Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Tawa Salsa



Semenjak kedatangan Eneng untuk merawatnya, salsa merasakan hal berbeda. Eneng selalu saja membuatnya tertawa. Sikap polos dan keolengannnya itu sangat istimewa bagi salsa.


"Non pagi ini mau gak jalan-jalan sama Eneng ketaman belakang aja"


"Neng. Gue gak mau orang lihat keadaan gue yang sekarang. Gue gak suka dikasihani"


"Yaelah non. Ngapain coba peduli sama omongan orang. Mereka kan gak ngasih makan kita. Cuekin aja. Anggap aja angit ribut lewat"


"Tapi neng. Terkadang omongan mereka menyakitkan. Padahal mereka tidak pernah tahu kebenarannya"


"Namanya juga nitijen non. Mulutnya melebihi bon cabe lepel empat puluh. Dah tenang sekarang ada Eneng yang jagain non salsa. Biar Eneng yang ngadepin mereka nanti kalau nyinyir"


"Loe yakin bisa neng"


"Lihat aja nanti non. Sekarang neng bantu non untuk pindah ke kursi roda ya"


"Tunggu neng. Ntar gimana loe bawa gue turun. Kan gak ada lift dirumah ini"


"Oiya. Non tunggu dulu disini. Neng akan segera kembali. Ingat jangan kemana-mana"


"Iya gue gak akan kemanapun kok"


Eneng berlari keluar dari kamar salsa. Dia menuju gudang ditaman belakang. Eneng ingat jika kemarin majikannya sedang melakukan sedikit renovasi dibeberapa bagian rumah. Dan papan bekas renovasi masih tergeletak didekat gudang.


"Nah kan otak Eneng emang tokcer pokoknya"


Eneng membawa beberapa papan yang cukup lebar kedalam rumah. Para pekerja disana heran menatap Eneng menyeret beberapa papan itu. Geulis yang ingin tahu langsung mendekati Eneng.


"Loe ngapain bawa sampah masuk neng"


"Bagi teteh ini sampah. Tapi bagi Eneng ini berkah"


"Kenapa firasat gue gak enak neng. Loe jangan bikin musibah disini neng"


"Nggaklah. Teh bantuin ngapa daripada ceramah gak jelas"


Eneng menyeret satu papan keujung tangga paling atas dan meletakkan perlahan. Eneng meminta geulis memegang ujung bawahnya sementara dia kembali kebawah dan menyeret satu papan lagi untuk ditumpukkan diujung papan sebelumya. Dan kembali meminta geulis memeganginya.


"Tunggu bentar. Tahan dulu teh jangan dilepasin"


"Loe mau kemana neng"


Eneng berlari kembali ke kamar salsa. Dan membantu salsa duduk diatas kursi roda.


"Loe yakin gue bisa turun tangga pakai kursi roda"


"Haqqul yakin non"


Eneng mendorong kursi roda salsa perlahan. Dan saat didepan tangga, mata salsa melotot seketika melihat tangga tertutup papan.


"Jadi loe bikin ini tadi neng"


"Yap. Namanya jalan tol kebahagiaan"


"Keren banget namanya neng. Yakin loe bakal bawa bahagia"


"Yakinkah. Lihat aja nanti non"


"Oke kita buktikan perkataan loe itu neng"


"Sudah siap untuk meluncur non salsa"


"Siap"


"Bismillahirrahmanirrahim"


Eneng mendorong kursi roda itu perlahan agar tidak oleng. Bahkan sekarang bukan hanya geulis yang membantu Eneng. Beberapa pekerjaan ikut membantu memegang papan agar tidak goyah.


"Sumpah rasanya kayak naik rollercoaster neng"


"Paan itu non. lolel Koster"


"Ealah ntar aja jelasinnya neng. Ribet kalau sama loe"


Eneng masih mendorong perlahan kursi roda itu hingga ke anak tangga paling akhir. Salsa sedari tadi terus berteriak kegirangan jika Eneng sedikit oleng. Bahkan tawanya begitu lepas.


"Alhamdulillah sampai bawah juga non. Huh"


Eneng menyeka keringat didahinya. Dia begitu takut jika majikannya itu terjatuh. Tapi nyatanya tidak.


"Takut eneng non"


"Takut kenapa"


"Takut perjalanan kita tadi tidak lancar. Untungnya semuanya lancar"


"Hahaha loe neng bisa aja"


Beberapa maid yang melihat tawa salsa kembali terdengar ada rasa bahagia dan haru. Nona mereka kehilangan keceriaan sejak tiga tahun yang lalu.


"Dah kita sekarang ke belakang aja ya non. Cari udara segar"


"Oke neng"


Para pekerja membereskan papan yang dibawa oleh Eneng tadi. Sedangkan Eneng mendorong kursi roda salsa menuju halaman belakang rumah.


"Heemmm seger banget neng. Uda lama gue gak merasakan udara seperti ini. Apalagi merasakan hangatnya sengatan matahari"


"Emangnya sudah berapa lama non salsa gak keluar kamar"


"Tiga tahun kayaknya neng. Gue lupa"


"Kok betah sih neng. Bebek sama ayam ngangkrem aja gak selama itu loh non"


"Heh gue manusia bukan binatang kali neng"


"Lah yang bilang neng binatang emang siapa non. Kurang ajar banget. Sini biar Eneng hadapin"


Salsa menepuk jidatnya sendiri. Eneng sibuk berkacak pinggang mendengar seseorang mengatakan bosnya binatang.


"Non sakit. Mau balik ke kamar lagi apa"


"No. Gue pengen disini aja neng. Dikamar pengap"


"Oke deh. Bentar Eneng ambilkan cemilan"


"Neng gue mau jus mangga dong"


"Okey. Neng ke dapur dulu"


Eneng meninggalkan salsa dihalaman belakang sendiri sambil menghirup udara segar dan menikmati hangatnya sang mentari. Selesai membuatkan jus, Eneng bergegas kembali ke taman untuk menemani nonanya itu.


"Nih non diminum biar seger"


"Makasih neng"


"Sama-sama non"


Eneng duduk menemani sang majikan. Karena Eneng memiliki jiwa kepo tinggi, dia pun bertanya kepada salsa akan kondisinya itu.


"Non. Kok bisa sakit gini kenapa sih"


"Gue kecelakaan neng"


"Jatuh dari sepeda non"


"Nggaklah neng. Gue ditabrak mobil"


"Oh my gosh. Kok bisa non. Apa tuh mobil gak punya mata sampai nabrak Eneng"


"Gak tau juga gue neng. Emang mobil punya mata"


"Loh kok malah balik nanya sih non. Eneng mana tau non. Punya mobil aja kagak. Naik mobil baru kemarin sama geulis berangkat kesini"


"Beneran loe baru pertama kali naik mobil neng"


"Beneran atuh non. Pantang bagi Eneng berdusta"


"Hahaha lagak loe neng"


"Terus gimana lanjutan ceritanya non"


"Ya itu gue ditabrak. Udah gitu aja"


"Huhhh penonton kecewa gaesss"


"Hahaha neng mulut loe gak usah dimonyongin kenapa"


"Ini bukti non. Bukti rasa kecewa Eneng terhadap sebuah cerita yang penuh dengan intrik dan kontra indikasi yang mendalam namun tak bisa dijelaskan dengan perkataan ataupun perbuatan"


"Hahaha kontra indikasi. Emangnya obat ada efek sampingnya"


"Ck. Non mah gitu bisanya bikin penasaran aja. Ntar malam Eneng gentayangan loh cari jawaban"


"Cari jawaban dimana neng"


"Mbah Mijen. Siapa tau beruntung dapat satu miliar"


"Emang jawaban apa dapat duit banyak"


"Tugel non"


"Loe suka main kayak gituan neng"


"Main apa non"


"Tuh si tugel"


"Apanya yang tugel non"


"Lah itu ditempat Mbah Mijen"


"Hapah. Apanya Mbah Mijen tugel non"


"Lah mana gue tau neng. Kan loe yang ngomong"


"Wah harus diselidiki nih. Masa Eneng ketinggalan berita"


"Lah loe kan tadi bilang di Mbah Mijen mainan tugel biar dapat satu miliar. Apa maksudnya coba"


"Oalah kalau itu maksudnya nomer dedemit non. Yang banyak orang beli kayak judi gitu"


"Nah kalau tugel yang satu lagi maksudnya apa neng"


"Tugel dalam bahasa Jawa artinya patah non. Tapi beda sama tugel tempat Mbah Mijen. Tugel ini menyakitkan"


"Loe itu sebenarnya orang mana neng. Kok bahasanya campur aduk"


"Eneng aja bingung. Eneng orang mana"


"Bapak sama ibu loe orang mana"


"Orang Indonesia non. Dan Eneng juga orang Indonesia. Bhinneka tunggal Ika. Bersatu kita teguh bercerai kawin lagi"


"Istilah dari mana itu neng"


"Hanya Mbah gulgul yang tau"


________


Maaf telat


Jangan lupa bahagia


Happy reading