
Pagi sekali keluarga Malik dan Eneng berangkat ke kampung Eneng. Mereka membawa serta pengacara keluarga. Dalam perjalanan Eneng hanya bisa berdoa agar diberi jalan yang terbaik. Rasa takut juga menyerangnya. Apalagi kini hatinya sudah terpaut pada seorang dokter tampan pujaan setiap kaum hawa.
Airil sudah diberi tahu jika Eneng akan berangkat pagi ini. Sayangnya dia tidak bisa mengantar dan juga tidak bisa ikut. Airil hanya bisa berdoa agar semua lancar dan dapat berjodoh dengan Eneng.
"Neng. Nanti sebaiknya kita langsung bertemu tetua adat kampung kamu dulu. Agar jelas seperti apa aturan adat kampung kamu itu"
"Ya tuan"
"Jangan sedih neng. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kamu"
"Terimakasih non Jasmine"
"Berdoa ya. Biar Daddy si kembar keluar uang banyak buat nikahan kamu sama akang dokter. Hahaha"
"Pasti itu non Jasmine. Hahahaha"
"Kayaknya saya perlu introgasi sekali lagi dokter itu. Spesialis apa bisa kecantol Eneng"
"Tuan mah sirik amat. Gak suka apa Eneng dapat yang bening"
"Bukan gak suka neng. Cuma penasaran saja. Kok bisa gitu"
"Ya bisalah tuan. Kan pake S kalau pake L jadinya bila"
"Sak karepmu neng" ¹
Perjalanan mereka sudah hampir sampai. Satu kilometer lagi mereka akan memasuki kampung Eneng. Entah mengapa Eneng semakin gusar. Dia mencoba mengirim pesan kepada Airil. Setidaknya balasan pesan dari Airil bisa menenangkannya.
"Neng dari gapura kita kemana"
"Lurus terus saja tuan. Nanti ada warung ditepi jalan, maju limapuluh meter terus belok ke kiri"
"Okay"
Memang Jay tidak membawa sopir. Dia sendiri yang membawa mobil. Mereka berencana akan menginap beberapa hari sampai urusan selesai. Bahkan si kembar dititipkan dirumah uyutnya bersama Aidil.
"Tuan rumah Eneng yang berwarna hijau itu"
"Okay"
Emak tidak tahu jika Eneng pulang bersama dengan majikan barunya. Karena setau emak, Eneng akan pulang saat akad nikah saja. Walaupun kabar Japri sudah menghamili Tati sudah tersebar dikampung, itu tak menyurutkan ketua adat setempat membatalkan pernikahan Eneng.
Rombongan itu turun dari mobil. Beberapa tetangga yang melihat kedatangan Eneng, tidak langsung mendekat. Ada rasa iba diraut wajah mereka. Eneng langsung melangkah masuk kedalam rumah. Rumah Eneng nampak sepi.
"Assalamualaikum Mak. Eneng pulang"
Masih tak ada sahutan dari dalam rumah. Eneng mencoba mendorong pintu rumahnya. Beruntung tidak terkunci. Rumah nampak sepi. Tapi Eneng yakin jika emak dan adiknya berada dirumah.
"Neng emak kamu pergi mungkin"
"Tidak nyonya besar. Eneng yakin emak ada didalam"
Eneng melangkah menuju kamar emaknya. Pintu kamar terbuka sedikit. Terdengar Isak tangis emak dan Titi.
"Emak yakin mau pergi dari kampung ini"
"Sebaiknya begitu ti. Kasian teteh kamu kalau harus menikah menjadi istri kedua. Emak gak rela ti"
"Tapi ini rumah Abah Mak. Emak gak sayang"
"Rumah bisa kita jual. Tapi kebahagiaan teteh kamu itu yang utama. Selama ini teteh kamu berusaha membahagiakan kita ti. Emak gak tega kalau harus nyakitin perasaannya"
"Iya mak. Titi juga setuju"
"Kamu telpon teteh. Jangan sampai dia pulang. Dan jangan kamu kasih tau kalau kita akan pergi dari kampung ini"
"Tapi teteh nanti akan marah Mak"
"Biarlah dia marah sesaat. Nanti juga akan kembali baik ti. Cepat kamu telpon"
"Ya Mak"
Titi beranjak untuk mengambil ponselnya. Namun dia dikejutkan dengan Eneng yang sudah berdiri dihadapannya. Titi langsung berlari memeluk tetehnya.
"Teteh"
"Kenapa kalian gak mau kasih kabar Eneng. Kenapa kalian mau kabur"
"Maaf teh"
Eneng melepas pelukan Titi. Dia berjalan mendekati emaknya yang sedang terbaring lemas diatas ranjang. Emak jatuh sakit karena desakan para tetua adat.
"Kenapa emak gak bilang kalau sakit"
"Baru saja. Apa yang mereka katakan Mak, kenapa emak merelakan rumah ini"
"Tidak apa-apa neng"
"Mak jangan ditutupi. Eneng sengaja pulang awal untuk menyelesaikan masalah ini"
"Neng. Sudahlah kita pergi saja. Emak gak mau kamu jadi istri kedua Japri. Gak rela neng gak rela"
"Maksudnya gimana Mak"
"Para tetua meminta Japri menikahi kamu dan Tati secara bersamaan. Karena Tati hamil, maka Tati dianggap istri pertama neng"
"Kenapa seperti itu mak"
"Emak juga gak tau. Apa yang orangtua Tati katakan kepada tetua adat"
Jay dan yang lainnya mendengar dibelakang. Mereka langsung menghela nafas kesal. Masih ada adat semacam itu. Menikah karena sudah terikat. Eneng yang sempat lupa dengan tamunya, langsung memperkenalkan kepada emak dan adiknya. Bahkan Eneng juga menjelaskan mereka akan membantu Eneng.
"Ya sudah sebaiknya kita langsung kerumah tetua adat saja neng"
"Iya tuan"
"Emak ikut neng"
"Emak istirahat saja. Titi temani emak"
"Ya teh"
Eneng langsung membawa mereka kerumah tetua adat. Beberapa tetangga yang melihat eneng berjalan menuju rumah tetua adat hanya bisa berdoa dari jauh. Entah mengapa seolah mereka menjauh dari Eneng. Tiba dirumah tetua adat, Eneng melihat ada mobil disana. Eneng sedikit lega karena itu pasti anak tetua adat yang berasal dari kota sedang berkunjung. Dengan adanya anak tetua adat, kemungkinan permasalahan Eneng akan lebih mudah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Loh neng. Ada apa. Bukannya baru Minggu besok kamu nikah"
"Maaf bah. Eneng mau bicara"
"Sini masuk. Kamu bawa tamu dari kota juga neng"
"Iya bah"
Eneng menjelaskan kepada tetua adat yang biasa dipanggil Abah dan juga mengenalkan siapa tamu dari kota tersebut. Dan juga menjelaskan maksud kedatangannya.
"Saya sebagai tetua adat tetap menerapkan aturan yang ada. Apalagi menurut Tati, Japri tidak mencintai kamu. Dan hanya karena sudah terikat saja kalian menikah"
"Tolong bah. Eneng akan menikah dengan orang lain dikota"
"Tidak bisa neng. Saya tidak mau terkena bala"
Jay kesal. Hampir saja dia mengumpat untung Jasmine bisa menenangkan nya. Anak dari tetua adat itu keluar dari dalam mendengar ada keributan.
"Loh neng ada apa tumben kesini"
"Ini kang bahas pernikahan Eneng yang sudah dibatalkan"
"Kenapa"
Eneng menjelaskan semua duduk masalahnya. Beruntung anak tetua adat itu orang berpendidikan dan perfikiran maju. Dia sependapat dengan Eneng untuk membatalkan pernikahan. Namun abahnya masih tetap keras kepala.
"Bah. Tidak ada hal semacam itu. Ini sudah jaman modern"
"Kamu tau apa. Pokonya mereka tetap menikah bertiga besok Minggu. Tidak ada penolakan. Atau kamu bawa emak dan adikmu keluar kampung ini. Dan rumah serat karbon kamu akan kami bakar sebagai penolak bala"
"Anda keterlaluan. Ini namanya melanggar hukum. Memaksakan sebuah pernikahan tanpa dasar yang jelas"
"Kalian orang kota tidak berhak ikut campur. Memang kalian siapanya Eneng"
"Saya keluarga Eneng"
"Pokoknya keputusan tidak bisa dirubah. Kalian akan menikah besok Minggu"
Sang tetua kampung langsung berlalu pergi. Namun anaknya berjanji akan mencari cara agar bisa membantu Eneng. Dan menghapus aturan aneh dikampung ini.
_________
Kali ini serius dulu ya...Eneng lagi waras karena puyeng mau jadi istri kedua. Jadi cerita ini berdasarkan adat kampung seseorang yang saya kenal. Namun itu sudah dihapus sekarang. Dia hampir mengalami sendiri.
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempolnya digoyang yuk