Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Ungkapan



"Wah gede banget"


"Hush penyakit kok gak sembuh sukanya lihat barang orang"


"Lah mau lihat barang punya sendiri kan bentuknya beda. Gimana sih"


"Ya besok lihat barangku mau gak. Mau gak"


"Jangan. Plis jangan"


"Kenapa. Beraninya lihat gambar"


"Jangan salahkan Eneng kalau jadi pengen. Hahahaha"


"Lagian dulu kamu pernah ambil yang kayak gini kan neng. Masa lupa"


"Masa sih. Eneng sudah lupa tuh"


"Bungkusnya lupa. Isinya lupa gak neng"


"Ya jangan dong. Kan bikin penasaran rasanya"


"Lama gak ketemu kamu, kupikir sudah waras. Eh ternyata masih saja sableng"


"Akang apa kabar. Kemana saja. Lupa sama Eneng"


"Aku gak baik neng. Aku bukannya lupa, tapi aku berusaha untuk menerima"


"Menerima apa kang"


"Menerima kamu jadi milik orang lain"


"Eyak eyak. Pingsan nih Eneng pingsan"


"Jangan dong"


Arash yang melihat Eneng begitu dekat dengan orang yang baru dikenalnya, merasa kesal karena diacuhkan.


"Eneng ayo pulang. Arash gak suka eneng dekat sama orang asing"


"Mas Arash. Ini teman eneng. Namanya dokter Airil"


"Dokter. Masa dokter"


"Iya beneran dokter"


"Dokter apa neng"


"Dokter cintakuh"


"Prettt"


"Idih gak percayaan mas Arash. Tanya aja coba"


"Om beneran dokter"


"Iya saya dokter adek tampan"


"Dokter jiwa ya"


"Memangnya saya terlihat seperti dokter kejiwaan dek"


"Hanya dokter jiwa yang bisa berteman dengan Eneng. Jika dokter biasa mana sanggup kewarasannya mengahadapi Eneng yang super waras"


"Hahahaha. Kamu benar. Saya dokter kejiwaan Eneng"


"Awas hati-hati dok ketularan virus Eneng yang mematikan"


"Sudah terkontaminasi lama saya. Makanya gak bisa lupa"


"Yang sabar ya dok. Eneng ayo pulang. Arash capek. Arsya pasti sudah bangun"


"Ya sudah ayo. Kang Eneng pulang dulu. Senang bisa ketemu lagi"


"Neng aku minta nomor ponselmu. Agar mudah kita berkomunikasi"


"Boleh"


Eneng mengambil gawainya. Dan memberikan nomor kepada Airi. Airil begitu bahagia bisa menemukan Eneng lagi. Ingin rasanya dia memeluk Eneng. Namun dia tak ingin Eneng sok karena tiba-tiba memeluk tubuhnya.


"Akang Eneng pulang dulu"


"Kamu kerja dimana neng"


"Diperumahan Kenanga nomor seratus tiga puluh"


"Itu dekat dengan rumah saya neng. Saya diperumahan Anggrek"


"Kapan-kapan mampir kang"


"Iya pasti"


"Ya sudah Eneng pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Hati Airil berbunga setelah bertemu Eneng. Eneng pulang dengan sopir keluarga Malik. Arash merasa kepo dengan Eneng dan Airil.


"Neng siapa tadi"


"Teman mas. Teman lama"


"Kenal dimana"


"Dulu waktu sebelum kerja ditempat mas Arash"


"Ouh. Mungkin khilaf mau kenal kamu neng"


Sesampainya dirumah, Arash menceritakan kepada mommynya saat Eneng bertemu dengan Airil. Jasmine mendengar dengan seksama apa yang Arash ceritakan.


"Terus kenapa Abang khawatir"


"Abang takut Eneng ditipu"


"Kenapa begitu. Dan apa untungnya menipu Eneng"


"Iya juga ya. Yang ada gila sendiri menipu Eneng"


"Nah tuh tau bang"


Mereka tertawa bersama. Jay yang baru bergabung langsung meminta Jasmine memanggil Eneng. Mereka akan membahas permasalahan Eneng. Arka dan Melany juga sudah menunggu diruang tengah. Eneng mendengarka solusi yang diberikan oleh Arka dan Jay, bahkan mereka akan membawa pengacara untuk mencari solusi terbaik. Eneng hanya menurut saja walaupun dia sudah pasrah apapun hasilnya nanti.


Malam hari kediaman Malik dikejutkan dengan kedatangan seorang pria tampan dengan pakaian kasual membuat aura ketampanannya bertambah. Penjaga rumah Jay tidak mengijinkan masuk sebelum mendapat persetujuan dari pemilik rumah. Pengawal masuk untuk meminta ijin. Tak lama Jay keluar menemui orang tersebut diteras rumah.


"Selamat malam pak"


"Malam. Maaf anda siapa"


"Perkenalkan nama saya Airil. Saya teman Eneng"


"Teman Eneng. Baru tahu saya Eneng punya teman ganteng ya walaupun lebih ganteng saya sih. Ada perlu apa"


"Boleh saya meminta ijin membawa Eneng keluar sebentar saja. Tidak jauh cuma ditaman komplek"


"Tunggu sebentar saya panggil Eneng dulu. Kamu duduk saja dulu"


"Terimakasih pak"


Jay masuk kedalam rumah dan memanggil Eneng jika ada yang mencari. Seumur-umur Eneng bekerja dikota hanya Japri saja yang mencarinya. Eneng sudah resah jika itu benar Japri. Eneng keluar menemui tamunya. Bukan keluarga Malik kalau tidak kepo. Jay dan Arka mengintip dari balik korden begitu juga si kembar.


Eneng kaget melihat Airil menemuinya malam-malam. Mereka mengobrol sebentar. Dan Eneng kembali masuk rumah meminta ijin. untuk keluar bersama Airil. Jay dan Arka mengijinkan asal tidak terlalu malam pulangnya .


Jay, Arka dan sikembar berdiri didepan pintu sambil kedua tangan dilipat didepan dada. Mereka menatap kepergian Eneng dlbersama Airil.


"Jay kamu tau apa yang papa pikirkan"


"Mungkin sama pah"


"Kenapa tidak pingsan"


"Itu juga yang Jay heran. Bahkan pria tadi senyum kepada Eneng. Eneng biasa saja"


Arash menjawab keheranan kedua orangtua tersebut tentang kejadian di supermarket sore tadi.


"Tadi disupermarket lebih ekstrim dad"


"Kenapa bang"


"Eneng ngusapin pipi om tadi. Dan Eneng gak pingsan. Gak kejang juga"


"Amazing"


"Perlu kita cari tau Jay, apa rahasianya"


"Betul itu pah"


Ditaman Airil mengajak eneng duduk didekat penjual makanan. Dia benar-benar bahagia bisa kembali bertemu eneng. Malam ini dia ingin mengungkapkan semuanya.


"Neng maaf malam-malam aku mencarimu"


"Gapapa kang. Memang ada perlu apa"


"Sebelumnya aku minta maaf kalau aku mengejutkan kamu neng. Tapi aku sudah tidak bisa menunggu terlalu lama lagi"


"Ada apa"


Airil menggenggam kedua telapak tangan Eneng. Bahkan dia sudah memutar duduknya saling berhadapan. Airil langsung mengungkapkan perasaan terpendamnya.


"Neng jujur aku sudah lama menyukai kamu. Sejak kita pulang dari kampung kamu waktu itu. Mungkin rasaku ini salah karena aku tau kamu sudah ada yang memiliki. Tapi aku juga tak bisa melarang perasanku ini kepadamu. Aku tak peduli jika harus merebutmu dari Japri. Atau aku harus menunggu sampai kamu menjanda sekalipun neng. Neng maukah kamu menikah denganku. Maukah kamu menjadi nyonya Airil Prasaja"


Eneng saking kagetnya tidak bisa berkata-kata. Bahkan Eneng masih menatap Airil tanpa berkedip. Airil mencoba menyadarkan Eneng berkali-kali namun tetap belum ada respon. Setelah lima menit Eneng baru berbicara.


"Kang apa akang yakin dengan perkataan akang tadi"


"Yakin neng"


"Apa akang tidak malu memliki istri seorang pengasuh anak dari desa"


"Sama sekali tidak. Aku sendiri juga berasal dari desa. Dan kedua orangtuaku hanya seorang petani biasa"


"Apa akang sanggup menunggu jika eneng tidak bisa menjawab untuk saat ini"


"Lima tahun neng. Aku menunggu kesempatan ini. Kalau hanya menunggu beberapa waktu lagi aku masih sanggup neng. Asal kita bisa bersama"


"Kang boleh diulangi lagi perkataan akang tadi. Agar Eneng merasa yakin ini tidak mimpi"


Airil kembali mengungkapkan perasaannya. Dan kali ini Airil memberanikan diri mengecup kening Eneng. Dan apa yang terjadi. Kaki Eneng gemetar saat bibir Airil masih menempel di keningnya. Lama-lama Eneng tak bisa menahannya lagi.


Bruttttt


"Kamu kentut neng"


"Makanya jangan asal cium kang. Kelepasan kan. Aduh mana gak mau berhenti lagi"


Bruttttt breeeet broootttt


__________


Aduh neng momen hancurrrr


jangan lupa bahagia gaesss


jempolnya digoyang yuk