
Saat Eneng dan Airil sudah tiba dikampungnya, Tati masih belum sampai. Airil langsung menemui Arif sebagai tetua desa. Airil menceritakan detail masalah yang akan mereka hadapi nanti. Beruntung semua salinan penjualan warisan Japri dan penggunaan uangnya masih sangat lengkap.
Sudah dua hari Japri berada dirumah setelah dinyatakan sembuh oleh dokter. Bahkan orang pertama yang Japri ingat dan Japri cari adalah Dzaky sang putra. Dzaky masih dalam pengasuhan Titi dan emak Eneng. Anak yang manis tumbuh dengan sehat dan ceria. Diusia emasnya, Dzaky sudah menjadi anak yang cukup cerdas.
Disaat Japri menjalani pengobatan, baik emak ataupun Eneng selalu membawa Dzaky untuk datang berkunjung dan mengenalkan siapa ayah kandungnya. Setelah Japri sehat dan kemlu kerumah, Dzaky semakin lengket.
"Kang Airil sebaiknya kita bicarakan masalah ini juga bersama Japri. Biar bagaimanapun Japri ayah kandung Dzaky"
"Saya setuju. Sebaiknya sebelum Tati datang kita sudah mendapat jalan keluar yang terbaik dari Japri. Saya tidak yakin jika Dzaky dirawat Tati"
"Saya juga merasa demikian. Perangai Tati tidak mencerminkan seorang ibu"
"Sebaiknya kita langsung kerumah Japri saja kang Arif"
"Jangan. Demi keamanan bersama. Sebaiknya kita bertemu Japri dirumah saya saja"
"Baiklah"
"Saya akan mengutus orang untuk memanggil Japri"
"Iya kang"
Sambil menunggu Japri yang sedang dipanggil oleh orang suruhan Arif, mereka menyiapkan bukti lengkap agar Dzaky tidak bisa dimiliki oleh Tati.
.
.
Sementara sang suami sedang membahas hal penting mengenai Dzaky, Eneng berada dirumah sedang membujuk emaknya untuk ikut tinggal bersama dengannya dan Airil.
"Mak. Ayolah ikut Eneng ke kota. Ditempat tinggal Eneng banyak cowok beningnya loh Mak. Nyesel kalau gak ikut"
"Beneran neng. Sama pak Arka pak Jay gantengan mana"
"Ck jangan bandingkan dengan mereka berdua Mak. Mereka tampannya limited edition. Gak ada tandingannya"
"Eh neng. Loe belum isi juga"
"Tiap hari juga diisi Mak. Sama nasi"
"Bukan itu dodol. Bunting neng bunting"
"Belum Mak"
"Udah mau tiga bulan loe nikah masa belum bunting juga. Jangan-jangan kalian salah jurus jadi gak nembus"
"Wah emak meragukan jurus Eneng"
"Nyatanya loe belum bunting juga. Makanya kalau lagi konser ganti-ganti gaya"
"Udah sering Mak. Sampai capek. Sabralah Mak. Lagian kita masih pengantin baru. Lagi enak-enaknya"
"Mantap gak neng"
"Apanya Mak"
"Jurusnya lah"
"Kirain apanya Mak"
"Pokonya sampai setengah tahun loe belum bunting juga, loe harus coba jurus pamungkas dari emak"
"Eleh. Jurus apaan. Udah gak mempan. Gak pernah praktek"
"Semprul emang loe neng. Makanya cariin bapak baru biar bisa praktek masih ampuh gak"
"Besok Eneng bikin pengumuman cari jodoh"
"Boleh tuh neng. Jangan lupa foto emak yang hot dan cantik. Biar banyak yang daftar"
"Palingan yang daftar geng poci sama geng gedrukem. Kan Eneng nempel pengumumannya di kuburan bukan dijalanan"
Emak langsung memukul pundak Eneng karena kesal dengan perkataan Eneng.
"Aduh sakit Mak. Gak ingat tuh telapak tangan segede telapak gajah"
Usai sholat isya, Airil baru kembali dari rumah Arif. Selama Airil dikampung selalu mengendarai sepeda tua Eneng untuk mobilitas didalam kampung. Setiap keluar dan masuk rumah setelah pergi, Airil selalu mengendap-endap seperti maling agar tidak ketahuan oleh kendil jennar yang selalu berjaga diteras depan. Airil selalu melewati jalan memutar agar tidak ketahuan.
Namun Jumat malam ini terasa berbeda bagi Airil. Airil sudah sangat biasa melalui jalan-jalan dikampung Eneng malam hari. Dan tak pernah terjadi hal yang menakutkan. Namun malam ini dia merasa agak aneh. Airil mencoba menenangkan hatinya. Meyakinkan diri jika itu hanya halusinasi. Jika bersama Eneng, Airil tidak akan merasa setakut ini.
"Duh Gusti ini Kunti apa Mak we ya. Ngapain juga tadi gue pake berhenti segala. Mana tadi ada pohon kelapa. Jangan-jangan penghuni pohon kelapa ikut ini"
Airil bermonolog dalam hatinya. Dengan bercucuran keringat karena takut, Airil tetap mengayuh sepedanya. Ingin rasanya dia pacu dengan sekencang mungkin. Namun entah kemana kekuatan itu berada.
Ihik. Ihik
Suara tawa pelan terdengar dari sepeda bagian belakang. Airil sama sekali tak ingin menengok sekedar memastikan makhluk jenis apa yang sedang minta dibonceng olehnya. Jarak rumah Eneng pun serasa sangat jauh sekali saat ini. Airil benar-benar menahan segala rasa takutnya. Agar segera sampai dirumah.
Tiba-tiba Airil merasa ada yang meraba-raba punggungnya. Geli dan takut itu pasti. Sesekali Airil menggoyangkan bahunya agar makhluk dibelakangnya berhenti meraba.
Ihik ihik ihik
Ada sesuatu yang tiba-tiba menempel dipunggung Airil. Mata Airil melotot karena rasanya seperti kepala yang mencari sandaran. Dan sepasang tangan mulai meraba bagian pinggang Airil. Ingin melirik melihat bentuk tangan tersebut namun nyalinya menciut. Airil mengendarai sepeda dengan merem melek merasakan tangan jahil entah milik siapa.
"Ya Allah ini setan tangannya ramah banget sih. Awas aja dia ngeraba paha gue. Senjata gue bisa gak aman ini"
Karena merasa tangan itu semakin tak terkendali, dengan penuh keberanian Airil menengok kebelakang ingin melihat sosok setan seperti apa yang ganjennya gak ketulungan.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Airil menengok perlahan sambil memejamkan matanya. Saat matanya terbuka perlahan, betapa terkejutnya Airil dengan apa yang dilihatnya kali ini.
"Setan omponggggg"
Airil berlari sekencang mungkin sambil menjatuhkan sepedanya. Dan ternyata..
"Huahhhhhh. Ini dedek Aa. Bukan setan ompong. Aa tega. Tega sama dedek. Sungguh terlalu"
Eh ternyata yang bonceng adalah kendil jennar. yang sengaja menunggu Airil lewat dibawah pohon kelapa. Karena sepeda Airil dilepaskan begitu saja, kendil jennar jatuh dengan tertimpa sepeda. Kendil Jennar memang berhasil lepas dari himpitan sepeda. Dia langsung menangis sekencang mungkin sambil terduduk diatas tanah. Make up-nya pun sudah luntur.
Saat ada orang melintas mencoba mendekat kearah suara tangis tersebut juga terkejut dengan wajah kendil jennar yang saat ini tak kalah dari mis Kun. Hanya bedanya semua giginya sudah digadaikan.
Sampai dirumah Airil benar-benar lemas. Eneng yang melihat suaminya tak berdaya itu langsung mendekatinya. Apalagi tak nampak sepeda yang tadi dipakainya didepan rumah.
"Akang kenapa"
"Minum sayang"
Eneng yang memang manusia ajib, bukannya diambilkan air minum dia malah membuka satu persatu kancing baju bagian atasnya.
"Eh mau ngapain kamu sayang buka baju diteras rumah"
"Katanya minum"
"Air putih sayang. Kalau yang itu mah nanti dikamar. Kancingin lagi"
"Makanya yang jelas kalau ngomong"
Eneng berjalan kearah dapur mengambilkan air putih untuk Airil.
"Ini kang"
"Makasih sayang"
Airil meminumnya hingga tandas. Setelah merasa tenang, Airil bercerita kepada Eneng tentang apa yang baru saja terjadi padanya.
"Setannya pake kebaya putih. Rambut diurai"
"Iya sayang. Kok kamu tahu"
"Tuh udah sampai sini. Nganterin sepeda"
Airil menengok kearah yang ditunjuk oleh Eneng.
"Aa tega sama dedek. Huahhhh"
"Mak Ijahhh"
_______
Hai hai...maafkan Eneng tadi lagi kencan sama Aa xu kai lagi balik kandang nih
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempolnya digoyang yuk