
"Abang sengaja nyuruh kalian ke kantor karena ada yang mampu Abang omongin penting"
"Apaan bang"
"Ada yang nawarin kalian jadi bintang iklan. Kalian mau gak"
"Gak"
Keempatnya kompak menolak. Almeer pun terkejut dengan penolakan keempatnya tanpa berfikir terlebih dahulu.
"Kompak amat gaess"
Tak ada jawaban dari keempatnya. Almeer sedang memikirkan cara agar keempatnya mau menjadi bintang iklan. Karena bagi Almeer ini adalah kesempatan emas.
"Ayolah gaess. Duitnya gede loh. Masa gak pengen. Mayan buat uang saku ke Korea gaess"
Almeer masih diacuhkan oleh keempat bocah onar. Almeer mencoba mencari cara lain agar empat anak itu mau menuruti permintaan Almeer.
"Ya sudah kalau gak mau. Padahal ini kesempatan langka loh. Beneran ya ini gak mau"
Keempatnya bocah itu tak menjawab dan langsung berdiri dari sofa hendak meninggalkan ruangan Almeer. Almeer mulai panik. Almeer bisa saja mengancam mereka atau memutuskan kontrak. Namun itu akan membuat keempatnya bahagia. Karena terbebas dari jeratan Almeer adalah keinginan keempatnya.
"Woy mau kemana kalian"
Mereka masih tak menjawab Almeer berjalan menuju ke arah lift. Dilorong mere berpapasan dengan Arash dan Jay. Setelah saling berjabat tangan dan mencium tangan, mereka kembali berjalan. Melihat Almeer mengejar keempat biang onar itu, Arash menjadi penasaran dan mencekal lengan Almeer agar berhenti.
"Ada apa bang"
"Mau ngejar anak curut tuh yah"
"Bikin ulah lagi"
"Belum. Almeer ada tawaran buat mereka jadi bintang iklan. Mereka langsung nolak. Ini Almeer mau bujukin yah"
"Mayan tuh duitnya bang"
"Makanya itu yah. Sayangkan. Dahlah Al kejar anak-anak curut dulu"
Almeer kembali berlari mengejar adik-adik kesayangannya. Jay yang berdiri diam saja die
dekat Arash, langsung menjitak kepala sang putra.
"Aduh Daddy sakit"
"Kamu makin tua malah makin jadi. Kurang duit kamu. Sampai maksa mereka kerja"
"Namanya usaha dad"
"Awas ya kalau Daddy dengar cucu Daddy sampai tertekan karena ulah kalian yang terlalu memaksa"
"Gak akan dad. Mereka itu memang begitu. Kami masih tau batasan aman dad"
"Baguslah kalau gitu"
Jay dan Arash kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Arash. Sedangkan Almeer masih mengejar keempat anak emasnya itu.
"Ayolah gaess. Coba hal baru gitu. Biar gak bosan gitu"
"Gak"
"Kenapa sih. Takut amat"
"Gak mau"
"Ayolah. Bantu Abang kenapa"
"Ogah"
"Jangan keras kepala gitu dong gaess. Biar sama enaknya"
"Kepala emang keras bang. Kalau lembek kue"
"Iya iya. Ayo dong gaes. Plisss"
Mereka saling menatap dan tetap menjauh. Mereka pergi ke kafe es cream tak jauh dari kantor Arash. Almeer terus mengikuti keempatnya. Almeer menemani mereka menikmati es cream disiang yang panas. Hinga sebuah tragedi pun terjadi.
"Assalamualaikum. Wah gak nyangka bisa bertemu pak Almeer disini"
Seorang perempuan cantik datang mendekati meja mereka. Dia adalah teman satu profesi Almeer. Seorang dosen muda.
"Waalaikumsalam. Bu Intan"
"Wah sepertinya sedang bersama keponakannya ya pak Al"
"Mereka adik-adik saya Bu"
"Wah. Pantes tampan semua. Hai kenalkan nama kakak Intan. Teman satu kampus Abang kalian"
Intan mengulurkan tangan. Namun keempat bocah itu tidak menyambutnya. Mereka hanya menyangkutkan kedua tangan didepan dada masing-masing. Intan tersenyum canggung.
"Siapa nama kalian. Eh kalian kembar semua ya"
Tak ada suara hanya anggukan dari keempat bocah itu. Mereka asyik memakan es cream dan bermain ponsel. Almeer menyebutkan nama adik-adiknya.
"Dua depan ini Ammar dan Ashraf. Yang dua disamping mereka Fathan dan Fathian"
Tangan Intan mulai tak bersahabat. Dia meletakkan tangannya dipundak Almeer dan satu lagi dipundak Fathan. Almeer dan Fathan sontak melotot. Tiga bocah lainnya dalam mode waspada. Thian langsung menyingkirkan tangan Intan dari pundak kedua abangnya.
"Maaf tante. Bukan muhrim"
Intan kaget mendengar Thian memanggilnya dengan sebutan Tante. Demi keamanan dan kenyamanan dalam kafe, Dean bersaudara dan Thian membawa pergi Almeer dan Fathan.
"Buruan gaess. Cari tempat aman"
"Iya benar. Sebelum semuanya hancur"
Mereka membawa kedua orang itu ke taman belakang perusahaan Arash yang memiliki taman kecil.
"Ayo berlindung"
Ketiga bocah onar sedang mencari perlindungan. Sedangkan Almeer dan Fathan sedang mengeluarkan reaksi saat tersentuh wanita.
Brotttt bruttttt breeeet bushhh brotttt bruttttt breeeet
"Hahhhh. Lega gue than"
"Gue juga bang"
Brugh
Terdengar suara benda jatuh dari arah belakang mereka. Almeer dan Fathan menoleh. Betapa terkejutnya Almeer dan Fathan, dua orang pegawai kebersihan perusahaannya pingsan dibelakang mereka.
"Aduh gawat bang. Ada korban"
"Gue yang lebih gawat than. Kalau sampai mereka tahu, kalau gara-gara bom Hiroshima gue dan loe mereka pingsan. Mau taruh mana muka gue than"
"Dikresekin bang"
"Kampret emang loe. Ayo bantuin mereka"
Almeer tak lupa memanggil tiga bocah lainnya untuk membantu. Mereka sedang mencari alibi yang bagus agar tidak ketahuan jika mereka penyebab pingsan dua orang itu.
Almeer membawa keduanya keruang kesehatan untuk mendapatkan penanganan. Saat melewati lobby banyak mata tertuju pada Almeer yang mengangkat tubuh pegawai kebersihan dikantor miliknya. Tak terkecuali Arash dan Jay yang sedang berjalan keluar. Jay dan Arash mengikuti Almeer.
"Mereka kenapa bang"
"Pingsan ditaman dad"
"Kok bisa. Cepat periksa mereka dengan benar"
Arash dan Jay mulai panik. Karena baru kali ini ada pegawai mereka pingsan saat bekerja. Jika mereka melewatkan makan siang itu tidak mungkin. Dari sejak Jay membangun perusahaan ini, dia selalu meminta karyawannya untuk beristirahat dijam yang sama bahkan mendapat makan siang dari perusahaan.
Bagaimana dok. Apa merka baik-baik saja"
"Menurut pemeriksaan saya pak. Mereka pingsan bukan karena lapar"
"Apa mereka kelelahan"
"Bisa jadi"
Jay menatap Arash dan Almeer. Meminta penjelasan. Mengapa pegawai mereka bisa kelelahan seperti itu. Apa mereka menerapkan sistem lembur.
"Arash tidak merubah peraturan dad. Masih sama. Jam dan porsi kerja mereka"
"Lalu mengapa mereka bisa seperti ini"
Almeer menarik lengan Daddy dan opanya. Dia perlu meluruskan agar semua jelas. Dan tidak saling menyalahkan nantinya. Almeer membawa keduanya kesebuah ruangan dan keempat bocah onar menjaga dari luar.
"Mereka pingsan karena Abang dan Thian yah, opa"
"Kok bisa bang. Apa yang Abang lakukan"
Almeer menceritakan semuanya. Dari sela dikafe hingga kejadian bom Nagasaki dan Hiroshima keluar. Jay dan Arash langsung tepuk jidat.
"Duh Gusti. Ini bisa lama sadarnya"
"Benar kamu bilang rash. Satu bom Nagasaki saja sudah membuat lalat mati. Ini gabungan Hiroshima dan Nagasaki. Mungkin bukan hanya dua pegawai kita saja yang pingsan, tapi makhluk ditaman pun pasti akan mengalami hal yang sama"
"Huhhhh. Sekarang kita cari cara agar kedua pegawai itu tidak tahu jika tersangka utamanya adalah pimpinan mereka sendiri"
"Opa berharap mereka amnesia atau malah tak mengenali kamu Al. Bisa hancur reputasi keluarga Malik"
"Ayah cuma takut. Kalau ada yang tahu DNA keluarlah berita. Aku pingsan karena gas beracun bos ku. Gak lucu kan"
"Gimana mau nikah ini mah. Baru disentuh udah ngebom. Gimana kalau dipeluk Istri"
"Kejang kali dad...Hahaha"
Almeer hanya cemberut mendapat godaan dari ayah dan opanya.
_______
Duo bom beracun... Ganteng-ganteng tukang ngebom...
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk