Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Prasangka



Pagi sekali Airil bersiap menjemput Eneng. Rasa malunya semalam karena ketahuan ngompol di celana sudah lenyap. Dia memang tidak bisa tertawa terus menerus karena pasti akan mengompol. Beruntung hanya Eneng yang melihat. Setidaknya calon istrinya itu tau sisi lain dari dirinya.


Eneng bersiap melihat sawah milik ayahnya yang dikerjakan oleh oranglain. Eneng membawakan beberapa makanan untuk para pekerja. Niatnya hari ini Eneng ingin menemui Japri hari ini setelah Airil datang.


Eneng berjalan menuju sawah milik ayahnya. Jalan kesawah memang melewati rumah Japri. Saat melintas tepat didepan rumah Japri, terdengar suara tangisan bayi. Eneng berhenti sejenak mendengar suara tangis yang begitu memilukan.


"Kasian kamu nak. Menjadi korban keegoisan ibu kamu"


Eneng berkata pelan sambil melanjutkan langkahnya menuju sawah. Sepanjang jalan Eneng berpapasan dengan warga negara yang juga akan kesawah. Sesekali Eneng bercanda dengan mereka. Tiba disawah, Eneng menuju gubug ditengah sawah. Dia langsung berselfie ria. Salah satu foto dia kirimkan kepada Airil.


Eneng bertemu teman kecilnya. Kebetulan mereka juga sedang bekerja disawah. Teman Eneng memang kebanyakan pria. Mereka menghampiri Eneng.


"Neng. Loe lama gak balik tambah bening aja"


"Pangling gue sama loe neng"


"Iya betah banget di kota. Mentang-mentang udah kecantol dokter. Hahahaha"


"Heh kalian pa kabar"


"Masih sama neng. Buluk hahaha"


"Kan kalian emang trio buluk. Budi, Luwar dan Karman"


"Iya iya tau. Kan loe juga yang ngasih nama kekita trio Buluk"


"Neng. Ntar ikut mandi di sungai. Loe udah lama gak ketemu Mila kan"


"Wokey. Habis ini aja. Gue balik sore nanti"


"Okey. Loe tunggu kita bentar ya. Habis ini kita ke kali sambil bawa Mira"


Eneng duduk digubuk tengah sawah menunggu trio buluk. Pemandangan yang selalu Eneng rindukan jika sedang berada dikota. Eneng memeriksa ponselnya. Airil menanggapi foto Eneng dengan gambar love.


"Yuk neng"


"Okey"


Eneng berjalan mengikuti ketiga sahabat kecilnya. Tak lupa mereka membawa serta Mira ke sungai. Eneng benar-benar bahagia bisa mengenang masa lalunya. Dia masuk ke air bersama teman-temanya. Sungai dikampung Eneng masih dipakai untuk mandi dan mencuci para warga kampung. Dan pagi ini ramai dengan para ibu-ibu yang sedang mencuci.


Saat Eneng asyik bermain di sungai, Airil sudah sampai dirumahnya. Namun rumah Eneng tampak sepi. Entah kemana perginya emak dan Titi. Bahkan tetangga Eneng juga tidak kelihatan. Airil langsung menelpon eneng. Mengabarkan jika dia sudah sampai.


"Assalamualaikum sayang"


"Waalaikumsalam kang"


Setelah menjawab salam, terdengar suara Budi meminta Eneng kembali mengguyur badan Mira. Dan suara itu terdengar oleh Airil.


"Neng siram lagi dong badannya. Biar makin mulus"


"Iya siram aja. Ikhlas gue mah. Yang banyak airnya"


"Okey"


Airil mulai panik mendengar suara laki-laki.


"Sayang kamu dimana"


"Sungai kang"


Sekarang gantian suara Luwar yang mengganggu.


"Duh udah putih, mulus. Montok lagi. Bikin gemes"


"Iya dong. Seksi kan"


"Seksi banget banget ini mah. Siram lagi yuk"


Kegelisahan Airil semakin memuncak. Sambil berjalan menuju arah sungai, Airil tetap berusaha berbicara dengan Eneng. Namun suara lucknut teman-teman Eneng sangatlah mengacaukan pikirannya.


"Sayang kamu lagi ngapain"


"Mandii. Aduh Budi pelan-pelan dong kasar banget sih tangan loe. Ntar semoknya hilang gak menarik lagi"


"Gemes gue neng. Pengen gue tabok terus slebor putih mulusnya"


"Heh tangan jangan clamitan dong. Cuci dulu tangan kalian sebelum meraba-raba"


"Ya elah neng. Biasa juga gini. Lagian dari tadi udah kena air. Udah bersih tangan kita"


"Mulus banget sih kulitnya. Bening lagi. Bikin betah raba-rabanya"


Airil yang mendengar suara itu semakin panas. Dia sudah sangat marah. Berlari dia menuju sungai. Rasanya ingin menghajar para pria yang berani mendekati Eneng. Apalagi sampai merabanya.


"Enak aja diraba-raba. Gue aja baru megang dikit dia pingsan. Ini bisa raba-raba. Ya Allah Eneng"


Airil berlari sambil mengomel. Dia ingin segera sampai di sungai.


"Awas saja kamu nakal sayang. Gak akan ada ampun.


Di sungai Eneng asyik bersama teman-temannya bermain air. Tertawa bersama. Sudah lama dia tidak bertemu mereka.


"Neng boleh gak gue naiki"


"Jangan dong"


"Ayolah neng. Kita penasaran naikin yang putih mulus gini"


"Ya udah tapi pelan-pelan ya"


"Santai saja. Kita bakalan pelan dan penuh kasih sayang"


Ponsel Airil dan Eneng masih terhubung. Mendengar perkataan teman Eneng baru saja. Darah Airil semakin memuncak. Wajahnya berubah menyeramkan.


"Eneng apa yang sedang kamu lakukan"


Teriak Airil dari ponselnya. Namun tak ada jawaban dari Eneng. Hanya ada suara yang semakin membuat Airil kebakaran hati.


"Neng empuk banget. Enak bener neng"


"Iyalah. Bedakan sama produk sendiri"


"Bener banget. Bikin nagih ini mah. Besok-besok gue mau naikin lagi ah"


"Boleh. Asal kalian mandikan setelahnya"


"Beres itu mah neng"


Airil sudah sampai di sungai. Dia tidak peduli dengan para emak yang meneriakinya. Yang ada di otaknya hanya Eneng. Dari balik batu besar, Airil bisa mendengar suara Eneng dan beberapa pria.


"Yang sempit kan enak bud"


"Tau aja neng. Haha"


"Empuknya bikin betah. Semok banget sih"


Airil langsung meneriaki nama Eneng dengan nada amarahnya.


"Enenggg. Apa yang se.."


Airil tidak jadi melanjutkan perkataannya. Karena semua ekspetasinya diluar kenyataan yang ada. Airil disambut suara seksih Mira.


Emoooooowww


Sedangkan Eneng yang diteriaki, duduk santai di atas batu. Melihat teman-temannya sedang asyik menaiki seekor kebo bule.


"Akang sudah sampai"


"Neng. Ini"


"Oh kita lagi mandiin Mira kang. Kebo bule yang Eneng beli udah lama"


"Jadi dari tadi yang kalian bicarakan itu si Mira"


"Iya"


Airil langsung memeluk Eneng dihadapan teman-temannya. Lega rasanya apa yang dipikirkannya tidak terjadi. Teman-teman Eneng menyoraki Eneng dan Airil.


"Cie cie. Yang dipeluk. Uhui"


Eneng hanya tersenyum malu menundukkan wajahnya. Salah satu teman eneng berpamitan dan membawa Mira diikuti dua teman lainnya.


"Neng kita balik ya. Gak enak ganggu yang lagi kangen-kangenan"


"Semprul loe Bud. Jangan lupa Mira dijemur. Siapa tau kalau banyak-banyak dijemur bisa hitam kayak kebo lokal"


"Wokey. Ntar gue kabari kalau udah jadi hitam"


Airil sedikit bingung dengan perkataan Eneng dan ketiga temannya. Dalam hatinya bertanya. Memang ada sejarahnya kebo bule kalau dijemur terus menerus bisa jadi kebo lokal.


"Yuk kang kita pulang juga"


"Yuk sayang. Eh tapi rumah kamu sepi tadi. Makanya aku nyusul kesini"


"Oh palingan emak lagi ngelayap ke kebon petai"


"Oh gitu"


Airil menggenggam tangan Eneng dan menyusuri tepi pantai. Mereka berpapasan dengan tetangga Eneng yang sedang hamil besar.


"Neng. Apa kabar"


"Baik teh Kokom. Wah berpamitan bulan ini teh"


"Tujuh bulan neng"


"Sehat-sehat kan teh"


"Alhamdulillah. Oya neng mumpung ketemu. Boleh gak minta tolong"


"Apa teh"


"Anu. Cariin gue nama buat anak gue dong. Siapa tau kalau loe yang ngasih nama, anak gue bisa beruntung gitu kayak loe. Bisa dapat laki bening gini kaya plastik"


"Emang udah tau laki apa perempuan teh"


"Belum sih. Yang penting siapin nama"


"Boleh. Teteh maunya gimana"


"Yang penting ada unsur nama gue dan laki gue neng"


"Nama laki teteh siapa"


"Basuki"


"Itu mah gampang. Kasih nama aja baskom"


"Kok baskom neng. Kan Basuki dan Kokom"


"Iya juga ya. Gak ada yang lain neng"


"Tinggal tambahin nama depannya aja teh biar keren"


"Contohnya gimana"


"Donita Baskom"


"Artinya apa neng"


"Doa dan niat paling utama Basuki Kokom"


"Kalau laki siapa dong"


"Aldino Baskom"


"Apa tuh"


"Alhamdulillah dia nongol Basuki Kokom"


"Wah keren namanya. Makasih ya neng"


"Iya teh. Hidup loe bakal lebih berwarna teh"


"Kenapa emangnya"


"Karena baskom bukan hanya satu warna. Tapi warna warni"


____'


Khilaf kanπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa bahagia gaesss


jempolnya digoyang yuk