Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Berita Heboh



"Makanya jangan sembarangan nyium"


"Hahaha. Kamu neng penyakit kok aneh. Terus besok kalau kita nikah, aku nyium kamu malah kamu kentutin dong"


"Ish kan belum biasa kang"


"Asal jangan pas malam pertama kamu malah kejang-kejang neng. Hahahaha"


"Akang ih"


Eneng tersipu malu dengan perkataan Airil. Airil ingin menanyakan status Eneng saat ini. Dia juga tak ingin memaksakan perasaan kepada Eneng. Walaupun dia juga tau Eneng memiliki hati untuk dirinya.


"Neng boleh akang tanya"


"Iya kang"


"Kamu sama Japri gimana neng"


"Gak gimana-gimana kang"


"Sudah jadi menikah"


"Belum. Tapi lebih tepatnya tidak"


"Maksudnya gimana"


"Rumit kang"


"Kamu ceritakan neng, biar akang juga tahu"


Eneng menceritakan semua apa yang terjadi dengan dirinya dan Japri. Bahkan eneng juga mengatakan keluarga Malik akan membantu Eneng. Airil sempat mengepalkan tangannya mendengar cerita Eneng. Dia mengira bahwa dulu Japri benar-benar tulus kepada Eneng. Tapi nyatanya hanya palsu.


"Neng. Aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik. Apapun itu aku mendukungmu neng. Aku akan menunggumu neng"


"Makasih kang"


"Kapan kamu berangkat neng"


"Jumat besok kang"


"Maaf aku gak bisa menemani kamu"


"Gapapa kang"


"Tapi kamu janji ya neng kabari aku. Apapun hasilnya"


"Ya kang"


Tanpa aba-aba Airil merangkul pundak Eneng bahkan telapak tangannya mengelus rambut eneng dengan penuh kasih sayang. Eneng baru pertama kali mendapatkan perlakuan semanis itu dari seorang pria. Dan ini pria tampan. Kepala Eneng diletakkan dipundak Airil. Apakah Eneng baik-baik saja.


"Neng. Setelah kamu mendapat keputusan, aku ingin melamar kamu neng. Kita akan segera menikah"


Tak ada jawaban dari Eneng. Airil memindahkan telapak tangannya untuk mengusap pipi Eneng. Airil baru sadar jika terjadi sesuatu dengan Eneng.


"Neng kamu kenapa. Kenapa dingin banget pipi kamu neng. Kenapa kamu juga keringat dingin. Neng. Kamu kenapa neng"


Airil menjauhkan badannya dan mencoba mengecek kondisi Eneng. Tenyata kaki Eneng bergetar. Seluruh badannya berkeringat dingin. Nafas Eneng seperti habis berlari berkilo-kilo meter. Bibirnya pucat pasi.


"Neng kita kerumah sakit ya. Aku gak bawa peralatan buat periksa kamu. Jangan sakit neng"


Airil sudah panik melihat Eneng seperti itu. Saking paniknya Airil langsung memeluk tubuh Eneng. Namun yang terjadi adalah.


"Yah kok pingsan neng"


Airil masih belum mengerti kenapa Eneng bisa terkena keringat dingin. Dan sekarang malah pingsan. Airil langsung membopong tubuh Eneng. Secepatnya dia bawa kembali ke kediaman Malik. Namun belum sampai Eneng sudah sadar.


"Eneng mimpi digendong pangeran tampan. Ah Aa Minho pun kalah"


Airil mendengar suara Eneng, dia langsung berhenti dan mencoba melihat kearah Eneng.


"Kamu sadar neng"


"Ya sadarlah kang. Emang tadi kenapa"


"Kalau sadar kenapa mata kamu merem"


"Iya po. Eneng gak ingat"


"Terus ingatnya apa dong"


"Eneng inget pas akang meluk Eneng. Ngelus-ngelusin Eneng. Terus.."


"Terus apa neng"


"Eneng gak kuat kang. Tremor Eneng. Keringat dingin langsung. Habis tu lupa"


"Hahaha. Jadi baru digituin kamu udah tremor neng. Harus dibiasakan dari sekarang neng. Jangan sampai pas malam pertama kamu serangan jantung. Jadi duda dong aku"


"Ish amit-amit doanya jelek banget. Makanya besok lagi jangan ngasih serangan dadakan kang. Biar Eneng ada persiapan"


"Hahaha. Kamu kira ujian"


"Iya. Ujian bertahan waras bersama mu"


Airil mengantarkan Eneng pulang kerumah. Lalu dia kembali kerumahnya sendiri. Ternyata didalam geng kepo sudah menunggu. Arka dan Jay sengaja menunggu kedatangan Eneng. Begitu juga para istri mereka.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Akhirnya datang juga"


"Kok pada ngumpul. Mau arisan yah"


"Mau ronda. Ikut gak"


"Rodain apa tuan"


"Rondain komplek neng. Apalagi"


"Kirain Eneng tuan besar mau rondain janda sebelah"


"Emang ada janda disebelah neng"


"Ada. Mau tuan godain ya. Gak takut sama singa betina disebelah"


Arka menoleh kearah Melany. Yang sedang menatapnya garang.


"Eh mama. Papa gak gitu loh mah"


"Tidur luar. Dingin oe dingin. Berrr. Enakan meluk istri"


"Diam kamu Jay. Eneng yang salah loh mah bukan papa"


"Kok eneng. Eneng gak ngapa-ngapain loh ya"


"Dahlah. Urusan kita nanti pah. Kita bahas masalah Eneng"


"Iya jadi lupa kan"


"Neng kamu duduk kita mau tanya"


"Iya tuan Jay"


Eneng duduk disofa single. Bak tawanan dia siap disidang.


"Siapa pria tampan tadi neng"


"Teman lama Eneng nyah"


"Kenal dimana"


"Dulu waktu masih kerja dikeluarga nona salsa"


"Sudah kerja"


"Sudah tuan. Dia dokter"


"Appaaaaa. Dokter"


"Iya dokter. Ada yang salah"


"Kok bisa dia mau kenal kamu. Apa gak takut kena virus kamu"


"Mana saya tau nyah. Malahan tadi kang Airil ngelamar Eneng"


"Appaaaaa"


"Mah coba cium papa. Gak ngimpi kan"


"Yang ada dicubit bukan dicium. Nyari enaknya aja"


"Sini Jay jewer pah"


"Kualat kamu tengil"


"Kan papa yang minta"


"Neng kamu gak bohong kan. Gak lagi ngigau juga kan"


"Enggak tuan. Butuh bukti"


"Buktikan"


"Bentar kita Videocall"


Eneng mengambil gawainya dan langsung menekan nomor Airil. Tak butuh waktu lama Airil langsung mengangkatnya. Hal mengejutkan hingga tanpa sengaja Jay menendang kaki Arka karena reflek.


"Assalamualaikum sayang. Ada apa"


Dugh


"Jay kaki papa ini bukan kaki meja"


"Sorry pah. Reflek. Kaget ada yang manggil markoneng sayang. Benar-benar tuh orang udah hilang kewarasan"


Sedangkan yang dipanggil sayang bukan menjawab malah menjatuhkan ponselnya. Sok berat.


"Yah yah kumat Jay. Baru dipanggil sayang. Ponsel jadi korban"


"Gimana dianu-anuin besok itu pah"


"Stroke kali Jay"


Ditempat lain, Airil sedang bingung karena tiba-tiba panggilannya terputus bahkan layar ponselnya sudah tak nampak lagi wajah Eneng.


"Apa aku salah memanggil dia sayang"


"Hahaha. Lucu kamu neng sumpah. Limited edition beneran ini. Barang langka yang harus dilindungi"


Mungkin difikirkan dokter tampan itu, Eneng sejenis badak bercula satu yang harus dilindungi dari kepunahannya. Sebenarnya yang harus dilakukan untuk Eneng hanya satu. Mengembalikan kewarasan yang sesungguhnya.


Kondisi Eneng yang sok malah menjadi bahan olokan Jay dan Arka. Entah nasib apa yang menimpa Eneng mendapat majikan tak jauh beda bobroknya dengan dirinya. Bahkan tiada hari tanpa beradu kebobrokan.


"Neng ponsel kamu digondol cicak tuh"


Eneng masih diam saja. Hanya matanya uang yang berkedip dan untungnya masih bernafas.


"Pah"


"Kenapa mah"


"Sebenarnya penyakit Eneng itu apa sih. Kenapa setiap berhubungan dengan orang tampan selalu saja ada masalah"


"Papa saja bingung. Apa semua orang tampan harus menggunakan topeng biar Eneng gak kayak gini. Ini udah untung gak pingsan mah"


"Iya bener"


"Lagian tuh dokter kok ya mau sama Eneng yang bentukannya ajib gini"


"Kalau beneran nikah sama tuh dokter. Jay bakal tanggepin orkes dangdut tujuh hari tujuh malam"


"Yakin Jay"


"Yakin pah"


____


Bisakah Jay menepati janjinya


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk gaesss