Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Setan Protes



Kesepakatan sudah diambil. Dzaky akan dibuatkan surat-surat resmi dengan menggunakan nama kedua orangtuanya. Namun hak asuh akan dijatuhkan seutuhnya kepada Japri. Selama menunggu kesembuhan Japri. Titi yang akan merawat Dzaky. Awalnya Eneng ingin membawa Dzaky ke kota, namun Airil meminta agar hal ini dibicarakan dahulu kepada keluarga Malik. Biar bagaimanapun, Eneng sudah dianggap anak sendiri.


Airil dan Eneng bersiap untuk kembali ke kota. Usai sholat Maghrib, emak meminta Eneng dan Airil makan terlebih dahulu sebelum berangkat. Saat membereskan beberapa barang bawaannya, tiba-tiba kunci mobil Airil tidak bisa ditemukan.


"Sayang. Lihat kunci mobil gak"


"Tadi akang taruh mana"


"Seingatku tadi sehabis dari pulang dari rumah sakit, aku taruh dimeja makan. Ini kok gak ada ya"


"Coba cari dulu kang yang teliti. Mungkin jatuh dikolong meja"


"Iya"


Airil kembali menyusuri sekitar ruang makan. Dari atas meja hingga kolong dia mencari. Namun tak juga ditemukan. Eneng datang untuk membantu.


"Gimana ketemu belum kang"


"Belum sayang. Bantuin. Keburu kemalaman nanti"


"Iya. Aku cari didekat kompor ya kang"


"Ya udah. Coba aku cari dulu didepan sama dikamar"


Eneng mencari disetiap sudut ruangan. Bahkan lobang-lobang kecilpun dia telusuri. Tetap saja belum ditemukan. Airil pun sama. Dia kembali menghampiri Eneng dengan wajah frustasi karena belum menemukan kunci mobil miliknya.


"Duh gimana nih yang. Kunci cadangan ada dirumah. Gimana mau pulangnya"


"Ck. Dicari kemana-mana masih gak ketemu. Jangan-jangan diambil setan kang"


"Masa sih sayang"


Tiba-tiba beberapa perabot dapur berjatuhan. Airil dan Eneng terkejut. Airil sedikit takut dengan kejadian itu. Tapi tidak untuk Eneng. Melihat perabotannya dilempar oleh makhluk transparan, Eneng pun mengamuk.


"Woy setan. Balikin gak panci gue. Kalau sampe bolong loe harus ganti"


"Gue gak mau balikin. Gue kesal sama loe"


"Kesal kenapa"


"Loe ya manusia. Selalu saja nyalahin setan kalau ada barang hilang. Dikit-dikit setan. Bisa gak sih gak nuduh kami. Kami gak seburuk itu"


"Lah terus mau nyalahin siapa coba. Gak mungkin kan malaikat yang nyolong. Yang ada setan"


"Loe ya ngajak gelud gue ya. Gak takut loe sama gue"


"Ngapain gue takut sama loe Tan. Kalau loe gak mau disalahin gak usah ngambil barang disini"


"Gue gak ngambil. Lagian nyetir mobil aja gak bisa ngapain ngambil kuncinya"


"Mana gue tau. Balikin sini kuncinya. Kalau gak tuh lubang di punggung loe gue semen"


"Udah gue bilang gue gak ngambil"


"Ngaku gak loe. Kalau gak gue semen bener tuh lobang. Lagian bikin lobang kok dipunggung kayak gak ada tempat lain aja"


"Gue itu sundel bolong. Dan udah bolong dipunggung dari sononya"


"Tapi mumpung ketemu loe ya tan. Gue mau nanya"


"Paan. Kalau kunci lagi gak tau gue"


"Loe bolong dipunggung. Terus kalau loe makan sate kenapa tuh sate keluar dari punggung. Bukannya perut loe didepan gak bolong ya"


Mak sunsun mencoba berfikir. Karena dia sendiri juga bingung. Kenapa setiap dia makan selalu keluar lewat punggung.


"Gimana tau gak jawabannya"


"Pusing gue pusing"


"Sama gue juga pusing. Tapi gue pengen tau jawabannya Tan"


"Loe nanya gue. Lah gue nanya siapa dong. Gusti kenapa gue harus jadi sundel bolong sih. Kenapa gak jadi vampir aja"


"Falak loe cocoknya. Sana cari dulu jawabannya. Biar loe gak mati penasaran"


"Iya juga ya. Bentar gue tanya dulu ke teman-teman lainnya"


Sundel bolong pergi entah kemana. Airil yang melihat interaksi kekasihnya itu hanya bisa menghela nafas saja. Dia sudah biasa dengan Eneng yang seperti itu. Kembali mereka mencari kunci mobil yang masih belum ditemukan.


"Oe setan. Kenapa belum loe balikin juga sih kuncinya"


Si sundel bolong datang kembali. Lagi-lagi peralatan dapur jadi sasaran. Dan sekarang sampai bolong. Eneng pun kesal dan menghukum si sunsun.


"Woy sun. Ini panci sama wajan gue bolong semua. Tambal gak"


"Ogah. Loe yang mulai kok"


"Tambal gak"


"Ogah"


"Oke. Udah gue siapin semen buat nambah lubang loe"


"Ampun jangan. Oke-oke gue tambal semua panci dan wajan loe"


"Sana buruan kerjain. Awas kalau gak rapet"


"Iya iya. Nasib-nasib hancur dunia persetanan. Nama gue berubah sundel bolong tukang patri"


Eneng dan Airil duduk di kursi. Eneng sambil mengawasi pekerjaan disunsun. Dan Airil masih berusaha mengingat dimana meletakkan kunci mobilnya.


"Bener kang"


"Iya"


"Kok bisa gak ada ya"


Sunsun ikut menyahut sambil terus mematri panci dan wajan yang bolong.


"Jangan salahkan gue lagi. Gue gak bersalah"


"Diem loe kerja sama"


Emak datang dari arah kebun belakang. Melihat perabotannya berserakan, emak mengamuk. Apalagi disana duduk sesosok perempuan berbaju putih rambut panjang sedang mematri panci.


"Eneng ini kenapa berantakan"


"Tuh sisundel ngamuk Mak"


"Loe ngapain ngamuk dirumah gue"


"Anak loe Mak nuduh gue ambil kunci mobil babang tampan"


"Gak usah clamitan jadi setan. Jatah loe buka. dia"


"Iya-iya"


"Terus loe ngamuk bantingin perabotan gue sun"


"Iyalah Mak. Mau banting apalagi. Nanti anak loe yang ada gue remuk sendiri Mak"


"Loe banting sampai bolong semua gini"


"Iya Mak"


Emak berjalan mendekat kearah miss sun sun. Dan langsung menjewer kuping sunsun.


"Loe ya udah gue ijinin tinggal di pohon Pete gue. Sekarang malah hancurin perabotan gue"


"Sakit Mak. Ampun Mak. Ini lagi gue patri Mak"


"Sono patri yang bener. Kalau sampai masih bolong lagi. Minggat loe dari pohon pete gue"


"Iya Mak. Kenapa cuma dirumah ini gue gak dihargai. Ditakuti aja nggak. Nasib-nasib jadi setan"


"Gak usah ngomel. Kerja yang bener"


"Iya Mak"


Airil masih mencari-cari kunci mobilnya. Emak yang melihat kegelisahan sang calon mantu langsung bertanya ada apa gerangan.


"Nyari apa ril"


"Kunci mobil Mak"


"Oalah. Kunci mobil kamu emak simpen takut digondol setan"


Sundel bolong yang merasa kembali disalahkan merasa tak terima.


"Setan lagi setan lagi. Kapan sih kita ini ada benarnya. Apa-apa disalahkan. Kan kesel jadinya. Kita tuh jadi setan udah baik-baik loh Mak. Hiks hiks"


"Gak usah baper loe. Gak ada setan baper"


"Habisnya kalian nyalahin gue melulu dari tadi. Padahal kuncinya disimpan emak diantara dua gunung beracun. Bau gak tuh"


"Enak aja bau. Wangi ya. Lagian kalau disembunyikan disitu lebih aman gak ada yang berani ambil"


"Iyalah aman. Buto ijo dilawan. Manusia aja takut apalagi setan"


"Loe ngatain gue apa tadi"


"Buto ijo Mak. Gitu aja gak dengar"


Sunsun merasa kalau dia baru saja memancing kemarahan emak.


"Ups sorry Mak. Canda kali"


"Pensiun loe jadi setan"


"Terus jadi apa dong Mak"


"Tukang patri keliling"


"Bunuh gue Mak. Bunuh saja gue"


"Low tubuh udah mati Tan. Gimana cara gue bunuhnya"


"Iya juga ya. Kok gue jadi Oneng ya"



pak dokter dan eneng


_________


Udah normal ya......


jangan lupa bahagia gaesss


jangan lupa jempolnya digoyang yuk