Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Ceker



Pagi hari rumah keluarga Malik sudah diributkan dengan Jay yang mengejar tikus masuk kedalam rumah. Ini rekor pertama tikus masuk rumah sultan. Eneng yang paling heboh.


"Neng kamu kesebelah kanan, saya ke kiri"


"Iya tuan"


Neng membawa sapu sebagai senjata. Eneng bahkan masuk kedalam kolong meja. Tiba-tiba tikus itu melompat keatas kepala Jay.


"Tikus sialan"


Hyattttt. Bugh. Dugh.


"Aduh ampun neng. Sakit kepala saya"


"Dasar tikus sialan. Berani sekali manjat tuan Eneng. Eneng aja belum pernah manjatin tuan"


"Aduh. Stop neng. Tikusnya udah kabur kali"


"Eh maaf tuan"


"Stop gak usah nyari kesempatan neng"


"Yaelah dikit aja tuan. Pelit banget"


Eneng memukul kepala Jay dengan sapu saat melihat tikus itu melompat keatas kepala Jay. Ketika Eneng berhenti memukul kepala Jay, Eneng mencari kesempatan untuk mengusap kepala Jay sebagai rasa bersalah. Namun Jay yang bisa membaca gelagat Eneng, langsung menepis tangan Eneng.


"Dikit-dikit gak boleh. Mau dilempar ke Afrika sama Jasmine kamu neng"


"Jangan dong. Ke Korea aja biara langsung ketemu bebeb Minho"


"Ngimpi kamu neng"


"Kan semua berawal dari mimpi tuan"


"Iya habis itu bangun lenyap semua mimpinya. Hahaha"


"Tuan jahat amat yak"


Arka yang sedari tadi sembunyi karena takut tikus, melihat putra dan pengasuh cucunya adu mulut langsung keluar dari persembunyiannya.


"Kalian debat melulu. Tikusnya udah ketangkep belum"


"Tadi sih udah tuan besar. Tapi sama tuan Jay dilepasin"


"Dilepasin gimana. Kepala saya bisa gegar otak Eneng. Kamu pukulin pakai gagang sapu"


"Eh kalau gegar otak kan bisa emsesia kan tuan"


"Apa itu amsesia"


"Ituloh ilang penyakit ilang ingatan tuan. Masa gitu aja gak tau sih"


"Amnesia kali neng"


"Nah itu Maksud Eneng"


"Kok kamu ngarep banget ya saya amnesia neng"


"Ya kan siapa tau saat amnesia, tuan cuma ingat saya sebagai istri"


"Ih jangan sampai ya. Kalaupun amnesia lupa sama Jasmine, saya mau milih yang kerenan dong neng. Bukan kamu"


Jay tidak menyadari jika Jasmine ada dibelakangnya. Dan Jasmine mendengar semua percakapan kedua duo bobrok itu.


"Oh jadi berharap amnesia ya dad. Biar dapat yang baru. Yang masih fresh lagi gitu"


"Eh mommy. Enggak mom bukan begitu"


"Terus gimana coba Daddy jelaskan"


"Ya gak gimana-gimana kok mom. Tanya Eneng tuh"


"Eneng gak tau apa-apa loh nyah. Beneran Eneng gak bohong"


"Eneng ini semua kan gara-gara kamu tadi bahas amsesia"


"Masa sih tuan. Kayaknya gak deh. Tanya saja tuan Arka nyonya Jasmine"


"Iya bener. Jay ngarang jas. Kita gak bilang apa-apa kok"


"Kalian berdua kenapa malah membalikkan fakta sih. Beneran sayang tadi aku cuma jawab perkataan Eneng"


"Gak usah nyari kambing hitam deh dad. Salah bilang ngaku aja salah"


"Neng. Kamu mau jujur apa saya potong gaji kamu"


"Aduh ancamannya mengerikan"


"Daddy gak boleh seperti itu. Karena Daddy gak mau jujur, nanti malam tidur disofa"


Arka menahan tawanya. Eneng cuek saja asyik memainkan sapunya.


"Awas ya kalian berdua. Tunggu pembalasan saya"


Arka tersenyum disudut bibirnya. Eneng pergi kebelakang sambil bergaya ala model diatas catwalk.


"Neng. Sore nanti ikut saya ke pengajian ya"


"Tapi Eneng gak punya gamis nyah"


"Saya punya banyak dan masih baru nanti saya kasih. Si kembar nanti sore mau diajak ke rumah uyutnya"


"Ya nyah"


Mendengar suara teriakan tukang sayur, Eneng ijin untuk membeli sesuatu. Jasmine memberikan uang untuk Eneng. Eneng keluar melalui pintu samping.


"Mang ada kerupuk mentah"


"Ada teh. Mau berapa"


"Satu plastik saja"


"Okey"


Sang tukang sayur memperhatikan Eneng. Karena memang Eneng jarang keluar rumah.


"Wah geulisnya. Tinggal disini teh"


"Iya mang. Ada ceker ayam tidak mang"


"Ada. Mau berapa biji"


"Lima saja"


Eneng mengambil beberapa bahan yang diinginkannya. Sang tukang sayur terus menatapnya. Datang beberapa asisten rumah tangga yang bekerja dikomplek tersebut.


"Wah ada pendatang baru nih, kenalan dulu dong"


"Oh iya. Nama saya Eneng"


"Gue onah"


"Gue Tina"


"Gue tari. Loe kerja dimana neng"


"Disitu kak"


"Iya kak. Ya sudah Eneng masuk dulu"


"Besok Minggu loe ikut senam ya neng ditaman depan"


"Iya kak"


Eneng masuk kedalam rumah dan langsung ingin mengeksekusi bahan yang sudah dibelinya. Jasmine dan Jay sedang duduk santai ditaman sambil menimang si kembar.


"Darimana neng"


"Beli bahan buat seblak nyah"


"Kamu mau bikin seblak neng"


"Iya tuan"


"Boleh dong satu"


"Asyiap"


Eneng masuk dapur dan menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Baik Melany maupun Jasmine tak pernah melarang pegawainya menggunakan peralatan dapur dan juga bahan-bahan yang tersedia dirumah.


Setelah semua bahan siap, neng langsung memasak seblak yang diinginkannya. Cabe yang Eneng pake tak tanggung-tanggung langsung level lima belas"


Aroma cabe dan bumbu-bumbu seblak menguat dari dalam dapur. Jay dan Jasmine yang duduk lebih dekat dari dapur tak bisa menahan bersinnya.


"Eneng kamu masak cabe berapa kilo sih. Pedes banget ini"


Eneng yang tak mendengar teriakan jay, tetap melanjutkan memasak seblak ya. Setelah matang, Eneng menyiapkan kedalam mangkuk dan dibawa ketaman belakang.


"Ini tuan sudah matang seblak ya"


Melihat warna merah yang menyala membuat Jasmine dan Jay melotot ngeri. Namun juga penasaran dengan rasanya.


"Kamu bikin seblak apa sih neng merah banget"


"Seblak setan tuan"


"Setan sih setan tapi jangan lihat kesayangan juga bilang setannya"


"Ya maap tuan, kan Eneng cuma jawab. Sensi amat sih"


"Ini aman kan neng"


"Jelas amanlah tuan. Eneng sebelum masak berdoa dulu. Kalau gak percaya ini Eneng makan"


Eneng menyuap seblak ya. Sensasi pedas yang membuat ketagihan langsung dirasakan oleh Eneng.


"Mantap jiwa"


Jay langsung menyuap seblak itu karena benar-benar penasaran dengan rasanya.


"Gila ini pedes banget neng. Berapa kilo cabenya neng"


"Cuma seons rawit seons merah gede tuan"


"Kamu mau bikin saya sakit perut neng'


"Ya kalau tuan gak mau gak usah dimakan"


"Enak saja. Kalau Uda dikasih harus ikhlas neng gak boleh diminta lagi"


"La tadi katanya takut sakit perut tuan"


"Siapa yang bilang. Ngarang kamu"


Jay terus saja menyuap seblak itu sambil meluapkan kekesalannya karena sensasi pedas yang begitu menggoda hingga tak bisa berhenti. Jay mengambil ceker didalam mangkok Eneng. Karena miliknya sudah habis.


"Tuan itu punya Eneng"


"Heleh bagi satu"


"Itu dua tuan"


"Ya kan namanya ceker sepasang neng. Kalau satu cacat ayamnya"


"Terus Eneng gimana. Eneng kan juga belum puas makan cekernya tuan"


"Nih ceker saya nganggur"


"Maksudnya, saya suruh ngunyah ceker tuan"


"Kalau mau. Premium loh neng"


"Sampai hari raya kambing Eneng ogah tuan. Nyonya tuan tuh"


"Daddy jangan nakalin anak kecil dong"


"Daddy gak nakal. Daddy cuma minta ceker"


"Kan tadi Eneng udah ngasih bagian ke Daddy. Kasian Eneng dong"


"Halah cuma ceker saja. Besok saya belikan satu pabrik"


"Emang ada pabrik ceker tuan"


"Adalah. Segala jenis ceker pun ada"


"Yang benar tuan. Ceker gajah ada tuan"


"Emang gajah punya ceker neng"


"Lah katanya semua ceker tuan"


"Coba saya tanya. Gajah berapa jumlah jarinya"


"Hmmm emang gajah punya jari nyah"


"Gak tau neng saya belum pernah lihat"


"Emang tuan pernah lihat gajah punya jari"


"Pernah"


"Berapa emangnya tuan"


"Lima"


"Masa"


"Beneran. Gak percaya kamu neng"


"Gak tuan"


"Lihat orang yang sakit kaki gajah, lima kan jarinya"


"Ini Eneng yang bego apa tuan yang kelewat pinter sih"


________


Eh Mak mau ucapin makasih atas dukungannya buat Eneng, dia dapat level loh. Dukung terus yah..


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempolnya digoyang yuk