
Satu Minggu setelah acara empat bulanan Eneng, Titi menikah dengan Japri. Acara pernikahan diadakan dikampung. Titi dan Japri hanya mengadakan acara sederhana saja. Halaman rumah emak memang cukup luas. Airil menyewa tenda cukup mewah yang didirikan didepan rumah emak. Pelaminan yang dipilih Airil juga tak kalah elegan.
Japri memberikan Titi mas kawin berupa sawah dan juga perhiasan. Seperti janji Eneng dan Airil, hampir seluruh biaya pernikahan Titi mereka tanggung. Namun pada kenyataannya Jay dan Arka turun tangan. Semua acara dihandle WO milik Arash.
Saat acara pengajian Minggu lalu. Akhirnya terkuak jika Eneng bukanlah mantan istri Japri dan Dzaky bukanlah anak Eneng. Mereka yang sempat berprasangka buruk kepada Eneng, kini mereka sangat salut kepada Eneng.
Acara pernikahan Titi sangat meriah dengan adanya penyanyi ibu kota. Bahkan ada panggung hiburan juga untuk memeriahkan acara. Acara akad nikah sudah dilaksanakan pagi tadi. Dan siang ini dilanjutkan dengan acara resepsi.
Sambil menunggu acara resepsi, keluarga Airil dan Eneng serta keluarga besar Malik memilih beristirahat didalam rumah Eneng. Namun ada juga yang memilih berjalan-jalan disekitar kampung Eneng.
Kendil Jennar tak kalah heboh sama seperti para warga lainnya. Melihat para pangeran dari keluarga Malik yang bening-bening. Ada saja ulah mereka untuk mendekati para pangeran.
Tak terasa siang telah beranjak. Kini sedang berlangsung acara resepsi. Hal yang amat sangat paling Eneng takutkan adalah emak. Emak tidak akan pernah bisa menahan diri jika suara musik sudah terdengar.
"Duh kang"
"Kenapa sayang. Perut kamu sakit"
Airil langsung mengusap perut Eneng yang semakin terlihat membesar walaupun usia kandungannya masih empat bulan.
"Nggak kang. Lihat tuh mata emak"
Airil langsung melihat kearah ibu mertuanya yang tak fokus menyambut uluran tangan para undangan. Emak eneng selalu menatap kearah panggung hiburan.
"Bisa bencana ini sayang"
"Nah itu dia kang. Coba akang tanya sama tuan Jay, itu panggung pake bambu apa besi"
"Kenapa sayang"
"Tuh gajah duduk kalau tiba-tiba lari ke panggung kan berabe"
"Iya juga. Ya udah akang tanya om Jay dulu"
Eneng lebih memilih duduk dengan membawa berbagai macam makanan. Airil mendatangi Jay yang sedang asyik berbincang dengan Arif. Airil membisikkan pertanyaan yang Eneng takutkan kepada Jay.
"Oh iya ya. Saya lupa ril. Mana tadi cuma pake bambu kayaknya"
"Ya sudah om. Semoga bambunya tabah menerima kenyataan"
"Iya. Semoga saja tuh bambu kuat menahan beban"
"Airil ke tempat Eneng dulu om"
"Ya"
Airil kembali ketempat Eneng duduk manis. Dan kini Eneng duduk bersama Aretha. Aretha nampak kesal, karena Eneng bisa makan sepuasnya selama hamil namun berat badan Eneng sama sekali tidak berubah. Hampir mirip orang cacingan kalau kata si kembar. Sedangkan Retha yang saat ini juga sedang mengandung adik Serkan, berat badannya selalu naik drastis.
"Neng. Loe kok badannya gak berubah sih"
"Ya mau gimana lagi non. Udah bawaannya nih badan segini saja"
"Gue dari habis melahirkan Serkan, nurunin berat badan susahnya minta ampun. Sekarang hamil naik lagi. Loe sama Icha mah enak. Badan gak berubah sama sekali"
"Disyukuri non. Lagian mas Arsya juga gak protes kan. Mas Arsya juga setia kok"
"Iya juga ya neng"
Mereka kembali menikmati camilan sambil berbincang sekitar kehamilan. Airil datang langsung duduk disamping Eneng.
"Gimana kang"
"Hanya bisa berdoa. Semoga tidak ada badai"
"Huh. Terima nasib sajalah"
Aretha yang tidak begitu paham arah pembicaraan mereka, mencoba untuk bertanya.
"Emang mau ada badai apa neng"
"Badai gempa dadakan non"
"Adakah yang seperti itu"
"Kita lihat nanti non"
Suara mikrofon sudah terdengar. Pertanda acara musik akan segera dimulai. Eneng dan Airil mulai was was. Begitu juga dengan Jay. Mereka hanya bisa berdoa agar emak bisa menahan diri sehari saja.
Para tamu undangan masih sangat banyak. Dari berbagai kampung mereka datang. Keluarga Eneng tidak meminta sumbangan atau hadiah. Cukup mendoakan Titi dan Japri saja. Suara musik nada pembukaan sudah berdenging. Eneng menatap tajam ke arah enak. Dan benar saja, emak semakin gelisah.
"Selamat siang. Assalamualaikum warahmatullahi wabarrakatu. Kami dari orkes dangdut kecimpring yang siang ini akan menghibur para tamu undangan sekalian. Sebelumnya kami ucapkan selamat menempuh hidup baru untuk pasangan Titi dan Japri semoga sakinah mawadah warahmah dan hingga maut memisahkan kalian. Aamiin"
"Baiklah. Untuk lagu pembuka. Kami akan membawakan sebuah lagu lama yang masih enak untuk didengar. Spesial untuk kedua mempelai. Yuk kita merapat berjoged bersama. Lagu memandangmu spesial untuk Titi dan Japri"
Alunan musik mulai terdengar. Eneng melihat kearah emak. Masih sedikit aman. Hanya saja terlihat kepala emak goyang-goyang saja. Makin lama musik dan lagu semakin asyik untuk bergoyang. Nampak kaki emak mulai tak tenang. Beruntung tamu undangan sudah mulai berkurang.
Lagu ketiga mulai dengan lagu yang lebih menantang. Para tamu sudah berjoged ria didepan panggung. Bahkan para pangeran Malik pun ikut berjoget bersama kendil jennar.
Emak mulai kepanasan. Duduk sudah tak tenang. Benar apa yang ditakutkan oleh Eneng. Emak langsung menaikan kain kebanyaknya. Tanpa aba-aba, emak berlari kearah panggung hiburan. Para tetangga yang melihat emak berlari, kompak berteriak
"Awas ada gajah lepas dari kandang. Minggir"
Para tamu menyingkir dan memberi jalan kepada emak. Bahkan beberapa anak kecil meneriaki emak saat berlari.
"Gempa. Ada gempa"
Emak berhasil naik ke panggung. Semua mata tertuju kepadanya. Kain batik sudah terangkat hingga diatas lutut. Baju kebaya dia lepas dua kancing paling bawah dan membuat ikatan simpul didepan perut. Namun sanggul masih bertengger.
"Kang"
"Iya sayang"
"Semoga tidak terjadi korban jiwa"
"Iya. Akang takut roboh itu panggung"
"Kalau cuma roboh saja gak masalah kang. Takutnya kalau ada yang ketimpa emak. Itu berabe"
Emak mengambil alih panggung. Mikrofon sudah ditangannya. Emak mulai meminta kepada pemain musik untuk memainkan lagu yang diinginkannya. Dan lagu andalan emak adalah iwak peyek.
"Tarik mang"
Emak mulai bernyanyi. Para penonton ikut terhipnotis. Sebenarnya suara emak cukup merdu. Hanya saja cara jogednya yang mengerikan.
Hooo oooo ooooo oooo
Saat intro emak melakukan joged ala penyanyi aslinya. Sanggul sudah emak lempar entah kemana. Kepala dia putar-putar seperti akan putus saja. Goyangan ngebor ala emak semakin menggila.
Krekkkk krekkkk
Jay yang berada didekat panggung langsung memberikan peringatan agar para tamu yang berjoged sedikit menjauhi area panggung.
"Kang. Denger gak"
"Iya sayang. Coba kamu lihat tuh tiang tenda sudah mulai miring sayang"
"Kang. Sebaiknya kita menyingkir"
"Yuk sayang"
Benar apa yang menjadi perkiraan Eneng. Belum juga Eneng sampai diteras rumah. Suara gemuruh mulai terdengar. Dan teriakan para tamu undangan.
Krekkkk brukkk
"Roboh awas roboh"
Eneng menoleh kearah panggung. Dia hanya bisa menghela nafas saja. Titi dan Japri pun sama. Kedua pasangan itu hanya menatap dari kejauhan. Tenda menutupi seluruh panggung yang ternyata juga sudah patah satu tiang penyangga.
"Ada gajah dalam selimut"
_______
Ambyarrr dehhhh
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk