
Japri dan Titi sudah tiba dikota dengan membawa Dzaky. Airil hari ini libur. Dia bisa menyambut tamu kehormatan itu. Eneng begitu bahagia melihat kedatangan Dzaky. Dzaky pun langsung menghambur dalam pelukan Eneng dan Airil.
"Uwak kenapa uwak semakin tampan. Dzaky kalah"
"Dzaky juga tampan kok"
"Yuk masuk"
Mereka semua masuk kedalam rumah Airil. Eneng hari ini memang tidak datang kerumah Atha maupun Jay. Karena kedatangan Titi. Adik semata wayang yang sangat dia sayangi.
"Emak gak ikut ti"
"Gak mau teh. Katanya gak ada yang ngurusin Mira"
"Kan ada trio buluk. Mereka kan gue bayar buat jagain Mira ti"
"Teteh kayak gak tau emak aja"
"Oya kalian sarapan dulu yuk. Tadi bibi masak ayam goreng kesukaan Dzaky"
"Beneran bi"
"Iya sayang"
Japri lebih banyak diam dan tersenyum. Dia masih saja canggung dihadapan Eneng dan Airil. Walaupun Airil tak pernah mengingat lagi apa yang terjadi, tetap saja japri tak enak hati.
"Jadi kalian mau nginap sini berapa hari"
"Tiga hari paling teh"
"Yakin Dzaky sudah bisa ditinggalin kamu ti"
"Gak yakin si teh. Tapi kalau terlalu lama nanti Marilyn Monroe bisa konser sama mis kunkun"
Entah mendapat ide dari mana, Airil langsung saja mengatakan apa yang ada dipikirannya.
"Kenapa kalian gak nikah aja sih. Lagian Dzaky udah nganggap Titi ibu kandungnya"
Semua mata tertuju kepada Airil. Orang yang diperhatikan tetap saja santai menyantap makanannya. Titi dan Japri saling pandang. Dalam pikiran mereka, Airil adalah cenayang.
"Kenapa kalian natap gue kayak gitu. Salah emang kata-kata gue"
"Suami Eneng memang amazing. Gue suka gaya loe bang"
"Hmmm teh. Kita nanti mau ngomong sesuatu"
"Apaan. Penting ya"
"Ya begitulah"
"Habiskan dulu makan kalian. Baru nanti kita bicara lagi"
"Ya kang"
Mereka kembali menikmati sarapan paginya. Sesekali Dzaky meminta disuapi oleh Eneng. Selesai sarapan, Titi membantu Eneng membereskan piring kotor dan mencucinya. Airil memilih berbincang dengan Japri sambil menemani Dzaky bermain.
"Ti. Loe mau lanjut sekolah lagi atau mau kerja"
"Titi pengen sekolah lagi teh, tapi nanti gak ada yang jagain emak sama Dzaky"
"Dzaky kan besok sama bapaknya. Masalah emak nanti teteh ajakin ke kota lagi. Loe sekolah disini aja ti"
"Nanti Titi pikirkan lagi teh. Titi gak mau merepotkan teteh sama kang Airil lagi"
"Ck. Loe itu memang masih tanggungan teteh selama loe belum ada yang minang"
"Iya teh"
"Ti. Loe udah ada incaran cowok belum"
"Kenapa emangnya teh"
"Gue mau nyariin loe jodoh"
"Hmm. Gak usah teh"
"Ada yang loe suka"
"Nanti teteh juga tau maksud Titi"
"Apaan sih ti. Gue kepo ini"
"Nanti ah"
"Ck. Sok misterius loe ti"
Setelah menyelesaikan pekerjaan mencuci piringnya, Titi dan Eneng bergabung dengan Airil dan japri.
"Seru amat. Ngobrolin apa"
"Kepo banget sih kamu sayang"
Titi dan japri dudul bersebelahan. Mereka saling menatap. Setelah Titi mengangguk, Japri pun memberanikan diri untuk mengungkapkan niatnya melamar Titi.
"Hem. Neng, kang Airil gue mau ngomong"
"Ngomong aja jap. Gak ada yang melarang kok"
"Sebelumnya gue minta maaf kalau misal perkataan gue nanti bikin kecewa kalian. Khususnya loe neng. Gue siap terima resikonya"
"Emang loe mau nembak gue apa jap, kok sampai takut gue kecewa"
Airil sudah menyentil kening Eneng karena sembarangan ngomong.
"Gak berani gue neng. Dan loe gak usah ngaco"
"Mau ngomong apa sih. Gak usah belibet"
"Gue mau melamar Titi jadi istri dan ibu Dzaky"
Eneng yang kaget langsung menggebrak meja sambil berdiri. Airil reflek terlonjak dan naik keatas sofa karena ulah Eneng.
"Apaaaaa"
"Neng. Neng sabar neng. Gue gak ada maksud jahat. Gue cuma pingin Dzaky punya keluarga lengkap. Loe kan tau cuma sama keluarga loe Dzaky merasa nyaman"
"Ck. Gila loe jap. Sumpah gila"
Eneng berjalan mondar-mandir sambil berkacak pinggang dihadapan mereka. Airil pun mencoba menenangkan sang istri.
"Sayang. Sudah duduk dulu ya. Kita bicara baik-baik"
"Iya teh"
"Sumpah. Gue gak bisa mikir lagi sama loe pri"
"Teh. Kalau memang teteh gak merestui kita. Titi gapapa kok. Titi akan menikah kalau dapat restu dari emak sama teteh juga akang"
"Sayang niat japri itu baik. Akang setuju mereka menikah. Lagian kalau misal japri menikah dengan wanita lain, belum tentu bisa menerima Dzaky"
"Yang bilang gue gak merestui kalian itu siapa"
"Lah terus kenapa kamu mondar-mandir sambil berkacak pinggang gitu sayang. Kayak orang marah"
"Masalahnya kang. Aku pernah lihat terong japri. Udah molor disosor bebek. Kan kasian Titi"
Airil langsung menjewer kuping eneng. Sedangkan Titi menatap japri dengan tatapan tajam.
""Au sakit kang"
"Nakal kamu sayang. Kenapa masih ingat saja kamu. Apa kamu gak suka sama punya akang"
"Bukan gak suka kakng. Suka banget malah. Tapi gue gak sengaja aja ingat kejadian waktu itu. Gimana rasanya sama barang molor"
"Kang japri belum pernah cerita sama Titi"
"Anu ti. Itu gue sudah lupa"
"Teteh lihat semua"
"Iyalah ti. Kan gue yang nolongin"
"Apa sebelum merried Titi periksa dulu teh. Molor nggak"
"Boleh ti. Biar meyakinkan"
Japri langsung melotot sedangkan Airil kembali membungkam mulut Eneng yang gak ada lagi remnya.
"Neng..."
"Eh. Hehehe. Peace kang peace"
"Ini jadinya gue direstui gak neng"
"Iya gue restuin kalian. Mulai sekarang loe panggil gue teteh"
"Kok aneh ya gue manggil loe teteh"
"Gak mau. Gak jadi gue restuin"
"Iya. Iya. Nanti gue coba"
Titi dan japri merasa lega akhirnya restu dari Eneng bisa mereka dapat. Malam ini hanya Titi dan Dzaky yang tidur dirumah Eneng. Japri tetap pulang kerumah Jay. Kini Airil dan Eneng sudah berada didalam kamar mereka.
"Kang. Akhirnya Titi dapat jodoh juga. Ya walaupun jodohnya hampir nikah sama Eneng dulu"
"Namanya kamu jagain jodoh adik kamu sayang"
"Iya ya. Besok Eneng mau minta bayaran. Karena sudah jagain jodohnya Titi"
"Hem"
Airil meletakkan buku yang dibaca diatas nakas. Eneng sedang menyisir rambut dan memakai lotion. Airil mendekati sang istri. Airil merangkul dan mengusap lembut pundak Eneng yang terbuka.
"Akang gak suka kamu mengingat masalalu sayang"
"Masalalu yang mana kang"
"Tuh tadi yang molor"
"Oh terong toh. Kan emang molor"
"Akang gak suka sayang. Kamu hanya boleh lihat punya akang. Ingat punya akang bukan yang lain"
"Kang"
"Nikmati hukumanmu sayang"
"Pasti Eneng nikmati kang. Ayo main kuda lumping kang"
"Dengan senang hati sayang"
Airil dan Eneng saling berhadapan. Airil susah mengarahkan bibirnya untuk beradu dengan bibir mungil Eneng. Jarak mereka tinggal beberapa senti. Namun tiba-tiba saja ada pengganggu yang mengutip dari balkon kamar diatas dahan pohon mangga.
"Ihir. Icik Kiwir. Cup cup muah"
Eneng melihat si poci sedang mengintip dirinya merasa tak terima. Eneng langsung mendekati si poci Ono.
"Kang bentar ada yang ngitipin"
"Siapa sayang"
"Tuh si Ono"
Airil yang paham hanya melihat apa yang akan Eneng lakukan dengan teman dunia lainnya itu.
"Yah penonton kecewa neng. Gue mau lihat live malah siaran tunda. Lanjutin dong neng. Penasaran nih"
Eneng tidak menjawab perkataan Ono. Beruntung Eneng selalu menyimpan galah dibalkon untuk mengambil mangga. Eneng mengambil galah itu dan langsung menyodok si Ono sampai jatuh ke jengkang ke selokan depan rumah Eneng"
"Eneng kampret loe. Tolongin gue nyungsep"
"Rasain loe Ono. Makanya jangan suka ngintip. Bintitan loe besok"
"Markoneng"
________
Akhirnya dapat restu juga kan
Jangan lupa bahagia gaesss..
Jempol digoyang yuk