
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa Eneng sudah tiga tahun bekerja di keluarga Malik. Si kembar selalu ada saja ulah yang membuat seluruh keluarga tertawa dan kesal. Setiap tiga bulan Eneng selalu pulang ke kampung atas permintaan Jasmine. Dia harus menengok emak dan adiknya.
Hubungan Eneng dan japri masih saja abu-abu. Japri tidak mau melepas Eneng tapi juga selalu mengulur waktu dengan alasan yang selalu berbeda. Rumah yang dijanjikan japri pun sudah siap. Tapi status mereka masih saja belum pasti. Hari ini Eneng kembali ke kampung dengan tujuan menemui Japri. Hubungan lebih dari tiga tahun yang dijalaninya harus mendapat kepastian.
"Mak Eneng mau ngomong serius bentaran"
"Ya neng kenapa"
"Masalah Japri Mak"
"Kamu capek nunggunya neng"
"Iya Mak. Umur Eneng juga semakin bertambah. Kalau memang Japri tidak ada niatan melanjutkan pertunangan ini, Eneng siap batalin Mak. Masalah uang pengembalian. Eneng sudah siapkan"
"Neng. Sebenarnya emak gak mau nutupin ini dari kamu lama-lama. Tapi emak rasa kamu lebih baik mengakhiri ini. Nanti emak bantu balikin uang pembatalan. Japri bukan Japri yang kamu kenal dulu neng"
"Maksudnya gimana Mak"
"Emak gak bisa cerita neng. Kamu tanyakan sendiri saja ke orangnya. Dan tolong selesaikan dengan baik-baik"
"Iya Mak. Memang Eneng udah niat datang kali ini buat menyelesaikan masalah"
"Japri tau kamu pulang neng"
"Nggak Mak. Sengaja eneng gak ngasih tau"
"Ya sudah kamu istirahat. Besok kamu temui Japri"
"Ya Mak"
Eneng masuk kedalam kamarnya. Sudah lama Eneng curiga dengan Japri yang memang sedikit berubah. Setiap Eneng pulang, japri selalu saja menghindar jika Eneng mengajak berbicara serius. Eneng masih teringat saat dia pulang mendadak karena mendapat kabar ayah japri meninggal. Saat Eneng masuk kedalam rumah milik Ayah japri, ada sesuatu yang janggal. Bahkan japri selal menghindar jika Eneng mendekat.
"Siapa dia. Apa karena dia loe berubah jap"
.
.
.
"Aku kembali untukmu neng. Ternyata tidak mudah melupakan dirimu neng. Aku gak peduli kamu akan menikah dengan siapa. Kalau bisa aku gagalkan pasti aku gagalkan neng"
"Tunggu aku neng. Kita akan segera bertemu"
Seorang pria muda sedang mengemasi pakaiannya bersiap menemui gadis yang disukainya. Selama ini dia sudah berusaha melupakan dan mengikhlaskan Eneng tapi semua usahanya sia-sia. Selalu saja hatinya kembali pada Eneng.
"Siap tinggal ke bandara. Tunggu ya neng aku akan melamarmu"
.
.
.
Pagi menjelang. Seperti niat awal Eneng pulang kampung, Eneng pergi kerumah Japri pagi setelah sarapan. Dia sudah menata hatinya. Menerima semua kemungkinan yang akan terjadi.
Eneng berjalan melalui jalan sawah agar tidak banyak orang melihat dia pulang dan memberitahukan kepada Japri. Pintu belakang rumah Japri sudah terbuka. Eneng sengaja tidak bersuara, dia benar-benar ingin memastikan apa yang menjadi pikirannya.
"Akang beneran gak mau terus terang sama Eneng"
"Aku belum ada keberanian untuk jujur"
"Terus sampai kapan kita sembunyi seperti ini kang. Bukannya akan juga gak cinta sama Eneng"
"Kamu salah. Aku mencintai Eneng"
"Akang bohong. Kenapa akang menerima Tati kalau akang cinta sama Eneng"
"Kamu lupa. Aku nerima kamu karena terpaksa. Tidak lebih"
"Akang bohong. Selama ini akang cuma cinta sama Tati bukan Eneng"
"Iya dulu. Dulu sekali sebelum kamu pergi jadi TKW dan meremehkan aku"
"Aku kan pergi untuk kita juga kang"
"Untuk dirimu sendiri. Sudahlah aku gak mau debat lagi. Makanlah kasian anak dalam perutmu itu"
"Akang mau kemana"
Japri tak menjawab perkataan Tati. Japri jalan melalui pintu belakang. Betapa terkejutnya Japri melihat eneng berdiri didepan pintu sambil terdiam.
"Neng. Kamu pulang"
Eneng menghela nafasnya dalam. Dia tetap berusaha tersenyum. Dia tidak ingin masalah semakin runyam. Berawal dengan baik maka berakhir pun harus baik juga.
"Apa kabar Jap"
"Baik neng. Kenapa kamu gak ngabarin kalau mau pulang neng"
"Tidak sempat jap. Boleh aku masuk"
"Hmmm. Sebaiknya kita ngobrol di gubuk saja neng"
"Jap. Aku sudah dengar pertengkaran kamu tadi dengan Tati. Tolong jangan lagi kamu berbohong"
"Neng"
"Apa kabar tat"
"En. Eneng"
"Iya gue Eneng. Apa kabar"
"Baik"
"Gue duduk sini ya"
"Silahkan neng"
"Kapan loe pulang dari luar negeri tat"
"Sudah hampir delapan bulan neng"
Eneng sempat kaget mendengar perkataan teman kecilnya itu. Jika dia kembali menghitung, perubahan sikap Japri memang sudah hampir enam bulan lamanya.
"Lama juga ya. Tapi kita gak pernah ketemu tat"
"Anu. Gue jarang keluar rumah neng. Lagian loe juga jarang pulang kan"
"Setiap tiga bulan gue pulang kok tat"
"Ouh. Gue gak tau neng"
"Huh. Gue gak mau basa-basi lagi. Gue sengaja pulang buat menyelesaikan urusan gue sama loe jap. Gue merasa loe berubah. Dan sebelum gue berangkat ke Jerman, gue harap masalah ini segera selesai"
"Loe mau ke Jerman neng. Apa emak ijinin"
"Emak ijinin. Majikan gue asli Jerman. Karena liburan dan acara keluarga, gue harus ikut. Senin gue berangkat dan gue gak tau sampai kapan disana"
"Jap. Bisa loe jelasin ke gue ada apa sebenarnya. Dan seperti apa status kita"
"Neng. Aku tetap akan menikahi kamu seperti janji aku dulu. Rumah yang gue janjiin sudah selesai neng. Untuk kita tinggal nanti"
Tati merasa tak suka Japri berkata seperti itu. Dia ingin sekali menyela, namun Japri menatapnya dengan garang.
"Neng, aku sudah bisa mencitai kamu. Kita akan segera menikah neng dan aku minta kamu jangan kerja lagi. Kita hidup disini merawat emak dan Titi"
"Jap. Jujur ada apa dengan kalian"
"Neng. Plis kita nikah ya"
"Jap. Jujur"
Karena japri tak kunjung menjawab pertanyaan Eneng, membuat Tati geram.
"Gue hamil anak japri neng"
"Apa. Benar itu jap"
Japri hanya bisa mengangguk pelan sambil menunduk. Sama sekali tak berani menatap wajah Eneng.
"Jelaskan jap"
"Ini kesalahan neng. Aku yang salah. Saat pertama bertemu Tati kembali. Aku merasa, aku masih mencintai dia. Nyatanya tidak neng. Hati aku sudah berpaling sama kamu neng"
"Kenapa sampai hamil. Apa loe lupa aturan agama"
"Iya aku emang gila neng. Demi bisa melepaskan kamu aku sengaja menghamili Tati. Tapi setelah semua terjadi aku menyesal neng. Ternyata aku hanya terobsesi dengan Tati neng. Maafkan aku neng. Setelah anak ini lahir kita bisa menikah neng"
"Jap. Jangan jadi pengecut. Sebagai pria loe harus tanggung jawab sepenuhnya. Nikahi Tati. Rawat anak kalian dengan baik. Gue ikhlas jap"
"Neng. Dia mau sama aku karena aku kaya sekarang neng. Dan aku sudah gak ada rasa lagi sama Tati"
"Gue mohon, lupain gue jap. Jujur kalaupun. tidak ada masalah seperti ini, gue mau bilang sebaiknya kita berakhir sebelum kita menikah jap"
"Kenapa neng"
"Karena sampai saat ini, aku hanya bisa menganggap dirimu sebagai sahabat"
"Neng"
"Apa loe tidak pernah merasakan jap, gue selalu cuek sama kondisi loe. Gue sudah berusaha tapi sama sekali tidak bisa jap. Daripada kita saling tersiksa nantinya. Lebih baik diakhiri. Dan mungkin Allah mempermudah dengan adanya masalah ini"
"Neng. Plis kita bisa rawat anak itu bersama. Aku benar-benar sudah mencintaimu neng"
"Maaf jap. Kita harus berakhir. Berbahagialah loe sama tati. Jika suatu saat loe butuh bantuan gue sebagai teman. Gue akan bantu. Jaga Tati dan calon anakmu. Aku pergi jap"
"Neng. Plis jangan kayak gini"
"Jap. Sudah ya. Gue sudah harus balik ke Jakarta. Semoga kalian bahagia"
Eneng melepas tangan japri yang menarik lengannya. Eneng tetap berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Terimakasih ya Allah. Jalanmu sungguh indah"
_________
Di cerita Rashsya story' othor pernah bilang nama Dzaky anak Eneng sama Japri kan. Nah asal usul anak itu akan segera terbongkar gaesss..hahaha
JANGAN LUPA BAHAGIA GAESS
Jempol digoyang yukk