
Rencana pernikahan Eneng dan Airil akan dilaksanakan awal tahun depan yang artinya empat bulan lagi. Itu karena Airil baru bisa mengajukan cuti pada empat bulan kedepan. Dan memang selama dua bulan jadwal operasi Airil sangat padat.
Eneng merasa lega karena pernikahannya masih bisa dipersiapkan dengan baik. Awalnya Arka memberikan ide, agar mereka menikah dulu baru diadakan pesta empat bulan kemudian. Namun setelah melihat padatnya jadwal Airil. Dan hanya empat kali libur dalam satu bulan itupun jika tidak ada panggilan mendadak.
Setiap hari Eneng masih sibuk dengan pekerjaannya dirumah Jay. Jasmine dan Jay sebenarnya akan mencari pengganti untuk Eneng. Namun Eneng menolak dan masih ingin bekerja dirumah Jay. Eneng hanya meminta ijin kembali kerumah Airil jika sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Neng. Oh Eneng"
"Yuhu Eneng datang mas"
Eneng berjalan dari dapur dan menghampiri si kembar yang baru saja pulang sekolah.
"Ada mas kembar"
"Neng nanti sore temani ke Mall"
"Mau apa mas"
"Ngepel sambil ngamen"
"Asik dong"
"Ayo jangan lama-lama neng"
"Iya Eneng ganti baju bentaran. Masa mau ngemall pake daster"
Eneng kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan mengambil tas. Tak lupa dia mengirim pesan kepada Airil jika akan pergi ke mall.
"Yuk mas"
"Lama"
"Ya Allah. Cuma ganti baju mas gak dandan"
"Udah ayo buruan"
Mereka pergi ke mall dengan sopir. Si kembar akan mencari kado untuk Shanum. Setibanya di mall mereka berkeliling mencari kado yang cocok.
"Neng bagusan kasih boneka apa baju"
"Itu biasa. Mbak shanum kan bukan anak biasa mas"
"Terus"
"Yuk Eneng tau apa yang cocok"
Mereka berjalan mengikuti eneng. Tiba di toko elektronik dan langsung memilih hadiah. Karena terlalu berat, mereke memilih jasa layanan antar kerumah. Setelah selesai berbelanja, mereka langsung pulang.
"Mas kapan mau ketempat mbak Shanum"
"Nanti tanya Daddy dulu neng"
"Mau ikut neng"
"Ijin pak dokter dulu"
"Okey"
Saat tiba dirumah. Mereka melihat mobil Arka dan Jay sudah berada di garasi. Terdengar suara orang berbicara dari ruang tamu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Baru pulang boy"
"Hem"
Eneng masih belum melihat siapa tahu yang datang. Dia berjalan kearah dapur.
"Neng. Sini dulu"
"Ya tuan"
Eneng berbalik dan terkejut melihat seorang yang pria yang dia kenali duduk disana bersama istrinya.
"Kak Arif"
"Neng. Apa kabar"
"Baik kak. Kak Arif sama kak putri apa kabar"
"Alhamdulillah baik"
"Neng kamu duduk dulu. Ada yang mau Arif sampaikan kepada kamu"
"Baik tuan"
Eneng duduk disofa single. Arka dan Jay duduk disofaain bersama pasangan masing-masing.
"Neng. Selamat ya. Saya dengar kamu sudah tunangan sama pak dokter"
"Iya kak. Makasih"
"Neng. Saya langsung saja ya. Jadi kedatangan saya kesini bersama istri saya, ingin mengembalikan apa yang memang menjadi milik keluarga kamu"
"Maksudnya kak"
"Tanah dan rumah keluarga kamu dikampung. Abah sudah meninggal tiga hari yang lalu. Beliau juga menitipkan maaf untuk kamu dan emak"
"Innalillahi wa innailaihi roji'un. Maaf Eneng tidak tahu"
"Tidak apa-apa neng. Ini surat-surat milik keluarga kamu yang diminta Abah waktu itu. Aku kembalikan. Dan adat dikampung sudah dihapus semua. Kamu bisa kembali neng"
Eneng tersenyum. Dan menerima beberapa surat berharga sambil bergetar. Harta satu-satunya peninggalan almarhum ayahnya, kini kembali keuangan mereka.
"Kak. Terimakasih. Semua atas bantuan kakak. Eneng tidak bisa membalas apapun"
"Tidak perlu sungkan neng. Ini juga demi masa depan ku juga"
Jasmine menghampiri Eneng dan memeluknya. Jasmine pun membisikkan sesuatu untuk Eneng.
"Doamu sudah terkabul. Apa yang memang menjadi milik kamu. Pasti akan kembali kepadamu juga neng"
"Makasih non"
"Neng. Setidaknya kamu tengok rumah kamu dikampung. Sebagai tanda kamu menerima maaf dari Abah. Itulah pesan terakhir Abah"
"Iya kak. Nanti kalau ada waktu Eneng akan menengok bersama emak"
"Oya apa kabar emak dan adik kamu"
"Alhamdulillah makin subur"
"Dikampung belakang perumahan ini kak"
"Wah boleh dong kita mampir"
"Boleh. Nanti Eneng antar"
Arif dan istrinya tak lama bertamu. Setelah menemui emak dan Titi. Mereka berpamitan kembali ke kampung. Emak sama kagetnya mendapat kabar dari Arif. Dalam hatinya dia juga bahagia. Apa yang menjadi haknya kembali.
"Neng. Emak pengen balik ke kampung lagi saja"
"Emak yakin"
"Iya neng. Emak bisa berkebun disana"
"Ya sudah kalau itu mau emak. Nanti Eneng coba berbicara dengan Titi"
"Tapi rumah ini gimana. Gak enak sama tuan besar dan tuan Jay"
"Nanti Eneng yang bicara. Ya sudah. Eneng pulang dulu. Udah mau malam"
"Iya hati-hati neng"
Eneng pulang sendiri dengan berjalan kaki. Salah satu gang dikampung tersebut memang sedikit angker. Jarang ada yang berani lewat jika sendirian. Tapi tidak untuk Eneng.
Benar saja. Eneng baru akan sampai diujung gang, kakinya sudah ditahan oleh dua buah tangan tapi tanpa tubuh.
"Ya elah. Tangan kok celamitan"
Terdengar suara dari arah belakang eneng meminta tangannya dikembalikan.
"Kembalikan tangan saya. Kembalikan tangan saya"
"Ambil aja sendiri. Gue aja gak ambil tangan loe. Tangan loe aja kegatelan narik-narik Kalki gue"
Eneng berusaha mengibaskan kakinya. Namun tangan setan tersebut masih anteng dikakai eneng.
"Kembalikan tangan saya"
"Ambil sendiri"
"Gimana say aku ambil. Kan tangan saya buntung"
"Udah tau buntung, kenapa juga loe minta balikin"
"Ya tolong bawain sini. Pasangin"
"Heh setan, gue gak bawa lem buat pasangin tangan loe"
Eneng sedikit menunduk untuk mengambil tangan setan tersebut. Namun tak terduga bom asap keluar dari slebor Eneng.
Bruttttt breeeet broootttt
"Sialan loe kentutin gue. Baunya bikin mampus aja"
"Heh. Loe tuh udah mampus kali Tan. Kenapa loe geleng-geleng kepala. Mau jadi setan dugem loe"
"Gue gak kuat bau gas beracun loe tadi"
"Ya tutup aja hidung loe"
"Pakai apaan. Tangan gue buntung"
"Iya juga. Eh tapi loe kan bisa ngadep tembok terus pepetin hidung loe ditembok"
"Gak bisa nafas dong"
"Emang loe bisa nafas. Loe kan setan"
"Iya juga ya. Kenapa gue jadi oon sih"
"Dasar setan bloon"
"Udah sini balikin tangan gue"
"Gak ah"
Eneng yang kebetulan membawa tas kresek, langsung memasukan kedua tangan setan tersebut kedalamnya.
"Mau loe bawa kemana tangan gue"
"Buat umpan ikan. Lumayan kan tambah gizi"
"Ya jangan dong. Entar gue gak punya tangan"
"Lah emangnya dari tadi loe punya tangan. Lagian loe punya tangan gak ada guna. Clamitan"
"Iya iya gue minta maaf. Gak lagi gangguin loe. Sekarang balikin"
Eneng mengembalikkan satu tangan setan tersebut. Dan satu lagi masih dibawanya.
"Kok cuma saatu"
"Satu lagi buat jaminan"
"Jaminan apa"
"Kalau loe masih jahil, tangan ini jadi umpan ikan"
"Janji deh. Gue pergi sekarang juga dari sini"
"Beneran. Sekarang balikin"
Eneng mengembalikkan satu tangan lagi. Sambil melemparkan selembar uang berwarna ungu.
"Nih tangan loe. Sekalian loe ke toko besi beli lem"
"Kok ke toko besi"
"Ya kalau loe gamau. Dilem aja pake nasi. Dah sono minggat loe dari sini"
"Gini amat ya nasib gue jadi setan. Udah dikentutin disuruh lem tangan pake nasi pula"
_____'
Hai hai.....
Jangan lupa bahagia
Jempol digoyang yuk