Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Emak Datang



Kandungan Eneng semakin membesar. Hari ini ibu Airil masih mendapat giliran menemani Eneng. Semenjak kejadian maling satu bulan yang lalu, Airil semakin protektif. Jay dan Arka bahkan meminta beberapa pengawal menjaga rumah Eneng. Namun Eneng menolak karena ajudan miliknya lebih kompeten dibandingkan ajudan Jay. Apalagi ajudan milik Eneng tahan segala jenis senjata tajam.


Ibu Airil termasuk orang yang kalem. Tidak seperti emak. Dia juga sangat menyayangi Eneng. Walaupun jarang bertemu, kasih sayang ibu Airil terhadap Eneng tidak pernah berkurang.


"Ibu masak apa"


"Balado telur pake petai"


"Wow makanan enak tuh Bu"


"Tapi kamu gak boleh makan banyak-banyak ya neng"


"Iya Bu. Ibu jadi besok pulang"


"Iya neng. Besok emak sudah datang kan"


"Gak tau juga bu. Emak itu jailangkung. Tiba-tiba nongol"


"Hus kamu ya. Sama saja dengan Airil suka banget ngatain emak"


"Faktanya gitu Bu"


"Emak kamu sudah lama sendiri apa gak pingin cari pendamping. Kan kalian juga sudah nikah semua"


"Emak itu cuma suka godain cowok ganteng aja bu. Tapi hatinya masih punya ayah"


"Emak kamu setia banget. Titi jadi tinggal di kota neng"


"Belum Bu. Masih nunggu emak Bu. Kita mau ajak emak ke kota. Kasian di kampung sendirian"


"Tapi apa emak bisa betah lama disini"


"Nah itu Bu. Emak itu paling gak betah hidup dikota Bu"


"Kalau menurut ibu. Biarkan saja apa mau emak neng. Nanti kalau kamu tidak sibuk. jengukin emak"


"Iya Bu"


"Yuk makan. Udah matang nih"


"Siap Bu"


Eneng makan siang dengan ibu mertuanya. Airil sudah tidak mendapat shift malam lagi. Hanya saja jika ada panggilan operasi mendadak, Airil tetap harus berangkat jam berapapun itu.


"Kemarin USG gimana hasilnya neng"


"Masih sembunyi Bu. Gak mau ngasih tau monas atau apem"


"Hahahaha sepertinya memang mereka ingin memberi kejutan untuk mama papanya. Sudah siapkan nama"


"Belum Bu"


"Siapkan empat nama sekaligus neng. Biar gak mikir lagi pas nanti mereka lahir"


"Kalau mereka sepasang. Eneng kasih nama Surti Tedjo aja gimana Bu"


"Hahaha. Kamu ngasih nama pribumi banget neng. Padahal dimana-mana ngasih nama pake yang keren-keren. Kayak Aldebaran. Joshua"


"Susah Bu nyebutnya. Sebenarnya Eneng mau kasih nama pake bahasa Korea gitu Bu. Biar keren"


"Gak belibet ntar manggilnya neng"


"Gak sih Bu"


"Siapa emangnya"


"Kalau cowok Soo Lee hin. Kalau cewek Shu Mie Yha Ti. Keren kan Bu"


"Kok aneh ya nyebutnya"


"Atau kalau nanti laki semua Eneng udah siap. nama juga. Kang Soo Rip sama Kim Plah Kim Plih"


"Sepertinya perlu dibicarakan dulu neng emas Airil. Dan kalau bisa gak usah pake bahas Korea. Pakai bahasa Arab saja. Lebih bermakna"


"Oke Bu"


Mereka meneruskan makan siang nan syahdu. Hanya berdua. Ibu Airil cukup asyik jika diajak bergosip dengan Eneng. Satu minggu menemani sang menantu, ibu Airil sudah sedikit berubah agak oleng.


Beberapa hari yang lalu tetangga Eneng yang menjual pakaian menawarkan beberapa koleksi daster terbaru dengan gaya lebih menantang. Eneng berniat membelikan untuk ibunya. Ibu Airil awalnya menolak karena malu dengan pakaian yang sedikit terbuka.


Eneng membujuk dengan kata-kata maut. Walaupun sudah tua harus tetap seksi agar suami tetap menatap satu titik tidak ketitik lainnya. Karena termakan omongan sang menantu, ibu Airil pun setuju. Namun saat akan membeli baju jaring-jaring ala emak, sang mertua menolak. Jika itu emak mungkin sudah satu kodi baju jaring-jaring yang dia angkut.


Pagi nan cerah menandadak terdengar sambaran petir. Suara merdu penuh dengan gema terdengar si seantero ruangan rumah Eneng.


"Assalamualaikum. Emak datang"


"Waalaikumsalam. Huh way kambas sudah penuh kali ya. Lepas satu nih"


"Apaan way kambas neng"


"Tuh penangkaran hewan hampir punah"


"Loe emang sekate- kate jadi orang neng. Bukannya nanya kabar malah ngatain hampir punah"


"Emak sakit gak"


"Emak jelas sehat dikatain sakit"


"Dasar juminten"


Rumah Airil semakin semarak jika si emak sudah datang. Kebetulan Airil sedang mengantar sang ibu ke stasiun. Ibu Airil buru-buru pulang karena Juna sakit. Niatnya sang ibu akan pulang sore nanti karena ingin bertemu sang besan.


Siang ini Eneng bersantai bersama emak dan suaminya. Mereka menyaksikan acara televisi dari luar negeri. Dan kebetulan ada grup boyband yang sedang tenar dengan beberapa prestasinya. Mereka didominasi para cowok ganteng. Emak sangat heboh melihat grup itu untuk pertama kalinya.


"Neng itu nama grupnya apaan"


"BTS Mak"


"Tower seluler dong"


"Bukan Mak"


"Lah terus apaan. Disini BTS kan tower seluler neng"


"Serah deh Mak. Entar Eneng kasih tau namanya malah emak belibet ngomongnya"


"Apaan emang namanya"


"Bangtan Songyeondan"


"Apa Bantat neng. Kurang pengembang dong"


"Serah Mak. Susah dijelaskan dengan kata-kata"


Emak tak berkedip saat melihat mereka sedang berjoged sambil menyanyikan salah satu hits yang meraih penghargaan diluar negeri.


"Itu judul lagunya apa neng"


"Dynamite Mak"


"Bom dong"


"Hm"


Entah sejak kapan emak sudah berdiri bersiap mengikuti gerakan tarian dari anggota boyband tersebut. Airil mulai khawatir. Jika nanti emak akan menimpa Eneng.


"Sayang sebaiknya kita menjauh. Bencana ini nanti"


"Hoo. Kang tapi nanti tolong jangan marah ya kau rumah hancur seperti korban bom Nagasaki"


"Asal tidak ada korban jiwa"


Eneng memilih masuk kamar bersama Airil. Didalam kamar masih ada satu televisi lagi. Mereka memilih menonton didalam kamar. Saat sedang asyik menonton, terdengar suara dentuman hebat.


Bruk


Prang


Gubrak


"Sayang suara apa itu"


"Bom Nagasaki sudah beraksi kang"


"Perlu akang lihat"


"Jangan sebelum ada teriakan minta tolong"


Eneng dan Airil kembali menonton televisi. Karena suara diluar sudah tenang. Belum genap tiga puluh menit suara itu kembali terdengar. Dan kali ini juga terdengar teriakan dari emak.


"Huaaahhhh. Eneng tolonggg. Air mancur tolonggg"


Airil dan Eneng saling menatap. Dan mereka berdiri bersama-sama. Perlahan berjalan menuju ruang tengah. Mata Eneng dan Airil sontak membulat. Melihat kondisi ruang tengah mereka yang sudah tak berbentuk lagi.


Dan yang paling membuat mereka kaget adalah kondisi emak saat ini. Bahkan Eneng melihat Ono dan Kunkun datang untuk menertawakan emak.


"Ya Allah Mak. Kenapa bisa nyungsep gini sih"


"Air mancur tolongin emak. Emak gak bisa bangun"


"Haduh, ini harus pake kerekan banguninnya Mak"


"Kampret emang loe jadi mantu. Neng bantuin"


"Gak bisa Mak. Gak lihat Eneng bawa drum segede gaban"


"Huahhhh. Tolong air mancur"


"Bentar Airil cari tambang dulu buat narik emak. Kalau pakai tangan gak kuat Airil Mak"


"Buruan. Pegel ini"


Posisi emak sangatlah tidak mengenakan mata namun membahagiakan kedua pasangan tansparan. Emak nyungsep dengan kedua kaki diatas dan separuh badan tertutup sofa. Kemungkinan emak berjoged diatas sofa dan sofa itu ikut terbalik.


"Buahahahahaha. Kalau yang di tipi-tipi itu merek sarung terkenal gajah duduk. Kalau disini gajah nyungsep"


______


Oalah Mak. Kapan tobatnya...wes angel angel tenan


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk