
Keluarga Malik baru kembali dari Jerman dua hari yang lalu. Saat di Jerman, Eneng sempat mendapat berita jika Japri akan menikah. Setelah kasus perpisahan Eneng dan Japri waktu itu, Eneng sama sekali belum bercerita kepada keluarga Malik. Dan sebelum pulang kampung nanti, Eneng akan memberitahukan kepada Jasmine dan Melany.
Eneng sudah dianggap sebagai saudara dikeluarga Malik. Jasmine selalu meminta Eneng berkata jujur jika sedang dalam masalah. Supaya tidak menggangu pekerjaan Eneng. Sebelum pulang ke tanah air, Afnan meminta agar Eneng tinggal di Jerman saja menjadi maid disana. Rashsya dan Ghaydan adalah garda depan yang menentang. Bahkan Rashsya mengancam akan memboikot Afnan jika nanti datang ke Jakarta untuk berkunjung. Pintu rumah mereka tertutup untuk Afnan.
Dalam hati Eneng tidak ingin pulang kampung menghadiri acara pernikahan Japri dan Tari. Bukan karena tidak bisa move on, melainkan para tetua kampung masih belum tau jika pengantin wanita bukanlah Eneng. Adat kampung Eneng memanglah berbeda. Jika sudah bertunangan mereka harus menikah. Kalaupun mereka berpisah itu harus dilakukan setelah akad nikah. Mereka tidak mau terkena bala. Sedangkan jika pembatalan nikah sebelum akad dilaksanakan, mereka harus rela meninggalkan kampung dengan membawa serta keluarga. Eneng belum memiliki tempat tinggal.
Emak juga masih berat meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama bapak Eneng. Walaupun mereka mau membayar denda dengan uang, tetap mereka harus pergi dari kampung tersebut.
Eneng bingung harus bagaimana. Mana mungkin dia menikah dengan Japri, sedangkan saat ini ada wanita lain yang sedang mengandung anak Japri. Eneng menceritakan semuanya kepada Jasmine dan Melany.
"Neng. Kamu bawa emak dan adik kamu kesini. Masalah tempat tinggal itu urusan kami. Saya tidak suka dengan adat yang memaksa seperti itu"
"Tidak semudah itu nyah. Emak tidak akan mau meninggalkan rumah itu"
"Apa kamu memilih menikah dengan pria seperti Japri. Apa kamu tega melihat wanita yang sedang mengandung anak Japri menjadi sedih"
"Eneng tau nyah. Mungkin satu-satunya jalan Japri harus menikahi kami berdua"
"Jangan edan kamu neng. Kamu mau dimadu seperti itu. Seperti tidak ada lelaki lain"
"Benar kata Jasmine. Begini saja. Dua hari sebelum acara pernikahan, kita temui emak kamu. Biar saya yang bicara. Saya tidak mau kamu jadi korban neng. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik"
"Tapi nyah"
"Tidak ada penolakan. Masalah rumah, biar besok Jay dan papa nya yang nyari didekat sin Atau kamu mau emak kamu tinggal di paviliun belakang"
"Jangan nyah. Eneng bukan siapa-siapa. Nanti dikira Eneng memanfaatkan keluarga nyonya"
"Kamu keluarga kami neng. Saya sudah anggap kamu seperti anak saya sendiri. Sama seperti Jasmine"
Eneng menangis mendengarkan perkataan Melany. Hatinya trenyuh. Seorang anak kampung diangkat menjadi anak oleh orang yang begitu terpandang. Bahkan mereka kini memeluk tubuhnya untuk menenangkan dirinya.
"Jangan menangis lagi. Kita akan mencari solusi bersama"
"Terimakasih nyah. Kalian memang keluarga yang sangat baik"
"Jangan pernah sungkan dengan kami neng. Kamu sudah membantu membesarkan cucu saya hingga menjadi anak yang begitu baik"
Eneng merasa lega setelah menceritakan semua kepada Jasmine dan Melany. Dia tinggal menata hati saja. Keputusan apapun siap dia terima. Melany berjanji akan membicarakan masalah Eneng kepada Arka dan Jay. Mereka akan mencari solusi terbaik.
.
.
Disebuah rumah sakit seorang dokter tampan sedang bertugas. Dia belum mengetahui jika pujaan hatinya sudah berada ditanah air. Semenjak kembali bertugas, banyak dokter muda dan perawat mencoba mendekati dirinya. Namun tak pernah dianggap olehnya. Hatinya hanya terkunci untuk satu nama Eneng saja.
Dokter Galak itulah sebutannya dirumah sakit. Bahkan teman lamanya hanya bisa tertawa mendengar sebutan untuk temannya itu.
"Loe mau sampai kapan kayak gini. Loe mau jadi perjaka tua"
"Biar tua tetap tampan kok"
"Huh narsis amat. Itu banyak dokter cantik ngantri, loe galakin terus. Gak kasian apa"
"Gue gak minta"
"Oya, Gama mau balik tugas kesini"
"Kapan"
"Bulan depan"
"Oh. Syukurlah"
"Ketemu soulmate loe ya. Haha"
"Biasa aja"
"Ril. Bisa gak loe tuh gak sedingin itu kalau sama orang. Gue kenal loe lama. Baru kali ini loe dingin sama gue"
"Biasa aja. Dah gue mau balik. Jam gue udah habis"
"Ngafe mau gak loe"
"Gak. Makasih"
"Move on dong ril. Cari yang lain"
Dokter itu tidak menggubris perkataan temannya. Dia berlalu pergi meninggalkan rumah sakit. Sebelum kembali kerumah, dia berniat untuk ke supermarket didekat kediamannya.
Dokter tampan itu masuk kedalam supermarket untuk membeli kebutuhannya. Dia sudah sering berbelanja di supermarket tersebut. Banyak karyawan yang mengenalnya bahkan terkadang mencari perhatiannya. Walaupun sikapnya dingin dan cuek, malah semakin membuat orang penasaran.
"Neng, Arash mau permen dong"
"Mas Arash kan gak boleh banyak makan permen kan. Batuk lagi nanti"
"Ayolah neng. Sebungkus aja"
"Emang permen yang mana sih mas"
"Tuh yang didekat kasir. Yang sekotak harganya mihil. Penasaran rasanya seperti apa"
"Ya sudah ayo"
Eneng menuntun Arash mendekat kearah kasir. Arash yang tak sabar langsung mengambil apa yang dia mau. Saat akan memasukan kedalam keranjang, Arash dicegah oleh seseorang.
"Dek. Untuk apa ambil itu"
"Ini kan permen om"
"Emang ini apa om kalau bukan permen"
"Hmm. Kamu kesini sama siapa"
"Sama mbak"
"Dimana mbak kamu"
"Tuh ditempat sayur"
"Ya sudah kita kesana saja yuk. Biar om jelaskan sama mbak kamu"
"Oke om"
"Tapi sebelumnya, om bawa ya kotak ini. Gak baik buat kamu"
"Ya om"
Arash digandeng pria tersebut menuju kearah pengasuhnya. Arash langsung berlari memeluk tubuh Eneng dari belakang. Eneng yang kaget langsung memutar badannya dan memeluknya.
"Kenapa mas"
"Tadi ambil permen katanya gak boleh neng"
"Sama siapa mas"
"Tuh si om yang berdiri dibelakang Eneng"
Sebelum Eneng menoleh pria tersebut terlebih dahulu berbicara.
"Maaf mbak saya mau bicara sebentar bisa"
Eneng langsung berbalik. Dan apa yang terjadi.
Jeng jeng jeng
"Akang apa kabar"
"Eneng. Kamu Eneng"
"Iya"
"Aku gak mimpi kan"
"Enggak. Apa perlu bukti"
"Buktikan"
Eneng langsung mengusap lembut pipi lelaki yang dipanggilnya akang tersebut. Arash yang melihat itu berdecak kesal.
"Ck. Mending loe pingsan deh neng daripada tuh tangan celamitan ngelusin pipi orang"
"Kalau sama yang ini udah gak bisa apingsan mas. Maunya peluk malahan"
"Modus neng. Ayo pulang"
Arash menarik tangan eneng yang masih berada di pipi pria tampan itu.
"Maaf bentar dek. Boleh saya pinjam Eneng"
"Gak boleh. Eneng punya Arash"
"Ya sudah. Saya bicara disini saja"
"Ada apa kang"
"Ini anak asuh kamu neng"
"Iya"
"Tadi aku lihat dia mengambil sesuatu yang dikira permen didepan kasir"
"Memang dia minta permen tadi"
"Tapi itu bukan permen Eneng"
"Lah terus apa dong"
"Itu.."
Pria tersebut berbisik kepada Eneng karena takut Arash mendengar.
"Apaan itu. Eneng kok baru dengar namanya"
"Aduh gimana jelasinnya ya"
Pria itu membuka ponselnya mencari gambar untuk dijelaskan kepada Eneng. Bukan deskripsi barang itu yang Eneng lihat dan baca. Namun matanya langsung menuju gambar yang begitu vulgar.
"Aouhhh gede banget"
_________
Ini eneng datang. Maaf kemarin keasyikan nonton xu kai lupa sama Enengπππ
Jangan lupa jempolnya gaesss...vote dong Senin loh ini
Jangan lupa bahagia gaesss