
"Assalamualaikum. Kang Arif ya ada teh"
"Waalaikumsalam. Ada. Maaf akang ini siapa"
"Saya Airil, suaminya Eneng"
"Oalah. Suami si Eneng to. Pantes kok kayak pernah lihat"
"Maaf bisa bertemu kang Arif teh"
"Oh ya bisa. Tunggu sebentar ya. Duduk saja dulu"
"Terimakasih teh"
Airil menunggu Arif keluar. Tak lama Arif keluar dan nampak kaget melihat kedatangan Airil.
"Wais tamu istimewa ternyata. Sudah lama kang"
"Lama dimana ya ini kang. Hahaha"
"Dikampung ini. Hahaha"
"Saya baru datang tadi pagi. Jemput anak-anak"
"Loh anak-anaknya disini kang"
"Iya kang liburan. Sudah satu Minggu disini"
"Wah saya malah gak tau loh kalau anak-anak akang ada disini. Kalau tau kan bisa saya suruh mampir"
"Hahaha. Saya juga lupa gak ngajak mereka kesini. Kebetulan dirumah sedang ada anak-anak kampung sini main dirumah emak"
"Wah ternyata mereka memiliki sifat humble seperti mama papanya ya. Mudah bergaul"
"Alhamdulillah"
"Oya ada apa ini. Sepertinya spesial sekali datang kerumah saya"
"Memang ada yang mau saya diskusikan kang. Selain menjalin silaturahmi lagi"
"Masalah apa kang"
Airil mulai menjelaskan maksud kedatangannya. Arif mendengar dengan serius. Sesekali Arif mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti apa maksud ucapan Airil.
"Bagaimana kang"
"Wah. Saya sangat senang dengan bantuan dari akang dan anak-anak akang. Bahkan saya sangat berterimakasih. Memang saat ini saya dan teman-teman sedang mengusahakan agar sekolah ini bisa diakui oleh Pemda. Memang pendidikan yang kami berikan sama dengan sekolah diluar sana. Bahkan guru-guru yang mengajar mereka dibayar dengan seadanya. Terkadang kami tak mau menerima bayaran. Akang tau sendiri jika anak-anak dibiarkan untuk tidak sekolah pasti akan merugi. Untuk sekolah di sekolah yang sesuai standar pemerintah, mereka perlu biaya tambahan untuk sampai disana. Kalau masalah pembangunan jembatan, saya setuju dan masalah sekolah direnovasi saya juga setuju. Nanti saya akan meminta bantuan warga setempat untuk membantu bergotongroyong"
"Rencananya saya akan membuat jembatan permanen yang bisa dilalui kendaraan bermotor juga, bukan hanya pejalan kaki. Dan mungkin akan saya buat tinggi. Mengingat sungai dikampung ini terkadang mendadak banjir"
"Iya saya juga berfikir demikian kang. Tapi untuk masalah jembatan sepertinya perlu arsitektur untuk merancang, dan pasti mahal biayanya untuk menyewa seorang arsitek"
Airil berfikir sejenak. Dia mengingat jika salah satu dari keluarga Malik ahli dalam kontruksi dan juga arsitek handal. Airil berfikir akan mencoba meminta tolong.
"Hum. Untuk masalah itu nanti saya coba tanya dengan keluarga dikota. Seingat saya ada kenalan ahli bidang arsitektur"
"Terimakasih sekali lagi. Akang begitu peduli dengan kampung ini. Walaupun kalian tidak tinggal disini, begitu berharganya anak-anak disini sehingga kalian memikirkan masa depan mereka. Terimakasih"
"Tak perlu begitu. Mereka adalah aset bangsa. Mungkin nanti dari salah satu tangan mereka bisa memajukan kampung ini"
"Benar sekali. Saya juga berharap demikian. Saya juga akan kembali berusaha untuk mendapat ijin resmi dari pemerintah. Mungkin setelah renovasi, pemerintah lebih mudah untuk memberi ijin"
"Semoga. Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu kang. Nanti malam saya kabari lagi perkembangannya"
"Ya. Baik. Saya tunggu. Nanti malam biar saya saja yang berkunjung ke rumah Eneng. Sudah lama saya tidak bertemu Eneng"
"Oh silahkan. Kami tunggu. Saya pamit. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Airil berjalan kaki kembali kerumah emak. Biasanya dia akan naik sepeda ataupun mobilnya, namun kali ini dia memilih berjalan kaki. Setiap bertemu warga kampung, mereka begitu menghormati Airil. Apalagi para emak pasti tak akan bisa berkedip menatap Airil.
Walaupun sudah berumur, tetap saja pesonanya tak pernah memudar. Bahkan semakin menarik saja. Jarak rumah Eneng dan Arif memang lumayan jauh. Airil sangat menikmati jalan-jalan kali ini. Dengan pemandangan hamparan sawah nan hijau.
"Assalamualaikum. Hosh hosh"
"Waalaikumsalam. Kenapa kang kok ngos-ngosan gitu"
"Jalan kaki sayang"
"Lah kenapa gak naik sepeda"
"Kan sepedanya sudah dimuseumkan sayang. Tuh patah jadi tiga"
"Oiya lupa. Kemarin ada mamoth belajar naik sepeda"
"Hahaha. Kamu sayang. Haus nih"
"Mau minum apa"
"Cucu"
"Hish masih siang. Pamali"
"Sak karepmu kang"
"Yah jawanya keluar. Hahaha"
Eneng berjalan menuju dapur untuk mengambilkan minuman sang suami. Dan kembali lagi setelah gelas terisi penuh dengan air minum.
"Ini diminum dulu kang"
"Makasih sayang"
"Sesekali lah ngomong Jawa. Kan akang orang Jawa. Masa gak bisa ngomong Jawa"
"Betul sekali. Haduh sayang baru jalan bentar aja udah ngos-ngosan banget gini"
"Maklum faktor u kang. Usia maksudnya"
"Iya memang kita sudah mulai menua sayang. Tapi tetap saja mempesona. Ya nggak ya gak"
"Hem. Awas aja tua tua keladi. Eneng kandangin digudang"
"Ya gaklah sayang. Cuma kamu seorang saja"
Airil dan Eneng duduk bersantai diteras depan. Sambil mencari rencananya dengan anak-anak dan Arif. Akhirnya Eneng menyarankan untuk menghubungi Jay saja. Dan Airilpun akhirnya menghubungi Jay. Hampir satu jam mereka berbincang melalui sambungan telepon. Dan mereka sepakat akan menggunakan perusahaan Keynan. Dan Jay juga akan menyumbang untuk sekolah itu. Jay akan bahkan langsung berangkat ke kampung Eneng sore ini juga.
"Alhamdulillah sayang. Om Jay setuju. Dan langsung minta bantuan Keynan katanya"
"Oh anaknya Tuan Louis. Tapi bukannya mereka ada di Jerman"
"Wah itu aku tidak tahu sayang. Tapi om Jay akan kesini sekarang juga"
"Pak Jay mah kalau masalah amal langsung gercep orangnya"
"Iya mereka benar-benar terbaik"
Sore mulai beranjak petang. Airil sudah mengatakan akan ada tamu istimewa datang. Emak dan Eneng sudah menyiapkan hidangan untuk para tamu mereka. Suara deru kendaraan terdengar memasuki area rumah Eneng. Thian dan Fathan yang sedang diteras terkejut melihat dua mobil memasuki halaman rumah mereka dan mereka mengenali pemiliknya.
"Assalamualaikum. Thian Fathan"
"Waalaikumsalam. Bang Dean"
Mereka berlari menyambut si kembar Dean. Dan saling berpelukan. Airil yang keluar untuk melihat kedatangan para tamunya itu, langsung tersenyum. Tak menyangka jika Jay akan membawa cucunya ikut serta.
"Opa"
"Hai Thian. Betah banget ya disini"
"Iya opa. Opa gak sama Oma"
"Gak Oma dirumah sama Buna. Opa sama ayah. Opa Key dan Bang Al juga"
"Benarkah"
"Tuh"
Almeer yang baru turun dari mobil langsung mendapat pelukan dari belakang oleh Thian.
"Abang Allll"
"Aduh. Loe tuh berat Thian. Turun dong"
"Gak mau. Thian kangen bang Al"
"Hadeh dasar ya nih bocil"
"Hahaha. Thian apa kabar"
"Uncle Key. Tmabha ganteng aja"
"Harus dong"
Jay langsung meralat panggilan untuk Keynan dari Thian. Namun Keynan tak terima.
"Thian. Kamu itu manggil dia opa bukan uncle. Dia ini seusia opa loh"
"Gak. Panggil uncle saja. Jangan opa. Cukup opa Jay yang kalian panggil opa"
"Dasar menolak tua"
"Iya dong"
Airil menyambut mereka dengan ramah. Mereka semua masuk kedalam rumah emak. Tak lama Arif datang membawa keluarganya juga. Hanya bersama putri keduanya. Karena sang putra berada dikota untuk bekerja. Mereka langsung membicarakan rencana mereka. Akhirnya disepakati jika besok Keynan akan melakukan pengecekan lokasi dan akan langsung membuat design. Jay juga akan membiayai semua pembangunan itu. Termasuk Airil dan sikembar. Bahkan si kembar Dean juga ikut serta menyumbang. Begitu juga Al.
Almeer memiliki banyak koneksi dihidangkan pendidikan. Bahkan dalam satu jam almer sudah mendapatkan beberapa guru pengajar berkompeten yang sedang mencari pengabdian didaerah. Arif sampai menangis terharu. Begitu mulia hati mereka. Bahkan tanpa menunda waktu setelah semua diperiksa oleh Keynan dan Jay esok, sambil menunggu design jadi. Jay akan mendatangkan bahan bangunan berkualitas.
_________
Sesekali jangan ada tawa diantara kita... hahahaha
jangan lupa bahagia gaesss
jempol digoyang yuk