gue tuh kasian sama loe neng. Perut udah gede banget masih aja jalan"


"Gue lebih kasian ma tukang diliperynya Kun. Ya kalau muda, kalau tua lihat duit melayang sendiri. Pingsan ntar. Kalau gak punya penyakit jantung gak papa. Kalau serangan jantung. Panjang urusannya Kun"


"Hem. Ya sudah yuk. Gue temani"


Si Kun selalu setia menemani Eneng kemanapun. Benar saja, saat diteras Eneng melihat emak masih asyik berjoged. Tak lama pengantar makanan pesanan Eneng sudah tiba. Setelah membayar pesanannya, Eneng memilih duduk diteras sambil memakan rujak.


"Neng, loe gak pegel"


"Pegel sih Kun"


"Rebahan aja yuk"


"Tapi emak gimana"


"Tenang. Ono pasti awasin baik-baik"


"Ya udah yuk antarin gue"


Eneng memilih masuk kedalam rumah. Namun tiba-tiba perutnya berasa mulas sekali. Eneng sampai tak tahan dan hampir terjatuh.


"Kun. Mules banget ini. Auwwww ishhh"


"Neng. Neng tarik nafas pelan-pelan. Keluarin lagi. Gue panggil emak"


Setelah Eneng sedikit tenang, Kun keluar memanggil emak. Disamping tinga emak, Kun berteriak.


"Mak. Eneng mau lahiran"


"Apaa"


Emak mengembalikan mikrofon kepada penyanyi asli orkes keliling. Dan takuoa membayar mereka. Emak tak menghiraukan panggilan para tetangga Eneng yang meminta emak untuk kembali bernyanyi.


"Neng. Tahan bentar ya neng. Emak panggilan air mancur dulu"


"Akhhh. Makkk sakit banget"


Emak menghubungi Airil dan mengatakan kondisi Eneng. Airil langsung meminta pihak rumah sakit mengirim ambulance ke rumahnya. Tak lupa Airil juga ikut masuk kedalam ambulance.


"Sabar ya neng. Bentar lagi air mancur datang"


"Ishhhh. Mules lagi Mak"


"Neng tarik nafas. Hembuskan perlahan neng"


"Huhhhh. Hahhhh"


"Mak. Kun nyuruh Eneng. Kenapa emak yang tarik nafas"


"Kesetrum Kun"


Eneng kembali kontraksi. Sedangkan ambulance masih belum sampai. Emak panik sendiri. Setiap Eneng merintih karena mulas, emak pun ikut merintih. Itu membuat pasnagan KunNo frustrasi.


"Mak stop dong jangan bikin pusing"


"Emak refleks No"


Kun terpaksa membekap mulut emak menggunakan tangannya.


"Hmmmphhh"


Brotttt


KunNo dan Eneng kompak melotot saat emak mengeluarkan gas beracun super nyaring.


"Mak. Kok malah kentut"


"Loe sih no pake nutupin mulut emak segala. Kan jadi keluar lewat jalan lain"


"Ya udah Ono gak bekap mulut emak. Tapi jangan ikut-ikutan kayak Eneng"


Kontraksi Eneng masih berjarak setiap lima menit. Masih ada bisa untuk berjalan-jalan. Hanya saja emak masih mengikuti setiap Eneng kontraksi.


"Ishhhh. Makkkk. Awwww"


"Awwww. Kun"


"Emak diem dong. Bingung ini. Siapa yang mau brojol"


"Dahlah No. Loe sumpel aja mulut emak dulu deh. Bikin panik"


Ono kembali membekap mulut emak. Tak lama ambulance datang bersama Airil. Melihat adanya ambulance para tetangga Eneng berkumpul.


"Sayang. Sayang. Ayo kerumah sakit. Masih kontraksi"


"Udah gak kang"


"Yuk akang bantu. Jalan pelan-pelan saja"


Airil membantu sang istri berjalan menuju ambulance. Emak mengikuti bersama duo KunNo. Mulut emak masih dibekap. Didalam ambulance emak masih saja sama. Setiap Eneng kontraksi, emak pun ikut kontraksi.


"Awwww kang. Ishhhh"


"Tarik nafas sayang. Hembuskan perlahan"


Orang yang duduk dihadapan Airil melakukan hal yang sama. Bedanya karena mulutnya masih dibekap oleh si Kun. Hanya nampak ekspresi seperti orang ingin buang hajat.


Brotttt


"Makkkkk"


Brotttt


Itu terus saja terjadi hingga Eneng sampai ke rumah sakit. Setiap Eneng kontraksi emak kontraksi. Dan tetap keluar dari pintu lain. Hingga para dokter hanya bisa tertawa melihat kelakuan mertua Airil.


"Makkkk. Duh Gusti"


______


Wah siapin kado gaesss..si kembar mau loncing...


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk