
"Yuhu. Cucu Oma yang tampan. Oma datang"
Suara menggelegar milik seseorang yang sangat mereka kenali sudah terdengar hingga rumah tetangga. Emak datang berkunjung setiap tiga Minggu sekali. Emak masih tak mau tinggal dikota bersama Eneng ataupun Titi. Emak tetap memilih dikampungnya.
"Assalamualaikum kali Oma. Kayak masuk hutan aja. Yuhu yuhu. Emang kita kembaran Tarzan apa"
Si kembar sudah berusia empat tahun dan sangat lancar dalam berbicara. Keduanya bisa sangat dibedakan dari sikapnya. Fathan yang kalem dan grogian. Sedangkan Thian yang pecicilan dan penuh percaya diri.
"Loe pasti Patan kan"
"Fathan Oma bukan Patan"
"Gak bisa ngomong ep Oma. Mana mama papa kamu nak"
"Berenang"
"Kok kamu gak ikut"
"Gak. Panas. Ntar item"
"Lagak loe tong. Thian mana"
"Lagi nyari kecebong kali"
"Tuh anak emang ajib"
Thian memang suka bereksperimen dengan hal apapun yang ingin diketahui. Fathan cenderung suka membuka buku bergambar dan membacanya menggunakan e pen. Jika membutuhkan bahan ekperimen, Fathan akan meminta Thian yang mencari.
Emak berjalan ke halaman depan. Dikolam renang hanya ada Airil seorang diri. Sedangkan Eneng tidak berada disana.
"Air mancur. Ngapain disana. Kaya Mila aja sukanya didalam air"
"Eh. Emak kapan datang"
"Baru aja. Gak salim loe sama emak. Gak berkah ntar"
Airil hendak keluar dari kolam renang. Emak melihat menantunya berdiri hanya mengenakan celana renang. Dan perut berotot milik Airil jelas-jelas terpampang dihadapannya.
"Huahhhhhh. Mantu gue ampun. Bikin gue oleng. Kenapa loe seksi gitu. Emak jadi oleng kan"
Eneng yang ternyata sedang merapikan tanamannya. Mendengar suara emaknya sedang kalapelihat tubuh suaminya, langsung berlari menutupi tubuh Airil.
"Akhhh. Emak ini punya Eneng. Kalau emak mau yang kayak gini. Cari sendiri sono"
"Pelit amat. Gak inget loe neng. Dulu loe nikung air mancur dari emak. Harusnya dia jadi bapak loe"
"Enak aja"
Eneng tak menyadari jika dia menutupi tubuh suaminya menggunakan karung bekas pasir berpupuk yang dia gunakan untuk menanam berbagai macam bunga.
"Sayang. Kamu kira aku ini pohon apa"
Eneng menengok. Tubuh Airil sudah dipenuhi oleh tanah yang berwarna hitam kecoklatan. Dari dada hingga perutnya.
"Hehehe. Iya ini perlu dipupuk juga papa kembar. Biar makin mantap"
"Tapi gak pakai tanah ini sayang pupuknya"
Airil memainkan matanya naik turun. Menggoda Eneng. Namun oranglain yang malah tergoda.
"Aih. Jangan main mata dong air mancur. Gue mertua loe. Ingat"
"Duh Gusti. Lupa Eneng ada cicak gajah nangkring disono"
"Yuk mandi sayang"
"Ayolah"
"Emak gak diajak"
"Gak muat kamar mandinya. Sempit"
"Pelit banget loe neng"
"Mak nitip si kembar"
Eneng berlalu bersama Airil masuk kedalam kamar dan membersihkan diri. Emak kembali keruang tengah dan menemani Fathan yang sedang melihat acara discovery dunia binatang.
"Patan. Loe nonton apaan sih tong. Kebon binatang gitu. Ganti tong"
"Ganti apa Oma"
"Yang seru gitu"
"Oma maunya apa"
"Yang bikin semangat. Bentar Oma lihat dihenpon dulu. Kemarin Oma udah nyatat"
Emak membuka ponselnya dan mencari catatan miliknya tentang acar televisi yang seru. Fathan asal memencet tombol remote televisi didepannya. Dan terdengar lagu dari boyband Korea. Emak langsung meminta Fathan untuk tidak menggantinya.
"Patan stop"
"Oma mau ini"
"Iyalah"
"Emang Oma paham apa artinya"
"Gak perlu tahu artinya. Yang penting tampan semua. Ayo joged broo"
Emak berjoged ala Gangnam style. Fathan hanya melihat sambil duduk santai memakan camilannya. Thian yang baru kembali entah darimana, mendengar suara musik asyik. Langsung berlari masuk rumah.
"Omaaaa"
"Ayo Thian kita joged"
"Ayo Oma"
Mereka berdua menirukan gerakan Gangnam style. Si KunNo yang sedari tadi menemani Thian bermain diluar, duduk santai didekat Fathan.
"Males no. Kalian darimana"
"Noh nemenin adik loe cari belut"
"Dapat"
"Dapat tuh diember"
"Pantes dekil"
"Emak loe kemana than"
"Gak tau"
Mereka kembali menatap kearah emak dan Thian. Karena lagu sudah habis, mereka berdua duduk sambil berpelukan.
"Loe darimana tong. Buluk gini"
"Cari belut Mak"
"Dapat tong"
"Dapat lah. Tuh diember"
"Banyak gak"
"Lumayan"
"Wuih entar dibikin pepes mantap tong"
Thian memang ahli dalam menangkap berbagai jenis binatang. Dan Thian tipe anak yang suka main diluar. Dan anehnya walaupun seharian dibawah matahari, kulit Thian tidak menghitam sama sekali.
Diluar terdengar suara riuh. Emak dan Thian memasang telinganya tajam. Mereka saling menatap. Duo KunNo sudah waspada pasti beberapa saat lagi akan terjadi sesuatu.
"Thian loe dengar itu apa"
"Iya oma. Abang dengar gak"
"Heemmm"
"Ayo Oma. Sebelum pergi jauh"
Ketiganya berlari keluar rumah. Tak sengaja ember berisi belut tumpah dan belut itu berkeliaran bebas dilantai ruang tamu.
KunNo yang sebenarnya sudah sangat lelah, mau tak mau tetap mengikuti Thian dan emak. Eneng yang kembali turun keruang keluarga, bertanya pada Fathan dimana Omanya.
"Oma kemana bang"
"Diluar mah sama Thian"
"Adik kamu sudah pulang bang"
"Sudah mah"
Fathan memilih kembali menonton acara discovery. Sayup terdengar ditelinga emak musik yang begitu familiar ditelinga Eneng. Eneng berjalan keluar hendak memeriksa keadaan dihalaman rumahnya. Saat melewati ruang tamu, Eneng terkejut melihat binatang mirip ular menggeliat bebas.
Eneng berjongkok mencoba memeriksa binatang apa itu. Dan jumlahnya memang lumayan banyak. Eneng sudah hafal siapa pelaku keonaran ini.
"Fathiaaannnnn"
Teriakan Eneng menggelegar. Bahkan Airil yang sedang mengenakan pakaian langsung berlari turun kebawah. Melihat istrinya berjalan keluar sambil memasang muka masam, Airil langsung tersenyum. Airil sudah hafal sekali kelakuan putra keduanya yang ajaib.
Emak dan Thian sedang asyik nyawer dan berjoged dengan orkes dangdut keliling. Eneng yang melihat itu langsung menghela nafasnya dalam. Eneng mendekat kearah gerobak orkes dangdut keliling. Dia langsung menjewer telinga putra bungsunya itu.
"Aduh. Ampun mah. Ampun"
"Siapa yang nyuruh kamu bikin berantakan rumah Thian"
"Gak sengaja mah. Nanti Thian bersihkan. Tapi sekarang joged dulu"
Fathian meraih kedua tangan Eneng dan mulai mengayunkan perlahan. Dan Eneng mulai mengikuti alunan lagu. Yang awalnya emosi kini semua hilang terbawa alunan musik. Eneng dan emak bahkan kini sedang berduet menyanyikan bersama.
Airil keluar mengikuti eneng. Melihat istri dan anaknya serta mertuanya sedang asyik berjoget. Airil memilih melihat dari teras. Sesekali Airil tertawa melihat kelakuan putranya itu.
"No. Mereka memang sedarah. Gak diragukan lagi"
"Iya bener Kun. Kok gue mulai takut ya Kun"
"Takut kenapa no"
"Besok mereka saat mulai beranjak dewasa pasti akan sedikit menyusahkan"
"Huh. Bener loe no. Sekarang aja udah bikin susah"
"Mending Fathan. Gesreknya kadang-kadang. Lah Thian tidur aja masih oleng"
"Ambyarrr no. Ambyarrr. Nasib jadi pengasuh duo ambyarrr no"
"Nikmat mana lagi yang kau dustakan Kun"
"Boleh resign gak sih no"
"Coba aja besok loe ngajuin surat pengunduran diri"
"Iya deh. Kita coba dulu"
"Semangat Kun"
"Semangit no"
______
Sabar no sabar Kun....
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk