Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Ono oh ono



Titi akhirnya bisa pulang ke kampung tanpa diketahui oleh Dzaky. Setelah meminta restu kepada kakak dan kakak iparnya, Titi memutuskan kembali ke kampung dan membicarakan rencana pernikahan dirinya dan Japri. Airil meminta mereka segera menikah.


Pagi ini Airil merasa tubuhnya sangat lemas. Bahkan selera makannya pun menghilang. Dia merasa mual dan pusing. Hanya mencium bau bawang yang ditumis dan uap nasi saja Airil langsung muntah. Eneng sampai bingung harus berbuat apa.


Huekkkk huek.


"Akang kenapa sih. Gak biasanya gitu"


"Gak tau sayang. Humh. Sayang menjauhlah. Kamu bau bawang aku gak tahan"


"Ya Allah jahat banget akang ini"


"Maaf sayang. Tapi beneran akang gak kuat bau bawang"


"Ya sudah Eneng mandi dulu"


Eneng masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Airil sudah sangat lemas dan memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Selesai mandi, Eneng mencoba mengecek kondisi Airil. Dia menempelkan telapak tangannya didahi Airil.


"Gak demam. Tapi kok pucet banget"


Eneng mencoba membangunkan Airil. Karena sedari pagi belum ada makanan yang masuk kedalam perutnya. Beruntung Airil hari ini libur.


"Kang. Bangun makan dulu yuk"


"Hmm. Gak mau sayang. Gak enak bau nasi"


"Tapi akang harus makan. Biar gak semakin lemes"


"Akang beneran gak kuat bau nasi sayang"


"Ya sudah. Akang mau makan apa"


"Yang berkuah pedas sayang"


"Kan akang gak bisa makan pedas"


"Tapi mau itu. Kalau gak boleh ya sudah gak usah makan"


Airil menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Wajahnya pun cemberut. Eneng terdiam sambil mengedip-ngedipkan mata. Shock berat. Sang suami berubah menjadi aneh.


"Ini laki gue kan. Bukan si Ono yang lagi menyusup kan"


Eneng bergumam sendiri sambil berdiri menatap kearah gundukan selimut sang suami. Sedangkan si Ono yang lagi asyik molor harus bersin berkali-kali karena namanya disebut Eneng.


"Ya sudah. Eneng beliin bakso kuah mau kang"


Mendengar nama bakso. Airil langsung bangkit dan duduk menyilangkan kedua kaki diatas kasur. Mimik wajahnya berubah menjadi imut.


"Mau mau. Tapi nanti minta bakso kecilnya lima biji ya sayang terus bakso jumbonya dua biji. Mie putihnya sejumput aja. Jangan pakein seledri. Pakein bawang goreng yang banyak. Sambal dan saos Jang lupa"


"Hahhhh"


"Kok bengong sayang. Buruan udah lapar ini"


"Eh iya. Bentar kang"


Airil nampak sangat gembira melihat Eneng akan membelikan bakso untuknya. Sedangkan Eneng pusing dengan permintaan sang suami yang sedikit berbeda.


"Kok gue aneh ya sama laki gue. Jangan-jangan emang beneran si Ono numpang hidup ditubuh laki gue ini. Gak bisa gue biarin. Awas aja sampai beneran itu si Ono. Gue buka kainnya bakalan gue ganti pakai daun pisang. Biar tau rasa dia"


Si Ono yang kesal dituduh melulu sama Eneng, langsung menumpuk Eneng menggunakan dahan kecil. Eneng kontan langsung melongok keatas.


"Apa loe"


"Loe yang apaan"


"Nantangin gue loe no"


"Loe duluan yang mulai ya neng"


"Gue ngapain emang"


"Loe dari tadi pitnah-pitnah gue. Sebel gue"


"Biasa aja keles. Gak usah nyolot"


"Udah gak bisa biasa gue neng"


"Oh ngajakin gelud loe. Sini gue bungkus loe pake daun pisang"


"Loe kira gue lemper apa"


"Arem-arem isi combro"


"Sumpah loe menyebalkan neng"


"Biarin wle"


Eneng masih berdiri didepan teras menunggu tukang bakso langganannya lewat. Namun entah mengapa sudah hampir setengah jam penjual tersebut tidak nampak. Si Ono yang bergelayut diatas dahan menemani sambil mengayunkan kakinya kedepan kebelakang.


"Loe nunggu apa neng"


"Bakso jumbo no"


"Oh. Tumben loe gak beli dirumahnya aja neng"


"Lagi makel no"


"Apa tuh. Gue taunya mager"


"Males keluar no"


"Mau gue bantuin"


"Emang loe siang-siang gini gak takut matahari apa"


"Emang loe bisa no"


"Bentar. Loe tunggu sini dulu"


"Wokey"


Si Ono sudah menghilang. Dan Eneng menunggu si Ono sambil memakan keripik singkong. Entah sudah berapa toples dia makan. Mulutnya tak mau berhenti.


Sepuluh menit kemudian. Ada suara khas penjual bakso terdengar ditelinga Eneng. Eneng merasa bahagia. Ternyata Ono benar-benar membuktikan jika dia bisa membawa tukang bakso kerumahnya.


"Hebat tuh si Ono. Bisa dia bawa tuh tukang bakso kesini"


Eneng begitu girang mendengar suara denting mangkok beradu sendok. Eneng bangkit dari kubur. Eh salah bangkit dari kursi untuk menunggu si kang bakso tersebut. Namun ternyata..


"Loh kok cuma gerobaknya doang. Penjualnya mana no"


"Lah kan loe cuma bilang pengen beli bakso bukan tukang bakso. Ya sudah Ono bawain baksonya aja"


"Loe ambil nih gerobak dari mana"


"Dari penjual bakso jumbo langganan loe neng"


"Loe siang-siang gini nyolong gerobak bakso Ono. Dosa Ono dosa"


"Lah kan gue sayang sama loe neng. Gue kasian loe beridiri kayak tiang gitu. Padahal ya si kang bakso lagi tiduran di pos ronda ujung noh. Ya udah gue tarik aja nih gerobak kesini"


"Terus loe pukulin tuh mangkok tiap jalan"


"Iyalah kan lagi jualan bakso"


"Loe mikir gak kalau ada yang lihat siang-siang ada gerobak jalan sendiri"


"Biarkan saja. Udah loe ambil bakso yang loe mau. Terus taruh uangnya dimangkok. Gue balikin lagi gerobaknya. Sebelum si kang bakso sadar tuh gerobak ngilang"


"Tapi no. Namanya nyuri"


"Ya nggaklah kan loe bayar sesuai harga. Ntar loe tulis aja dikertas apa aja yang loe ambil. Terus loe taruh uangnya disana"


"Kalau uangnya kurang gimana"


"Ya loe tulis aja kalau kurang suruh nagih kesini"


"Loe namanya jebak gue Ono. Balikin tuh gerobak sekarang"


"Capek neng. Gapapa dosanya gue tanggung"


"Ogah balikin gak. Atau beneran gue bungkus loe pakai daun pisang"


"Iya iya. Galak amat kayak singa bunting"


Si Ono kembali membawa tuh gerobak kembali ketempat semula. Dan tetap memukul mangkok bakso tersebut.


"Ono pea. Pake dipukul segala tuh mangkok"


Tak lama Ono kembali dengan wajah cemberut. Karena bantuannya tidak dianggap Eneng. Si penjual bakso asli akhirnya datang juga. Namun dia heran karena tak satupun penghuni komplek mau keluar membeli bakso dagangannya seperti biasa.


"Mang bakso"


"Alhamdulillah ada yang beli"


"Emang dari tadi gak ada yang beli mang"


"Nggak neng. Malahan pas dipertigaan sana, mamang diteriaki bakso setan"


Si Eneng melotot kearah Ono yang sedang cekikikan. Karena ulahnya membuat si tukang bakso tidak laku jualannya


"Paling mereka ngigau mang"


"Iya ya neng. Mana ada setan keluar siang bolong. Gak takut matahari apa"


"Ada si bang. Setan gabut gak ada kerjaan"


Sekarang gantian Ono yang melotot kearah Eneng karena merasa tersindir. Saat kang bakso membuatkan pesanan milik Eneng. Salah seorang tetangga Eneng memberanikan diri keluar untuk memastikan jika itu bakso sungguhan.


"Neng. Loe beli bakso"


"Iya teh. Kenapa"


"Manusia bukan yang jualan"


"Lah kalau bukan manusia terus apaan teh"


Si kang bakso tersenyum kepada tetangga Eneng dan sengaja berdiri tegap sambil melepas alas kakinya menghadap ke tetangga Eneng.


"Seratus persen masih hidup saya teh. Lihat kaki saya napak gak melayang"


"Iya ih. Berarti tadi cuma gosip aja. Katanya nih gerobak jalan sendiri"


"Nglindur itu paling yang lihat teh"


"Iya bener neng. Bang gue pesen lima mangkok antar ke rumah merah itu"


"Syiap teh"


________


Ono kalau gabut bakalan jadi kang bakso pa kang lemper ya


Jangan lupa bahagia gaesss


vote yukkl