
"Fathan, Fathian. Nanti kalian akan tinggal dirumah ayah Arash selagi kami pergi umroh"
"Gak mau"
"Lah kok berubah. Bukannya kemarin sudah setuju"
"Gak mau. Kita mau dirumah saja"
"Emang berani"
"Beranilah. Kan ada KunNo"
"Yakin. Cukup sama KunNo saja"
"Yakin papa. Lagian cuma sembilan hari ini kan"
"Iya. Disana sembilan hari. Kalau sama perjalanan, ya paling dua belas harian lah"
"Gapapa. Papa gak usah khawatir. Ada KunNo sama kita"
"Ya sudah kalau memang mau kalian seperti itu"
Mereka sedang bersantai menonton acara drama ditelevisi internasional. Eneng datang membawa camilan. Tak ketinggalan duo KunNo yang juga ikut menonton.
"Kalian lihat apa"
"Drama Korea mah"
"Sesekali nonton yang Indonesia gitu dek"
"Haduh mah. Drama negeri sendiri terlalu lebay deh"
Airil yang notabene hanyalah pengikut, memilih diam saja melihat perdebatan anak dan istrinya dalam menentukan pilihan tonton. Baginya itu lebih menarik dibanding menonton drama dilayar televisi.
"Pokoknya hari ini mama mau nonton pilem horor baru. Dan kalian gak boleh bantah. Gak takut apa mama kutuk jadi cebong"
"Iya. Iya. Mama mau nonton disaluran apa"
"Ikan tenggelam"
"Bentar"
Fathan mencari cenel televisi yang dimaui sang mama. Dan ternyata memang sedang memutar drama horor baru.
"Nah ini yang mama mau lihat"
Melihat judulnya saja sudah membuat Si kembar dan Airil melotot. Tak jauh beda dengan KunNo.
"Yang bener aja judulnya mah"
"Lah emang itu judulnya bang. Emang salah gitu"
"Ya gak sih. Tapi apa mereka gak kreatif dikit bikin judul. Pocong Tampan Anak Pak Lurah. Emang ada jadi pocong aja tampan"
"Abang namanya juga pilem. Dahlah diem gak usah protes"
"Habis aneh. Si Ono aja gak ada cakep-cakepnya sama sekali. Penasaran kayak apa pocong yang main dipilem ini"
"Diem Abang. Mama lagi nonton"
Mereka melihat adegan demi adegan. Seperti titah Eneng, tak ada satupun yang bersuara. Hanya Eneng saja yang terkadang terbawa suasana ikut mengomel. Seperti saat adegan ketahuan selingkuh. Dan pasangan selingkuhnya tak jauh beda dengan pasangan sahnya. Eneng jengkel sendiri.
"Ya Allah. Aduh namanya selingkuh itu cari yang bagusan bukan sama ancur ya. Gak usah selingkuh mbak. Kalau jatuhnya dilubang yang sama. Sama-sama anjur kok diajak selingkuh. Bege amat sih"
Airil dan kedua anaknya tertawa melihat reaksi Eneng yang heboh sendiri. Kunti yang awalnya anteng akhirnya ikut terprovokasi oleh Eneng. Setiap adegan yang tak disukai, mereka langsung berkomentar. Dan adegan yang paling mereka nantikan. Sang pemain utama. Kang poci.
"Buahahahahaha. Ya Allah ampunn. Sakit perut gue bang"
"Buahahahahaha. Ya Allah dek. Hancur martabat si Ono ini namanya"
"Hahahaha. Kalian benar sekali gaess. Papa udah gak bisa berkata-kata lagi sekarang. Sumpah sakit perut ini"
Eneng langsung meminta Ono berdiri disamping televisi agar dia bisa membandingkan wajah setan abal-abal dan setan asli. Pecah suara tawa mereka termasuk Kunti. Sedangkan Ono yang merasa ternistakan langsung cemberut.
"Buahahahahaha. No sumpah kalau gue jadi loe, gue gak terima beneran no"
Eneng mulai mengkompori Ono yang sudah mulai badmood. Ono yang semasa hidup cukup tampan merasa ternistakan dengan poci abal-abal itu.
"Aduh no. Mending loe jauh beneran. Hahahaha"
"Iya bener kata Thian. Kalau loe main pilem laku keras pasti no"
"Iya bos laku. Habis itu pada sawan semua"
"Hahaha. Bener juga kata loe no. Lupa gue. Kalian bikin sawan orang"
Airil yang sedari tadi tertawa harus mau dipermalukan. Karena rahasianya harus terbongkar didepan anak dan bodyguard transparan mereka.
"Bang bau apa ini"
"Eh iya. Kok pesing-pesing gitu sih dek"
"KunNo kalian ngompol ya"
"Nggaklah bos. Kita mana bisa gitu lagi"
"Lah terus siapa yang ngompol"
Eneng sambil tetap memakan camilannya dan menatap layar dihadapannya, menjawab pertanyaan anak-anaknya tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Papa yang ngompol"
"Apaaaaa"
Semua menatap kearah Airil. Kecuali Eneng. Airil hanya bisa meringis. Dia langsung berlari masuk kedalam kamarnya. Tawa pecah setelah Airil membanting pintunya.
Jederrr
"Buahahahahaha. Bayi tua gaessss"
"Hahahaha. Sungguh ku tak menyangka bos besar masih bayi. Hahahaha
Duo bodyguard lucknut sedang mengolok majikannya. Duo F yang awalnya tertawa langsung terdiam dan menatap kearah mamanya.
"Mama emang papa begitu"
"Begitu apa dek. Ngompolan maksudnya gitu"
"Heem"
"Papa itu gak boleh kebanyakan ketawa dek. Kalau ketawa terus-menerus pasti ngompol"
"Hadeh. Memalukan"
"Untungnya ya bang. Yang lihat cuma KunNo. Mereka kan gak bisa ember kemanusia lainnya"
"Iya. Untungnya bodyguard kita istimewa"
"Hem spesial. Pake telur cicak"
"Bos yang bagusan dikit napa. Masa telur cicak"
"Udah bagus telur cicak. Daripada gak pakai telur. Gak ngembang"
"Huh"
Mereka meneruskan menemani Eneng menonton pilem itu hingga habis. Dan Airil tidak keluar kamar lagi. Ini kali pertama Airil benar-benar malu didepan anak-anaknya. Terutama si KunNo saat ini punya senjata untuk membalas Airil.
Hari ini duo F masih libur. Dan kebetulan Dean bersaudara sedang menjalani ujian akhir sekolah. Dan sebentar lagi mereka akan melangkah ke jenjang selanjutnya, berpisah dengan duo F.
Duo F menjalani masa libur dengan bekerja. Menambah pundi-pundi uang Almeer. Begitupula keduanya. Uang yang mereka hasilkan disimpan oleh Eneng. Untuk masa depan mereka nantinya.
Konsep pometretan mereka kali ini berada diruangan. Almeer sudah menyiapkan sesaji untuk keduanya. Berharap akan berjalan lancar. Ini kali ketiga Almeer hanya bekerja sama dengan duo F saja. Mereka bisa sedikit anteng. Karena beberapa hari memang berada di luar ruangan.
"Bos. Modelnya belum datang"
"Waduh kemana dua curut itu. Bentar gue telpon dulu"
Almeer keluar studio untuk menghubungi Fathan. Namun ponsel Fathan tidak bisa dihubungi. Almeer menghubungi Thian. Almeer lega karena nomor Thian bisa terhubung. Namun ada yang aneh saat Thian mengangkat panggilan Almeer.
"Heh. Dimana kalian"
"Heh. Ughhh. Ap. Pa. Ughhh. Bang"
"Loe lagi ngapain Thian. Awas aneh-aneh. Gue pukul loe"
"Ughhhhh. Brotttt. Legaaaa"
"Dasar curut. Loe buang gas. Untung gak sampai sini baunya. Dimana loe. Buruan datang"
"Ughhhhh. Ben. Tar bang. Di. Kit lagi. Brotttt"
"Dasar anak curut"
Terdengar suara aliran air. Almeer langsung menebak sedang dimana Thian berada kini.
"Thian. Loe lagi boker"
"Heem bang"
"Ih jorok. Kenapa angkat telpon lagi boker"
"Ck. Gak diangkat ntar ngamuk"
"Ya ampun Thian. Nyebelin amat sih. Mana pikiran gue udah lain lagi"
"Emang Abang mikirin apa"
"Anak kecil gak boleh tau. Buruan ke kantor thian. Cari duit"
"Sante saja bang. Lilin udah disiapin kan"
"Udah. Loe dimana"
"Udah dikantor kok. Jangan lupa tuh lilin Abang jagain. Jangan sampai mati. Kalau mati gak dapat duit"
"Loe kira gue ngepet"
"Kali aja"
"Mana Fathan"
"Ada dikamar mandi sebelah"
"Yaelah boker aja barengan"
"Emang Abang nggak sama kak Meera"
"Diem. Buruan ke studio"
"Hemm"
Thian sedang menunggu Fathan didepan toilet. Ada seorang karyawan wanita melihat Thian dengan senyuman yang aneh menurut Thian. Dan perempuan itu menyapa Thian.
"Hai. Kamu adik pak Almeer ya"
"Iya Tante kenapa"
"Kok Tante. Kakak dong. Kan umur saya gak jauh dari pak Almeer"
"Oh. Tapi mukanya boros ya"
"Hah. Maksud kamu apa"
"Gak ada"
Fathan keluar dari toilet. Fathan terkejut melihat ada perempuan berdiri didepan Thian. Dia langsung bersembunyi dibalik badan sang adik.
"Kakak boleh nitip makan siang buat pak Almeer gak. Ini kakak khusus masak sendiri"
"Bang Al. Gak makan nasi"
"Oh ya. Terus makannya apa dong"
"Menyan sama kembang"
Thian menarik Fathan pergi dari karyawan wanita tadi. Mereka menuju lift dan langsung ke studio sebelum Almeer semakin mengamuk. Saat berada didalam lift. Mereka bertemu karyawan setipe didepan toilet.
"Hai. Kalian adik pak Al ya"
"Iya Tante"
"Heh. Kakak saja"
"Oh"
"Boleh tanya gak"
"Apa"
"Makanan kesukaan pak Almeer apa sih"
"Kembang sama menyan"
"Hah. Seriusan"
"Hem"
"Ah bercanda kalian"
"Gak"
"Jadi seriusan gitu"
"Hem"
Ting
Pintu lift terbuka. Duo F berjalan keluar dan kebetulan ruangan karyawan tadi dilantai yang sama dengan studio foto. Pagi tadi Almeer sempat meminta duo F membawakan bunga mawar dan meminta semua tangkai dibuang. Karena Almeer tahu jika Eneng memiliki banyak bunga mawar. Pikirannya daripada beli dengan harga mahal, dan hanya akan diinjak-injak oleh model. Dia memilih meminta pada Eneng.
Didepan pintu studio Almeer menunggu. Thian langsung mengulurkan plastik berisi mawar yang dibawa Thian dari rumah.
"Bang ini kembangnya. Menyannya juga ada"
"Good boy. Ayo masuk"
Mereka tak menyadari jika kelakuan Thian tadi dilihat oleh karyawan yang satu lift dengan duo F tadi. Berita pun menyebar digrup perusahaan.
"Gak nyangka bos turunan makhluk halus. Makan kembang dan menyan"
Tajuk itu membuat heboh seluruh isi perusahaan. Bahkan terlampir gambar Thian memberikan kembang kepada Almeer. Rio yang melihat grup perusahaan langsung tersedak minumannya. Dan Almeer sedang berada disampingnya.
"Ada apa Yo"
"Anu bos. Ini ada berita heboh"
"Berita apaan"
"Bos jangan marah ya"
"Hem. Apaan"
Rio mengulurkan ponselnya. Almeer melotot melihat berita gosip tersebut. Dan Almeer tahu siapa biang kerok semua ini.
"Fathan. Fathian. Dasar curut kalian"
_____
Masih mikir akan lanjut disatu judul atau lainnya..... melanjutkan kisah mereka ini...emak bisa mengalahkan rekor tersanjung 🤣🤣🤣🤣
jangan lupa bahagia gaesss..
jempol digoyang yuk