Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Janda Bolong



"Non. Ayolah main ke taman komplek. Cari suasana lain"


"Tapi gue malu neng"


"Ngapain juga malu neng. Neng kan pake baju bukan telanjang"


"Neng ih"


"Ayolah. Eneng mau nonton cogan main basket"


"Loe tau dari mana neng, banyak yang main basket"


"Eneng kan pernah lewat sana. Huh banyak yang bening-bening banget non. Ngiler Eneng"


"Huh. Loe mah lihat sapi bule juga ngiler neng"


"Emang ada sapi bule non"


"Adalah. Masa loe gak tau"


"Beneran ada non"


"Iya ada. Besok gue lihatin gambarnya kalau gak percaya"


"Beneran ya non. Kalau bisa sih lihat langsung"


"Emang kalau udah lihat langsung mau loe apain neng tuh sapi"


"Mau neng kawinin sama sapi Eneng dikampung. Biar anaknya blesteran. Separo bule separo lokal. Keren kan"


"Terserah loe aja neng. Gue mah pasrah"


"Jadi gimana non. Mau kan ke taman komplek"


"Ya udah ayo. Tapi bentaran aja loh ya. Nanti dokter gue datang mau periksa"


"Asyiap"


Eneng mendorong kursi roda salsa keluar kamarnya. Diruang keluarga kedua orangtua salsa sedang bersantai. Semenjak salsa mulai pulih, mereka lebih banyak bekerja dari rumah.


"Sayang kamu mau kemana"


"Jalan-jalan sama Eneng ke taman komplek pap"


"Wah pasti seru sayang. Neng titip salsa ya. Jangan terlalu lama, Gama akan datang nanti"


"Siap tuan ganteng"


"Hahaha. Eneng kamu ya bisa disentil sama nyonya"


"Berani kamu godain suami saya. Saya sentil kamu neng"


"Ampun nyonya. Makanya suaminya jangan ganteng-ganteng dong. Eneng jadi oleng"


Sepasang suami istri itu tertawa lepas mendengar candaan Eneng. Sedangkan salsa hanya menepuk jidatnya saja. Eneng mendorong kursi roda salsa keluar dari rumah. Mereka menyusuri jalanan sore hari nan sejuk menuju taman komplek yang tak begitu jauh.


Taman yang sangat luas dengan beraneka macam permainan anak-anak juga terdapat di sana. Para penjual jajanan juga berjajar disana. Para pengasuh anak dan juga remaja putri ikut berbaur. Apalagi ada pemandangan yang indah dilapangan basket.


"Wuih non udah rame aja"


"Iya neng. Sekarang tambah banyak yang jualan neng. Dulu belum seramai ini neng"


Mereka berjalan mencari tempat untuk duduk. Eneng melihat ada kursi kosong didekat ayunan anak-anak.


"Kita duduk disini saja ya non"


"Iya neng"


Eneng membantu salsa turun dari kursi rodanya. Perlahan Eneng memapah salsa duduk di kursi taman. Wajah salsa nampak sumringah melihat disekitar taman. Suasana yang sudah lama tidak dia rasakan.


Beberapa pengasuh anak juga duduk didekat mereka. Jika sudah berkumpul seperti itu mereka akan sibuk dengan bergosip. Eneng yang masih sibuk mengamati para cowok tampan bermain basket dan salsa yang sedang melihat anak-anak kecil bermain didekatnya, juga mencuri dengar apa yang mereka gosipkan.


"Eh kalian tau gak gaesss majikan gue habis beli janda bolong sampai lima biji. Mana gede-gede lagi"


"Wah pasti mahal banget tuh. Kalau majikan aku kemarin beli janda bolong satu masih kecil, terus pas mau dikasih pupuk gak taunya dimainin sama cucunya bolongnya ilang dirobek-robek. Nangis majikan gue"


"Duh pasti sedih banget itu. Kecil pun harganya mehong banget gaesss"


"Betul bisa seharga motor loh tuh janda bolong"


"Kalau gue mah daripada buat si janda bolong, mendingan berlian ya nggak gaes"


"Iya lebih bersinar"


Eneng melihat kearah salsa. Salsa pun juga begitu. Tatapan mereka saling menyiratkan rasa kebingungan yang dalam.


"Loe paham neng maksud mereka"


"Nggak non. Emang non paham"


"Gue sih pernah dengar beritanya ditelevisi. Tapi gue lupa kayak apa bentuknya"


"Iya neng. Emang lagi viral harganya mahal banget"


"Cuma janda bolong aja mahal non"


"Iya neng. Gue aja awalnya gak percaya. Bahkan jadi incaran maling loh neng"


"Gila tuh janda bolong sehebat apasih non. Eneng penasaran"


"Nanti coba dirumah kita lihat mami punya gak si janda bolong"


"Nyonya juga ada janda bolong non. Kasian banget tuan"


"Gak tau juga. Gue belum pernah lihat. Papi mah gak masalah asal mami bahagia"


"Daebak bener tuan. Eneng mau daftar kalau gitu"


"Daftar apa neng"


"Itu daftar janda bolong"


"Ouh. Ya udah nanti kita cek ditaman"


"Yang masih segalan aja banyak kok nyarinya yang bolong to non"


"Karena yang lagi tren yang bolong neng. Yang mulus mah biasa"


"Kiamat sudah dunia persegelan kalau kayak gini. Pamor kalah sama janda bolong. Oh janda udah bolong aja masih laku. Gimana sama gue coba"


Dari pinggir lapangan basket segerombol anak muda sedang menatap kearah salsa dan Eneng.


"Bukannya itu salsa"


"Iya bener dia salsa. Katanya dia diluar negeri. Kapan balik"


"Biarkan saja. Yuk balik"


"Eh tunggu deh coba kalian lihat. Salsa gak bisa jalan gaes. Tuh dia dipapah pindah ke kursi roda"


"Oiya. Apa jangan-jangan selama ini dia gak pernah ke luar negeri. Mungkin malu karena kondisinya"


"Bisa jadi. Ji loe gak nyoba nyamperin dia"


"Buat apa"


"Gak usah muna loe Ji. Tiga tahun loe gak bisa lupa sama salsa kan. Loe bisa tanya penyebab dia mutusin loe Ji"


Seorang pemuda yang terus menatap salsa penuh kerinduan dari jarak yang cukup jauh, ingin rasanya dia berlari dan memeluk salsa. Namun rasa sakit ditinggal salsa tanpa sebab masih membayanginnya.


Enwng mendorong kursi roda salsa dengan perlahan. Dan pemuda itu juga mengikuti dari belakang. Samar dia mendengar percakapan salsa dan Eneng.


"Non. Kelihatan bahagia banget sih hari ini"


"Makasih ya neng. Berkat loe, gue bisa menerima kondisi gue yang sekarang. Tiga tahun lamanya gue hanya bisa terbaring tanpa bisa menerima kondisi gue"


"Memangnya non ketabrak apa sih kok bisa kayak gini"


"Mobil neng. Gue ditabrak lari oleh seseorang. Dan orang itu masih kerabat jauh gue neng. Dia memang iri sama gue selama ini. Padahal gue sayang sama dia neng"


"Kok jahat banget sih non"


"Mungkin karena gue yang terlalu bodoh neng. Apapun yang dia minta selalu gue kabulkan. Termasuk pacar gue neng"


"Maksud non salsa"


"Tiga tahun lalu gue masih punya pacar neng. Dan sepupu gue juga suka sama dia. Dia ngancam mau bunuh diri kalau gue gak lepas cowok gue buat dia. Karena gue sayang dia, gue putusin pacar gue tanpa alasan. Bahkan gue berbohong akan sekolah diluar negeri. Bahkan dia gak tau tentang kecelakaan gue"


"Ah non. Baik banget jadi orang. Kalau Eneng mah biarin aja dia bunuh diri. Wong dia yang mau kok bukan disuruh non. Dasarnya gak laku aja. Jadinya rebut punya orang. Terus cowok non mau sama dia"


"Selang satu bulan setelah putus dan sebelum kecelakaan, dia bilang akan tunangan sama mantan pacar gue neng. Dan minta gue gak usah datang. Dan gue kembali nurut"


"Ih non gitu banget ih. Kayak apa sih orangnya. Mantan pacarnya non juga bego. Gak cari dulu masalahnya apa. Ih gemes. Pengen eneng cubit otongnya tuh mantan non"


"Sudahlah neng. Mungkin bukan jodoh. Walaupun gue sayang sama dia sampai sekarang pun sama"


"Masih banyak cowok lain non. Nanti juga ketemu"


"Kamu bener neng"


"Lep mas bi go on non"


"Ancur deh dunia kalau dengar bahasanya neng"


_______


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempolnya digoyang yuk


Happy reading