Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Tamu Tak diundang



Sudah lama Japri menjalani rehabilitasi. Eneng dan Airil selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Japri. Sebenarnya Dzaky akan dibawa Eneng ke Kota. Namun emak masih tak rela. Mungkin nanti jika Titi sudah menikah Dzaky diijinkan dibawa oleh Eneng. Emak yang sudah semakin tua, tak pernah mau dibawa Eneng untuk dirawat. Emak ingin menghabiskan sisa usianya dikampung halaman.


Pagi ini Eneng dikagetkan dengan tamu yang tak pernah dia inginkan. Memang Arif pernah mengabari jika Tati berada dikota yang sama dengan Eneng. Namun Eneng tak pernah begitu memperdulikannya. Apalagi kota tempat Eneng tinggal sangatlah luas. Arif memperingatkan Eneng agar berhati-hati. Karena Tati orangnya sangat nekad.


Tok tok


"Kang bentar, Eneng buka pintu dulu"


"Ya sayang"


Eneng berjalan menuju pintu dan membukakan tamu di pagi menjelang siangnya itu. Hari ini Eneng memang tidak datang kerumah Jay. Karena keluarga Jay sedang berada di Jerman. Eneng hanya sesekali datang melihat kondisi rumah.


"Maaf cari siapa"


"Wow. Loe berubah ya sekarang. Gak dekil lagi"


"Tati. Mau apa loe kesini"


"Gue kesini mau ambil hak gue. Yang loe embat"


"Hak apa"


"Balikin hak gue. Hak dari suami gue. Mantan maksud gue. Loe bisa hidup enak kayak gini pasti pake uang Japri kan"


"Kalau iya kenapa. Apa urusan loe"


"Heh. Ngaca loe. Loe itu udah dibuang dan loe gak berhak atas apapun dari Japri"


"Hehe. Loe lebih gak berhak lagi. Lagian semua harta milik Japri itu atas nama gue"


"Dasar licik"


"Hello. Ngaca mbak. Tuh kaca jendela rumah gue gede. Segede badan loe"


Airil yang mendengar keributan diluar, langsung berlari. Airil khawatir jika terjadi sesuatu dengan sang istri.


"Sayang ada apa"


Tati kaget melihat seorang pria tampan datang dengan panggilan yang begitu romantis pada Eneng. Airil pun langsung merangkul Eneng agar tenang.


"Ini kang ada makhluk yang lebih menyeramkan dibandingkan mis kunkun"


"Jaga mulut loe ya neng"


"Mulut gue mah selalu gue jaga dan gue rawat dengan baik. Gak lihat bibir gue tambah seksih"


"Sayang sudah jangan marah. Sebaiknya kalian duduk dulu. Gak enak dilihat tentang ga dikira bini gue pelakor"


"Suruh aja duduk diteras. Entar kalau dia masuk pingsan lihat isi dalam rumah kita akang sayang"


"Hilih rumah hasil warisan orang aja bangga"


Airil merasa tersinggung perasaannya karena dikatakan rumah itu hasil warisan.


"Enak sekali anda datang langsung mengklaim rumah saya seperti itu. Memang kamu benar sayang ini makhluk menakutkan melebihi setan poci"


"Gue gak mau basa-basi. Gue kesini mau ambil hak gue untuk anak gue. Dan gue juga akan ambil anak gue"


"Haduh makin sakit telinga gue dengar ocehan loe tat. Anak loe yang mana. Setau gue loe gak pernah punya anak"


"Dimana anak gue. Loe bisa gue laporin ke polisi karena sudah merampas hak gue sebagai ibu kandungnya"


"Laporkan saja. Dah lah sono minggat loe. Setan dirumah gue pusing dengar ocehan loe"


"Gue gak akan pergi sebelum apa yang jadi hak gue kembali"


"Oke. Loe Sabtu besok gue tunggu dikampung. Kita selesaikan semua disana. Bukan disini. Sekarang gue minta loe pergi dari rumah gue. Dan satu lagi. Rumah ini hasil keringat suami gue sebagai dokter. Bukan hasil rampokan"


Eneng langsung menutup pintunya kasar. Tati memilih pergi dari rumah Eneng. Tati berjalan dengan kesal. Eneng yang memang sengaja mengintip dari jendela melihat Tati naik sepeda motor dibonceng seorang lelaki. Dan sebelum pergi, nampak Tati dan pria itu sangat akrab.


"Jadi pria seperti itu yang membuat kamu tega menyakiti Dzaky dan Japri. Sungguh terlalu"


Airil melihat Eneng masih berdiri didekat jendela, langsung menghampiri dan memeluknya dari belakang.


"Sudahlah sayang. Doakan saja dia bisa sadar atas kesalahannya"


"Iya kang"


"Bentar coba Eneng telpon"


"Kamu tahu no om Jay di Jerman"


"Ada no rumah sama no istrinya pak Afnan"


"Ya sudah coba kamu telpon sayang"


Eneng mencoba melakukan panggilan internasional. Eneng lupa jika saat ini di Jerman sudah tengah malam. Panggilan memang diangkat oleh Jay dengan sedikit kesal. Eneng mengganggu waktu istimewanya.


"Ne tau gak sekarang jam berapa disini"


"Nggak tuan"


"Ini udah tengah malam neng. Kalau mau ngobrol sama si poci aja. Jangan ganggu saya neng. Ck ah. Nanggung kan"


"Au Au. Kayaknya mbak Chilla mau dapat adek lagi nih"


"Berisik. Cepet ngomong ada apa"


"Yaelah gak sabaran amat. Dan tuan beresin dulu, Eneng tunggu. Jangan dimatiin telponnya tuan. Susah sinyal"


"Terus kamu mau nguping gitu"


"Tuan lupa. Dari dulu dirumah tuan, Eneng udah biasa denger ******* si ular albino"


"Kampret emang loe neng. Kamu butuh apa. Kalau gak penting, saya slepet kamu neng"


Eneng menceritakan perihal kedatangan Tati dan niat Airil meminjam pengacara keluarga Malik. Jay menyetujui rencana baik ini. Karena semakin lama ditunda akan semakin rumit. Jay sendiri yang akan menghubungi pengacara mereka.


"Sudah beres kang. Tinggal nunggu pengacara untuk menghubungi kita"


"Apa gak sebaiknya kita saja yang menghubungi sayang"


"Kata pak Jay gak usah".


"O yasudah kalau titah yang mulia berkata demikian. Kita manut saja"


Benar. Satu jam setelah berkomunikasi dengan Jay, sang pengacara menghubungi. Dan mereka akan berangkat bersama ke kampung.


Perjalanan mereka tempuh kali ini tidak selancar biasanya. Karena jalanan memang sedang macet. Eneng tertidur selama perjalanan. Malam menjelang mereka sudah sampai di kampung.


"Aa. Aa ku kembali. Dedek kangen Aa'"


Airil yang baru saja turun dari mobil mendapat sambutan dari Kendil Jennar. Si kendil jennar memeluk erat tubuh Airil. Eneng hanya mendengus saja melihat kelakuan si emak.


"Kangen dedek tuh sama Aa. Aa kesini mau jemput dedek kan"


"Iya jemput dikirim ke alam baka"


Jawaban Eneng sarkas sambil melepas pelukan kendil jennar dari tubuh Airil.


"Gak usah gatel deh Mak. Ini punya Eneng"


"Kamu merebutnya dari emak neng"


"Ya sudahlah. Selamat menikmati"


Eneng berjalan meninggalkan Airil dan emak yang masih menggelayut manja pada lengan Airil.


"Sayang. Jangan tinggalin akang dong"


"Dedek disini Aa. Aa gak usah teriak-teriak"


"Huh. Nasib"


Kendil Jennar yang tak mau melepas tautan dilengan Airil membuat Airil susah bergerak. Saking kesalnya, Airil langsung mengangkat tubuh Mak Ijah dan ditaruh diatas pundaknya. Bagaikan memanggul kayu bakar. Emak Ijah malah kegirangan.


"Aa romantis banget. Dedek makin sayang"


_________


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempolnya digoyang yuk