
"KunNo.."
"Ya bos"
Ono yang datang saat panggilan dari Thian terdengar sangat nyaring.
"Cariin sepatu gue"
"Yang mana"
"Item. Ini cuma ada sebelah"
"Diangkut tikus kali bos"
"Enak aja. Emang sepatu gue bau ikan asin apa"
"Nah itu sadar"
Plak
"Sembarangan. Buruan cariin sepatu gue"
"Lama-lama bego gue digeplak kepala melulu"
"Berisik. Buruan keburu siang"
"Hem"
Thian menyiapkan buku-buku yang semalam sempat dibacanya. Sedangkan Ono masih mencari sebelah sepatu Thian.
"Ck. Bege. Sepatu dia nyangkut disana. Dasar bos pikun"
Ono membawa sebelah sepatu Thian. Dan menaruh disamping Thian.
"Ini bos"
"Nemu dimana"
"Bos lupa ya. Semalam siapa yang nyambit gue bos"
"Ck. Gue kira udah loe balikin langsung semalam"
"Yew. Siapa yang melempar, kenapa harus gue yang balikin"
Plak
"Pukul terus. Pukul. Ikhlas bos ikhlas"
"Harus ikhlas. Ayo ikut gue ke sekolah"
"Hem"
Thian sudah siap untuk berangkat sekolah dengan asisten Ono. Dan Fathan berasisten Kunkun. Awal masuk sekolah, si kembar mencoba berpisah kamar. Walaupun masih saja saling mencari.
"Pah. Mama mana"
"Lagi bikin susu dibelakang"
"Oh"
"Hari pertama masuk sekolah gaess"
"Biasa aja kali pah"
"Kali aja nanti ada yang spesial gitu"
Eneng membawa dua tiga gelas susu untuk ketiga pangerannya. Eneng berbagi cerita dengan kedua putranya saat dia masih sekolah dulu.
"Mama heran deh. Kalian itu tampan bahkan diatas rata-rata ketampanan kalian. Tapi kok masih jomblo. Jangan bilang kalian belok"
Si kembar dan Airil tersedak saat minum susu mendengar ucapan Eneng. Airil langsung memprotes perkara Eneng.
"Mama. Kok gitu ngomong"
"Lah kan benar. Seusia mereka biasanya sudah bahas tentang cewek. Lah ini yang dibahas cuma perkodokan atau binatang lainnya. Normal kan kalian"
Thian merasa tak terima dengan cercaan sang mama. Dan langsung memprotes Eneng.
"Mah. Emang salah kita bergaul sama dunia flora dan fauna. Lagian bukannya kita gak laku. Tapi ogah aja"
Kini giliran Fathan yang memprotes perkataan Eneng. Dia pun juga merasa tak terima dengan perkataan mamanya.
"Benar kata adek mah. Dan bukan berarti kita belok. Kita normal banget mah. Amat sangat normal. Nanti kalau sudah waktunya, kita akan bawa cewek kehadapan mama"
Airil pun ikut nimbrung pembicaraan mereka.
"Kalian masih muda. Papa gak melarang kalian dekat dengan perempuan. Tapi yang wajar saja. Jangan terlalu berlebihan. Ingat norma dan adat. Paham"
"Heleh pah. Kayak gak tau kedua pangeran mu ini. Thian raja gombal. Giliran didekati takut gak mau keluar rumah. Dasar jago kandang. Si Abang, baru dipegang dikit. Bom Nagasaki keluar. Capek deh"
Si kembar hanya nyengir saja. Airil terkikik geli. Dia merasa kedua putranya itu sedikit mirip Eneng.
"Sudah siang ayo berangkat anak-anak"
"Iya pah"
Airil dan kedua putranya beranjak dari meja maka. Mereka bersama-sama berjalan menuju teras. Eneng mengantar keberangkatan mereka.
"Mah kami berangkat dulu"
"Iya. Belajar yang rajin. Kalau ada cewek cakep pepet aja"
"Asyiap"
Si kembar bergantian mencium tangan Eneng dan juga kedua pipi mamanya. Airil pun juga berpamitan. Setelah mengecup kening Eneng, mereka bergegas masuk kedalam mobil dan segera meninggalkan rumah. Eneng menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan segera menuju rumah Ghaydan.
Sesampainya disekolah, duo F sudah ditunggu oleh sikembar Dean didepan gerbang sekolah. Bahkan mobil keluarga Malik juga masih berada disana menemani kedua majikannya. Duo F sudah berpamitan kepada Airil dan langsung berlari menemui si kembar Dean.
"Abang"
"Lama banget kalian"
"Ya elah bang. Sabar napa. Jalan juga macet"
"Hemm"
Mereka berjalan berempat. Bak pangeran dari sebuah kerajaan. Ketampanan keempatnya tak diragukan lagi. Thian dan Fathan yang berwajah oriental bersanding dengan Dean Ammar dan Dean Ashraf yang memiliki darah Jerman.
"Bang banyak anak baru keren-keren tuh"
"Hem"
"Yaelah bang Dean Dean. Sudah cukup satu saja bang Fathan yang gak doyan cewek. Jangan juga kalian ikut"
"Ngomong apa loe tadi"
"Gak ada ulangan"
Walaupun bukan tahun ajaran baru, namun sekolah mereka tetap menerima siswa pindahan dari sekolah lain. Sekolah mereka termasuk sekolah elite. Dan kebanyakan anak pengusaha yang berada disini.
Mereka berpisah di tangga pembatas antar kelas. Si kembar Dean beda dua tingkat dengan duo F. Tahun ini mereka akan lulus. Sedangkan Duo F akan naik ke tingkat selanjutnya.
"Istirahat. Tunggu dikantin"
"Gak janji bang"
"Ya udah kirim pesan aja nanti"
"Syiap bang"
Fathan tak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya Thian saja yang terus berkomunikasi dengan Dean bersaudara. Sepanjang lorong Thian tak hentinya tersenyum berbeda dengan Fathan yang bersikap dingin.
Seorang siswi menghadang langkah si kembar. Dan nampak siswi tersebut belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Hai. Kenalin nama gue Mauren. Gue baru pindah kesini"
Mauren menyodorkan tangannya. Namun Duo F tak menyambutnya. Bahkan melewati Mauren yang menghalangi jalan mereka. Duo KunNo terkikik dibelakang mereka. Dan Kunti yang jahil menyambut tangan Mauren. Hingga Mauren merasa takut. Karena Ono juga berbisik sesuatu ditelinga Mauren.
"Kenalin gue Kunti. Hihihi"
"Dan gue Mario..no. Hihihi"
Mauren memegang tengkuknya. Dia kembali menoleh kearah Thian dan Fathan yang sudah berlalu.
"Hii. Kok gue merinding gini sih. Aura mereka menyeramkan. Mana tangan gue kayaknya ada yang megang deh. Hiii"
Sisi lain Thian. Dia memang humble namun akan berubah dingin jika ada sesuatu yang membuat dia tidak nyaman. Termasuk Mauren. Hanya dengan sekali melihat, Thian sudah tak menyukai Mauren.
Pelajaran hari ini cukup singkat, karena masih awal sekolah. Mereka hanya tiga jam pelajaran pertama saja. Dan para guru memulangkan mereka lebih awal karena akan ada rapat komite.
Dean menunggu diparkiran setelah mengirim pesan kepada Thian. Disekolah si kembar Dean cukup terkenal dengan sikap galak dan misterius. Mereka tidak segan akan berkata dengan perkataan pedas jika merasa terganggu. Karena sikap seperti itulah membuat para gadis semakin penasaran namun tak berani mendekat.
Teman duo Dean hanya si kembar F dan dua orang lagi. Mereka juga terkenal pandai dalam segala hal. Tak jarang beberapa perlombaan disekolah dimenangkan oleh mereka.
"Lama"
"Ck. Bang lagi datang bulan loe. Dari pagi ngel melulu. Lagian mobil jemputan juga belum datang"
Beberapa siswa memperhatikan keempatnya. Termasuk Mauren. Dan Mauren yang penasaran mencoba bertanya pada siswi lain yang berdiri didekatnya.
"Maaf mereka siapa"
"Mereka itu empat pangeran tampan sekolah ini"
"Nama mereka siapa"
"Yang duduk wajah bule namanya kak Dean Ammar dan kak Dean Ashraf. Kakak kelas kita. Yang berdiri namanya Fathan dan Fathian. Dia masih junior kita"
"Ouh. Tapi kok nyeremin gitu mukanya. Gak pernah senyum ya"
"Memang mereka seperti itu. Bikin penasaran. Kecuali Fathian. Dia ramah kok orangnya"
"Masa sih. Tapi menurut gue mereka auranya kayak setan. Gue tadi berdiri didekat si kembar Fathan dan Fathian langsung merinding. Bahkan ya ada suara aneh terus tangan gue kayak ada yang megang"
Mauren bercerita dengan menggebu-gebu. Bukan tanggap baik yang didapatkan Mauren, melainkan tatapan menyeramkan lainnya.
"Loe anak baru ya"
"Iya. Nama gue Mauren. Gue baru pindah"
"Pantes. Jangan buat berita hoak tentang mereka sembarangan. Kalau loe masih mau sekolah disini"
"Hah. Maksudnya"
"Kenalkan. Gue ketua The Famaous Boys. Fans club mereka berempat"
"What's. Kayak artis aja"
"Ingat. Sekali lagi loe ngomong gak baik tentang mereka, siap-siap berhadapan dengan kami"
Siswi yang mengaku ketua fans club dua pasangan kembar itu berlalu pergi diikuti teman-temannya. Sedangkan Mauren masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ya elah. Ada-ada saja mereka. Kayak artis ternama saja pake fans club"
Mauren semakin penasaran dengan kepribadian keempatnya. Mauren menyusun rencana agar bisa mendekati mereka.
"Kalau gue bisa dekat dengan mereka, minimal salah satunya saja. Nama gue bakalan aman disekolah ini"
"Wah gue harus bisa mendekati salah satunya"
Mauren bermonolog sendiri. Tak lama mobil keluarga Malik menjemput keempatnya. Dan Mauren pun beranjak pergi dari halaman sekolah.
"Kun. Alarm bahaya nih"
"Benar. Kita harus awasi bocil ini No"
"Siap laksanakan"
_____
Awas mereka punya bodyguard tak terlihat Mauren....
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk...