Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Gara-gara Baju Perang



"Enenggggg. Duh Gusti. Sabar sabar. Dasar bocah gendeng"


"Kenapa sih Mak"


"Bini loe emang sarap ril"


"Kenapa sih Mak"


"Coba kamu lihat ini. Ini baju baru emak beli seminggu yang lalu. Di bolongin sama si markoneng dibelakang. Dah gitu dia kasih tulisan. Ini seragam dinas emak ntar malam. Gendeng gak tuh nyamain emaknya sama sundel lobong"


"Hahaha. Lagian sundel lobong gak ada yang punya slebor aduhai Mak. Semua kerempeng lurussss banget kayak papan"


"Emang emak gimana ril"


"Emak itu. Semlehoi. Aduhai pokoknya. Polisi tidur dimana-mana. Hahaha"


"Emak baru sadar. Gimana kalian gak jodoh. Gak da yang waras. Emak jadi ragu kok bisa kamu jadi dokter"


"Ih Mak. Gini-gini Airil kan cerdas"


"Mantu sama anak sama saja. Kampret semua. Dah ah emak mau joging biar langsing"


"Mak jangan jauh-jauh perginya"


"Gak. Cuma didekat lapangan aja"


Emak Eneng sedang berkunjung kerumah Eneng. Tapi tidak membawa Titi karena Dzaky tidak mau diajak. Dan kebetulan Japri sedang pulang kampung. Sudah tiga hari emak di rumah Eneng. Ada saja kelakuannya jika bertemu makhluk Tuhan yang bening-bening.


Eneng sedang berada dirumah Jay. Hari ini Almeer sedang ingin bersama Eneng. Setelah Jasmine pulang nanti, Eneng baru akan pulang kerumahnya. Airil hari ini libur. Dan memang ingin dirumah saja.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Kamu sudah pulang sayang. Al ikut"


"Iya kang. Ini anak lagi gak mau dirumah. Gara-gara ada tamu mommynya bawa anak cewek pengen dekati dia terus"


"Oh. Al renang yuk"


"Kuylah om. Tapi nanti Al traktir bakso aci ya"


"Gampang. Yuk. Bawa baju ganti gak Al"


"Bawa. Emang niat disini sampai malam om"


Eneng sudah melangkah ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah membersihkan diri, Eneng merebahkan badannya. Airil masuk hendak mengambil handuk dan mengambil celana renang.


"Kang. Al dimana"


"Ganti baju. Mau renang"


"Oh"


"Tidurlah sayang. Biar Al sama akang"


"Oya Marilyn Monroe kemana kang"


"Kelapangan kompleks mau olahraga katanya"


"Olahraga mulut"


"Maksudnya sayang"


"Dipinggir lapangan ada penjual bakso baru kang. Lumayan sih wajahnya. Manis-manis gitu. Baksonya juga enak kok"


Airil yang hendak memakai celana renang, sekejap langsung berhenti. Dan berjalan mendekati Eneng.


"Coba ulangi perkataan kamu tadi sayang"


"Yang mana"


"Lapangan tadi ada apa"


"Oh kang bakso baru"


"Terus"


"Enak"


"Bukan sebelumnya"


"Manis orangnya"


"Oh sekarang sudah berani memuji pria lain didepan suami tampan mu ini"


Eneng yang sedari tadi berbicara sambil memiringkan tubuhnya, baru menyadari jika Airil sudah berada tepat diatasnya tanpa menggunakan baju dan hanya memakai segitiga bermuda.


"Eh mau ngapain coba ini"


"Ngasih hukuman istri nakal"


"Ditungguin Al. Kandangin yang bener tuh perkututnya"


"Ck. Lupa lagi ada Al. Sekarang kamu selamat sayang. Tapi nanti malam tidak"


Airil bergegas mengenakan pakaian renang dan mengambil handuk. Dan Al sudah berdiri didepan pintu kamarnya. Eneng benar-benar terlelap. Entah berapa lama dia berkelana dalam alam mimpi. Saat terbangun hari sudah sore.


"Jam berapa ini"


Eneng melihat jam diponselnya. Eneng pun langsung masuk toilet untuk mandi. Badannya berasa sangat gerah. Selesai mandi Eneng turun kebawah. Mencari penghuni lain dirumahnya. Namun tak ada satu orangpun disana.


"Pada kemana sih. Udah kayak kuburan aja"


Eneng berjalan menuju teras. Eneng berfikir mungkin mereka sedang santai didepan. Di teras juga tidak nampak ada kehidupan. Eneng memilih duduk diteras sambil menunggu Airil dan lainnya pulang. Salah satu tetangga Eneng yang paling heboh lewat.


"Eneng"


"Eh Bu Dwi. Dari mana"


"Biasalah keliling komplek. Eh kok kamu gak ikut suami kamu neng"


"Memangnya dimana suami saya Bu"


"Makan bakso aci didekat lapangan sama emaknya juga"


"Oh pantes rumah sepi"


"Kamu gak nyusulin"


"Biarkan saja bu. Eneng lagi males jalan kesana"


"Eh tau gak neng"


"Itu kos-kosan ujung....."


Mulailah mereka bergosip ria. Tanpa sadar yang awalnya hanya berdiri didepan pagar, Bu Dwi sudah duduk diteras bersama Eneng. Hampir tiga puluh menit Airil, Almeer dan Emak pulang. Emak menangis sesenggukan. Eneng pun panik dan langsung berlari mendekati emak


"Emak kenapa nangis"


"Huahhhhhh. Nengggg"


"Kenapa sih mak. Ini kenapa kang"


"Akang gak tahu neng. Tadi habis makan bakso aci baik-baik saja kok'


"Emak disentil setan apa kok nangis"


"Nggak neng. Tapi. Huahhhhhh"


Bu Dwi memilih pamit. Eneng menuntun emak untuk masuk kedalam rumah diikuti Almeer dan Airil. Airil langsung ke meja makan meletakkan bakso aci untuk Eneng.


"Mak ini minum dulu"


Eneng menyodorkan segelas air putih untuk emak. Setelah sedikit tenang, Eneng mencoba bertanya kembali kepada emak.


"Emak kenapa tadi nangis"


"Emak lagi pengen baju keluaran terbaru neng"


"Baju apa"


"Baju jaring-jaring gitu neng. Modelnya lucu-lucu"


"Belinya dimana"


"Kamu mau beliin neng"


"Makanya Eneng tanya. Belinya dimana. Emak tau gak"


"Tadi katanya olsop. Apa olcop, lupa emak. Beliin ya neng. Kan kamu udah bikin bolong baju emak"


"Iya iya. Tapi dimana belinya"


Airil yang sudah duduk disamping Eneng, mencoba mencerna maksud emak.


"Mungkin emak maksud online shop sayang"


"Mungkin kang. Tapi modelnya kayak apa, eneng gak tahu"


"Baju jaring-jaring. Akang juga baru dengar"


"Tadi emang emak ketemu siapa kang"


"Itu tadi ada Bu Miska sama ibu-ibu lain lagi beli siomay sayang. Terus emak ikut ngobrol bentar"


"Ya udah. Coba Eneng tanya Bu Miska"


Eneng mengambil ponsel miliknya dan langsung mengirim pesan kepada Bu Miska. Betapa kagetnya Eneng setelah tahu baju apa yang dimaksud oleh emak.


"Gimana sayang"


"Kacau ini bang. Kacau"


Airil mengambil ponsel Eneng dan membaca pesan dari Bu Miska. Airil pun sama kagetnya. Baginya itu sangat susah didapatkan.


"Gimana kang"


"Kamu masih punya kan sayang yang belum pernah dipakai"


"Ada kang baru seminggu yang lalu beli"


"Coba kasih lihat emak. Mungkin setelah lihat ukurannya kecil, niatnya berubah"


"Kok gak yakin Eneng kang"


"Coba saja dulu"


"Oke. Kita lihat"


Eneng masuk kedalam kamar. Dia mengambil satu set pakaian haram yang baru satu Minggu yang lalu dia beli. Beruntung Almeer sedang berada dikamar karena kelelahan. Jadi Eneng bisa menunjukkan model baju itu langsung kepada emak.


"Kayak gini bukan mak bajunya"


"Wah iya bener. Ini buat emak ya neng"


"Ck. Ini cuma bisa masuk diujung jari emak aja. Gak lihat ukurannya kecil"


"Huahhhhhh emak mau ini"


"Ck. Udah tua. Pake baju kayak gitu mau dilihatin kesiapa Mak"


"Pokoknya mau ini"


Emak sudah mendekap erat baju haram Eneng. Airil hanya bisa menahan tawanya. Eneng tiba-tiba saja memiliki ide.


"Ya sudah bentar Eneng pesenin yang seukuran emak"


"Emang ada sayang"


"Ada. Tinggal cari penjahit khusus aja kang"


"Sudah punya bahan"?


"Ada kang. Kelambu kamar kan nganggur tuh. Tinggal dijahatin aja seukuran emak"


"Iya bener juga. Kan sama jaring-jaring. Pinter kamu sayang"


" Sebenarnya gak usah dijahit juga gapapa kang"


"Terus gimana pakainya sayang"


"Tinggal dimodifikasi aja kang. Pake tali rafia dan tali karet. Gampang kan"


"Kok kaya mau bungkus nasi sayang pake tali karet segala"


"Kan emak sebelas lima belas sama lemper kang. Jadi gak masalah kan


_______


jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk