
"Mah. Kami mau pergi nanti sama kak Meera"
"Oke. Jangan pulang malem-malem"
"Pulang pagi boleh kan mah"
"Boleh. Asal gak malam saja"
"Asyekkk. Mama the best"
"Jangan bikin ayah Arash marah"
"Nggaklah mah"
Meera memang mengajak keempat bocah onar untuk jalan-jalan. Dan biasanya duo F akan menginap dirumah Arash setelah jalan-jalan. Selama satu Minggu mereka libur, karena Dean bersaudara dan seluruh siswa kelas IX melaksanakan ujian akhir sekolah. Duo F menunggu Meera menjemput mereka.
Suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah Eneng. Mobil Meera sudah datang untuk menjemput si kembar. Meera turun untuk menyapa Eneng.
"Assalamualaikum. Princess datang"
"Waalaikumsalam. Berisik amat"
"Oh Eneng. Miss you so much"
"Gak punya tomat saya non. Belum beli"
"Huh. Masih sama tak berubah. Ini buat loe. Gue datang sudah tiga hari, tapi loe gak ada nemuin gue. Jahat Eneng ah"
Meera memberikan beberapa paper bag untuk Eneng. Eneng memang belum bertemu dengan Meera. Hanya mendengar cerita dari sang putra saja jika princess keluarga Malik kembali dari London.
"Ya maaf. Saya lagi sibuk kemarin non. Non apa kabar. Tambah bulet aja"
"Eneng. Gue gak gemuk ya. Enak aja dibilang bulet"
"Iya gak gemuk. Cuma berisi"
"Menyebalkan. Dah lah. Gue bawa duo curut main. Sekalian jemput Shaki"
"Loh non Shaki balik ke Indonesia juga non"
"Iya. Bentar lagi sampai. Papi sama mami gak tau kalau Shaki balik hari ini. Jadi loe jangan buka kartu"
"Eneng kangen sama non Shaki. Seperti apa dia sekarang"
"Masih sama seperti dulu. Menyebalkan. Ya sudah kita pergi. Oh ya lupa. Loe disuruh kerumah. Abang Serkan butuh bantuan. Pesan Abang serkan, kalau punya ponsel gak ada gunanya suruh buang. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Meera pergi membawa serta duo F. Eneng masuk kedalam kamar untuk mengaktifkan ponselnya. Sejak semalam Eneng lupa mengaktifkan ponsel miliknya. Dan benar saja beberapa pesan dan telpon dari Serkan tertera disana.
"Anak maong marah ini"
Eneng mengirim pesan kepada Airil untuk meminta ijin pergi kerumah keluarga Malik. Setelah mendapat ijin Eneng bersiap pergi.
Meera mengajak duo F menjemput Shaki terlebih dahulu. Mendengar nama Shaki, Duo F sangat antusias. Berbeda dengan Dean bersaudara.
"Ammar, Ashraf kalian kenapa. Cemberut gitu"
"Males aja ketemu Mak lampir"
"Hahaha. Masih segitunya sama kak Shaki"
"Kenapa harus kita yang jemput sih Kak. Bukannya dia punya adik ya. Kenapa gak nyuruh adiknya"
"Namanya juga mau kasih kejutan dodol"
"Huh. Nyusahin"
Shakinah anak dari Ghaydan dan Seila. Selama ini dia bersekolah dan tinggal diluar negeri. Shaki selalu mengikuti jejak Meera. Shaki juga memiliki perasaan yang lebih terhadap Almeer. Namun Almeer masih menganggapnya sebagai adik. Shaki memiliki seorang adik yang hanya terpaut usia tiga tahun saja. Seorang adik lelaki bernama Abyan Athar Septian.
Fathan mendapat pesan dari Almeer. Saat mereka dalam perjalanan menuju bandara. Hari ini memang Almeer sedang berada di kampus. Dan akan keperusahaan sore nanti.
"Kak Meera. Kak Al ngirim pesan nih"
"Apa isinya than"
"Minta jemput. Mobilnya dibengkel mogok"
"Loe tanya kelar jam berapa. Kita gak mungkin putar balik. Dan ingat gak usah bilang kita jemput Shaki"
"Oke"
Fathan mengirim pesan kepada Almeer sesuai arahan Meera. Tak lama Almeer pun membalas pesan Fathan.
"Kak Al selesai sekitar satu jam lagi kak"
"Oh oke. Masih nyampai"
Meera melanjutkan perjalanan menuju bandara. Setelah hampir satu jam mereka sampai di bandara. Meera turun menjemput Shaki. Sedangkan keempatnya bocah onar menunggu didalam mobil. Tak lama Meera kembali bersama Shaki. Kehebohan pun terjadi.
"Wahhhhh. Kembar. Kangen gue sama kalian. Fathan, Thian, Dean Dean"
Dean bersaudara tidak menanggapi. Hanya duo F yang tersenyum melihat Meera. Meera tertawa saat Shaki berusaha mencium pipi Dean bersaudara.
"Enyahlah kak"
"Bentar. Kakak kangen mau cium"
"Ogah. Menyingkirlah"
"Pelit"
"Biarin. Hush hush jauh-jauh sana"
Shaki mendengus kesal. Meera membawa kuda besinya menuju kampus Almeer. Shaki sangat antusias mendengar nama Almeer disebut Meera. Saking antusiasnya, Shaki bahkan menghapus semua make up nya. Dan mengganti dengan make up natural. Almeer tidak menyukai perempuan ber-make up tebal.
Mereka sudah sampai di kampus Almeer. Meera menghubungi sang adik, namun tak merespon. Akhirnya mereka memutuskan turun dan berkeliling kampus Almeer.
"Wah keren juga ya kampus ini. Kak Meera, kampus ini benar milik Bang Al"
"Iya. Dia pemiliknya"
"Keren banget dah. Calon suami idaman"
"Loe masih ngarep sama adik gue"
"Iyalah. Dia cinta pertama gue. Dan semoga terakhir"
"Huh. Terserah. Tapi kalau loe gak kuat, mending mundur saja. Adik gue sepertinya gak doyan cewek. Hahaha"
"Ih Kak Meera gitu amat sih ngomongnya"
Empat pangeran dan dua putri cantik menjadi pusat perhatian. Mereka berjalan santai menuju ruangan Almeer. Si kembar memang sudah beberapa kali mengunjungi Almeer dikampung. Sedangkan Meera dan Shaki ini kali pertama mereka mengunjungi kampus Almeer. Fathan memberitahukan Meera, jika Almeer sedang ada meeting dadakan dengan para dosen. Dan meminta mereka menunggu diruangan pribadinya.
"Kak Meera, bang Al lagi meeting. Kita suruh tunggu diruangan"
"Oh oke"
Merasa ada yang memperhatikan, Almeer menoleh kearah jendela. Betapa terkejutnya Almeer, melihat Shaki berdiri dan tersenyum kearahnya. Almeer memberi tanda agar Shaki menunggu diruangannya. Tindakan Almeer menjadi pusat perhatian para dosen didalam ruangan rapat.
Almeer bergegas kembali keruangannya dengan tergesa setelah rapat usai. Beberapa dosen wanita yang menaruh hati pada Almeer, sangat penasaran dengan tamu spesial Almeer. Almeer membuka pintu ruangannya dan langsung memeluk Shaki.
"Shakiiii"
"Abanggg"
Adegan mereka mendapat respon menyebalkan dari adik dan kakak Almeer yang sama-sama berada didalam ruangan tersebut.
"Dramaaa"
"Lebay"
Mereka sudah keluar dari ruangan Almeer dan berjalan meninggalkan kampus. Pusat perhatian tertuju pada Shaki dan Almeer. Almeer merangkul pundak Shaki dengan possesive. Mereka terus bercanda sambil tertawa. Banyak suara-suara patah hati terdengar disana melihat Almeer merangkul Shaki.
"Kak Meera. Mereka akting banget sih"
"Huh. Serasa dunia milik mereka berdua. Kita hanya ngontrak"
"Heem. Sabar sabar"
Mereka mengantarkan Shaki pulang kerumah terlebih dahulu. Meera tetap seperti rencananya membawa adik kembarnya berjalan-jalan. Dan kini ditemani Almeer. Merasa sudah berada di Mall saat ini. Meera memeluk lengan sang adik. Mereka sangat mirip, hanya warna bola mata mereka saja dan jenis kelamin yang membedakan.
"Al. Loe serius sama Shaki"
"Maksudnya kak"
"Loe kan tau, Shaki selama ini suka sama loe. Dan apa sekarang loe sudah bisa membalas perasaan Shaki"
"Al masih sama. Shaki tetap adik Al kak"
"Jujur sama Shaki. Jangan membuat Shaki berharap lebih. Nanti akan berakhir menyedihkan. Loe tau kan ayah dan buna sangat menyayangi Shaki"
"Iya kak. Al akan mencoba membuat Shaki sadar"
Mereka sedang menikmati es krim dan beberapa camilan diresto cepat saji. Dan diresto itu memiliki arena permainan anak. Si kembar Al tidak menyadari jika keempat adiknya menghilang.
"Anak-anak tuyul pada kemana Al"
"Lah Al gak lihat kak. Ck. Dasar anak tuyul gampang banget ngilangnya"
"Yuk cari Al"
Al dan Meera beranjak mencari keempat adiknya. Mereka mendekati kerumunan orang diarea taman bermain. Meera mencoba bertanya apa yang sedang terjadi.
"Maaf Bu ada apa ya"
"Itu loh mbak. Ada anak sudah gede ikut mandi bola. Yang satu tersangkut diterowongan. Terus satu lagi kakinya kejepit disela-sela dinding kolam bola. Dan yang parah dua kembar itu mbak"
"Yang mana Bu"
"Yang main trampolin. Mereka nyangkut diatas karena ketinggian trampolin itu buat anak-anak. Lagi dibantuin turun mereka"
Kembar Al mencoba mendekati area bermain. Dan benar saja. Mereka adalah adik-adik mereka. Ammar tersangkut dalam lorong menuju kolam mandi bola. Sedangkan Fathan kakinya tersangkut dalam sela-sela dinding kolam yang terdapat lobang-lobang kecil untuk permainan. Ashraf dan Fathan tersangkut diatas atap jaring trampolin yang berbentuk sarang laba-laba.
Keempat anak kembar itu melihat kearah duo Al yang mulai menjauhi mereka. Seolah tak mengenal. Ammar dan Thian meneriaki nama duo Al.
"Kak Almeer, kak Meera bantuin kita"
Keduanya cuek. Bahkan saat para ibu-ibu mulai berkomentar, keduanya ikut berkomentar.
"Mana sih keluarga mereka. Kalau kesini mau kita kasih tau. Buat jaga adiknya. Gak tanggung jawab banget dilepas gitu saja. Merusak fasilitas umum"
Meera menanggapi dengan sengit peryataan ibu tadi.
"Iya benar itu Bu. Sudah tau punya anak Segede itu kok dibiarkan saja main diarea permainan anak kecil. Gak tanggung jawab lagi. Dipanggil gak datang-datang"
"Iya bener banget mbak"
"Ya sudah kami permisi Bu"
"Oya silahkan mbak, mas"
Al dan Meera pergi sambil bergandengan tangan. Mereka sempat melambaikan tangan kearah empat biang onar. Almeer sempat melihat seringai dimata keempatnya. Pertanda bahaya sedang mengintai.
"Habis gue kak"
"Kenapa Al"
"Ayo tolongin mereka kak. Kalau gak gue dalam mode siaga ini"
"Ada apa sih. Panik gitu"
"Pundi-pundi uang gue bisa hilang kak. Kalian gak nolongin mereka"
"Hahhhh"
Almeer berusaha mencari cara untuk menolong keempat anak itu. Sedangkan Meera masih terbengong belum mengerti. Benar saja, saat keempat biang onar sudah berhasil keluar dari masalah. Mereka pergi begitu saja dan langsung naik kedalam taksi yang sedang berhenti.
"Dean. Than, Thian tunggu"
Mereka tak merespon. Thian mengirim pesan kepada Almeer. Yang membuat Almeer pusing seketika.
"Silahkan cari model lain"
Satu kata yang membuat runtuh Almeer. Jika Almeer membalas dengan ancaman juga, tidak akan baik. Almeer mencari ide agar keempat bocah itu luluh.
"Ada apa Al. Pucat gitu"
"Mereka ngambek. Gue ada pemotretan besok pagi kak"
"Lah terus"
"Mereka modelnya"
"Pakai cadangan saja"
"Gak bisa. Harus mereka. Permintaan klien"
"Ya udah bujuk saja"
"Lupa mereka siapa"
"Haduh iya juga. Kenapa gue lupa"
"Terima nasib Al. Rugi bandar ini mah"
_______
Disini nyangkut dikit-dikit anak anak mereka ya gaess. Untuk cerita utama Eneng sudah hampir tamat...
Jangan lupa bahagia gaesss..
Jempol digoyang yuk