Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Istana Para Dewa



Dalam perjalan dari yayasan menuju rumah baru majikannya, Eneng tak henti-hentinya mengagumi ketampanan sang calon majikan. Namun dia masih harus menjaga sikap dahulu sampai benar-benar tahu seperti apa tuannya yang baru.


"Duh gusti. Kalau tiap hari dari buka mata sampai merem lagi disuguhi yang kayak gini, bisa-bisa Eneng kena serangan jantung melulu. Senyummu bos bikin Eneng kejang-kejang. Boleh meluk gak sih"


Eneng hanya bisa mengucapkan itu didalam hatinya saja. Dia masih belum berani berekspresi seperti normalnya dia setiap hari.


"Kita sudah sampai neng. Ini rumah keluarga saya. Ayo turun saya kenalkan dengan keluarga saya"


"Baik pak"


Itu yang keluar di mulut Eneng gaes. Tapi yang bersuara dari hatinya berbeda sekali.


"Iya sayang"


Begitulah kata hati Eneng. Kali ini Eneng benar-benar akan pingsan saat berdiri dihadapan sebuah rumah megah bak istana. Bahkan sang sopir majikan sampai membantunya berdiri tegak.


"Ya Allah ini istana gede bener. Berasa jadi ratu gue masuk sini"


Eneng berjalan mengikuti langkah kaki dari sang majikan baru. Ingat ya ini Eneng bukan pembantu biasa. Dibelakang punggung sang majikan imajinasinya sudah terbang ke awan.


"Punggungnya lebar banget. Enak kali kalau dipeluk dari belakang. Udah tinggi ganteng. Kurang apa coba"


Untung Eneng gak nunduk jadi saat sang majikan berhenti, dia gak nabrak tuh punggung. Tapi itu membuat Eneng menyesal dalam hati.


"Ya elah tadi gue nunduk aja yah biar bisa merasakan punggung lebarnya. Biar kayak dipilem-pilem gitu"


"Neng ini kenalkan keluarga saya. Yang cantik ini ratu dirumah ini. Mama saya Melany namanya"


"Salam kenal nak. Siapa nama kamu"


"Eneng nyonya Melany"


"Dan yang tercantik dihidup dan hati saya setelah mama saya. Ratu hati saya. Jasmine"


"Hai. Saya Jasmine istri pak Jay. Sudah tau kan nama suami saya"


"Belum nyoya Jasmine. Tadi belum kenalan sama Tuan"


"Daddy kebiasaan. Selalu seperti itu. Maafkan suami saya ya. Namanya Zaydan Malik. Panggil saja pak Jay"


"Baik nyonya"


Datang seorang lagi dari arah belakang Eneng. Dan membuat Eneng benar-benar kejang. Bahkan kali ini Eneng benar-benar pingsan karena melihat seulas senyuman ya.


"Ehem. Ada penghuni baru ya sepertinya"


Eneng ikut menengok seperti Jay. Dan Jay menyapa orang tersebut.


"Nah kalau yang ini papa saya. Namanya Arka"


"Hallo. Kamu calon pengasuh cucu saya ya. Siapa nama kamu nak. Sepertinya masih muda Jay"


"Iya pah usianya masih Dua puluh tahun"


Brugh..


"Loh kok pingsan. Papa apain sih"


"Loh kok papa. Papa dari tadi diam disini sama kamu loh"


"Daddy angkat aja taruh disofa dulu. Apa dia belum makan dad"


"Gak tau juga mom. Coba Daddy telpon yayasan. Jika terjadi kesalahan dari yayasan, Daddy akan menuntut yayasan itu"


"Iya benar kamu Jay. Jangan sampai ada lagi kasus penyiksaan manusia hanya demi keuntungan semata"


Jay langsung menghubungi nomor telepon yayasan tempat neng berasal dari telpon rumahnya. Dan menanyakan tentang kondisi Eneng sebelum berangkat. Setelah mendapat jawaban yang meyakinkan akhirnya Jay percaya.


"Kata pemilik yayasan dia sehat kok mom. Dan tadi sudah makan sebelum berangkat kesini"


"Lah terus kenapa bisa pingsan sih"


"Sebaiknya kita tunggu sadar saja Jas. Biar bisa tau dia kenapa"


"Iya mah"


Jasmine mengolesi minyak kayu putih disekitar hidung eneng. Tak lama ada pergerakan dari Eneng. Saat Eneng perlahan membuka mata. Dia kembali pingsan setelah Arka dan Jay bertanya bersamaan dengan sedikit senyuman.


"Kamu gapapa"


"Loh kok pingsan lagi sih. Daddy kita panggil dokter saja kalau kayak gini"


"Iya kok aneh. Padahal Daddy sama papa cuma nanya aja loh"


"Benar-benar aneh. Gak mungkin dia kesurupan kan Jay"


"Ya nggaklah pah. Gak ada setan mau masuk rumah ini"


"Iyalah. Takut sama kamu Jay"


"Berisik pah. Panggilin dokter kek malah ribut sendiri"


"Dasar anak sontoloyo"


Arka langsung menghubungi dokter pribadi mereka agar segera datang kerumah. Dan satu lagi kesalahan Arka, dokter mereka juga tampan. Mustahil Eneng cepat sadar.


"Bentar lagi dokter Ali sampai"


"Sementara tetap dikasih bau minyak angin aja dulu. Merangsang biar cepat sadar"


"Papa masih sore mesum aja otaknya"


"Apanya yang mesum si Jay"


"Lah tadi bilang merangsang"


"Kamu aja yang mikirnya kejauhan"


"Sudah anak sama bapak kayak tikus sama kucing"


"Eh malah ngatain papa tikus kamu Jay"


"Siapa yang bilang. Jay gak bilang papa tikus kok"


"Stop. Kalau masih ribut, Daddy kembar tidur diruang tengah saja nanti"


"Yah sayang kok gitu"


"Bagus jas. Papa suka gaya kamu"


"Papa juga malam ini nemenin Jay saja tidur diruang tengah"


"Yah mama kok gitu sih"


"Biar impas"


Mereka duduk sambil terus berusaha mbuat Eneng. Tak lama dokter Ali masuk diantar penjaga depan.


"Sudah lama pingsannya om"


"Belum Al. Tadi sempat pingsan baru sadar bentar pingsan lagi"


"Apa ada yang membuatnya terkejut kok bisa pingsan lagi om"


"Gak ada Al. Kan kita dari tadi jagain dia dengan baik"


"Kok aneh ya"


"Kenapa Al"


"Dia sehat kok om. Tapi penasaran aja apa yang membuatnya pingsan"


Jay mendapat pesan singkat diponselnya dari ibu pemilik yayasan. Setelah membaca pesan tersebut, Jay sedikit berteriak kaget.


"Gila"


"Kenapa mas kok teriak"


"Iya kamu kenapa sih Jay bikin kaget saja"


"Coba kalian baca pesan dari ibu panti ini deh"


Mereka membaca pesan tersebut termasuk dokter Ali. Dokter Ali langsung tertawa. Mengintai baru ada penyakit unik seperti ini.


"Om Ali punya ide biar mbaknya ini cepat sadar"


"Apa Al"


"Perasaan gue gak enak sama ide loe Li"


"Suudzon aja loe Jay"


Dokter Ali membisikkan idenya. Mereka sempat menolak apalagi Jay paling tidak setuju. Tapi demi membuktikan perkataan dokter Ali, mereka pun mulai. Setelah siap dengan apa yang mereka rencanakan, mereka duduk didekat Eneng mencoba menyadarkannya.


"Emmmmph"


Perlahan mata Eneng terbuka. Melihat Jasmine dan Melany dia langsung tersenyum. Eneng melihat ke kursi lain. Ada tiga orang menggunakan topeng dengan bentuk berbeda.


"Maaf nyah sejak kapan ada pesta topeng monyet"


"Mana topeng monyetnya neng"


"Itu yang duduk di tengah"


"Haha kamu neng tau aja"


"Mereka siapa nyah"


"Nanti kalau mereka buka topengnya, kamu janji gak pingsan lagi neng"


"Insyaallah nyah"


"Kalian bertiga sudah siap buka topeng"


Mereka kompak menganggukkan kepalanya. Eneng yang tadinya rebahan, perlahan duduk bersandar. Mereka sama-sama menanti detik-detik topeng dibuka.


"Neng kamu tarik nafas dulu. Biar relaks"


"Ya nyah"


Perlahan Eneng menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Ingat kamu harus kuat gak boleh pingsan lagi ya"


"Baik nyah"


1


2


3


"Buka topengnya"


Satu persatu topeng dibuka. Awalnya Eneng baik-baik saja. Namun karena Arka dan Ali yang sedikit senang eneng sadar, mereka tersenyum menatap eneng. Eneng pun pingsan lagi.


"Loh kok pingsan lagi sih"


_____________


Ini Uda mulai ketemu keluarga somplak ya gaess.. Disini fokus cerita Eneng jadi gak ada cerita romantis duo J dan emak bapaknya ya..


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk