Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Katakan Cinta...



"Wah baru satu Minggu kita gak ketemu gaess. Udah beda aja kalian"


"Biasa aja"


"Hadeh plis deh. Yang lagi tenar jadi bintang iklan"


"Gak. Biasa aja"


Fathan dan Thian kembali masuk sekolah. Sedangkan Dean bersaudara dan juga tema seangkatan mereka sedang rehat menunggu hasil akhir nilai ujian mereka. Fathan dan Thian disambut dengan banyaknya pujian dari para wanita.


"Bro. Gimana caranya jadi model. Ajak-ajak kitalah. Biar kecipratan recehannya gitu"


"Muka loe gak menjual"


"Nyebelin emang loe Thian"


Mereka sudah menjalani pelajaran seperti biasanya. Karena sudah tidak ada duo Dean dan kedua sahabatnya, duo F mulai jarang pergi ke kantin. Mereka lebih sering menghabiskan waktu ditaman atau kelas. Mereka memilih ditaman. Fathan membaca buku dan Thian bermain game. Tak lupa duo KunNo yang setia menjaga keduanya.


"Bos. Banyak cewek cantik tuh lihatin"


"Ambil buat loe"


"Ah. Coba gue masih bernyawa. Udah gue libas habis"


"Alah kaya loe cakep aja no"


"Emang cakep kali Kun"


Fathan berdehem agar duo bodyguard ekslusif meereka berhenti berdebat. Walaupun tak ada yang mendengar, bagi Fathan cukup mengganggu. Tiba-tiba duo F dihampiri beberapa gerombolan murid perempuan.


"Hai"


Fathan melongok sebentar dan kembali pada bukunya. Sedangkan Thian sangat fokus dengan ponselnya.


"Fathan ini buat loe"


Cewek tadi mengulurkan kertas yang telah dilipat sedemikian rupa kepada Fathan. Fathan mengambilnya sambil beranjak pergi diikuti Thian dan KunNo.


"Thanks"


"Jangan lupa dibaca"


Fathan dan Thian berjalan beriringan memasuki kelas. Tak lama bunyi bel tanda pelajaran akan kembali dilaksanakan sudah terdengar. Pelajaran berlangsung dengan khidmat.


Suara bel tanda pelajaran dan sekolah usai telah terdengar. Para murid satu persatu meninggalkan ruang kelas dan bergegas kembali ke rumah masing-masing. Fathan melupakan secarik kertas dari siswi yang menemuinya tadi. Dia dan Thian berjalan dengan santainya menuju gerbang. Saat melewati taman, seseorang meneriaki nama mereka.


"Fathan. Fathian"


Keduanya reflek menengok. Siswi yang memberikan secarik kertas pada Fathan saat istirahat tadi datang menghampiri.


"Loe udah baca kertas dari gue"


"Kertas"


Thian bingung mendengar perkataan siswi tadi. Sedangkan Fathan menjawab dengan santainya dengan tatapan dingin.


"Belum"


"Oh gitu. Pantes gak datang kesini"


Fathan dan Thian saling berpandangan dan berkomunikasi menggunakan tatapan mata mereka. Siswi itu menjelaskan maksud pemberian suratnya saat istirahat tadi.


"Gapapa gak baca. Yang penting loe ada disini. Bisa ngomong bentar kan"


"Hem"


Thian berdiri disamping sang kakak dengan melipat kedua tangannya didepan dada. Mereka sudah paham maksud gadis itu menghentikan langkah kaki mereka. Tak lama taman sudah penuh dengan murid yang lainnya.


"Fathan. Gue udah lama nyimpen rasa sama loe, tapi gue takut buat mengungkapkan. Dan hari ini didepan teman-teman gue. Gue mau bilang ke loe. Fathan mau gak loe jadi pacar gue"


Thian hanya tersenyum miring disudut bibirnya. Sedangkan Fathan masih diam membisu. Hanya suara duo KunNo yang sedang ikut bersorak.


"Acieee. Bos kecil ada yang nembak. Cut cuit"


"Asyekkk. Bakalan ada yang kecewa nih Kun"


"Kali aja hari ini si bos nglindur mau nerima tuh cewek"


"Ambyarrr dunia Kun kalau akhir dari katakan cinta ini diterima"


"Syukuran kita no"


"Hoo. Tumpengan"


Thian menarik rambut kunkun yang berdiri disampingnya. Kunkun paham jika dia harus berhenti mengolok Fathan. Acara katakan cinta dadakan belum selesai. Gadis imut tadi masih belum mendapat jawaban dari Fathan.


"Than. Gue ada coklat dan bunga. Kalau loe Nerima gue ambil coklat ini. Kalau loe nolak gue ambil buket bunga ini"


Terima


Terima


Terima


Tolak


Tolak


Tolak


Ada dua kubu yang saat ini berada dihadapan Fathan. Tanpa berbicara banyak dan tanpa ragu Fathan mengambil buket bunga dihadapannya lalu berbalik meninggalkan taman. Thian mengikuti Fathan begitu juga KunNo. Ternyata dibelakang Fathan sudah menunggu Shaki. Hari ini Shaki menjemput duo F. Atas permintaan Almeer. Karena ada jadwal dadakan. Jika Almeer sendiri yang datang, bisa dipastikan tidak akan bisa membawa keduanya pulang dengan lancar.


"Ini buat kakak saja"


"Ah makasih sayang"


Shaki mengecup pipi Fathan. Thian tersenyum dibelakang mereka. Walaupun Shaki lebih tua dari mereka, namun wajah Shaki tak menunjukkan usia sesungguhnya. Para siswa yang melihat wanita cantik menggandeng mesra bahkan mencium Fathan dihadapan mereka.


"Wah cantik banget"


"Itu pacar Fathan apa"


Siswi yang baru saja menyatakan cinta kepada Fathan langsung berlari menghadang langkah Fathan dan Shaki.


"Jadi ini alasan loe nolak gue than"


"Nggak"


"Terus. Apa alasan loe nolak gue kalau bukan kakak ini"


"Gak ada"


Fathan menggandeng tangan Shaki dan berlalu pergi. Mereka menuju dimana mobil Shaki diparkirkan.


"Kenapa ditolak si than"


"Kakak kan tahu alasannya apa"


"Ya kalau loe gak nyoba. Gak akan pernah sembuh than"


"Kalau bang Al sembuh. Gue juga sembuh"


"Hadeh. Dasar duo aneh"


"Biarin"


Shaki mengantarkan duo F kesebuah studio foto yang bukan diperusahaan Almeer. Thian mulai curiga saat nama sebuah studio foto terpampang sangat jelas.


"Kakak disuruh bang Al ya bawa kita kesini"


"Hehe. Pinter amat sih adik kakak ini"


"Kita end kak"


"Jangan gitu dong. Nanti balik kakak jajanin deh"


"Gak mau. Kita mau pulang saja"


"Yah. Jangan gitu dong kasiani kakak. Ya plis"


"Bang Al kan tau kita gak suka dadakan"


"Iya maaf. Nanti kakak marahin bang Al"


Mereka akhirnya menuruti permintaan Shaki. Shaki mengantarkan duo F dan menemani pemotretan mereka. Bukan Thian jika tak berulah. Satu jam yang lalu ada pemotretan menggunakan perkusi. Dan beberapa alat masih tampak belum dibereskan. Tangan gatal Thian kembali berulah. Thian memukul drum yang ada disana. Mereka sudah menyelesaikan sesi pertama tanpa drama.


Dung dung dung


"Bang Al pergi kepasar"


Dung dung dung


"Bang Al minum kopi"


Dung dung dung


Almeer yang mendengar suara Thian langsung melotot. Sedangkan Shaki sudah tertawa. Almeer mendekati Thian hendak marah. Namun dia urungkan karena kembali menyebutkan namanya.


"Bang Al mau marah"


"Kalau gue marah kesenengen nih curut satu. Gue dikira onyet kali ya"


Almeer berbicara dalam hati sebelum melanjutkan perkataannya. Jika dia marah, maka Thian sangat bahagia mengatainya onyet. Suara drum kembali terdengar.


Dung dung dung


"Siapa yang marah. Gak kok"


"Oh"


Thian merubah nada menjadi ketukan lagu pada drum itu. Mulailah dia berkonser ria. sambil berjoget diikuti oleh para kru dan Almeer pun ikut larut dalam lagu tersebut. Darah Jawa Thian muncul karena dia menyanyikan lagu bernuansa Jawa yang nge-hits.


Awak dewe tau due bayangan


Esok yen wes wayah omah-omahan


Aku moco koran sarungan


Koe blonjo dasteran...


Suara riuh bersautan dari dalam studio. Semua ambyar menjadi satu. Bahkan Almeer melupakan sejenak sifat dinginnya. Pemotretan yang harusnya masih berlangsung tertunda karena konser dadakan dari Thian...


_____


Nanti lanjut setelah nonton konser BTS...🤣🤣🤣🤣 emak mau siap-siap nonton konser dulu


Jangan lupa bahagia gaesss


jempol digoyang yuk