Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Pulang Umroh



Sembilan hari ditanah suci sudah mereka lewati. Pagi dini hari rombongan Eneng sudah kembali ketanah air. Kali ini bukan Arjuna yang menjemput mereka. Melainkan Arash dan Almeer. Arjuna tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


Setelah mengantarkan Eneng dan keluarganya Sampai dengan selamat, Arash dan Almeer langsung kembali kekediaman Malik. Duo F sudah menunggu mereka diteras rumah ditemani KunNo.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Duo F langsung menghambur kedalam pelukan mamanya. Eneng pun menyambut pelukan kedua putra kesayangannya itu dengan haru.


"Apa kabar anak mama"


"Baik. Mama apa kabar"


"Alhamdulillah sehat sayang"


Eneng mencium seluruh wajah kedua putranya begitu juga Airil. Tak lupa duo F juga menyambut kakek nenek dan Omanya.


"Kakek nenek"


"Cucu kakek sehat kan"


"Alhamdulillah sehat. Kakek sama nenek sehat kan"


"Alhamdulillah berkat doa kalian"


Saat beralih kepada sang Oma, duo F merasa ada sedikit keanehan. Karena sang Oma begitu pendiam dan tenang sekali.


"Assalamualaikum cucu Oma"


"Waalaikumsalam Oma. Oma sehat"


"Alhamdulillah. Alhamdulillah sehat sekali. Kalian bagaimana"


"Sehat Oma"


"Alhamdulillah. Syukurlah kalau memang begitu"


Fathan menatap Thian. Mereka saling beradu pandang dan sama-sama mengangkat bahu mereka. Mereka merasa aneh dengan sikap Omanya. Airil mengajak seluruh keluarga untuk masuk kedalam rumah.


"Bang aneh gak sama Oma"


"Iya. Kenapa ya dek"


"Semoga beneran dapat hidayah Oma. Aamiin"


"Aamiin bang"


Karena hari sudah hampir pagi, mereka memilih menunggu waktu subuh, barulah mereka akan pergi beristirahat.


Hari menjelang siang. Hari ini duo F memang sedang libur sekolah dan juga meminta ijin kepada Almeer agar dikosongkan jadwal mereka untuk satu hari. Mereka ingin bersama kedua orangtuanya. Eneng sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka.


"Pagi mah"


"Pagi sayang. Adek belum bangun"


"Tadi Abang lewat depan kamar adek. Masih senyap"


"Oh. Yasudah biarkan saja bang. Abang mau makan dulu atau nunggu adek"


"Nunggu saja mah. Paling juga bentar lagi adek bangun"


Fathan duduk diruang tengah dan kebetulan ada emak disana sedang menonton acara pengajian ditelevisi. Dan yang membuat Fathan adalah, emak menonton acara televisi sambil terus berdzikir.


"Alhamdulillah Oma sudah lebih baik. Semoga terus seperti itu"


Fathan melihat emak sambil tersenyum dan bergumam dalam hatinya. Fathan memilih duduk disanping sang Oma yang sedang khusyuk mendengarkan ceramah.


"Oma"


"Eh pathan. Sini duduk sama Oma lihat pengajian"


"Iya oma"


Mereka duduk sambil mendengarkan ceramah dengan khidmat. Thian yang baru saja bangun tidur, ikut bergabung dengan Oma dan abangnya. Thian sempat melotot melihat sang Oma sedang berzikir dan fokus pada layar televisi. Thian mendekati sang Abang dan berbisik.


"Bang. Oma udah insyaf"


"Semoga"


"Huh. Akhirnya. Tapi gak asyik kalau gak ada teman duet joged"


"Hush loe dek. Oma udah berubah lebih baik sekarang. Disyukuri dong"


"Syukur syukur"


Fathan memukul lengan adiknya pelan. Thian hanya tersenyum menanggapi pukulan sang abang. Eneng datang untuk meminta mereka sarapan pagi bersama.


"Sarapan dulu yuk. Kakek nenek sama papa sudah nunggu"


"Ya mah"


Eneng tak lupa mengajak emak tercintanya untuk sarapan pagi. Mereka semua sudah berkumpul diruang makan. Tak ada suara apapun kecuali dentingan sendok. Usai sarapan, mereka berkumpul diruang tengah.


"Gimana kalian dirumah selama kami pergi"


"Biasa saja kek. Gak ada yang seru"


"Tapi kalian selama kami tinggal gak pernah nginap dirumah bang Almeer"


"Nggak kek. Kami dirumah saja. Jaga rumah"


"Wuih. Jagoan kakek emang hebat. Berani tinggal berdua saja dirumah"


Fathan dan Thian tersenyum penuh makna. Jelas mereka tetap berani karena bodyguard mereka sangatlah istimewa. Airil hanya tersenyum mendengar perkataan sang ayah pada kedua putranya.


"Ril. Bapak pulang besok ya"


"Kok buru-buru banget pak"


"Kasian Juna dirumah sendiri. Lagian bapak sudah pengen jaga toko"


"Nanti bapak bisa kesini lagi. Kalau kangen sama cucu"


"Ya sudah, nanti Airil antar pak"


"Gak usah. Kamu juga harus kerja kan besok. Bapak naik kereta saja"


Thian mencoba memberikan idenya. Thian tidak tega jika kakek neneknya harus menempuh perjalanan dalam waktu lama dengan kereta.


"Kakek sama nenek nanti Thian belikan tiket pesawat. Jangan naik kereta. Lama nyampenya bikin badan makin sakit"


"Tidak perlu Thian. Naik kereta juga asyik kok"


"Gak boleh nolak kek. Itu uang Thian sendiri kok bukan dari papa"


Fathan pun tak mau kalah. Dia juga ingin membelikan tiket pesawat untuk sang nenek.


"Adek benar. Jangan naik kereta. Nanti nenek biar Abang yang beliin tiket. Kami sudah bekerja kek. Jadi biarkan kami memberikan sesuatu untuk kakek dan nenek"


"Ya sudah kalau kalian mau seperti itu"


Pak Prasaja tersenyum bangga kepada kedua cucunya itu. Disaat anak seusia mereka masih dimanjakan dengan harta keluarga, mereka memilih mencarikan uang sendiri dan juga membelanjakan sesuai kebutuhan.


Emak benar-benar telah berubah menurut penglihatan mereka. Begitu tenang dan sangat anteng. Bahkan cara bicara emak pun sudah mulai lembut. Duo F sangat penasaran dengan perubahan sang Oma. Mereka mencoba bertanya kepada Eneng.


"Mah"


"Iya bang"


"Oma sehat kan"


"Sehat kok. Memangnya kenapa"


"Kok anteng gitu"


"Ya semoga saja bisa seperti itu terus bang"


Airil yang hendak mengambil air minum ikut menyela pembicaraan anak dan istrinya.


"Papa gak yakin deh. Kalau Oma bakalan anteng terus"


"Kok gitu pah"


Eneng merasa sedikit penasaran dengan jawaban sang suami. Eneng tahu Airil juga suka emak yang mode tenang. Tapi Eneng hanya sedikit penasaran saja dengan perkataan Airil.


"Gak inget waktu ketemu bule di Mekah"


"Oh yang didekat hotel itu"


"Iya. Mama sudah lupa itu"


Duo F semakin ingin tahu ada apa dengan sang Oma disana. Mereka memasang telinga dengan benar bahkan cara duduk mereka sudah berubah.


"Oh yang emak ngejar tuh bule gara-gara suara musiknya"


Thian yang sudah penasaran tingkat dewa langsing bertanya kepada sang mama. Musik apa yang membuat Oma mereka mengejar seorang bule.


"Emang musik apa mah. Kok Oma ngejar om bule"


"Tuh bule bawa musik box agak gede. Terus nyalain lagu kucing garong. Otomatis oma oleng. Ngejar tuh bule"


"Terus tuh om bule ketangkep gak mah"


"Ketangkep. Ternyata tuh bule salah satu penjual makanan di arab. Dan asal kalian tau. Oma udah sok ngomong pake kamus bahasa Arab. Tanya boleh pinjem musiknya enggak. Dan tau gak gimana tuh bule jawab"


"Pakai bahasa Inggris dong mah"


"Nggak dek"


"Lah terus pakai bahasa Arab juga gitu"


"Nggak juga dek. Tapi tuh bule malah jawab. Ngomong opo koe"


Seketika duo F dan Airil terbahak-bahak mendengar perkataan Eneng. Emak yang duduk tak jauh dari mereka, masih diam dan tenang saja.


"Jadi tuh bule. Bule kawe mah"


"Iya. Waktu papa tanya katanya dia dari Brebes"


"Hahahaha. Mantap"


Kebetulan didepan rumah ada orkes keliling sedang lewat. Sejenak mereka semua terdiam melihat kearah emak. Namun emak masih tenang saja. Thian melihat keluar melalui jendela. Dan orkes tersebut berhenti didepan rumah mereka.


"Asyik nih buat goyang. Dah lama gak goyang"


Thian pun bergoyang mengikuti irama lagu dari dalam rumah. Sebenarnya Thian sengaja ingin tahu apakah Omanya akan terpengaruh atau tidak. Cukup lama emak terdiam tanpa ada pergerakan mencurigakan. Dan kini emak nampak beranjak meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.


"Tuh kan udah insap. Gak terpengaruh tuh"


"Iya sepertinya begitu mah"


Duo F hendak ke taman belakang melihat peliharaan mereka. Namun saat melihat kearah jendela sang Oma yang terbuka lebar. Mereka berhenti karena kaget melihat sesuatu.


"Buahahahahaha. Kirain udah gak mempan. Eh ternyata jogednya sembunyi dikamar"


Emak mendengar suara tawa Fathan dan juga perkataan Fathan. Emak pun mendekat ke jendela dan langsung berkata.


"Hust berisik. Lagi pewe ini. Gak usah ganggu"


Emak kembali masuk dan menutup korden dikamar mereka. Dan melanjutkan goyangan tertutup didalam kamar. Sedangkan Thian menyemangati sang Oma dari luar sambil berteriak.


"Asyeeekk. Tarik mang"


_____


Kan memang cerita Eneng cuma sampai mewujudkan mimpi emak naik haji, tapi diganti dengan umroh. Nanti akan ada cerita anak mereka kok. Ini lagi bikin...


Jangan lupa bahagia gaesss


Jangan lupa jempolnya digoyang yuk