Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Pembuat Onar



"Kalian mau langsung pulang apa mau ikut kita"


"Abang mau kemana"


"Ke kantor ayah"


"Ikuttttt"


"Ngerusuh bang Al kan"


"Pastilah"


Pulang sekolah Fathan dan Thian ikut bersama si kembar Dean. Karena Airil sedang ada operasi dan sopir mereka pulang kampung sudah satu Minggu lamanya kerena istrinya melahirkan. Arash memang meminta mereka untuk ke kantor. Perusahaan Arash sudah berkembang ke dunia fashion. Dan si kembar Dean menjadi model utama. Hari ini mereka akan pengambilan gambar fashion keluaran terbaru.


"Bang enak gak jadi model"


"Seru kok. Mau coba"


"Gak pede"


Mereka sudah sampai dikantor Arash. Sudah tak asing bagi para pegawai kantor Arash jika melihat Dean bersaudara hanya bisa tersenyum tanpa mendapat balasan. Mereka langsung menuju ruangan Almeer. Almeer sedang sibuk menyiapkan konsep hari ini. Selain bekerja di perusahaan, Almeer juga seorang dosen.


"Assalamualaikum. Abanggg Alll"


Mendengar suara yang sangat dia kenali, Almeer hanya bisa pasrah saja. Keempat bocah onar sudah berada diruangannya.


"Waalaikumsalam. Dean kalian bawa duo curut kesini"


"Biarlah bang. Siapa tau nanti dibutuhkan"


"Asal gak bikin onar saja"


Keempatnya sudah duduk disofa ruangan Almeer dengan tidak tenang. Ada saja yang mereka lakukan. Thian memutar musik boyband Korea kesayangannya. Dan Dean juga menyukai lagu itu.


"So What..."


Mereka berteriak serempak menirukan lagu yang sedang mereka putar dan membuat Almeer kaget. Dan langsung melemparkan pena kearah Thian, sayangnya pena itu nyasar ke kening Arash yang baru saja membuka pintu.


"Aduh"


Almeer melotot kaget karena suara Arash. Keempat bocah onar langsung melihat kearah pintu. Musik yang sedang mereka putar langsung dimatikan.


"Almeer. Kenapa ayah to timpuk"


"Maaf ayah. Maaf. Al gak sengaja. Tadi mau numpuk duo curut itu ayah"


Thian langsung memutar balikan keadaan. Membuat suasana semakin panas.


"Bohong ayah. Sengaja itu bang Al"


"Diem loe curut"


"Benar seperti itu Al"


"Tidak ayah. Thian bohong ayah"


"Awas kalau memang itu sudah kamu niatkan Al"


"Gak berani yah"


"Ya sudah. Konsep sudah selesai bang"


"Sudah yah. Tinggal action aja mereka"


Arash melihat keempat anak kembar yang sedang asyik beradu game online. Karena baju yang beredar dikalangan anak muda kali ini memang bertema game, Arash langsung memiliki ide.


"Bang. Bawa keempat tuyul ini keruangan foto"


"Gak dua yah"


"Angkut keempatnya. Lumayan kan tambah dua ekor tuyul. Tambah pundi-pundi lagi. Hahaha"


"Ayah. Gak mau rugi"


"Harus dong. Buruan. Keburu siang"


"Oke yah"


Arash lebih dulu keluar ruangan Almeer. Dan Almeer langsung meminta keempatnya menuju ruangan foto.


"Hei tuyul. Ayo kerja dulu. Ntar gue beliin sajen"


"Ck. Tuyul tuyul. Kalau kita tuyul loe juga tuyul kali bang. Satu pabrik kita"


"Bedalah. Udah ayo buruan. Keburu ayah marah"


Duo Dean sudah beranjak dari sofa. Sedangkan duo F yang memang hanya ingin menemani duo Dean, tetap duduk anteng diruangan Almeer. Melihat duo onar masih santai, Almeer langsung menjewer telinga mereka.


"Woy tuyul. Suruh kerja malah main aja. Ayo buruan"


"Aduh bang. Sakit tau"


"Iya Abang Al ganas. Lagian kita kan cuma main"


"Gak ada main disini. Waktunya cari duit"


"Kita bukan model bang"


"Udah ayo buruan. Atau abang lapor ayah nih"


"Iya iya. Tapi kalau nanti semua fotonya hangus, jangan salahkan kita"


"Hangus tinggal bikin lagi. Kok susah"


"Bang. Kita cowok masa pake bedak"


"Masalah gitu cowok pake bedak"


"Takut lupa jati diri saja bang"


"Lah itu mah tergantung kalian. Kuat gak jaga terong kalian tetap menjadi terong normal"


"Ya Allah sumpah deh. Kalau ketemu bang Al pikiran gue rusak"


"Dikasih ilmu malah nolak"


Thian hanya cemberut setelah Almeer menjitak kepalanya. Almeer meminta kru untuk merias mereka. Almeer keluar ruangan untuk memastikan kembali dekorasi yang akan digunakan.


Saat ini masih giliran duo Dean dirias. Mereka sudah biasa dan perias pun tak mengalami kesusahan. Saat mereka fokus kepada duo Dean, Duo F sudah menghilang. Almeer masuk untuk memeriksa keempat adiknya. Dan dia hanya mendapati sepasang saja. Almeer bertanya kepada staff disana.


"Dimana yang dua lagi"


"Maaf pak. Kami tidak memperhatikan"


"Ck. Dasar curut. Kalian lanjutkan menyiapkan mereka. Biar saya yang akan mencari mereka"


"Baik pak"


Almeer keluar mencoba bertanya kepada para karyawannya. Namun tak satupun yang melihat keduanya. Almeer tak hilang akal. Dia menuju ruang CCTV untuk melihat kemana perginya duo bocil itu.


"Kalian pikir bisa sembunyi dari gue. Awas kalian ya"


Almeer sudah menemukan keduanya dan langsung menuju dimana keduanya saat ibu berada. Fathan dan Fathian sedang duduk dikafe perusahaan Arash. Melihat anak dari pimpinan utama memasuki kantin, semua menunduk hormat.


"Bagus ya. Disuruh kerja malah nongkrong"


Almeer menjewer telinga keduanya. Dan menariknya keluar kafe. Sambil terus mengaduh, Almeer menggiring mereka masuk kembali kedalam lift dan langsung menuju ruang foto.


"Ampun bang. Ampun. Sakit bang. Lepasin dong"


"Gak. Kalian emang bandel ya. Disuruh kerja malah kabur"


"Kan kita gak ikutan kerja bang. Cuma main"


"Mau duit gak"


"Ya maulah"


"Makanya ayo kerja"


"Kita gak bisa bang"


"Pasti bisa"


Ada sepasang makhluk yang sangat berbahagia dengan penderitaan yang dialami Duo F. KunNo. Ya, si KunNo bernyanyi lagu bahagia melihat kedua bos kecilnya teraniaya oleh Almeer.


"Ono. Happy banget hari ini. Setelah sekian lama kita tertindas, ternyata ada yang membalaskan untuk kita"


"Benar sekali Kun. Tau gitu kita kongsi sama babang tampan ini saja Kun"


"Huh. Gak usah ngaco. Cuma Duo resek itu yang bisa menerima kehadiran kita no. Yang lain pasti kabur"


"Benar juga. Ah yang penting hari ini bahagia gue gaessss"


"Oh jelasss"


Thian dan Fathan yang mendengar percakapan Duos KunNo, langsung menyusun rencana dalam otaknya. Dan menatap tajam kearah mereka sambil menggerakkan bibir tanpa bersuara.


"Awas kalian"


Melihat tatapan kedua majikan kecilnya itu, KunNo kembali waspada. Dan harus mencari perlindungan.


"Tatapannya ngeri gaesss"


"Iya. Bikin panas dingin"


"Ah gak masalah. Yang penting sekarang happy kita"


"Yang lain pikir belakangan gaesss"


Sampai diruang rias, Almeer meminta dua pengawalnya khusus menjaga duo onar. Kini berganti bagian penata rias yang stres. Thian terus berlari saat akan dirias.


"Mas. Berhenti dong capek ini"


"Gak mau. Ntar gue dikasi lipstik. Ogah gue"


"Cuma buat foto saja. Nanti dihapus lagi"


"Gak mau"


Sedangkan Fathan tidak berlari, namun kepalanya terus bergerak hingga make up pun tak bisa terselesaikan dengan baik. Mereka menyerah dan memanggil Almeer. Barulah setelah Almeer datang, mereka tenang.


Pemotretan berlangsung dengan dramatis. Keempatnya benar-benar membuat pusing Almeer. Ada saja ulah mereka.


"Duh Gusti. Boleh gak Al karungin tuh keempat tuyul terus Al buang ke sungai. Pusingg"


_____


Al...sabar ya....


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk