Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Kambuh



Eneng membicarakan apa yang menjadi keinginan emaknya. Titi juga setuju ingin kembali ke kampung. Jay dan Arka tidak bisa menghalangi keinginan emak dan Titi. Masalah rumah yang saat ini mereka tempati, Jay dan Arka menyerahkan sepenuhnya kepada Eneng, karena itu hak mereka


Sabtu pagi Eneng akan berangkat ke kampung. Airil awalnya akan mengantar, namun dia mendapat panggilan dadakan dari rumah sakit. Airil berjanji akan segera menyusul Eneng setelah operasi selesai.


"Eneng jadi berangkat hari Sabtu"


"Jadi non"


"Ya sudah nanti diantar mang Toyib saja"


"Tadinya mau naik bis saja non. Sudah lama gak naik bis"


"Gak. Pake mobil saja. Emang kamu mau bayar kursi bis lebih neng"


"Kenapa non kok harus bayar lebih"


"Gak inget bemper emak kamu itu baru muat kalau pake kursi tripel"


"Oh iya lupa Eneng. Susah juga ya non. Mending naik pick up"


'Terus emak kamu dikasih belakang gitu"


"Iya non. Kan lega tuh duduknya"


"Kamu kira emak kamu sapi"


"Ya sebelas dua belas non"


"Dasar anak semprul kamu neng"


"Hehehe"


Jasmine sedang memasak dibantu oleh Eneng. Hari ini memang Jasmine toska ikut Jay ke kantor.


"Airil sudah tau kamu mau berangkat kapan"


"Sudah non. Makanya neng mau naik bis. Kan minggunya mau dijemput akang"


"Dah gak usah naik bis. Lagian kamu kayak gak kenal tunangan kamu saja. Lagi kejar tayang biar bisa bulan madu"


"Apa enaknya sih bulan madu non"


"Nanti juga kamu tahu dan pasti ketagihan neng"


"Bisa ya bulan dikasih madu. Rasanya gimana"


"Capek deh neng"


Sore ini Airil sengaja menjemput Eneng. Disisa waktu bekerjanya, Airil menyempatkan waktu untuk bertemu sang kekasih. Sekedar melepas rindu.


"Kita mau kemana kang"


"Kencan sayang. Kangen aku tuh"


"Sama aku juga"


Namun jawaban Eneng yang begitu lirih hampir saja tak terdengar oleh Airil. Airil tertawa mendengar pengakuan lirih eneng.


"Sayang kamu jadi besok pagi berangkat"


"Jadi kang. Tadinya mau naik bis. Tapi gak boleh sama non Jasmine"


"Gak. Kalau gak diantar sama sopir om Jay, mending nunggu Minggu aku antar sendiri. Jangan naik bis"


"Lagian ya kalau naik bis harus banyar ekstra kang"


"Lah kenapa"


"Slebor emak kegedean"


"Hahaha. Durhakim kamu sayang"


Airil mengajak Eneng makan dikafe yang banyak diminati oleh anak muda. Suasananya juga romantis dihiasi dengan lampu-lampu kecil warna warni. Outdoor kafe tersebut terdapat kolam dengan hiasan yang ikonik. Menambah suasana semakin romantis.


"Kita makan diluar saja sayang. Lebih santai"


"Ya kang"


Eneng mengikuti langkah Airil. Mereka duduk ditepi kolam. Melihat langit luas yang tampak indah dengan taburan bintang dan bulan purnama ya.


"Tapi disini dingin ya kang"


"Sini aku peluk sayang"


"Ih modus"


"Hahaha. Tau aja. Namanya juga kangen. Sebuah ini kita ketemu baru dua kali ini loh sayang. Maaf ya jadwalku gak beraturan"


"Gapapa. Namanya juga cari rezeki kang"


Airil tersenyum mendengar jawaban Eneng. Perlahan Eneng sudah terbiasa dengan perlakuan Airil. Seperti saat ini. Airil merangkul Eneng dan meletakkan kepala Eneng diatas pundaknya. Awalnya Eneng nampak tegang. Namun lama-kelamaan mulai biasa.


"Yuk makan dulu. Mumpung masih anget"


"Iya kang"


Mereka makan setelah pesanan diantarkan. Banyak muda mudi yang juga menghabiskan waktu ditempat tersebut. Sesekali Airil menyuapi Eneng. Karena perlakuan Airil itu, Eneng yang gugup menjadi cegukan.


"Ya Allah. Hahaha. Kamu sayang. Dah minum dulu"


"Ugh. Akang ugh sih"


Eneng meminum air mineral agar cegukannya hilang. Namun sudah habis satu botol, cegukan Eneng tak kunjung hilang. Karena malu Eneng mencoba menahannya.


"Kang pulang yuk. Malu cegukan gak hilang ini"


Airil membayar makanannya dikasir. Eneng berusaha menahan cegukannya dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.


"Hahaha. Masih gak hilang juga"


"Ish akang ih"


"Kamu itu lucu. Setiap diromantisin. Ada aja yang ajaib"


"Huh"


Airil mengantarkan Eneng pulang kerumah. Karena malam belum begitu larut dan didekat komplek rumah Jay ada pasar malam, Airil sengaja mengajak Eneng kesana.


"Mampir pasar malam mau gak. Ini belum malam banget kok"


"Mau mau"


Airil langsung mengarah ke tanah lapang tak begitu jauh dari kompleks perumahan Jay. Disana sudah ada berbagai macam permainan. Penjual makanan khas pasar malam juga sudah menempati lapak mereka masing-masing. Pasar malam tersebut sangat ramai oleh para warga sekitar yang didominasi anak kecil.


"Wuih. Ramenya"


"Mau jalan dulu atau naik permainan"


"Manut ajalah"


"Ya udah jalan dulu. Sambil hilangin cegukan kamu"


"Hemm"


Eneng memang masih cegukan. Airil memiliki ide jahil membawa Eneng masuk ke wahana rumah hantu. Sepertinya Airil lupa jika setan sungguhan saja bisa pusing bila bertemu Eneng. Apalagi setan boongan.


"Kita mau kemana"


"Dah yuk ikut saja"


Eneng membaca tulisan didepan gerbang masuk salah satu wahana.


"Rumah hantu. Ngapain kesini kang"


"Ya main aja. Kamu takut. Tenang ada akang neng"


"Oh"


Airil dan Eneng masuk kedalam wahana setelah membeli tiket. Awalnya masih biasa saja. Didalam banyak pasangan kekasih ataupun rombongan yang mencoba wahana tersebut.


"Idih modus"


"Apa sayang"


"Tuh lihat modus biar bisa peluk-peluk"


"Kalau pingin. Sini aku peluk sayang"


"Nggak ah. Ntar setannya iri"


Eneng dan Airil sudah mendapat giliran untuk masuk kedalam. Area pertama yang dia lewati dijaga oleh mas poci. Eneng yang saat itu kaget reflek memukul kepala si poci menggunakan clutch yang dibawanya.


"Astaghfirullah. Poci sialan. Kaget gue. Radian nih"


"Aduh sakit ampun ampun"


Si poci memilih kabur masuk kedalam ruangan sebelum babak belur. Airil melotot melihat kelakuan Eneng. Mereka lalu berjalan keruangan berikutnya. Suara teriakan ketakutan pengunjung lain tidak berpengaruh kepada Eneng. Diruangan berikutnya mereka disambut oleh buto ijo dengan rambut gimbal panjang.


Niat hati membuat pengunjung takut. Namun yang ada dia harus merelakan rambut panjangnya dibawa oleh Eneng. Terjadilah kejar mengejar antara buto ijo dan Eneng didalam area pasar malam yang menjadi tontonan.


"Balikin rambut gue woy"


"Ogah. Salah sendiri jahil"


"Balikin woy. Gue mau kerja"


"Emang gue pikirin"


"Maling oe maling"


Teriakan maling dari si buto ijo bukan mendapat simpati malah menjadi tontonan. Bahkan hampir semua pengunjung pasar malam mengabadikan kejadian luar biasa itu dan dipiralkan. Dengan judul rambut buto ijo dicolong.


Airil yang melihat Eneng masih berlari berusaha menangkapnya dari arah berlawanan. Dan akhirnya tertangkap.


"Sudah sayang berhenti. Kembalikan rambut dia"


"Yaelah kang. Kerenan juga dia gundul daripada gondrong"


Sibuto ijo yang kelelahan karena berlari, langsung duduk selonjoran dibelakang eneng sambil mengomel.


"Woy rambut gue oe"


"Udah gundul aja"


"Gak bisa dong. Gundul jatahnya tuyul. Gue kan buto ijo"


"Sesekali lah buto ijo gundul"


"Loe perusak budaya persetanan tau gak"


______


Hai hai


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk