Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Bintang Pilem



"Kalian udah janji ya waktu itu mau jadi bintang iklan asal Ammar dan Ashraf ikut. Mereka kan ikutan juga"


"Aduh bang. Kalau iklan pakaian kita oke. Lah ini sekalinya dapat iklan suruh iklan sarung. Mana cap kudanil duduk lagi. Takut kita bang"


"Takut kenapa"


"Takut sama Oma. Dikira ngikut merk dagang dia"


"Astoge. Iya ya. Kita kan sudah punya satu produk mamoth duduk"


"Iya kan"


"Hush. Malah bahas Oma lagi. Kalian itu emang iklan buat pakaian muslim. Jadi satu set sama sarung juga"


"Gak sekalian bang. Seperangkat alat sholat dibayar tunai"


Sahhhhh


Thian kembali berdebat dengan Almeer. Sebenarnya bukan masalah jenis pakaian apa yang mereka iklankan, hanya saja ada sesi pemotretan couple. Itu yang paling mereka tolak.


"Siapa yang merried. Pake sah segala. Pokoknya Abang minta kalian tetap menerima iklan ini. Siapa tau jadi batu loncatan jadi seleb"


"Thian mending jadi saleb daripada seleb"


"Kali ini tak ada penolakkan lagi. Udah mau deadline ini"


Akhirnya Fathan mengeluarkan jurus mautnya. Karena memiliki kelemahan yang sama, Fathan bisa menggunakan kelemahan itu untuk menolak permintaan Almeer.


"Abang kita akan terima. Asalkan Abang juga melakukan pemotretan dan shooting couple dengan model wanita mereka. Gimana"


"Ya gak bisa gitu dong. Abang kan bukan modelnya"


"Kalau Abang berani meminta kita berdekatan dengan lawan jenis, Abang juga harus berani nanggung resikonya. Abang lupa kita sama. Ashraf pun sama. Hanya Thian dan Ammar yang bisa berdekatan dengan wanita. Tapi gak yakin mereka mau"


"Hadeh. Gue lupa penyakit kita kan sama. Ck, harus cari solusi lain ini"


Keempat bocah itu tersenyum licik. Tak semudah itu Ferguso membujuk keempatnya. Almeer terus mencari cara agar kerjasama itu bisa berlanjut.


"Bentar deh, Abang mau tanya dulu bagian produksi. Kalau shooting kalian dipisah dan nanti pake trik kamera, sepertinya bisa. Jadi tampilan akhir kalian seperti shooting dengan pasangan. Gimana"


"Kalau memang bisa begitu, kami setuju. Asal tidak satu ruangan dengan lawan jenis saja. Bukan muhrim"


"Heleh sok bukan muhrim. Takut ngebom kan loe than"


"Emang loe kagak bang"


"Ya karena kita sama than. Jadi lebih baik menjauhi bahaya"


"Nah tuh tau bang"


"Ya sudah. Nanti Abang kabari lagi. Kalian pulang sono. Bikin semak"


"Nasib. Saat butuh nyariin. Giliran gak butuh ngusir"


Tanpa banyak kata keempat anak itu meninggalkan ruangan Almeer. Saat berada didalam lift, beberapa karyawan asyik membicarakan lokasi syuting tak jauh dari perusahaan Almeer.


"Tau gak bintangnya cantik. Sayang film horor"


"Iya. Hii. Walaupun setannya manusia juga, tetap aja horor"


Thian dan Fathan saling menatap dan tersenyum. Andai mereka tau saat ini ada dua makhluk asli sedang berdiri diantara mereka. Apakah mereka akan pingsan. Ammar berbisik kepada Thian. Dia ingin tahu seperti apa lokasi shooting itu. Mereka memutuskan untuk pergi melihat-lihat.


Keempatnya berjalan kaki. Dengan menggunakan hoodie dan topi pet, menutupi sebagian wajah mereka. Jarak lokasi shooting dan perusahaan Almeer memang tak jauh. Namun untuk bisa masuk melihat kedalam area, mereka memerlukan ijin.


"Maaf pak. Apa boleh kami melihat shooting didalam"


"Maaf dek. Selain yang berkepentingan tidak diijinkan masuk"


"Oh begitu. Baik. Terimakasih"


Mereka memilih pergi daripada berdebat untuk bisa masuk. Beruntung karena produser film tersebut mengenali mereka.


"Kalian Kembar dari keluarga Malik kan"


"Iya om"


Ammar menjawab pertanyaan orang yang baru saja mereka temui.


"Wah kebetulan bisa bertemu disini. Kalian ada urusan apa kesini"


"Kami pengen lihatokasi shooting seperti apa om"


"Oh gitu. Ayo masuk"


"Tapi kami tadi tidak diijinkan masuk"


"Kalau sama om pasti boleh"


"Beneran om"


"Iya. Yuk"


Keempat mengikuti orang tersebut untuk masuk kedalam sebuah ruangan. Mereka menggunakan gedung tua yang tak dipakai.


"Nah seperti ini lokasi shooting sebenarnya. Kali ini kita pakai gedung tua. Karena memang tema film horor kali ini tentang hantu di gedung tua"


Thian penasaran dengan pemeran hantu yang ikut shooting. Begitu juga duo KunNo. KunNo berkeliling disekitar gedung tua tersebut.


"Om setan yang dipakai apa saja"


"Standar orang Indonesia saja. Pocong, Kunti, Buto ijo, gendruwo"


"Hahahaha. Mereka cuma manusia biasa. Apa kalian penasaran"


"Iya"


"Oke. Ayo om ajak keruangan rias"


Mereka berjalan keruangan rias artis. Melihat beberapa pemeran setan sedang dirias. Mata Thian dan Fathan menatap ada aura tak bagus. Dan diujung ruangan ada sesaji. Thian dan Fathan berjalan menuju sesaji itu.


"Om ini apaan"


"Oh ini, buat penangkal saja. Kan ini gedung tua dan lama kosong"


"Emang mempan om"


"Sangat mempan. Kami belum pernah mengalami hal aneh"


"Oh begitu. Ada pawangnya juga dong om"


"Ada. Itu lagi duduk santai"


Produser tersebut menunjuk kearah pria paruh baya yang duduk sambil meminum kopi dan menikmati sebatang rokok. Keduanya ingin mencoba kemampuan yang dimiliki bapak itu.


"Bang mainan baru nih"


"Coba yuk dek"


"Oke. Panggil KunNo dulu"


Thian memanggil KunNo dalam hatinya. Tak lama KunNo muncul. Sedangkan Dean bersaudara sedang asyik merekam lokasi tersebut.


"Ada apa bos"


"Kerjain tuh dukun amatir"


"Ah beres bos. Lagian mau aja dibohongi mereka sama dukun gadungan"


KunNo mendekati dukun itu. Sengaja menampakkan wujud mereka dihalaman dukun itu. Dukun itu nampak melafalkan sesuatu dengan mulut komat kamitnya. Ono mendekatkan wajahnya tepat dihadapan sang dukun. Tak butuh waktu lama, dukun itu kejang dan pingsan. Semua panik dan mencoba menolong.


"Hahaha. Dipelototin Ono pingsan bang"


"Cemen. Sok ngasih penangkal padahal dianya penakut"


KunNo sedikit penasaran dengan para bintang pilem itu. Mereka meminta ijin kepada bos kecil mereka untuk melihat proses lebih dekat. Thian dan Fathan menyetujui permintaan KunNo. Duo F dan Dean bersaudara duduk menikmati proses pengambilan adegan. Tiba-tiba sang sutradara berteriak.


"Cut..."


Produser yang datang bersama keempat bocah kembar itu bertanya apa yang sedang terjadi. Karena baru mulai sudah berhenti.


"Kenapa bang"


"Bos. Coba perhatiin deh. Ini setan bukan artis kita kan"


"Masa sih. Mana mungkin"


"Seriusan bos. Hitung lagi coba jumlah pemeran setan yang keluar. Jumlahnya kelebihan dua bos sama aslinya"


Produser dan sutradara kompak menghitung jumlah pemeran setan mereka. Dan benar ada kelebihan dua dari aslinya.


"Eh iya. Kok bisa ada lebih ya. Kamu pake trik kamera kali"


"Kagak bos. Belum saatnya"


"Lah terus. Masa asli sih"


"Hem. Apa kita coba saja beberapa scene adegan. Kalau masih sama berati memang ada tamu dunia lain bos"


"Oke. Kita mulai lagi. Jangan sampai para pemeran tahu"


"Sip"


Sutradara meneriaki agar para pemain bersiap. Mereka memulai lagi proses shooting hari ini. Setiap scene adegan sang sutradara benar-benar mengamati dengan teliti. Dan benar saja ada penambahan dua makhluk asing. Bahkan dengan gaya tak sesuai. Ada yang melambai-lambaikan tangan. Bahkan melompat kegirangan. Sebelum shooting selesai, keempat bocah kembar itu pamit untuk pulang.


"Om kami pamit. Ini sudah sore"


"Oh ya. Terimakasih sudah mau main kesini. Semoga suatu saat nanti kita bisa kerjasama"


"Iya om. Permisi semuanya. Kamu pulang"


Setelah berpamitan mereka melangkah pergi. Begitupun duo KunNo. Sang sutradara mulai bingung karena dua makhluk dadakan juga ikut menghilang.


Setibanya di rumah, duo KunNo sangat bahagia karena bisa masuk kedalam tipi.


"Bos pokok ya besok kalau udah diputar kita nonton ya"


"Hem"


"Asyik Kuta jadi bintang pilem Kun"


"Iya no. Masuk tipi kita"


"Heem. Gak sabar mau lihat pilemnya"


______


Semoga gak sawan aja yang lihat KunNo....


jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk