
Sudah lima hari si kembar berada dikampung. Dan besok Airil akan datang menjemput mereka. Seperti biasa, Thian sudah menghilang selepas sarapan pagi. Semenjak dikampung banyak hal dia eksplor. Fathan yang memang tidak suka terkena panas, lebih memilih tinggal didalam rumah.
Emak sedamg sibuk membantu tetangga yang akan mengadakan hajatan. Dimusom libur sekolah saat ini, banyak anak yang dikhitan. Dan sudah menjadi kebiasaan bagi yang mampu akan merayakan secara mewah. Sedangkan yang biasa saja hanya akan membagikan makanan sebagai wujud rasa syukur. Emak saat ini sedang membantu memasak.
Karena hari sudah menjelang siang, emak kembali kerumah untuk menengok kedua cucunya. Dan sekaligus menyiapkan makan siang.
"Pathan. Makan dulu. Oma bawa makanan dari tempat hajatan"
"Ya Oma. Fathan nanti saja makannya nunggu adek pulang. Oma makan dulu saja gapapa"
"Adek kamu belum pulang juga than"
"Belum Oma. Ditelpon juga gak jawab"
"Itu anak slebornya tajem kayaknya. Gak betah duduk. Ya sudah Oma balik lagi ke rumah Bi Mumun"
"Oma gak makan dulu"
"Oma sudah kenyang than. Tiap masak nyicipin. Jadi kenyang"
"Nyicipin kan cuma seujung sendok Oma. Masa kenyang"
"Itu kan oramglain. Kalau Oma segitu mana berasa. Sepiring baru berasa"
"Tekor yang punya hajat dong Oma"
"Jangan lupa sholat than. Oma sudah tadi"
"Sudah Oma"
"Oke. Oma pergi lagi ya gaesss. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Emak kembali kerumah tetangga. Fathan keluar dari kamar dan duduk diteras samping dibawah pohon petai.
Klutik
Kerikil kecil jatuh tepat diujung kaki Fathan. Fathan tetap diam mendengarkan musik menggunakan headset.
Klutik
Kembali batu dilempar dan jatuh ditempat yang sama. Fathan melirik keatas sedikit. Tampak si kunti pohon petai duduk diatas dahan sambil terkikik.
"Loe gak ada kerjaan apa. Lemparin kerikil ke gue"
"Gue kesepian. Temenin gue dong"
"Gak mau. Malas"
"Jahatnya. Jangan gitu dong"
"Loe tuh berisik amat dari semalam"
"Iya maap. Gue kan pemasaran aja kenapa loe gak takut sama gue"
"Karena loe gak serem"
"Huh. Nasib deh. Low liburan kok cuma dirumah aja. Gak main"
"Gak"
"Gak asyik dong"
"Biarin"
Sikunti pohon pete tiba-tiba mendekati Fathan. Saat tangannya terulur akan memegang pundak Fathan, beruntung Thian datang dan menarik tangan Kunti.
"Tangan celamitan. Pergi sono loe"
Kunti melihat keduanya yang memiliki wajah sama persis menjadi bingung.
"Kalian kok dua. Kalian siluman ya"
"Ya siluman macan. Sini gue makan loe"
"Hiii. Pantes bisa lihat gue. Ternyata manusia jadi-jadian"
"Loe setan abad keberapa sih. Kok gak tau jenis manusia kayak kita"
"Kenapa emangnya. Harusnya gue yang tanya. Kalian siluman dari desa mana. Kenapa nyasar kesini"
"Huh. Gunung kembar. Puas loe"
"Hiii. Mending gue kabur daripada berurusan sama siluman kayak kalian"
"Pergi sono pergi"
Thian dan Fathan saling berpandangan dan tertawa. Mereka tak menyangka masih ada setan yang tidak tahu manusia kembar.
"Abang makan yuk. Lapar nih"
"Yuk. Abang juga lapar. Nungguin loe gak balik-balik dari tadi. Kemana aja"
"Diajak main sama Iqbal ke sekolah mereka bang"
"Wah seru tuh dek. Jauh gak dari sini"
"Gak kok bang. Kalau lewat jalan raya depan memang jauh. Tadi kita lewat sungai nyebrang bentar langsung sampai"
"Kalau lewat sungai dekat kenapa mereka sekolah lewat jalan raya"
"Arus sungai itu tak terduga bang. Kadang deras juga. Dan disana gak ada jembatan"
"Kasian juga ya dek"
"Bang gue ada ide, tapi butuh persetujuan Abang"
"Apa dek"
Thian membisikan idenya kepada Fathan. Fathan terdiam sebentar untuk berfikir. Dan akhirnya Fathan menyetujui ide Thian.
"Setuju gue dek"
Mereka melanjutkan makan siang. Dan setelah selesai, Thian memilih tinggal dirumah menemani Fathan. Sebelum sore emak pulang dari rumah tetangga.
"Assalamualaikum. Gaesss Oma pulang"
"Waalaikumsalam. Sudah selesai Oma"
"Sudah Oma"
"Kok masih kurus aja"
"Mau gimana lagi. Badan kita cuma segini aja walaupun makan banyak"
"Huh. Nanti dikira Oma gak ngasih makan kalian"
"Enggaklah Oma"
Emak meletakkan bungkusan yang dibawanya dari rumah tetangga. Lalu bergegas mandi karena sudah sangat gerah. Si kembar sedang bermain game bersama sambil menunggu sang Oma. Selesai mandi emak ikut duduk bersama kedua cucunya.
"Oma. Thian mau tanya dong"
"Apa"
"Tuh Kunti pohon pete keluaran edisi kapan sih oma"
"Kenapa emangnya. Dia gangguin kalian"
"Gak sih Oma. Cuma Thian heran aja. Masa lihat kita berdua terus ngatain kalau kita itu siluman"
"Apa. Kalian dikatain siluman"
"Hoo"
"Benar-benar ya Kunti Pete. Dasar produk lama"
"Emang era zaman apa dia Oma"
"Dia disana sejak Abah masih ada. Mungkin dia sudah ada sejak jaman penjajahan. Oma juga gak paham"
"Tapi kok dadanannya jaman now"
"Ngikutin trend kali"
"Ouh gitu"
"Bapak kalian jadi datang besok"
"Jadi Oma"
"Huh. Kenapa kalian gak tinggal disini saja"
"Oma saja yang tinggal sama kami"
"Kalau Oma tinggal dikota, rumah ini gimana"
"Ya gak gimana-gimana Oma"
"Oma masih gak rela ninggalin rumah ini. Banyak kenangan disini"
"Oma jangan sedih. Nanti kami juga sedih"
"Hish. Udahlah gak usah dibahas lagi. Oya Abang Dzaky ada ngasih kabar gak"
"Sudah hampir satu bulan Abang Dzaky gak ngasih kabar Oma"
"Ada apa lagi dengan Abang kalian itu. Semenjak kerja diluar kota, sepertinya dia selalu lupa dengan keluarga"
"Mungkin sibuk Oma"
"Semoga demikian"
Entah mengapa perasaan emak mengatakan lain tentang Dzaky. Dzaky sudah dewasa dan memutuskan untuk merantau ke kota lain. Awalnya Titi dan Japri menolak, namun Dzaky tetap bersikeras untuk pergi.
Setiap tiga hari sekali Dzaky pasti memberi kabar. Bahkan Dzaky sangat perhatian kepada emak. Namun baru satu bulan ini Dzaky berubah. Itu yang membuat emak risau.
Malam semakin larut. Si kembar baru saja selesai mengemasi pakaian mereka. Terdengar suara gaduh dari samping rumah. Thian mencoba memeriksa. Dan kegaduhan itu berasal dari KunNo dan Kunti pohon pete.
"Loe tuh tamu ya disini. Jadi jangan asal masuk rumah orang. Lagian disini juga tidak menerima penghuni baru. Pergi saja kalian"
"Heh. Kita itu gak mau tinggal disini. Kita cuma mau jemput majikan kita"
"Majikan. Heleh alasan saja. Mana ada makhluk seperti kalian punya majikan"
"Gak percaya dia. Makanya biarkan kita masuk"
"Gak. Kalian pasti bohongkan. Dan pengen tinggal disini juga"
"Nggaklah. Mending gue pensiun jagain kembar kalau harus tinggal sama gajah nyungsep"
Thian langsung menarik kunciran kepala Ono. Dan membawanya masuk kerumah. Itu membuat Kunti pohon pete semakin melotot.
"Baru ingat jalan pulang ya kalian. Kemana aja kalian"
"Aduh. Ampun bos. Ampun. Salah Kunkun bos"
"Kok gue sih no. Kan loe yang punya ide"
"Halah kalian berdua sama saja"
"Maaf bos"
"Kalian darimana"
"Kemarin kita jalan-jalan disekitar kampung bos. Eh si kunkun ketemu hantu pria lumayanlah. Terus dikejar sampai ke habitatnya. Lupa jalan pulang"
"Kan loe juga ngejar hantu perempuan disana no. Jadi kita sama saja"
"Stop. Berisik kalian. Kalian berdua gue hukum"
"Apa bos"
"Nanti gue pikiran hukuman apa buat kalian. Yang jelas kalian gak jaga kita selama liburan"
"Ampun bos. Ampun"
"Hem"
_____
Ada ide hukuman apa yang pantas untuk KunNo gaesss.....
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk