Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Hukuman



Hari-hari anak Eneng diisi sekolah dan kerja. Mereka mulai menikmati pekerjaan mereka. Wajah mereka semakin dikenal dan banyak tawaran menjadi bintang iklan. Mereka mengajukan syarat jika menginginkan keduanya menjadi bintang iklan. Dean bersaudara juga harus ikut. Almeer pun memiliki penghasilan tambahan baru. Menjadi manager dadakan bagi mereka.


Mengikhlaskan satu tas kremes untuk mendapatkan satu mansion mewah. Arash hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan putra tertuanya itu yang mendadak menjadi manager empat biang onar. KunNo pun ekstra menjaga majikannya.


Duo F sudah menyusun rencana untuk memberi hukuman kepada KunNo yang selalu tertunda. Thian sedang berada dikamar abangnya. Sedangkan duo KunNo entah kemana.


"Bang. Jadi malam ini ngasih hukuman si KunNo"


"Jadilah. Kemana mereka dek"


"Ntahlah. Gak kecium baunya"


"Dipanggil coba"


"Oke. KunNo kemana kalian. KunNo oh KunNo"


Thian tak lupa menghentakkan kakinya kelantai syarat memanggil KunNo. Tak lama KunNo pun muncul dengan suara ngos-ngosan.


"Hosh. Bos gawat bos"


"Kenapa gawat. Ada apa"


"Ada yang mesum bos"


"Dimana"


"Dekat halaman belakang bos. Ayo bos diusir"


"Loe serius"


"Iya. Ayo buruan"


Duo F mengikuti langkah KunNo. Airil pun ikut terseret setelah Fathan menjelaskan. Mereka sama-sama berdiri di pintu belakang taman. Lampu remang-remang. Telinga mereka tempelkan dipintu tersebut.


"Hemmm. Enak banget sih. Ahhh"


"Ini sekalian beb. Uhhhhh mantap enak bener bener. Masukin semua sayang"


"Apa muat sayang. Ini gede banget. Uhhhhh"


"Muat. Yakin muat. Biar nikmat sayang. Jangan setengah-setengah"


Airil yang mendengar percakapan itu sontak melotot. Bahkan langsung menarik paksa kedua putranya. Duo F masih tak paham apa maksud perkataan dua manusia mesum itu.


"Fathan. Fathian kalian masuk saja. Ini gak baik buat kalian"


"Ogah. Nanggung pah. Anggap saja pelajaran biologi"


"Kalian belum waktunya. Masuk sana"


"Gak mau papa"


"Haish. Ya sudah. Tapi tutup mata kalian"


"Oh oke"


Airil perlahan membuka kunci pintu belakangnya. Suara aneh semakin terdengar. Airil sudah sangat geram dan ingin menghajar mereka. Airil membuka pintu dan langsung memaki mereka.


"Dasar gak tau diri kalian. Berbuat mesum ditempat....."


Airil diam sambil mengedipkan matanya berkali-kali. Dan dua pasang anak manusia yang disergapnya pun demikian. Mereka juga sama kagetnya.


"Kalian. Makan bakso"


"Lah iya pak. Emang dikira ngapain"


"Terus kenapa ada suara huh ah tadi"


"Kepedasan pak"


"Terus yang gede enak"


"Ya baksonyalah pak. Ini gede banget gak muat masuk mulut pacar saya. Emang bapak kira apa"


"Oh tidak. Maaf saya sudah mengganggu kalian maaf"


Airil kembali masuk dengan wajah malunya. Sedangkan si kembar masih bingung dengan situasi dihadapannya. Jangan tanya kemana lenyapnya duo KunNo.


"Ayo masuk anak-anak. Jangan lupa aja si KunNo"


"Kenapa emangnya pah"


"Bawa saja. Bikin malu papa saja"


Thian berbisik kepada Fathan melihat papanya yang cemberut dan kesal. Wajahnya pun memerah. Eneng melihat sang suami kesal lalu bertanya.


"Ada apa. Gak jadi grebek orang mesum"


"Orang mesum apanya. Mereka makan bakso jumbo mama"


"Hah. Kok bisa. Bukannya KunNo tadi ngomongnya orang mesum"


Airil menceritakan detailnya dan eneng mendengar secara seksama. Tawa Eneng meledak dia bahkan meledek Airil karena bisa dikerjain KunNo.


"Haduh papa. Kan mama sudah bilang. Percaya sama KunNo itu sesat"


"Sekarang dimana mereka mah"


Eneng dan si kembar melihat kesekitar rumah. Namun tak ada tanda-tanda kehadiran KunNo.


"Mereka gak ada disini pah"


"Thian panggil bodyguard kalian"


"Iya pah"


"Kalau sampai gak datang juga, besok pagi rumah mereka papa tebang. Suruh mereka pindah"


"Hah. Beneran pah"


"Iya. Kesal papa sama mereka. Bisa-bisanya bikin malu papa"


Thian belum manggil KunNo, sang tersangka sudah hadir. Mereka saling mendorong untuk menghadapi Airil.


"Mereka sudah datang pah. Ada dibelakang papa sekarang"


"Oh sudah datang rupanya"


KunNo mengeluarkan suara agar Airil bisa mendengar permintaan maaf mereka. Awalnya Airil sedikit merinding. Namun semakin lama dia mulai terbiasa.


"Bagus ya kalian berani membohongi saya"


"Ampun tuan. Kami gak bermaksud seperti itu. Maaf"


"Maaf. Maaf. Saya sudah malu kalian batu minta maaf"


"Ampun tuan"


"Kalian saya hukum"


"Haduh. Makin banyak aja hukuman kita"


"Jangan tuan. Kami sudah pewe disini"


"Jadi terima hukuman dari saya"


"Baik"


"Kalian tangkap semua jangkrik yang berbunyi didekat kamar saya. Berisik. Dan malam ini harus bersih"


"Ya Allah. Gak manusiawi banget suruh nangkep jangkrik"


"Emang kalian bukan manusia kan. Kenapa harus manusiawi"


KunNo hanya terkikik. Mungkin bagi manusia normal mendengar tawa KunNo akan ketakutan. Tapi tidak keluarga Eneng. Thian pun langsung memberitahukan hukuman yang lama tertunda.


"Mumpung papa ngasih hukuman. Kita juga mau hukum kalian"


"Pasrah deh"


"Kalian. Tanggepin belut buat kita sebanyak mungkin. Kita pingin makan pepes belut"


"Gak bisa diganti bos hukumannya"


"Bisa"


"Diganti aja bos"


"Oke. Besok datang kesini agak siang. Gue Kana memotong rambut loe kun dan gue cat pink. Terus baju loe gue kasih motif hello Kitty. Dan loe Ono. Gue ganti baju loe model Superman. Gimana"


"Ogah bos. Bisa masuk angin gue pake baju Superman"


"Iya gue juga gak akan serem pake baju hello Kitty"


"Berati terima hukuman pertama ya. Cariin belut sebanyak-banyaknya. Oke"


"Iya"


KunNo sudah mulai lemas mendengar hukuman majikannya. Eneng tidak membeeikan hukuman tambahan. Karena itu mungkin sudah sangat berat untuk mereka.


Malam pun makin larut. KunNo menjalankan hukuman pertamanya. Mencari jangkrik disekitar taman dekat kamar Airil.


"No dapat belum"


"Baru tiga ekor kun. Loe dapat berapa"


"Satu no. Udah lumayan tapi masih saja berisik"


"Hoo. Sembunyi dimana lagi sih mereka"


"Coba cari dari ujung sana lagi Kun"


"Ayolah"


Mereka kembali menyusuri dari tempat awal. Dan menajamkan pendengaran mereka. Namun masih tak ada hasil. Berkali-kali KunNo mencari ditempat yang sama tapi masih saja tak ada hasilnya.


"No. Capek gue. Istirahat bentar yuk"


"Hoo. Aku juga capek Kun. Istirahat dulu"


Mereka menghentikan pencariannya untuk beristirahat. Airil membuka jendela kamarnya dan memanggil KunNo.


"KunNo"


Mendengar suara Airil mereka dengan sigap menjawab.


"Siap bos"


"Kalian belum dapat jangkrik"


"Sudah bos. Banyak"


"Kenapa masih ada bunyinya. Kenceng lagi"


"Iya bos. Kita juga baru nyariin dari tadi"


"Cari lagu yang benar. Jangan sampai say dengar bunyi lagi"


"Oke bos"


Airil kembali masuk dan menutup jendela kamarnya.


"Kun. Yuk kerja lagi. Ajaib kita dipertaruhkan sama jangkrik ini"


"Iya no"


Mereka fokus kembali pada jangkrik yang masih berbunyi. Begitu nyaring, begitu kencang. KunNo menyadari ada yang salah.


"No. Kayaknya ini jangkrik jadi-jadian deh"


"Gue rasa gitu. Sepertinya ada yang main-main sama kita"


"Ayo kita cari sumber suaranya yang teliti no"


"yuk"


Mereka berjalan pelan-pelan. Dan memang suara itu dari sudut lain kamar Airil. Ono melihat ada kabel bergelantungan didekat jendela Airil.


"Ini biang masalahnya Kun"


"Tarik no"


Mereka menarik dari bawah dan ternyata mendapat balasan dari atas. KunNo kesal langsung naik ke kamar atas. Namun sebelumnya mereka berteriak sekencang-kencangnya.


"Bossss kecillll"


"Apa"


"Kalian kenapa gangguin kita"


"Gak suka. Ini balasan saat kalian mengolok kita dikantor bang Al waktu itu"


"Ya Allah. Itu udah lama sekali bos"


"Kita dendam"


KunNo yang kelelahan langsung duduk didekat duo F. Fathan mematikan suara jangkrik dari ponselnya yang dihubungkan menggunakan speaker kecil untuk mengerjai KunNo.


"Nasib kita no"


"Sabar Kun"


_______


Dah dua....


jangan lupa bahagia gaesss


jempol digoyang yuk