
Airil dan Eneng menemui Jay dan Arka. Mereka memberitahukan perihal Dzaky. Airil dan Eneng juga meminta agar status sebenarnya Dzaky disembunyikan. Biarlah orang lain menganggap Dzaky memang anak Eneng dan Japri. Kedua orang tua Airil pun juga setuju. Niat mereka hanya ingin menolong dan menyelamatkan nyawa seorang bayi kecil.
Beberapa bulan ini sudah Eneng dan Airil lakukan untuk persiapan pernikahan mereka. Walaupun hampir semua Jay yang menanggung, namun Eneng meminta ada beberapa hal penting mereka berdua yang akan mengurusnya.
Hari ini Airile membawa Eneng untuk membeli cincin pernikahan. Eneng menginginkan cincin yang sederhana saja. Dan itu tidak ada ditoko orangtua Daffa. Eneng memilih mencari sendiri bersama Airil.
"Sayang. Mau beli cincin dimana"
"Toko mas dong kang. Masa iya ditoko buah"
"Haha. Maksudnya toko didalam Mall atau bukan"
"Manut aja kang. Dimana enaknya"
"Hm. Kita coba toko diluar Mall dulu sayang. Nanti kalau gak cocok baru yang didalam Mall"
"Okay kang"
Airil ingat jika dia pernah membeli perhiasan untuk ibunya. Dan toko tersebut letakmya sedikit jauh dari daerah tempat tinggal mereka.
"Kang ini mau kemana"
"Kita ke toko tempat aku pernah membelikan perhiasan ibu sayang. Disana modelnya bagus-bagus"
"Oke. Tapi apa gak kejauhan"
"Gak sayang"
"Akang hari ini libur"
"Iya sayang. Apa kamu lupa. Bukaannya kemarin sudah aku kasih tau ya"
"Iyakah. Lupa eneng"
"Kurang piknik ini mah gampang lupa. Hahaha"
"Gak kurang akua kang. Kayak ditipi-tipi gitu"
"Korban iklan"
"Asal bukan korban rayuan gombal kang"
"Tapi kamu korban cintaku sayang"
"Oh klepek-klepek nih Eneng"
"Asal jangan kejang-kejang"
"Ish akang suka banget ngledekin Eneng"
"Kamu juga penyakit ajaib banget yang"
Jalanan hari ini cukup ramai. Dan sedikit gerimis menyejukkan panasnya Ibukota. Setelah lima belas menit terjebak dijalanan yang mulai licin, merekapun sampai ditoko yang Airil maksud.
"Kak tokonya gede banget"
"Iya. Yuk masuk"
Airil dan Eneng sama-sama membuka pintu. Airil menunggu Eneng dan menggenggam tangannya. Sebelum berjalan Eneng mengatur nafasnya agar penyakitnya tidak kambuh saat Airil terus menggenggam tangannya. Mereka sudah sampai ditempat khusus untuk cincin pernikahan.
"Kamu pilih yang mana sayang"
"Yang sederhana saja kang. Gak perlu yang terlalu mencolok"
"Oke. Aku coba tanya pegawainya dulu. Siapa tau ada model bagus"
Airil memanggil pegawai toko tersebut. Eneng masih mengelilingi meja yang penuh dengan cincin indah. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
Bugh
"Maaf kak saya gak sengaja"
"Hem"
Eneng cuma tersenyum tipis aja melihat perempuan yang tak sengaja ditabraknya tadi hanya berdehem menjawab Eneng. Bahkan dia sempat mengibaskan membersihkan sisi lain lengan tangannya. Seolah Eneng adalah kuman. Airil yang melihat Eneng diremehkan langsung mendekatinya.
"Sayang kamu gapapa"
"Gapapa kok. Udah dapat kang "
"Sudah sayang. Yuk lihat dulu"
Wanita yang ditabrak Eneng tadi langsung mendongak melihat kearah Airil dan Eneng. Wanita itu nampak sedikit terkejut melihat siapa yang berdiri dihadapannya. Merasa namanya dipanggil, Airil pun juga sama kagetnya.
"Airil"
"Sheryl"
"Apa kabar. Gak nyangka kita ketemu lagi"
"Gue baik"
"Ini adik kamu ril. Pantes mirip"
"Bukan"
"Oh kirain adik kamu. Oya ada waktu sebentar tidak. Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu"
Airil merangkul Eneng dan membawanya pergi dari hadapan wanita tadi. Namun wanita tadi mencoba mencegahnya.
"Tunggu ril. Ku mohon. Beri waktu aku untuk bicara"
"Sepertinya urusan kita sudah selesai Ryl. Gue masih ada urusan"
Sheryl sedikit mengencangkan suaranya agar Airil mau diajak berbicara dengan dirinya. Beruntung toko tersebut belum begitu ramai.
"Aku sudah bercerai ril"
Airil tak memperdulikan perkataan Sheryl. Dia tetap berjalan merangkul pundak Eneng untuk memilih cincin pernikahan mereka. Sheryl berjalan mendekat kearah Airil dan Eneng. Dia melihat Airil sedang memasangkan cincin kepada Eneng.
"Ini bagus sayang. Tapi agak kegedean dikit"
"Bisa gak sih dikecilin. Aku juga suka yang ini simpel"
"Mbak ini ada ukuran yang sesuai gak"
"Maaf pak disini hanya memproduksi satu barang satu ukuran. Apa bapak mau mencoba custom saja. Sesuai keinginan"
"Bagaimana sayang"
"Ya sudah mending kita custom saja kang. Biar bisa sesuai keinginan"
"Oke. Mbak kita custom saja. Boleh desain sendiri kan"
"Boleh pak"
Pelayan toko tersebut memberikan kertas dan pena kepada Airil untuk menggambar cincin yang mereka mau. Sheryl yang sebenarnya kaget mendengar percakapan mereka berusaha memprovokasi Eneng.
"Ril. Kamu akan menikah"
"Iya. Ini Suci tunangan saya"
"Hai kak"
Sheryl tidak menyahut sapaan Eneng. Dia tetap fokus kepada Airil yang sama sekali tidak meliriknya.
"Ril. Aku kira kamu sudah menikah lama. Ternyata baru sekarang kamu akan menikah. Apa sesulit itu kamu melupakan aku. Dan jangan-jangan wanita ini adalah pelampiasan kamu saja"
Eneng mencoba menelaah apa perkataan perempuan itu. Dia baru mengerti jika wanita cantik itu adalah mantan kekasih Airil.
"Ril. Maafkan aku. Dulu aku terlalu bodoh dan meninggalkan kamu demi mantan suamiku. Ternyata dia tidak baik ril. Aku menyesal ril"
Airil masih sibuk menggambar dan hanya berkomunikasi dengan Eneng. Sheryl yang kepala akhirnya menyerang Eneng.
"Siapa nama loe tadi. Suci"
"Iya kak"
"Loe sepertinya paham kan kalau gue adalah mantan terindah Airil. Kisah kami sangatlah indah. Dia sangat mencintai gue"
"Huh. Terus gue harus bilang wow gitu"
Airil yang tadinya sempat khawatir jika Eneng akan marah karena Airil belum pernah bercerita tentang mantan kekasihnya itu.
"Dan gue kembali kesini hanya untuk Airil. Bahkan sampai saat ini Airil belum menikah itu sudah bukti jika dihatinya masih ada gue. Dan loe hanya pelampiasan saja"
"Huh. Kak maaf ya kalau tersungging eh keseleokan jadinya. Tersinggung maksudnya. Dalam sejarah percintaan setau gua itu gak da kata mantan terindah. Yanga ada mantan dibuang pada tempatnya. Kalau mau jadi yang terindah gak mungkin jadi mantan kan ya. Ya. Lagian ya kak, kasian dong akang gua tercinta ini dapat bekasan. Mendingan gua masih orisinil fresh pokoknya. Malu dong. Jadilah janda terhormat kak. Jangan janda clamitan yang bisanya ngejar laki orang. Dan satu hal lagi kak. Akang gua ini spesial, bukan karena belum move on. Tapi hanya menunggu waktu yang tepat saja agar bisa dapat yang lebih baik dari sebelumnya. Yaitu gua"
Eneng berbicara dengan gaya anak alayanya. Airil berusaha untuk menahan tawanya. Apalagi Eneng berbicara dengan gerakan anak jaman now. Sheryl yang merasa terpojok hanya bisa diam saja.
"Udah sono balik kak. Gua mau cari cincin besok gua kawin"
"Ril benarkah apa yang dikatakan dia"
"Itu benar. Dia wanita istimewa. Dan maaf ya gua bukannya gak bisa move on. Udah lama tuh gua move on. Tapi gua lama dapat jawaban cinta dari cewek gua ini"
Airil mengikuti gaya bicara Eneng. Jujur dalam hatinya dia geli sendiri. Sheryl yang kesal langsung pergi meninggalkan Eneng dan Airil.
"Gua suka gayah loh"
Airil benar-benar sudah tidak tahan untuk tertawa. Eneng teringat jika Airil tertawa seperti itu akan terjadi bencana. Dia menarik tanganku Airil keluar toko dan menuju kios depan.
"Bang beli pempres ukuran xxxxxxllll"
"Hah. Gak ada non ukuran segitu. Emang mau dipakai bayi gajah non"
"Melebihi gajah"
"Loh sayang kenapa mau beli pempres"
"Sebelum peralon akang bocor dan malu sendiri, mendingan dari sekarang disumpal dulu"
"Hahhhh"
_________
Mantan mah dibuang ke laut ya neng
Jangan lupa jempolnya gaesss...vote dong
Jangan lupa bahagia gaesss