
Setelah kejadian menggemparkan Eneng, Gama terus saja tertawa setiap kali bertemu Eneng. Bahkan Gama yang terlihat kalem bisa menggoda Eneng hingga semua tertawa. Salsa semakin hari semakin memiliki keinginan untuk sembuh. Berkat motivasi Eneng, salsa yang dari dulu tidak mau menjalani fisioterapi, kini dia sangat bersemangat.
"Neng loe ikut ke rumah sakit kan"
"Bukannya non salsa sama tuan sama nyonya"
"Gak asyik ah neng"
"Jujur ya non, Eneng takut masuk rumah sakit"
"Takut kenapa neng"
"Takut pingsan ketemu Aa Gama"
"Hahahaha. Loe neng punya penyakit kok ya aneh. Udah ayo ikut. Habis itu kita ke Mall"
"Mall apaan non"
"Pusat perbelanjaan neng"
"Pasar non"
"Bukan. Dah lah nanti loe juga tau"
Salsa bersiap dengan dibantu Eneng. Kedua orangtua salsa sudah menunggu diruang tamu. Setelah salsa siap, mereka segera berangkat menuju rumah sakit dimana Gama bertugas. Selama enam bulan Eneng tinggal di ibukota, Eneng memang tidak pernah keluar komplek rumah. Karena tugasnya menjaga salsa. Dan baru saat ini Eneng keluar dari rumah salsa.
Disepanjang jalan Eneng masih terkagum dengan apa yang tidak pernah dia lihat di kampung. Salsa hanya tertawa setiap melihat reaksi Eneng yang melongo melihat gedung-gedung tinggi.
Sampai di rumah sakit, papi salsa langsung melakukan pendaftaran ulang dengan perawat yang bertugas. Setelah mendapat nomor antrian, salsa didorong Eneng menuju ruangan Dr Gama. Diikuti oleh kedua orangtuanya. Setiap melihat dokter muda yang agak bening Eneng bersiul menggoda.
Mereka sudah berada didepan ruangan Dr Gama. Hari ini tidak begitu penuh pasien yang berobat di klinik fisioterapi. Setelah satu pasien terakhir selesai, kini giliran salsa yang akan diperiksa. Kedua orangtua salsa berjalan didepan diikuti oleh salsa dan Eneng.
"Selamat siang om. Tante"
"Siang Gam. Tumben agak sepi"
"Iya memang sengaja om. Kan hari ini untuk pertama kalinya salsa mau terapi. Jadi Gama sengaja mengosongkan beberapa jam untuk salsa"
"Wah mengharukan sekali"
Gama hendak menyapa salsa, namun dia berniat menggoda Eneng terlebih dahulu.
"Eh ada eneng. Mau periksa lagi gak neng"
"Lebih dari itu Eneng ikhlas Aa Gama"
"Tenang nanti saya periksa"
Gama sengaja mengedipkan satu matanya kepada Eneng.
"Ah Aa jantungku erobik. Gak kuat Mak"
Karena ulah Gama yang menggoda Eneng, membuat salsa dan keluarganya tertawa. Beruntung tidak ada perawat didalam ruang periksa Gama.
"Saya mulai periksa ya sal"
"Iya kak"
Kemarin reflek kaki bagus. Sekarang kita coba gerakan perlahan turun naik. Tapi kamu duduk diatas ranjang dulu ya"
"Ya kak"
Gama langsung menggendong salsa dan memindahkan ke ranjang periksa. Eneng langsung kambuh.
"Aa eneng mau dong digendong. Uhuy"
"Asyiaaap. Nanti ya neng kalau udah kelar. Aa akan menggendong mu"
"Emakkkkk Eneng mau kawin"
"Nikah neng"
"Sama saja tuan ujung-ujungnya kawin juga kan"
"Serah neng"
Mereka langsung memperhatikan salsa yang sedang melakukan gerakan terapi. Tiba-tiba pintu ruangan Gama dibuka dan masuklah salah satu rekan Gama yang tak kalah tampan dari Gama. Eneng kembali oleng.
"Maaf dokter Gama, saya mengganggu sebentar bisa"
"Ya dokter Airil ada apa"
"Saya mau konsultasi mengenai pasien di bangsal tujuh"
"Oh ya. Ada apa dok"
Saat Gama sedang berbincang dengan dokter Airil, Eneng sudah menatap dokter itu dengan tatapan penuh hasrat. Setelah selesai berbicara dengan dokter Airil, Gama menyadari jika Eneng sedang menatap Airil.
"Ehem. Neng"
Eneng bukannya menjawab namun mendekat. Saat sudah saling tatap dengan Airil dan dokter tampan itu tersenyum sambil melambaikan tangan kepada eneng, Gama mulai berhitung
1
2
3
Brugh
Eneng kembali pingsan. Airil panik. Gama bukannya panik tapi tertawa sama seperti salsa dan keluarganya. Airil mengangkat tubuh Eneng dan menidurkannya diatas sofa ruangan Gama.
"Dok ini kenapa"
"Dah gapapa. Dokter gak usah panik"
"Gimana gak panik dok. Saya cuma melambaikan tangan kenapa dia pingsan. Saya harus memeriksanya dok"
"Silahkan dok. Tapi kalau nanti dia heboh jangan kaget ya dok"
"Bukan trauma, cuma gak kuat lihat pria tampan. Hahaha"
"Masa sih dok. Kok saya baru tau ada penyakit seperti itu"
"Kalau gak percaya silahkan dokter periksa. Dan tunggu sampai dia sadar"
"Baik dok. Saya belum tenang kalau belum memeriksanya"
Dokter Airil menarik stetoskopnya, dan mulai membuka kancing baju Eneng. Saat melakukan pemeriksaan, beruntung Eneng masih pingsan.
"Detak jantungnya cepat sekali ini dok. Jangan-jangan dia memiliki pengalaman takut jantung"
"Tidak ada dok. Percaya sama saya. Saya sudah pernah menghadapi dia"
"Kalau memang dokter gama yang berkata demikian, saya masih bisa tenang"
Airil berniat akan mengancingkan kembali baju Eneng, namun belum sempat terkancing eneng sadar. Dan terjadi lagi..
"Ya Allah. Kenapa baju Eneng kebuka gini"
"Akhirnya sadar juga. Kamu baik-baik saja"
"Gimana mau baik-baik saja kau ada yang melecehkan saya"
"Siapa yang melecehkan kamu"
"Kalau saya tau, saya pasti langsung menghajar ya. Dasar pengecut mau enak-enak kok pas eneng gak sadar. Kan jadi gak bisa ngerasain"
Airil melotot mendengar perkataan Eneng yang sedikit vulgar.
"Enak-enak. Kamu mengira kamu diruda paksa gitu"
"Ya iyalah. Apalagi coba. Lihat aja baju Eneng kebuka gini"
"Ya ampun Mbk. Baju MBK kebuka karena saya yang buka"
"Apa. Kenapa gak bilang sih dok. Kalau dokter yang buka"
"Maaf tadi kamu pingsan. Jadi saya buka saja sendiri"
"Ah dokter gak asyik"
"Gak asyik gimana"
"Harusnya dokter tunggu saya sadar dulu. Biar bisa barengan buka-bukaannya"
"Oh maaf ya. Saya hanya panik. Jadi saya buka sendiri"
"Bisa gak diulangi adegannya"
"Maksudnya"
"Ya itu saat dokter buka baju saya diulangi lagi"
"Kan kamu sudah sadar"
"Ya justru sudah sadar. Biar sama-sama enaknya. Kan kalau Eneng pingsan lagi, rugi dong Eneng. Gak bisa lihat yang indah-indah"
"Kok saya bingung ya sama maksud kamu"
"Gak usah bingung. Cukup ulangi lagi adegannya"
"Kalau saya gak mau"
"Saya akan melaporkan anda sebagai tukang ruda paksa. Dan dokter harus menikah dengan saya. Saya sudah ternoda. Hiks hiks"
Airil semakin bingung. Dia tidak merasa melakukan yang dituduhkan Eneng. Sedangkan Gama dan yang lainnya hanya tertawa.
"Tapi saya gak melakukan itu mbk. Saya hanya sekedar memeriksa kondisi mbk saja, gak lebih"
"Gak mau tau pokoknya dokter harus mau jadi suami kedua Eneng"
"Suami kedua. Kamu sudah menikah"
"Belum"
"Terus kenapa jadi suami kedua"
"Yang pertama tuh Aa Gama"
Airil memandang gama. Sedangkan gama mengedipkan satu matanya kepada eneng sambil tersenyum. Airil mulai paham maksud Gama tadi.
"Hadeh salah pasien gue ini namanya"
"Dokter Airil juga tukang terapi kayak Aa gama"
"Tukang terapi"
"Iya kayak Aa gama"
"Kalau iya kenapa emangnya"
"Boleh gak hati Eneng diterapi biar gak aerobik saat menatap wajahmu"
"Eyak eyak"
Gama menyahuti gombalan Eneng kepada Airil. Airil hanya geleng kepala. Salsa dan kedua orangtuanya hanya tertawa.
______
Eneng comming gaesss
Jangan lupa bahagia ya
Jempolnya digoyang yuk