
Malam ini dikampung emak akan ada acara dangdut. Anak salah satu tuan tanah dikampung emak mengadakan syukuran khitanan putra mereka. Panggung sudah berdiri megah di lapangan kampung. Walaupun bukan artis kota, namun mereka sangat menantikan acara tersebut.
Emak bahkan sudah menyiapkan kacang rebus untuk dibawa ke lokasi. Emak juga memberitahu kepada si kembar agar ikut menonton. Mereka sama antusiasnya. Thian membantu emak mencabut kacang tanah dikebun belakang.
"Thian. Ambil yang banyak"
"Asyiap"
"Nanti malam Oma mau nyanyi"
"Nanti Thian pidioin Oma. Thian kirim ke mama"
"Oma mau dandan yang cetar membahana pokoknya"
"Pakai rok tutu blink blink Oma. Keren"
"Oma gak punya. Oma punyanya kain pantai"
"Itu juga keren"
"Oma rasa begitu"
Mereka sibuk mencabuti pohon kacang. Sedangkan Fathan mendapatkan tugas mencabut pohon ubi dan singkong dikebun yang lain masih disekitar rumah emak. Fathan menemukan binatang yang baru pertama kali dia lihat. Hidup didalam tanah dan memakan akar serta umbi tanaman.
Fathan mengambil binatang itu dan memasukan kedalam botol. Fathan menemukan binatang itu beberapa kali. Hingga tak terasa botol yang dibawanya penuh dengan binatang baru itu.
"Thian. Thian"
"Ya bang. Ada apa"
"Lihat gue dapat apa ini"
Fathan menunjukkan binatang yang baru saja dia dapatkan. Thian nampak sumringah melihat apa yang Fathan bawa.
"Ini apa bang"
"Gak tau namanya"
Emak melihat binatang yang dibawa oleh kedua cucunya. Dan botol Fathan langsung berpindah tangan.
"Ini namanya lundi. Banyak banget"
Emak membawa botol tersebut kekandang ayam dan mengeluarkan isinya untuk diberikan kepada ayam-ayam miliknya.
"Oma kok dikasih ayam"
"Lah emang mau buat makan ayam pathan"
"Mau kita pelihara Oma"
"Heh bocah tengil. Kalian mau ternak lundi disini. Itu tidak akan pernah terjadi gaesss"
"Huh. Gagal deh punya penemuan spektakuler"
"Buruan selesaikan kerjaan kalian. Sebelum panas"
"Iya oma"
Mereka kembali ke kebun mengambil hasil panennya. Satu karung kecil ubi dan satu karung kecil kacang tanah sudah mereka dapatkan. Mereka mencucinya sebelum dimasak. Hari sudah semakin siang, emak meminta cucunya mengambil ikan diempang untuk dimasak.
"Pathan"
"Ya Oma"
"Jaring ikan sono buat makan siang"
"Ya oma. Berapa ekor"
"Terserah kamu"
"Ya Oma"
Fathan kembali keluar menuju Empang. Dan mulai menjaring ikan. Dalam sekejap Fathan sudah mendapat tiga ekor ikan gurameh berukuran sedang. Fathan pun kembali kedalam rumah membawa ikan hasil tangkapannya.
"Oma ini sudah"
"Kamu bersihkan sekalian tong"
"Ya Oma"
Fathan mengambil pisau dan baskom untuk membersihkan ikan-ikan tadi. Thian masuk ke dapur membawa satu keranjang kecil kangkung.
"Abang siniin biar gue yang bersihin. Abang potong sayuran aja"
"Ya udah nih"
Mereka bertukar tugas. Emak menyiapkan tungku dan kukusan untuk memasak kacang dan ubi.
"Kalian bisa masak kan"
"Bisa dong Oma"
"Ya sudah kalian yang masak. Oma mau ke rumah pak rete dulu bayar arisan"
"Siap Oma"
"Jangan sampai gosong gaesss"
"Tenang gaesss. Serahkan pada chef Thian dan chef Fathan"
Emak sudah berjalan keluar rumah. Entah mendapat ide dari mana, emak berniat naik sepeda milik Eneng. Yang selama ini tidak pernah emak naiki.
Duarrrr
"Bang itu petasan"
"Bukan kayaknya dek"
"Jangan-jangan Oma kena panas meletus bang"
"Bisa jadi. Ayo kita lihat dek"
Fathan dan Thian berlari keluar melihat keadaan emak. Mereka terbengong saat melihat emak duduk selonjoran sambil menatap ban sepeda yang sudah meletus dan rangka ban yang bengkok.
"Buahahahahaha. Oma naik sepeda"
"Hoo"
"Pantas meletus bannya"
"Dasar sepeda durhaka. Gak sadar selama ini siapa yang merawat. Baru sekali dinaiki sudah meletus"
"Kasian banget sih loe sepeda. Harus menahan ditimpa tronton. Hahaha"
"Dasar anak nakal. Malah kasian ma sepeda. Sini bantuin Oma berdiri"
Double F dengan lemas berjalan ke arah emak dan berusaha membantu emak bangun. Dengan sekuat tenaga mereka menariknya, namun yang terjadi si kembar yang tertarik jauh kearah emak.
"Aduh. Malah jatuhin oma itu gimana kalian"
"Maaf Oma. Kita kalah berat"
"Ck. Mending Oma bangun sendiri"
Emak berusaha bangun dengan tenaganya sendiri. Perlahan pun emak bisa bangun. Thian pun langsung berkomentar.
"Nah kan bisa bangun sendiri. Pakai minta bantuin kita segala. Udah tau gak seimbang"
"Hehehe"
"Pakai nyengir segala"
Emak melepaskan sandalnya dan melemparkan kearah Thian dan mengenai tepat dibelakang kepala Thian.
"Aduh. Sakit Oma"
"Rasain. Sono balik masak. Emak mau jalan kaki aja"
Kembali sandal sebelah dilempar kearah Thian. dan kali ini Thian mengelak dan mengenai Fathan.
"Kok Fathan Oma yang dilempar"
"Halah gak sengaja. Kena angin belok dia. Siniin sandal Oma"
Fathan mengembalikan sandal milik emak dan emak kembali berjalan menuju rumah pak rete. Si kembar kembali menjadi chef. Walaupun mereka anak lelaki. Namun masakan mereka sangat enak. Berawal dengan rasa penasaran mereka dengan eksperimen berbagai macam bumbu dapur, membuat mereka pandai mengolah bahan makanan.
Malam pun tiba, selepas sholat Maghrib emak sudah sibuk merias diri. Emak benar-benar ingin tampil menjadi biduan. Si kembar asyik bermain ponsel diruang tamu menunggu emak.
"Bang emak lama banget"
"Biarkan saja. Palingan juga lagi bedakan"
"Bedakan berapa lapis coba. Lama banget ini"
"Ratusan"
"Wafer kali bang. Hahaha"
"Hahaha. Sono loe panggil dek"
"Hem"
Belum juga Thian berjalan menuju kamar emak, emak sudah muncul dengan pakaian perangnya. Emak mengenakan setelan baju dan celana ketat berwarna hijau menyala dan pada bagian pinggang dilapisin dengan kain Bali.
"Gimana pakaian Oma anak-anak"
Thian melotot dan Fathan tersedak minumannya. Melihat penampilan Omanya.
Uhuk uhuk
"Oma kayak lemper"
Tanpan sengaja Thian mengatakan hal tabu itu. Namun kali ini Fathan setuju dengan menganggukkan kepalanya. Bagaimana tidak, badan emak semlehoi penuh polisi tidur dan mengenakan pakaian ketat warna hijau. Sebelas dua belas kayak lemper lah.
"Kalian gak tau seni. Ini keren kali gaesss"
Fathan memiliki ide yang membuat tragedi terjadi kepada emak dan membuat si kembar tak hentinya tertawa.
"Gini saja Oma. Coba sekarang Oma goyang. Nyaman gak bajunya"
"Okeh"
Emak mulai bergoyang dengan alunan musik yang dibuat oleh Thian. Dan tiba-tiba...
Krekkkk
"Bunyi apa bang"
"Yah sobek deh"
Mereka menatap emak. Dan melihat lubang buaya besar sekali diarea ketiak emak dan sesuatu yang sangat lebat ikut menyembul keluar.
"Buahahahahaha. Haduh Abang perut Thian kram"
"Hahaha. Sama dek. Oma ya Allah Oma"
Emak malah menangis melihat baju kebanggaannya sobek dikedua sisi bagian ketiak.
"Huaaahhhh. Baju gue sobekkkk"
Si kembar mendekati emak dan menenangkan emak agar tidak menangis. Si kembar janji akan membelikan baju baru untuk emak. Barulah emak berhenti menangis.
Mereka akhirnya berangkat keacara malam pesta rakyat. Emak masih cemberut karena hanya daster yang bisa emak kenakan. Walaupun daster itu masih baru, tapi emak merasa kurang bagus.
Dilapangan sudah disediakan beberapa kursi dan tikar agar mereka bisa menikmati acara dengan nyaman.
"Ayo duduk dikursi saja Oma. Kalau ditikar nanti susah berdiri"
"Ya udah yuk"
Ada dua jenis kursi yang tersedia disana. Kursi kayu dengan kedua sisi ada pengamannya. Dan kursi kayu tanpa pegangan. Emak memilih kursi dengan pegangan disisi kanan kiri. Fathan mencoba mencegahnya.
"Oma pakai kursi biasa saja. Jangan yang itu"
"Kenapa emangnya. Ini muat kok buat Oma"
"Iya muat masuknya. Tapi gak yakin bisa keluar lagi"
"Bisa. Santai aja Oma nyaman dikursi ini. Bisa nyender"
"Oh ya udah kalau gitu"
Mereka menikmati acara sambil makan kacang dan ubi. Banyak anak gadis mendekati si kembar. Hanya Thian yang menganggapiereka. Thian juga berusaha agar mereka tak menyentuh Fathan.
Ditengah acara emak mulai gatel ingin bergoyang. Kakinya sudah tak tenang. Fathan dan Thian hanya terkikik geli melihat kaki Omanya yang sesekali menghentak mengikuti irama musik.
"Oma. Tarik mang. Goyang Oma"
Thian mengompori emak dan benar saja emak mulai berusaha berdiri. Dan tragedi besar kembali terjadi.
"Thian, Pathan bantuin Oma. Gimana ini"
"Buahahahahaha. Oma. Sumpah perut Thian sakit ini"
"Pathan bantuin Oma"
"Hahaha. Aduh ketawa dulu Oma"
"Dasar cucu nakal. Tolong dong"
Beberapa tamu juga mengeraskan emak. Emak yang tak percaya dengan omongan Fathan sekarang harus menjadi bahan tertawaan. Kursi yang emak duduki tidak bisa terlepas dan menempel dislebor emak dengan sangat lekatnya. Emak berjalan dengan kursi masih menempel.
"Bentar Oma. Thian pidio buat mama. Hahaha"
"Dasar loe emang anak markoneng. Seneng lihat Oma menderita. Bantuin Oma gaesss"
"Bentar cari bala bantuan dulu"
Thian memanggil teman-temannya untuk membantu emak keluar dari kursi itu. Sebelum membantu mereka juga tertawa.
"Gaess kalian tarik dari depan. Kita berempat dari belakang"
"Oke"
"Tunggu kalau kita berempat dari depan, ntar kita tertimpa emak dong than"
"Kalian nariknya nyamping biar gak ketimpa Oma"
"Oh oke"
"Ikuti aba-aba gue gaess"
1
2
3
"Tarikkkkk"
Mereka menarik bersamaan dengan berlawanan arah. Satu kali percobaan gagal. Dan pada percobaan kedua mereka berhasil. Namun tragedi lain juga terjadi.
"Huahhhh. Kalian jahat sekali sama Oma. Apa yang kalian lakukan ini jahat"
Emak cemberut. Namun para anak muda tertawa terbahak-bahak melihat wajah emak penuh dengan lumpur. Karena tadi sempat gerimis lapangan sedikit becek dan berlumpur. Emak terlempar kedalam kubangan lumpur karena teman-teman Thian saat menarik emak keluar dari kursi langsung dilepaskan. Sehingga emak terlempar kedalam lumpur. Kasian kasian...
____
Maaf ya kalau lama. Dan kalau gak suka cerita ini yang menurut kalian gak nyambung. Dari awal sudah ditulis sengaja dipercepat. Karena kalau diturut semua sesuai cerita di novel pertama dan kedua bisa panjang banget.... Terimakasih atas dukungan kalian semua gaesss...
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk