
"Bang. Thian kemana"
"Gak tau mau mah. Tadi dikamar gak ada"
"Loh kemana lagi tuh bocah"
"Memangnya kenapa mah"
"Gapapa sih bang. Cuma penasaran aja kok tumben gak ada suara adik kamu bang"
"Mungkin lagi nyari cebong didekat sungai mah"
"Adek kamu bang hobi kok aneh"
Hari ini anak-anak sudah mulai libur setelah melewati masa ujian sekolah. Si kembar libur selama dua Minggu. Hari ini mereka sudah dua hari dirumah. Setiap pagi menjelang, Thian sudah menghilang. Dan akan kembali saat tengah hari. Hari pertama liburan, Thian kembali dengan membawa satu plastik mangga muda.
Airil sempat mengira Eneng kembali hamil. Jika Airil tidak mengingat perkataan dokter Fahmi setelah kelahiran si kembar, mungkin dia sudah jungkir balik kesenangan. Mangga muda yang dibawa Thian benar-benar bermanfaat. Thian menjualnya kepada para ibu muda yang sedang ngidam melalui sosial media. Dia benar-benar berbakat menjadi penjual seperti Eneng. Bahkan setelah mangga muda habis terjual, Thian masih banyak mendapat pesanan.
Namun hari ini sedikit aneh. Sudah tengah hari bahkan waktu dhuhur sudah terlewat, namun Thian masih belum pulang. Eneng mulai panik. Apalagi kedua bodyguard kembar sedang nangkring asyik diatas pohon.
"Abang. Bang"
Eneng yang mulai panik memanggil Fathan. Namun masih tak ada jawaban. Eneng berlari menuju kamar si kembar yang belum aku berpisah kamar. Pintu kamar si kembar terbuka, namun tak nampak ada Fathan didalam kamar tersebut.
"Abang. Abang dimana"
Eneng masuk ke kamar itu dan mencari keberadaan Fathan. Hingga Eneng memeriksa ke dalam toilet, tetap tidak menemukan Fathan. Eneng semakin panik.
"Ya Allah. Kedua anakku kenapa menghilang seperti ini. Sejak kapan mereka belajar ilmu Hatori. Gimana ini"
Eneng kembali turun kebawah mencari Fathan. Tapi masih tidak ditemukan. Senjata terakhir adalah KunNo. Eneng berteriak memanggil duo KunNo untuk mencari si kembar.
"KunNo. KunNo"
Ono yang lebih dulu mendengar langsung datang. Melihat wajah Eneng yang panik, Ono menjadi cemas.
"Neng ada apa"
"Si kembar ilang no"
"Ilang. Siapa yang ambil neng"
"Gak tau no. Bantuin nyari no"
"Kok ada ya yang mau sama mereka. Heran gue"
"Hehh. Gitu-gitu anak gue ganteng dan pintar no. Udah buruan cari"
"Okey. Gue cari diluar"
Ono sudah pergi mencari si kembar. Eneng pun sama. Dia mencari disekitaran rumah. Eneng lupa jika didalam rumah itu ada tempat favorit si kembar. Dan Fathan berada disana.
"Ya Allah kalian dimana sih"
Fathan keluar dari ruangan uji coba milik Thian dengan santai bahkan bernyanyi. Melihat mamanya sedang panik, Fathan bergegas mendekati.
"Mama kenapa"
"Ya Allah. Anak tuyul kamu dari mana aja sih. Mama sudah panik nyariin kamu bang"
"Fathan kan sudah bilang mama. Fathan ada digudang belakang mau lihat hasil percobaan Thian mah. Masa mama lupa"
"Iya kah. Kapan kamu ngomong bang. Mama gak dengar"
"Gimana mau dengar. Diajak ngomong malah joged sambil nyanyi lagu boy band"
"Ck. Besok lagi bikin tulisan kalau mama gak dengar"
"Lah itu didepan pintu kulkas apaan mah. Fathan udah nulis juga"
Eneng melihat kearah kulkas yang dimaksud oleh Fathan. Namun ternyata pesan dari Fathan sudah tertimpa dengan catatan belanja Eneng.
"Gak ada bang"
"Jelas gak kelihatan. Sama mama ditutupi catatan beli jengkol sama petai"
Eneng membuka kertas yang tadi ditempelkan olehnya. Dan benar disana ada pesan Fathan. Eneng hanya berdehem pelan dan menganggapnya selesai.
"Oh ya sudah kalau gitu"
"Hmm"
"Cari adek kamu bang. Sudah jam segini belum pulang"
"Haduh cari dimana mah. Ponsel adek di kamar tadi"
"Kebiasaan tuh anak tuyul. Semua ditinggal. Gimana nemuinnya"
Fathan dengan santainya melayangkan protes kepada sang mama. Dia berdiri sambil bersandar ditembok dengan gaya cool.
"Mah"
"Hmm"
"Dari tadi mama manggil kita berdua anak tuyul terus. Emangnya kami bukan anak mama"
"Anak mama lah. Yang brojolin kalian tuh mama"
"Kenapa manggil anak tuyul"
"Suka-suka mama dong"
"Dasar emaknya tuyul"
Fathan mengatai Eneng sambil berjalan santai meninggalkan Eneng didalam dapur. Mendengar Fathan mengoloknya, Eneng reflek mengambil sapu dan melemparkan kepada Fathan. Sapu itu mendarat tepat dislebor Fathan.
"Aduh. Sakit mah"
"Dasar anak kurang ajar. Ngatain mamanya emak tuyul"
"Katain anaknya saja anak tuyul. Jelaslah emaknya tuyulll"
Fathan berlari kencang sebelum Eneng semakin memukulnya. Eneng kembali menyiapkan makanan untuk makan siang. Sedangkan Fathan mencari Thian disekitar rumah. Namun tak ditemukan. Fathan dan Ono sama-sama melaporkan kepada Eneng, jika mereka tidak bisa menemukan Thian.
"Maaf kami gak bertemu adek"
"Huahhhhhh. Bang adek kemana"
"Gak tau juga mah"
Ponsel Eneng berdering. Nama Arash tertera dilayar ponsel Eneng. Eneng langsung mengangkat panggilan telepon tersebut. Setelah ucapan salam, Arash mengamuk kepada Eneng.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Bawa balik anak loe neng. Merusuh dirumah gue ini. Cepetan angkut si Thian. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Eneng hanya mengangkat kedua bahunya dan berjalan keluar rumah. Jika Arash sudah meminta Eneng membawa Thian pulang, sudah pasti Thian membuat onar disana. Dijalan, Eneng bertemu Fathan yang juga sedang mencari Thian.
"Mama mau kemana"
"Sudah ketemu"
"Sudah ada yang melapor untuk mengangkut adik kamu pulang bang"
"Hahaha. Ternyata dirumah Ayah ya"
"Heem"
"Ya udah kita kesana bareng saja mah"
Fathan membonceng Eneng menuju rumah Jay. Sedangkan Thian saat ini sedang asyik membuat keonaran bersama Dean bersaudara. Dirumah Arka banyak sekali koleksi burung dan ikan. Karena Arka memang pencinta burung dan ikan hias . Karena penasaran, duo Dean dan Thian ingin merealisasikan ide gila mereka.
"Apa dulu ini bang"
"Dikolam belakang ada lele sama nila. Gimana kalau kita mulai dari sana"
"Boleh tuh bang"
Mereka berdua sudah menuju kolam ikan konsumsi milik keluarga Malik. Kolam itu begitu luas. Bahkan ikan lele dan nila sudah siap panen.
"Thian loe tangkap dulu beberapa terus dipost"
"Asyiap"
Thian mengambil jaring dan menangkap beberapa ekor ukuran besar. Dia mengambil gambar dari berbagai sudut agar lebih menarik.
"Bang udah"
"Pindah ke kandang burung uyut"
"Ayo"
Mereka berjalan masuk kedalam rumah khusus kandang burung. Berbagai macam burung mahal ada disana dan sudah berkembang biak dengan baik.
"Loe ambil video anakan yang kicauannya yahut"
"Oke. Jenis sama apa beda"
"Beda aja. Masing-masing satu anakan"
"Oke"
Thian bekerja sesuai arahan duo Dean. Setelah semua siap, mereka kembali masuk kedalam rumah dan menyiapkan iklan agar mudah menjual hewan-hewan tadi. Saat sedang proses pembuatan iklan berlangsung, Arash datang. Dan duduk disamping disofa belakang keduanya. Karena Thian dan duo Dean duduk di karpet bawah.
"Kalian sedang apa. Serius banget"
"Berdagang ayah"
"Jualan apa"
"Ikan sama burung"
"Ikan hias"
"Bukan. Ikan lele sama nila"
"Wah hebat kalian. Dapat pemasok dari mana"
"Dari halaman belakang"
"Halaman belakang mana. Memangnya ada yang punya Empang dikampung belakang"
"Bukan kampung belakang ayah. Tapi halaman belakang. Tuh dekat kolam renang"
Sedari tadi duo Dean terus menjawab perkataan ayahnya. Sedangkan Thian bertugas menyusun kalimat iklan yang menarik. Arash baru menyadari ada yang salah setelah melihat salah satu gambar burung dilayar laptop milik Dean Ammar.
"Tunggu. Ini burung koleksi uyut kan"
"Iya yah"
"Terus kenapa kalian foto. Jangan bilang kalian akan..."
"Iya. Memang kami mau jual. Kan lumayan yah hasilnya"
"Oh no. Kalian ya. Mau disunat lagi sama uyut. Haduh. Tadi ikan juga dari kolam kita Mar"
"Betul sekali"
"Stop jangan kalian posting dulu. Uyut bisa marah"
Saking kerasnya suara Arash membuat Thian terkejut dan tanpa sengaja memencet tombol enter. Iklan pun terpost sudah.
"Yah. Ayah telat. Tuh terposting"
"Hapus Thian. Cepat hapus"
"Bentar"
Thian berusaha menghapus iklan yang sudah berada di beranda sosmed miliknya. Namun hanya bisa menghapus beberapa gambar burung saja. Untuk ikan sudah tidak bisa dihapus.
"Yah. Burung selamat. Tapi ikan tidak"
"Duh Gusti. Pusing kepala ayah. Pusing bener ini"
"Minum borax dong"
Thian menjawab perkataan Arash dengan nada sebuah iklan obat sakit kepala.
"Kamu nyuruh ayah minum pengawet gitu"
"Katanya pusing. Ya minum borax lah"
"Yang ada bukan sembuh malah jadi mumi"
Tak lama ponsel Dean Ammar berdering. Banyak yang memesan ikan lele dan nila. Ketiganya girang dagangan mereka laku. Tidak untuk Arash. Karena memang ikan itu untuk konsumsi pribadi. Jika panen banyak pasti tetangga disamping rumah mereka akan kebagian.
"Hore jualan kita laris"
"Ayo buruan kita jaring si LeNi biar cepat diantar ke pelanggan"
"Siap bang. Hore kaya kita bang"
"Betul betul betul"
Mereka begitu semangat berdagang. Dan menyiapkan pesanan untuk diantar ke pelanggan. Saat sedang asyik menyiapkan pesanan, Arka datang bersama Almeer. Arash menceritakan semua ke Arka. Arka bergegas menuju kolam ikan. Beberapa plastik ikan sudah siap diantar tampak ditepi kolam. Bahkan kondisi ikan itu sudah dibersihkan.
Arka mendekat kearah kolam dan langsung menepuk jidatnya. Tak ada satu kata pun yang bisa dia ucapakan untuk ketiga anak ajaib itu.
"Huh. Tabahkan hati ini Gusti"
________
Trio rusuh...
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk