
Sore menjelang, Eneng sudah siap dengan gamis berwarna maroon pemberian Melany. Bahkan gamis itu masih berlabel harga. Hijab Eneng diberikan oleh Jasmine. Jasmine juga membantu eneng berdandan menggunakan hijab. Karena Eneng memang tidak bisa menggunakan hijab.
"Masyaallah cantik kamu neng"
"Ah nyonya bikin malu Eneng saja"
"Beneran neng. Semoga suatu saat nanti kamu Istiqomah ya neng"
"Aamiin nyah"
Melany masuk kedalam kamar Eneng. Melany pun juga memuji Eneng seperti Jasmine.
"Oya mah. Jasmine jadinya ikut pengajian saja"
"Loh bukannya kamu mau pulang sayang. Abah kamu jadi datang kan"
"Nggak jadi mah. Abah baru akan pulang lusa"
"Ya sudah kalau gitu. Berati si kembar saja daddynya kan"
"Iya mah. Opanya juga dirumah kan"
"Iya ada kok. Biar mereka yang momong hari ini. Kita cari ilmu saja"
"Iya mah"
Mereka bertiga sudah siap dan segera berangkat ke masjid kompleks. Di depan rumah beberapa ibu komplek menunggu Jasmine dan Melany.
"Assalamualaikum ibu-ibu"
"Waalaikumsalam Bu Melany. Wah mbak Jasmine ikut ngaji juga hari ini"
"Alhamdulillah Bu"
"Oya ini siapa Bu Mel"
"Ini pengasuh si kembar Bu"
"Loh kok malah ikut pengajian bukannya ngasuh cucu ibu di rumah"
"Alhamdulillah opa dan daddynya sedang tidak sibuk. Jadi kami mengajak Eneng menimba ilmu"
"Ya Allah baik sekali ibu"
"Mari kita berangkat ibu-ibu biar gak terlambat"
"Iya mari"
Eneng merasa sangat canggung berjalan disamping Jasmine. Karena rombongan mereka adalah ibu-ibu kelas atas. Nampak beberapa dari mereka sengaja memamerkan perhiasan yang dipakainya.
"Neng kenapa nunduk terus"
"Nyonya apa sebaiknya Eneng pulang saja ya"
"Loh kenapa neng"
"Gak enak sama ibu-ibu nyah. Eneng kan cuma pembantu"
"Dimata Allah kita semua sama neng. Kamu gak boleh malu. Kecuali kamu mencuri atau berbuat dzalim kepada orang lain, tak perlu kamu menundukkan wajahmu"
"Iya nyah. Maaf"
"Iya gapapa neng"
Jaraka mushola perumahan tak begitu jauh dari rumah Jay. Walaupun didalam kompleks, musholah itu cukup megah dan mewah.
"Cantik sekali musholah ya"
"Alhamdulillah. Biar betah dan bikin nagih jamaah untuk datang dan datang lagi neng"
"Aamiin"
Ada beberapa orang yang ditunjuk sebagai penyambut tamu. Beberapa dari mereka juga ada yang merendahkan Eneng. Eneng tak begitu menanggapi karena merasa apa yang dikatakan oleh mereka benar adanya. Jasmine yang sedikit kesal, langsung berdehem sedikit keras.
Didalam sudah nampak para anggota pengajian. Sebelum ustad memberi tausiyah, seorang hafidz Qur'an membacakan beberapa ayat dalam Al-Qur'an beserta artinya. Eneng anteng mendengarkan dengan khidmat.
Isi tausiyah kali tentang kehidupan manusia pada umumnya. Banyak pelajaran yang engga dapat. Ustad pun cukup pandai dalam membuat lelucon hingga para jamaah tidak merasa mengantuk ataupun bosan. Setelah tiga puluh menit tausyiah ditutup. Dan penganjian juga ditutup. Acar berlajut dengan makan bersama. sebagai penyambung silaturahmi.
"Nyah adem banget rasanya dengar suara pak ustad tadi"
"Alhamdulillah kalau gitu neng"
"Nyah besok kalau ada pengajian lagi Eneng boleh ikut kan"
"Harus dong neng"
"Hehehe"
Dari kejauhan ada dua orang pria yang tampan menggunakan jubah berwarna abu dan songkok putih berdiri menjawab pertanyaan setiap ibu-ibu jamaah bertanya.
"Wah ganteng banget sih. Adem gitu lihat wajahnya. Huh jadi pengen"
"Pengen apa neng"
"Pengen yang kayak itu satu aja nyah"
"Awas kalau kamu sampai pingsan disini, saya tinggal pulang"
"Ya udah Eneng mau pingsan disamping mamas ganteng itu aja"
"Berani mendekat kesana, saya ungsikan kamu ke Afrika"
"Ck ah nyonya mengganggu kesenangan orang saja"
"Udah yuk makan dulu terus pulang. Mau ikut ke mall gak"
"Mau dong nyah kalau diajak"
"Makanya ayo buruan makan. Terus berangkat"
"Oke Bosque"
Eneng berjalan mengikuti Jasmine menuju tempat prasmanan. Berbagai jenis makanan tersaji disana. Eneng mengambil secukupnya saja.
"Sudah neng"
"Sudah nyah"
"Yuk duduk didekat teras saja biar gak panas"
"Ya nyah"
"Assalamu'alaikum Bu Zaydan"
"Waalaikumsalam. Ustad Akmal"
"Maaf saya mengganggu waktu ibu, ada yang ingin saya sampaikan"
"Iya ustad silahkan. Tapi saya sambil duduk tidak apa"
"Tidak apa Bu. Saya juga akan duduk"
Ustad Akmal duduk sedikit menjaga jarak dari Jasmine. Disamping Jasmine juga banyak ibu-ibu jamaah pengajian. Jadi tidak akan menimbulkan fitnah.
"Begini Bu, saya ingin memberikan laporan pengeluaran panti dari dua bulan lalu"
"Kenapa tidak kerumah saja ustad. Suami dan papa mertua saya ada dirumah"
"Oh begitu. Baiklah kalau begitu. Setelah acara ini selesai, saya akan mampir kerumah Bu"
"Iya silahkan. Kami tunggu"
"Kalau begitu, saya pamit Bu. Mau bertemu jamaah lain"
"Silahkan"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Akmal tersenyum sekilas tanpa memandang kepada Jasmine ataupun Eneng. Itu membuat seseorang yang sedang makan tidak konsentrasi.
"Neng. Eneng"
"Nyah. Yakin dia gak boleh buat saya"
"Gak boleh. Udah punya tunangan kok masih nyari yang lain"
"Ealah nyah. Belum tentu tunangan jodoh kita. Banyak tuh yang pacaran lama, nikahnya sama yang lain. Jadi berasa jagain jodoh orang nyah. Susah sama kita eh senang sama yang lain. Sakit nyah"
"Lebay. Dah yuk pulang. Sebelum si kembar rewel"
"Ayolah. Tapi nyonya Melany mana. Nanti kalau hilang tuan Arka bisa nangis guling-guling nyah"
"Hahaha. Mau ngomong sendiri sama papa atau aku omongin neng"
"Ngomong sendiri masih bisa kok nyah"
Mereka berjalan sambil mencari Melany. Se lah bertemu Melany, mereka langsung kembali kerumah. Setibanya dirumah hak tak terduga mereka lihat.
"Ya Allah"
"Duh Gusti. Ini namanya anak bayi momong bayi gede nyah"
"Daddy kok malah tidur sih"
"Hemm. Apa sayang. Kalau minta jatah nantilah. Capek ini"
"Jatah apanya. Bangun daddy. Itu anaknya masuk ke kolong meja. Ya Allah"
Tak jauh beda dengan Jasmine, Melany juga kesal karena Arka ikut tertidur dan kedua cucunya sudah berada dikolong meja ruang tamu.
"Den Jay mah siang-siang bikin panas. Kalau nyonya gak mau neng gantiin aja"
Mendengar celotehan Eneng. Jay langsung waspada dan melotot kearah markoneng yang tersenyum tak jelas.
"Apa kamu senyum-senyum neng. Habis obat kamu"
"Ck tuan Eneng kan lagi bayangin yang panas-panas sama tuan"
"Oh kamu mau yang panas-panas sama saya neng"
"Mau-mau"
"Yuk saya kasih yang panasnya tak terlupakan"
"Aduh Eneng jadi gak enak sama nyonya Jasmine"
"Tenang saja, istri saya gak akan marah kok. Udah ayo ikutin saya"
Jay berdiri dan berjalan menuju taman belakang diikuti Eneng.
"Loh tuan ngajakin panas-panas dikamar Eneng ya. Jangan dong berantakan. kamar Eneng tuan"
Jay tak menjawab dia terus berjalan. Eneng yang masih belum mengerti arah jalan Jay, hanya tersenyum sambil tertunduk.
"Loh tuan kok ke lahan yang dibuat taman bermain sih"
"Katanya mau panas-panas neng"
"Iya tuan. Masa tuan gak malu dilihatin para pekerja"
"Kenapa harus malu. Kan biar rame"
"Maksudnya gimana tuan"
"Kamu pengen panas-panas kan, sekarang kamu berdiri ditengah tanah yang mau dibuat kolam renang. Dah sono berdiri"
"Apaaa"
"Gak usah teriak. Cukup berdiri satu jam saja disana. Saya jamin panasnya ahhhh banget"
"Sungguh teganya dirimu teganya teganya"
"Gue mah bodo amat. Bye bye. Awas berteduh saya masukin kolam arwana"
"Huahhhhhh emakkkk"
Jay tertawa dan berjalan masuk kedalam rumah. Sedangkan diteras Arka bersama Melany dan Jasmine hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
"Pantes langsung klik. Ketemu sobat ambyar si tengil"
______
besok saya percepat alurnya ya. Biar cepat tau siapa jodoh Eneng aslinya gaesss
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk