
Minggu depan si kembar akan menjalani ujian kenaikan kelas. Dan setelahnya mereka akan libur selama dua Minggu. Usai pulang sekolah tadi, Thian ingin main kerumah sakit dimana sang papa bekerja.
"Bang. Nanti beliin es krim ya"
"Uang jajan loe habis dek"
"Kan udah gue tabungin bang"
"Tumben. Emang loe pengen beli apa kok pake nabung"
"Gue tabung dikantin sekolah maksudnya bang"
"Wow dasar tuyul. Kirain beneran ditabung"
"Hehe. Kan sama aja itu buat ngenyangin perut"
"Makan melulu"
"Kalau gak makan. Otak gak optimal bang. Beliin ya bang"
"Hmmmm. Nanti pulang dari rumah sakit aja"
"Okey. Lope u pull Abang"
"Hmmm"
Mereka sudah tiba di rumah sakit. Berjalan beriringan dengan santainya. Para perawat yang sudah mengenal si kembar, langsung menyapa mereka. Kali ini Thian ingin menjadi abangnya. Agar tidak mudah dikenali.
"Kembar. Mau ketemu papa ya"
Mereka berdua tersenyum saja dan berjalan menuju ruangan Airil. Dilorong mereka bertemu Gama. Yang baru saja keluar dari ruangan operasi.
"Uncle"
"Thian. Fathan. Nyusul papa"
"Iya"
Gama memperhatikan mereka sesaat untuk membedakan. Dan keduanya menampakkan sikap yang sama. Bahkan setiap ditanya menjawab secara bersamaan dengan nada yang sama.
"Hmm. Bentar mana Fathan ya"
"Aku om"
"Entahlah pusing. Sono uncle mau istirahat bentar"
"Bye bye uncle"
Si kembar masuk keruangan papanya yang berada didepan ruangan Gama. Dan kebetulan terbuka sedikit. Mereka melihat ada dokter wanita disana. Dan menatap papa mereka dengan penuh harap. Mereka sengaja berdiri didepan pintu dan menyilangkan kedua tangan di depan dada mendengarkan perkataan dokter wanita tersebut.
"Dok. Malam nanti bisa makan malam bersama tidak. Anggap ucapan terimakasih dari saya karena tadi sudah membantu saat operasi"
"Saya menolong. Karena itu tugas saya dok. Jadi dokter tak perlu sungkan"
"Kenapa dokter selalu menolak ajakan saya. Niat saya baik hanya ingin berterimakasih itu saja kok"
"Maaf dok. Tapi saya memang melakukan itu karena saya juga punya tanggung jawab terhadap pasien. Bukan semata-mata untuk membantu anda secara khusus"
Si kembar berjalan masuk dan menyapa papa mereka dengan gaya cool. Thian melirik sinis kepada dokter perempuan yang hendak menggoda papa mereka.
"Papa"
"Kalian sudah datang"
"Hemm"
Satu persatu menyalami Airil dan mencium telapak tangannya. Airil membalas dengan memberi ciuman pada puncak kepala kedua putranya.
"Mau makan sekarang"
"Belum begitu lapar"
Dokter perempuan dihadapan Airil langsung berubah sangat perduli pada si kembar. Bahkan terus saja tersenyum.
"Kalian mau makan siang bareng ya. Boleh Tante gabung. Kebetulan Tante juga lapar"
"Lapar mata"
"Maksudnya apa. Tante gak paham"
"Abang pengen makan gule mata kebo"
"Emang ada makanan seperti itu"
"Sepertinya ada. Iya kan pah"
"Hmm"
Fathan langsung merangkul pundak papanya dan mengajaknya keluar. Thian mengikuti dibelakang. Begitu juga dokter perempuan tadi.
"Pah. Kata orang rumput tetangga itu lebih hijau daripada rumput dirumah sendiri. Benarkah seperti itu pah"
"Mungkin. Papa belum pernah melihat dek"
"Memangnya kenapa dek"
Fathan ambil andil dalam percakapan tersebut. Tetap dengan nada dingin dan cueknya. Fathan sengaja menjauh dari dokter perempuan tadi. Agar tidak kelepasan.
"Gapapa bang. Penasaran aja. Kalau memang lebih hijau, Mira mau gue bawa ke kota buat habisin rumput tetangga"
"Ide bagus"
Dokter perempuan tadi hanya tersenyum kecut. Dia paham jika Thian sedang menyindirnya. Dokter itu melihat jika Fathan lebih tenang dibandingkan Thian. Dia bergeser mendekati Fathan.
"Hai. Tante masih bingung. Kamu yang namanya Thian apa Fathan ya"
Dokter perempuan itu dengan sengaja menepuk pundak Fathan. Thian dan Airil sama-sama kaget. Pertanda alarm bahaya akan segera datang.
"Kok diam saja. Gak usah malu. Tante kanjuga teman papa kamu"
Thian berbisik kepada Airil agar menjauhkan perempuan itu dari Fathan sebelum bahaya menyerang mereka.
"Pah. Buruan bawa Abang menjauh. Alarm bahaya ini pah"
"Beres itu pah"
Airil menarik lengan Fathan yang sudah menegang. Dan Thian sudah bersiap menghalangi dokter Sita mendekati Fathan dan Airil. Thian memberi kode kepada dua bodyguardnya.
"KunNo KunNo dimana. Gue butuh kalian. Datang seekor lalat. Hap langsung ditabok"
Dokter Sita yang tak paham apa yang sedang dinyanyikan oleh Thian, hanya bisa tertawa. Dia pikir Thian sedang bergurau dengannya.
"Kamu lucu sekali. Itu lagunya kenapa diganti"
"Gak diganti. Emang Thian kalau nyanyi gitu Tante. Apa ada yang salah"
"Setau Tante kan gak gitu"
Tiba-tiba ada hembusan angin datang. Sita merasa udara disekitar sedikit berbeda dari sebelumnya. Sita mencoba melihat kearah belakang. Namun hanya lorong kosong yang dilihatnya. Sedangkan duo KunNo baru saja datang.
"Apa sih bos. Gangguin kita lagi nongkrong enak"
"Ada lalat ijo"
"Wowwww. Bening banget bos yang ini. Boleh buat ono gak"
"Ambil sana"
Thian berjalan mendekati kembarannya. Sedangkan Ono terus saja meniup-niup tengkuk dokter Sita. Si Kun hanya mengawasi saja. Sesekali dia memberi hembusan angin kecil.
Thian bertanya kepada papanya tentang kondisi Fathan. Nampak wajah Fathan sudah menahan sesuatu.
"Keluarin aja bang. Toh gak ada suaranya. Gak akan ada yang tau ini"
"Bener kata adik kamu bang. Mumpung sepi. Kalaupun ada korban pingsan cuma satu orang"
"Yakin gapapa"
"Hmm. Yakin"
Setelah mendapatkan persetujuan dari papa dan adiknya, Fathan pun mantap mengeluarkan semua yang tertahan karena sentuhan tangan wanita selain keluarganya.
Bruttttt breeeet bushhh
"Ah leganya"
"Baunya bang. Gak kalah sama bang Al"
"Thian cepat kita menyingkir gas ini sangat beracun"
"Tapi pah. Kalau dokter itu pingsan gimana"
"Ya biarkan saja. Toh kita jauh jalannya. Dan sebelum dia mencium bau gas beracun Fathan, sebaiknya kita pergi"
"Siap bos"
Mereka bertiga bergegas pergi. Sedangkan KunNo masih manghalangi jalan dokter Sita. Sampai dia baru menyadari ada bau yang sangat menyengat.
"Bau busuk apa ini. Kenapa aku semakin merinding saja. Duh mana dokter Airil sudah gak kelihatan. Hmm bau banget"
Tersangka pemboman gas beracun, sudah sampai dikantin. Mereka tertawa lepas. Bahkan ketiganya menjadi pusat perhatian para perawat yang sedang berada di kantin.
"Hahaha. Kalian ya emang turunan mamah. Bisa aja melenyapkan pengganggu"
"Harus dong pah. Mama itu gak boleh disakiti"
"Betul kata Abang. Mama itu gak ada yang nyaingi"
Airil tersenyum melihat kedua putranya begitu menyayangi Eneng. Sama seperti dia. Airil tak pernah sedikitpun memberi ruang bagi para pelakor untuk mendekat.
Ternyata senyum memikat ketiga pria tadi mengundang perhatian beberapa perawat untuk mendekat. Dan perawat tersebut memang sudah menjadi asisten Airil selama ini.
"Wah pangeran dokter Airil datang"
"Kenalin dong dok"
"Iya Dok. Siapa tahu jodoh"
Airil langsung membantah keinginan mereka terhadap si kembar.
"Saya yang gak mau kalian jadi mantu saya. Umur kalian beda jauhhhh"
"Ya setidaknya dikenalin dong dok"
Lagi-lagi Fathan yang mereka sentuh. Thian langsung menjatuhkan sendok yang dipegangnya.
"Dahlah. Lepaskan bang. Biar mereka menjauh"
"Iya bang. Lepaskan. Loss aja bang"
Bushhh
Hanya beberapa detik, para perawat itu sudah bisa mencium dari senjata rahasia Fathan.
"Bau apa ini. Kok tiba-tiba bau banget"
"Hoo kayak bangkai"
"Dokter gak kebauan apa"
"Gak. Perasaan kalian saja"
"Masa sih. Huekkkk. Gue mau keluar bau banget ini"
Mereka akhirnya keluar. Airil dan Thian juga ikut menjauh. Sedangkan Fathan dengan santai menghabiskan makanannya.
"Emang Abang dan mama paling the best"
_______
Emak sama anak gak jauh beda....
Jangan lupa bahagia
Jempol digoyang yuk