
"Neng loe dicariin sama si geulis"
"Ya mak, bentar neng keluar"
Eneng langsung menuju teras rumahnya untuk menemui geulis. Eneng yang masih menggunakan topi rajut dari bambu dan wajah bermasker lumpur langsung berlari menuju teras.
"Teh. Ada apa tumben teteh nyariin Eneng"
"Neng loe mau gak kerja di kota bareng gue"
"Maulah teh. Kapan teh"
"Besok kita berangkat neng"
"Kok dadakan teh"
"Iya ini aja teteh balik buru-buru. Majikan teteh butuh satu orang lagi buat jagain anaknya yang masih kecil. Gimana masih mau loe"
"Mau teh mau banget"
"Ya udah besok subuh teteh jemput. Kita berangkat ke Jakarta"
"Okey teh"
"Gue balik dulu neng"
"Ya teh makasih"
Eneng langsung melonjak bahagia karena bisa pergi ke Jakarta. Itu mimpinya. Karena geulis selalu bercerita jika di ibu kota semua serba ada. Bahkan majikannya tinggal dilingkungan elite yang ada artisnya.
"Emakkkkk. Makkkk"
Emak yang mendengar teriakan Eneng langsung berlari tanpa menyadari jika dia hanya menggunakan handuk saja, karena sehabis mandi"
"Kenapa neng. Loe kenapa"
"Eneng besok diajak ke Jakarta Mak buat kerja"
"Beneran neng"
"Iya Mak. Bolehkan Mak"
"Boleh banget neng. Kapan loe berangkat"
"Besok subuh"
"Kok dadakan neng"
"Iya Mak. Kata teh geulis, majikannya butuh cepat"
"Ya udah emak mau bikin syukuran buat loe. Biar loe disana sukses. Pulang bisa naikin haji emak"
"Iya Mak. Eneng mau pamitan sama kendil jennar dulu"
Eneng langsung meluncur ke rumah Mak Ijah untuk berpamitan. Karena selama ini Mak Ijah lah yang ikut membantu Eneng mencari rezeki.
"Assalamualaikum Mak oh emak"
Tak ada jawaban dari dalam rumah. Eneng berjalan lewat pintu samping. Pendengarannya dia pertajam saat melintasi kamar Mak Ijah.
"Loe aja yang gak sabaran jah"
"Gue udah sabar kali kod"
"Ya udah diem***in dulu aja biar gampang"
"Ya mana. Loe diam aja kod"
"Iya gue diem"
"Kod kok gede gini. Takut gak muat"
"Muat bebi. Lobangnya juga gede kok. Udah buruan loe e****tin dulu biar gampang. Gak tahan gue ini"
"Iya iya. Gak sabaran amat"
"Emmmmph. Emmmmph"
"Mantap bebi"
"Lagi kagak. Kayak udah siap ini"
"Coba dites masukin lobangnya"
"Iya bentar"
"Gimana masuk kagak"
"Masih meleset ini beb"
"Ya udah loe em***in lagi kurang basah kayaknya"
"Iya juga"
Eneng yang mendengar dibalik jendela sudah panas dingin. Apalagi jendela kamar mak Ijah terbuka lebar. Jiwa kepo Eneng meronta inginkan lebih dari sekedar suara.
"Gila pasangan kadaluarsa ini gak tauwaktu banget. Mana jendela dibuka lebar. Bikin gue jadi pengen lep striming kan. Gapapa kali ya lihat bentaran aja gak dosa kan. Hehehe"
Eneng menengok ke kanan dan ke kiri. Dia ga mau diteriaki tetangga Mak Ijah. Eneng berjalan mengendap dibawah jendela kamar Mak Ijah. Suara penomenal itu masih terdengar.
"Ben dikit lagi masuk"
"Iya loe yang fokus beb"
"Oke tahan bentaran ya beb"
Kepala Eneng sedikit menyembul kedalam jendela Mak Ijah. Sedangkan sepasang pengantin baru itu masih sibuk dengan kegiatannya. Eneng yang kepalanya berhasil masuk melalui jendela langsung berteriak. Membuat pasangan itu terlonjak kaget.
"Wow kampret emang kendil jennar. Gue kira lagi hokya hokya"
"Woy bocah sableng ngapain loe ngitipin kita"
"Eneng pikir bakal dapat tontonan gratis gak taunya"
"Loe kira kita lagi berkuda neng. Hahaha"
"Kasian deh loe neng neng. Ekspetasinya jauh dari realitanya hahaha"
"Lagian juga ngapain kalian cuma masukin benang dalam jarum aja pake suara horor kayak gitu"
"Dasar otak loe aja yang kotor Oneng"
Eneng hanya memutar bola matanya jengah. Eneng langsung mengingat tujuan awal mencari Mak Ijah.
"Eneng mau pamit Mak"
"Loe mau kemana neng"
"Eneng mau ke Jakarta besok pagi Mak"
"Loe mau ngapain kesana neng"
"Kerja Mak"
"Loe disini juga bisa kerja neng"
"Eneng pengen ganti suasana Mak. Biar bisa lihat yang bening-bening. Siapa tau dapat jodoh"
"Neng loe tega amat sama emak"
"Emak tega juga sama Eneng"
"Tega kenapa neng"
"Kalau Eneng ngendon disini terus yang ada Eneng cuma dapat si japri. Eneng pengennya lebih. Bukan sekedar terong burik. Siapa tau dapat lobak"
"Lobak apa burik sama aja neng. Asal bisa berdiri aja. Loyo gak ada gunanya"
"Boleh ya Mak Eneng pergi"
"Terus emak besok kalau jualan sama siapa neng"
"Ada japri Mak"
"Apa mau dia"
"Mau. Nanti Eneng yang bilang ke japri"
"Ya udah kalau itu emang keputusan loe neng. Emak cuma bisa berdoa semoga loe jadi orang sukses. Dapat suami yang udah mapan dalam segala hal"
"Aamiin Mak. Ya udah Eneng mau ketemu japri dulu"
"Ya neng. Mak tunggu kabar dari loe"
Eneng langsung mengendarai sepeda kesayangannya menuju rumah japri. Eneng begitu bersemangat untuk segera memberi kabar kepada sahabatnya itu. Dengan hati riang akhirnya sampai dirumah sang sahabat.
"Japri. Japriiii"
"Apaaan"
"Loe dimana jap"
"Belakang"
Eneng menuju ke halaman belakang mencari sahabatnya. Eneng masih mencari keberadaan japri. Memutar kandang bebek juga tak menemukan keberadaan japri.
"Jap loe dimana"
"Akkkkkkhhhhh"
"Jap loe kenapa. Dimana sih loe"
"Lepasin sakit oeeeee"
"Japri loe kenapa sih"
Eneng yang panik mencari arah suara teriakan sahabatnya. Dan ternyata japri sedang berada didalam kandang bebek disamping rumahnya. Eneng masih mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Jap loe dimana"
"Neng tolongin gue. Auuuu"
"Loe kenapa jap"
"Tolong neng sakit ini"
Neng menemukan sumber suara. Dan saat melihat kondisi sahabatnya dia tidak langsung menolong tapi malah menertawakan dirinya.
"Hahahaha japriiii. Kok bisa kayak gitu sih jap hahahaha"
"Kampret emang loe neng. Tolongin sakit ini neng"
"Terus gimana cara gue nolongin loe sih jap
"Tolong lepasin neng sakit ini"
"Beneran loe mau gue bantuin"
"Iya neng. Siapa lagi coba. Ayolah bisa copot ini neng"
"Hahahaha. Bentar gue siapin diri dulu buat bantuin loe japri"
"Neng loe mikirin apa sih. Lama amat"
"Gue lagi mikir. Kok bisa terong loe disosor bebek gitu. Jangan-jangan itu bebek betina jap hahaha"
"Sialan loe neng malah ngetawain terus. Buruan bantuin"
"Kalau gue tarik bahayanya tuh terong. Kalau tambah panjang aja gapapa, nah kalau lepas gimana coba"
"Ya jangan ditarik neng"
"Bentar coba gue nego sama si bebek"
"Buruan"
Eneng langsung mendekati bebek itu dan berbicara layaknya bebek itu paham dengan bahasa Eneng.
"Bek apa enaknya sih terong buriknya japri. Palingan juga belum dimandiin. Gak takut apa ntar loe keracunan bek. Lepasin ya bek. Gue ganti pake makanan enak"
Eneng memegang kepala bebek itu dengan satu tangan. Dan yang satu lagi memenangkan ujung sarung japri yang dekat dengan mulut bebek. Dan ternyata omongan Eneng berhasil membuat bebek itu melepaskan siarannya. Namun hal yang mengejutkan terjadi. Bebek itu menarik sarung japri hingga terlepas.
"Aaaaaaa timunnnnnn loe japppp"
"Tutup mata loe neng. Gak rela gue loe lihat aset berharga gue"
"Nikmat mana lagi yang kau dustakan"
_______
Hai gaesss jangan lupa bahagia
jempol goyang jempolnya