Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Berita Bahagia



Karena kondisi Airil yang tidak semakin membaik. Eneng meminta bantuan Jay untuk membawa Airil ke rumah sakit. Jay yang memang julid selalu saja menggoda Eneng.


"Dokter bisa sakit juga ya"


"Dokter juga manusia kali tuan"


"Kirain udah kebal virus"


Jay membawa Airil kerumah sakit tempat dia bekerja karena itu paling terdekat. Jay menunggu hingga Airil selesai pemeriksaan. Para dokter dan perawat yang melihat kondisi Airil, ikut khawatir. Apalagi Airil sakitnya sangat mendadak. Jay juga ikut masuk kedalam ruang periksa karena penasaran akan penyakit Airil.


"Bagaimana dok. Suami saya sakit apa"


"Dokter Airil baik-baik saja kok. Lambung sehat. Gak ada masalah lambung juga"


"Tapi dia muntah terus dok. Ini sampai lemas"


"Saya curiga satu hal ini"


"Apa dok"


"Sebaiknya yang diperiksa ibu suci saja"


"Kok saya dok. Saya sehat saja"


"Saya hanya memastikan. Karena kasus seperti ini saya sudah tiga kali menjumpai dan bukan suami yang bermasalah namun istrinya"


"Sudahlah neng. Kamu periksa saja. Siapa tau benar apa kata dokter"


"Tapi saya kan sehat tuan"


"Badan kamu sehat gak otak kamu. Oleng"


"Tuan ih gitu"


"Bagaimana ibu suci. Bersedia untuk melakukan pemeriksaan"


"Hm. Baiklah dok"


"Mari berbaring. Saya akan periksa"


Dokter tersebut mulai memeriksa area perut Eneng. Detak jantung Eneng juga ikut diperiksa. Selesai dengan pemeriksaannya, dokter itu membisikan sesuatu kepada sang perawat. Airil hanya bisa diam melihat dari kursi periksa ditemani Jay.


"Bagaiman dok. Saya sehat kan"


"Tunggu sebentar. Saya perlu memastikan sesuatu"


Perawat yang dimintai tolong dokter tadi sudah kembali membawa pesanan sang dokter.


"Ibu tolong cek urine ibu. Untuk memastikan diagnosa saya memang mengarah kesana. Ini silahkan"


"Ini apa dok. Saya gak paham"


"Biar ditemani perawat saja ya. Karena suami ibu sepertiya masih lemas"


"Baik dok"


Airil dan Jay yang sempat melihat alat apa yang diberikan kepada Eneng, langsung saling pandang. Bahkan Airil yang tadinya lemas langsung bangkit dan bertanya kepada dokter dihadapannya.


"Dokter yakin"


"Sepertinya begitu dokter Airil. Nanti jika itu benar, saya langsung alihkan ke dokter kandungan"


"Baik dok. Makasih"


Tak lama Eneng sudah keluar dari toilet. Namun perawat yang tadi bersamanya masih berada ditoilet. Selang satu menit perawat itu keluar dengan wajah tersenyum. Dan menyerahkan alat tes kehamilan kepada dokter tadi.


"Alhamdulillah. Ternyata dugaan saya benar dokter Airil. Selamat ya. Untuk seterusnya saya serahkan kepada dokter kandungan"


Eneng belum paham maksud dokter didepannya. Dia menatap Airil yang tersenyum sangat manis. Bahkan ada setitik air mata disudut mata Airil.


"Ada apa sih. Eneng sakit apa kang"


"Gak sayang kamu gak sakit"


"Terus kenapa akang mau nangis"


"Karena bahagia sayang"


"Sakit kok bahagia sih kang"


Jay kesal karena otak Eneng yang suka kumatan. Ditambah sudah banyak pasien lain mengantri.


"Stop. Ril ayo bawa Eneng ke dokter kandungan. Atau sekalian ke dokter syaraf. Biar sembuh olengnya"


"Tuan"


"Iya benar. Dok makasih. Saya pamit"


"Iya. Sekali lagi selamat dokter Airil. Segera menjadi ayah"


"Terimakasih dok"


Airil merasa lebih sehat. Bahkan dia tidak mau lagi menggunakan kursi roda. Berjalan dengan senyum terus terkembang. Jay pun langsung mengirim kabar bahagia kepada keluarganya. Hanya eneng yang masih bingung. Karena dia merasa sehat tidak sakit.


"Selamat siang dok"


"Siang. Dokter Airil. Bukannya hari ini ijin ya"


"Iya Dok. Oya dokter kosong tidak"


"Sebenarnya saya sudah selesai praktek. Ada apa dok"


Airil menyerahkan surat rekomendasi dari dokter umum tadi. Dokter kandungan itu tersenyum. Namun sebelum memeriksa Eneng, dokter tersebut menyarankan Airil untuk menemui dokter kandungan yang pertama kali memeriksa Eneng. Sesuai riwayat pemeriksaan Eneng.


"Sebaiknya dokter Airil bertemu dokter Fahmi dulu. Biar bagaimanapun. Bu Suci masih pasien beliau"


"Tapi bukannya dokter Fahmi sedang berada diluar kota dok"


"Oh iya ya. Oh begini saja. Saya akan periksa kondisi saat ini. Nanti bisa saya jadikan rekomendasi pemeriksaan lanjutan untuk dokter fahmi. Bagiamana dok"


"Ya dok. Saya setuju"


"Baik bu suci. Sebaiknya kita mulai pemeriksaan awal saja. Tolong timbang dulu berat badannya dan diukur tekanan darahnya sus"


"Ya dok. Mari Bu Suci"


Eneng mengikuti perawat tersebut dan melakukan pemeriksaan awal kehamilan.


"Hm. Semua baik. Kita bisa USG awal untuk mengetahui kondisi janin. Bu suci bisa berbaring di bed"


"Baik dok"


Eneng mulai diperiksa. Betapa bahagianya Airil melihat calon anaknya yang ternyata sudah sebesar biji kenari. Bahkan disana tidak hanya satu tapi ada dua.


"Wah sepertinya anaknya kembar ini"


"Hem. Yes berhasil"


"Wah sepertinya ada yang dokter Airil rencanakan ya"


"Begitulah dok"


"Semua sehat. Tapi untuk lebih jelasnya nanti tunggu dokter Fahmi dulu ya"


"Ya dok"


"Saya kasih vitamin dan penguat kandungan ya"


"Baik dok"


Eneng masih belum paham. Dan akhirnya aiirl menjelaskan apa yang baru saja dia lihat. Eneng menangis bahagia. Bagaimana tidak. Masih teringat perkataan dokter Fahmi terakhir kali Eneng menjalani pemeriksaan. Indung telur Eneng sangat kecil. Dan kemungkinan akan sulit dibuahi.


Eneng sudah menjalani pengobatan. Dengan disuntikan obat untuk memperbesar indung telur. Menjalani pola hidup sehat seperti saran dokter. Dan mereka juga terus berdoa agar ada keajaiban. Dan sebelum dokter Fahmi melakukan perjalanan keluar kota, Eneng menjalani pemeriksaan dan dinyatakan jika indung telur Eneng ada perkembangan. Setelah itu Eneng dan Airil hanya pasrah saja.


Dan anugerah itu benar-benar nyata mereka peroleh. Bukan hanya satu namun dua sekaligus. Karena tanpa sepengetahuan Eneng, Airil meminta tambahan vitamin untuk janin kembar. Dokter Fahmi pesimis jika itu bisa berhasil. Karena kondisi indung telur Eneng.


Namun ternyata kuasa Tuhan begitu besar. Eneng benar-benar dianugerahi anak kembar. Walaupun untuk sementara mereka belum bisa tenang dengan kondisi sesungguhnya calon anak mereka. Mereka percaya jika calon anak mereka itu kuat dan tidak akan terjadi apa-apa.


Jay kembali memberi info kepada keluarga dirumah. Jasmine dan Melany bahagia akan kehadiran anggota baru nanti. Airil pun sama. Setelah sampai dirumah, Airil langsung mengabari kedua orangtuanya dan emak Eneng.


Orangtua Airil sangat bahagia. Dan segara berangkat ke kota untuk menemani Eneng. Sedangkan emak Eneng memiliki reaksi berbeda.


"Apa Eneng bunting"


"Iya Mak"


"Wah kacau ini mah kacau"


"Kenapa Mak. Emak gak senang punya cucu lagi"


"Senang dong mantu. Senang banget. Tapi ah"


"Kenapa Mak"


"Kamu tau kan emak taruhan sama Eneng. Kalau dalam enam bulan Eneng belum hamil juga, emak akan mengajarkan jurus andalan emak. Ini belum enam bulan dia sudah bunting"


"Ya bagus dong Mak. Jadi emak gak perlu capek-capek praktek sama guling. Hahaha"


"Mantu kampret emang. Masalahnya bukan itu air mancur. Kalau emak kalah taruhan, Eneng yang akan cerita jurus andalannya"


"Hahahaha. Selamat menikmati Mak"


"Emak pecat jadi mantu kamu air mancur"


"Oh tidak bisa. Airil sudah punya hak paten sekarang"


"Ck. Dasar air muncrat"


______


Wuih anak Eneng kembar. Siapa yang bakal nurun Eneng nih


Jangan lupa bahagia gaesss


Vote vote..like like