Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Au au au



"Duh kenapa gue pakai gugup segala sih"


"Ck ah. Tengsin gue sama Eneng"


Airil berjalan mondar-mandir didalam toilet. Satu tangan berkacak pinggang dan satu lagi mengacak rambutnya. Malu itu yang dia rasakan. Sebagai seorang lelaki, ini adalah debut pertamanya untuk sang istri. Namun sayang disayang, rasa gugup membuat penyakit lamanya kambuh.


"Gue harus gimana dong"


"Eneng marah ini. Pasti. Loe sih ril bege banget. Setiap gugup kenapa harus mules pake kentut segala. Mau taruh mana ni muka. Ck. Aah"


Saat Airil sedang bingung mencari cara agar bisa menghadapi Eneng yang mungkin sedang kecewa terhadap dirinya, sang pujaan hati masih terlentang tanpa bisa bergerak diatas ranjang dengan posisi yang sama.


"Itu tadi si akang ngapain gue ya. Kok rasanya aneh"


Eneng masih mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya dan Airil.


"Dada gue dangdutan cuy. Kok tiba-tiba gue kepanasan gini sih. Kipas mana kipas"


Eneng berusaha bangun mencari sesuatu untuk mengipasi dirinya. Eneng masih belum sadar jika kemejanya sudah terbuka. Dia berjalan mencari sesuatu yang bisa dijadikan kipas.


Airil sudah menguatkan hati untuk menemui Eneng dan meminta maaf atas kesalahannya tadi. Disaat bersamaan, Eneng juga sedang berdiri didepan pintu toilet. Airil yang membuka pintu toilet langsung melotot melihat pemandangan wow.


"Akang"


"En. Neng"


"Udah gak mules lagi kang"


"Ng. Ng. Nggak"


"Oh"


Mata Airil benar-benar tak bisa beralih dari pemandangan indah didepannya. Sedangkan Eneng masih santai mengipasi tubuhnya. Bagai terhipnotis, Airil melupakan niatnya untuk meminta maaf. Airil berjalan mendekat kearah Eneng yang sedang duduk disofa sambil menatap pemandangan diluar jendela.


Airil duduk tepat dibelakang Eneng. Tangan Airil melingkar diperut Eneng. Saat telapak tangan Airil yang dingin menyentuh kulit perutnya, Eneng baru tersadar jika sedari tadi dia memamerkan aset indahnya dihadapan Airil.


"Kang"


"Ini indah sayang"


Airil kembali memulai aksinya. Eneng sudah sangat tegang. Apalagi tangan Airil tak bisa diam terus saja menjelajahi bagian yang sudah terbuka itu. Bibirnya kembali mengecupi leher belakang Eneng.


"Kang"


"Nikmati sayang. Ini malam kita"


Semakin lama Airil semakin mengganas. Eneng pun tak bisa mengimbanginya. Tubuhnya lemas seketika. Serasa tulangnya baru saja dipresto. Benar-benar lunak.


"Sayang malam ini boleh kan"


Tak ada suara dari Eneng. Namun masih bisa dirasakan deru nafas Eneng yang memburu. Keringat keduanya sudah deras mengalir. Pendingin kamar hotel tersebut sepertinya langsung tidak berfungsi. Karena sudah tak sabar lagi, Airil pun langsung mendorong tubuh Eneng diatas sofa.


Eneng benar-benar pasrah. Airil tersenyum tipis disudut bibirnya. Sambil menatap indahnya benda yang melambai-lambai dihadapannya untuk dinikmati. Airil melepaskan kaosnya. Enneg semakin melotot.


Airil kembali melancarkan aksi pemanasan ya. Dia bersyukur penyakit gugupnya bisa hilang seketika. Dan berdoa semoga semua lancar bagaikan jalan tol. Kini saatnya Airil melepaskan sesuatu yang sudah tersimpan lama.


"Kamu sudah siap kan sayang"


Nafas Eneng hanya tinggal menunggu waktu pagi atau sore. Dia begitu kehabisan nafas saat Airil melancarkan pemanasan yang membuat urat syaraf dan urat malunya entah kemana. Yang bisa Eneng lakukan hanya melihat ciptaan mahakarya terindah dari yang kuasa dan saat ini sedang slow motion melepaskan celana panjangnya.


Perlahan celana itu diturunkan. Pikiran Eneng berkata untuk menutup matanya. Namun matanya mengkhianati karena terus melotot kearah satu titik yang terlihat sangat uwu. Melihat sang istri terus menatapnya. Jiwa seorang pria sejatinya semakin membara.


"Siap bertemu dengan lobak sayang"


Eneng sama sekali tak bergerak ataupun bersuara. Matanya benar-benar fokus pada satu titik. Airil benar-benar ingin menggoda sang istri. Satu-satunya penutup tersisa itu dilepas dengan perlahan. Dan tampaklah sudah.


"Makkkk. Kentongan makkkk"


Tanpa basa-basi si kentongan siap beraksi. Dan terjadi lagi.


"Sayang tahan bentar mungkin akan sedikit sakit"


"Kangggg. Gak muat"


"Muat. Bentar"


Dan


Golll.


Hugh. Hugh.


"Lah kok malah cegukan sayang"


"Akang ngagetin. Hugh"


Begitulah mereka melewati malam panas dengan irama yang yang yang gimana gitu. Setiap satu serangan disambut satu cegukan oleh Eneng. Begitu seterusnya hingga mereka menuntaskan semuanya.


"Alhamdulillah. Makasih sayang"


"Iya kang"


"Loh kok udah sembuh cegukannya sayang"


"Udah hilang kagetnya kang"


"Hahaha. Mau coba lagi. Masih bisa aku sayang"


"Apaaaaa"


Eneng bangun karena merasa lapar. Eneng masih merasakan badannya yang sangat remuk. Posisi tidurnya pun sangat berbahagia saat ini. Salah bergerak akan berakibat fatal. Dan itu terjadi.


"Ahhhh"


Dugh


"Aduh. Au. Sayang kenapa kamu menendang kentongan. Au"


"Hah. Maaf akang gak sengaja. Mana yang sakit kang"


Airil masih mendekap erat korban tendangan maut Eneng. Eneng langsung menyibak selimut mereka dan mencari letak dimana pusat sakit Airil.


"Mana kang yang sakit"


"Sayang. Aduh kamu semakin memancing namanya ini. Ahhh"


"Mancing apa. Gak ada kolam kok mancing. Udah mana yang sakit biar aku periksa"


Airil membuka perlahan tangan yang menutupi benda berharganya itu.


"Aghhh"


Eneng malah menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan. Airil pun tertawa melihat kelakuan Eneng.


"Hahaha. Kamu apa-apaan sih sayang. Semalam aja dipandang terus gak kedip. Sekarang kok melahirkan ditutup matanya"


"Semalam khilaf kang beneran"


"Khilaf berkali-kali ya sayang. Hahaha"


"Ish malah godain. Udah pake sarung sana ntar masuk angin"


"Iya bentaran. Tadi katanya mau ngobatin sayang. Kok gak jadi"


"Obati aja sendiri kang"


"Kan kamu yang nendang"


"Iya-iya. Bentar aku cariin minyak gosok dulu"


"Buat apa minyak gosong"


"Lah tadi katanya ngilu. Diurut bentar pake minyak gosok nanti sembuh kang"


"Iya kalau itu kaki apa tangan. Ini Otong sayang"


"Emang apa bedanya"


"Hadeh. Bisa kepanasan semalaman dong"


"Ya malah cepet sembuh kalau awet panasnya"


"Hadeh. Udah gak usah sayang. Yang ada aku penasan terus nanti. Gak bisa dipakai tampil"


"Oke deh kalau gak jadi"


Eneng menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia berjalan menuju toilet dengan tertatih. Rasanya benar-benar ngilu dan perih. Sesekali Eneng meringis. Airil ingin menggendongnya tapi Eneng menolak.


"Ayo akang gendong saja sayang. Kamu amsih sakit kan"


"Gak usah. Eneng bisa kok kang"


Usai bersih-bersih, Airil akan membawa Eneng sarapan sekaligus makan siang dikafe hotel. Airil sudah merencanakan akan membawa Eneng berlibur ke pantai. Walaupun hanya tiga hari, Airil benar-benar ingin membahagiakan eneng.


Mereka menuju tempat wisata yang sangat indah. Diatas perbukitan. Udaranya pun sejuk.


"Wah sejuknya disini"


"Iya sayang. Bikin adem pikiran"


"Emang pikiran akang panas"


"Tadinya"


"Kebanyakan mikirin mesum ya"


"Gaklah"


Mereka berdiri dibawah pohon jambu air yang menjulang tinggi. Airil yang tak bisa menahan diri. Langsung menyerang Eneng langsung dibibir seksinya. Baru saja menempel.


Hachim Hachim


"Kamu flu sayang"


"Nggak kang"


"Lah terus"


"Kumismu menggelitikiku"


______


Dah kan tapi jangan berharap lebih. Ditampilkan Eneng ntar


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempolnya digoyang yuk