Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Ulah Kendil Jennar part 2



...Haduh gaesss..Maaf ya kemarin eneng itu dijemput sama Akang Xu kai. Kelupaan pulang. Emaknya lagi sibuk ngurusin misua lagi sakit gaess. Tapi hari ini eneng sudah diantar pulang sama Akang Xu kai...Maaf yaaa🤣🤣🤣🤣🤣...


________________________________________________


"Kolor ijo kurang gizi"


"Oh my Gosh. Doggy mana doggy ada santapan lezat"


"Kuyang itu mah neng"


Orang yang mereka ributkan berjalan mendekati kearah kendil jennar yang masih minta dimanjakan oleh Airil. Mang Kodir langsung menyilangkan kedua tangannya didepan dada berlapis jaket kulit murni.


"Ehem. Eneng lupa sama suami"


"Situ siapa ya. Saya gak kenal"


"Ooo. Isomnia to. Gapapa lupa ingatan gapapa. Awas aja kalau minta digoyang"


"Cuih emang goyangan situ yahut"


"Ya ya ya. Lagi kena isomnia jadi suami dilupain. Gapapa. Emang situ doang. Gue juga bisa nyari yang seger"


Mang Kodir berjalan keluar rumah Eneng dengan kesalnya. Dibelakang mereka, Panji dan salsa berbisik kebingungan.


"Beib. Aku gak salah dengar kan. Tadi bilang isomnia hilang ingatan"


"Iya beib. Aku juga bingung. Apa kamus bahasa Inggris sudah mengalami perubahan"


"Gak tau juga. Dahlah bisa gila lama-lama ngikuti gaya mereka beib"


"Hahaha bener beib"


Kendil jennar tidak memperdulikan kepergian sang suami. Yang sebenarnya hanya duduk dibawah pohon nangka didepan rumah Eneng. Miris banget yak.


Didalam rumah Eneng, Airil masih ditawan. Kendil Jennar meminta diperiksa seluruh badannya.


"Akang ayo periksa badan dedek. Satit cemua"


Nada manja yang digunakan oleh kendil jennar membuat Titi dan emaknya kesal.


"Dedek atit. Dedek atit. Atit jiwa"


"Eh juminten iri loe"


"Makm Udah sana pulang, kasian si mamang nungguin dibawah pohon noh"


"Sudah dibilang saya masih ting ting dijamin masih ting"


Emak berdiri sambil berjoged dengan lagu itu. Eh awas ada ya g ngikut nyanyi ya. Emak masih saja menggenggam erat tangan Airil. Airil memberikan tanda kepada Panji untuk meminta tolong, tapi Panji pura-pura tidak melihat.


"Akang apa perlu adek buka baju semua, biar akang gampang periksa badan adek"


Gubrak


Eneng kejengkang dari atas kursi. Kaget mendengar perkataan kendil jennar. Airil langsung melotot kaget. Yang lain pun sama. Eneng tanpa sabar langsung mendekati kearah kendil jennar.


"Mak ngapain buka baju segala"


"Kan biar gampang diperiksanya Eneng. Gimana toh kamu"


"Ya gak usah dibuka juga bajunya Mak. Yang ada akang Airil pingsan lihat bentukannya yang udah gelabtungan kemana-mana"


"Eh enak aja kamu ngomong neng. Punya emak masih kenceng ya masih rapet"


"Heleh udah dijebolin mang Kodir apanya yang rapet Mak"


"Siapa Kodir. Kampungan banget namanya. Gak kenal saya gak kenal"


Dari bawah pohon nan gelap gulita. Mang Kodir berteriak menjawab.


"Aku rapopo. Aku rapopo"


Airil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia bingung bagaimana menyelesaikan drama ini. Tak lama datang dua orang ibu lainnya membawa anak gadis mereka. Bahkan anak mereka umurnya masih sangat muda.


"Assalamualaikum neng"


"Waalaikumsalam. Eh Mpok mumun. Ada apa Mpok"


"Anu neng, Mpok mau ngasih makanan buat pak dokter"


"Oh. Sini kasih ke Eneng aja. Biar Eneng kasih ke akang"


"Gak bisa neng"


"Lah kenapa gak bisa"


"Gue mau langsung ngasih ke pak dokter. Sekalian Astri mau kenalan"


"Astri siapa Mpok. Kok Eneng baru dengar nama itu"


"Halah masa lupa. Sama nama anak Mpok neng"


"Ya elah Mpok mpok Lastri aja dipanggil Astri. Biar apa coba"


"Hush kamu diam saja neng. Gak usah ikut campur"


Mpok mumun langsung menerobos masuk dengan menggandeng tangan anak perempuannya Lastri. Panji yang masih berdiri disana juga tak luput dari tatapan Mpok mumun.


"Malam pak dokter"


"Ini loh pak. Saya bawakan pesmol ikan. Enak pokoknya"


"Terimakasih bu. Kenapa harus repot-repot"


"Gak repot kok. Apalagi buat calon mantu"


"Hah"


"Hehe iya. Ini Astri anak saya. Siapa tau pak dokter belum punya calon. Astri siap mendampingi"


Emak Ijah langsung mengeluarkan taringnya. Merasa daerah teritorial miliknya dimasuki oleh musuh.


"Nama anak loe itu Lastri. Sulastri sok Astri segala. Ngapain bawa-bawa makanan kayak gini. Buat apa. Loe kasih pelet kan dalamnya"


"Enggak ya. Mak. Itu gak ada peletnya kok. Tapi ikannya waktu hidup makan pelet"


"Nah tuh ngaku kan loe. Main orang pintar. Dosa loe Mun dosa"


"Mumun gak main orang pinter Mak. Tapi ikannya yang makan pelet. Ikannya kali yang nyari dukun"


"Sama aja. Siniin tantangnya neng. Mau main curang dia"


Eneng mengambil rantang yang dipegang Airil dan memberikannya kepada Mak Ijah. Tanpa sadar Mak Ijah melepaskan tangannya yang menggenggam erat tangan Airil. Kesempatan itu digunakan oleh Eneng membawa pergi dokter Airil.


Emak Ijah masih beradu mulut dengan Mpok mumun. Yang lain hanya duduk santai menonton seperti saran emaknya Eneng. Hingga suara mang Kodir menyadarkan dan melerai pertengkaran itu.


"Yuhu jeneper lopesnya akang. Udah mau jam dua belas. Ayo pulang sebelum berubah wujud kamu"


Emak Ijah melihat kearah jam dinding dirumah Eneng. Dia langsung kelabakan melihat sepuluh menit lagi jam menunjukkan tengah malam. Tanpa pamit dia berlari dengan membawa rantang Mpok mumun dan menggandeng tangan mang Kodir untuk pulang.


"Ayo akang buruan jalannya. Jamnya keburu habis"


"Makanya besok lagi inget waktu"


Mereka beradu mulut sepanjang jalan. Eneng dan Airil yang melihat emak Ijah pulang dengan mudah hanya karena takut jam dua belas malam langsung saling pandang.


"Cindilrella"


Itulah keributan selama dua malam. Pagi ini mereka akan kembali ke ibukota. Agar tidak diketahui oleh kendil jennar, mereka sepakat untuk ke rumah japri sebelum adzan subuh menjelang. Dan mereka akan berangkat dari sana. Agar bisa mencari jalan lain tanpa melewati rumah Mak Ijah.


"Kalian sudah siap"


"Sudah Mak"


"Aduh jangan Mak dong akang. Masa sama calon istri panggilnya emak"


"Emak stop. Besok Eneng cariin calon bapak yang pas baut emak"


"Boleh gak sih, akang gak usah ikut pulang. Disini saja nemenin Titi sama ayang embeb"


"Aish bakalan lama ini keburu kendil jennar kesini. Yuk jalan aja gak usah tanggepin emak Eneng"


Mereka langsung berpamitan. Emak dan Titi bertugas mengawasi rumah Mak Ijah. Eneng dan lainnya langsung berlari secepat mungkin agar tidak ketahuan Mak Ijah. Japri juga sudah menunggu kedatangan mereka diteras.


"Buruan masuk dulu. Setelah sholat baru kalian pergi"


"Iya"


Mereka langsung masuk kedalam rumah japri dan japri menutup rapat pintu rumahnya. Mereka menunggu waktu subuh. Setelah melakukan sholat subuh dan sarapan dari bekal emak Eneng, mereka bersiap berangkat. Airil sempat memanaskan mobil salsa. Japri mengantar mereka hingga teras.


"Ingat neng janji kamu. Kalau rumah yang aku bangun buat kamu selesai, kamu harus siap untuk kita nikah"


"Iya jap. Aku ingat janji aku. Jaga diri baik-baik. Aku titip emak dan adekku jap. Salam buat ayah"


"Iya neng. Merekalah selalu aku jaga. Kamu jaga kesehatan. Jangan lupa nelpon aku neng. Biarpun jelek aku calon suami kamu neng. Aku sayang sama kamu neng"


"Iya jap. Nanti kalau sampai sana Eneng telpon. Eneng berangkat dulu ya jap. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam neng. Kalian hati-hati dijalan ya. Kapan-kapan main kesini lagi ya"


"Yoi bro. Makasih ya udah jamu kita dengan baik. Santai saja Eneng aman sama kita"


"Iya. Makasih ya"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Japri masih setia berdiri melambaikan tangan kearah mobil yang dinaiki Eneng. Entah semenjak kapan rasa sayang itu tumbuh. Saat japri akan masuk, dia kaget mendengar suara rem mobil.


"Kenapa mobil non salsa berhenti"


Japri berlari kearah mobil itu, takut jika terjadi sesuatu. Walaupun tidak mungkin ada jegal dikampungnya. Setelah japri berhasil mendekat kearah mobil salsa, dia juga sama terkejutnya dengan para penumpang didalam mobil itu. Seseorang sudah menangis ditengah jalan sambil kakinya selenjoran.


"Huahhhhhh jangan tinggalkan adek akang. Adek hamil akang. Kasian anak kita kalau akang pergi. Huaaahhhh. Bawa adek bersamamu akang"


"Huh. Capek deh"


_________


Eneng balik nih. Gak tau besok kalau dijemput ayang YangYang lagi.. Hahaha.


Jempolnya digoyang yuk


Jangan lupa bahagia gaesss