Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Besar kepala



"Kalian nanti setelah lulus putih abu-abu mau ambil jurusan apa waktu kuliah"


"Masih lama pah. Baru juga putih biru"


"Setidaknya direncanakan dari sekarang dek"


"Abang maunya apa"


"Kok Abang. Papa tanya kamu dek"


"Dimana ada Abang. Disana ada Thian"


Airil berdehem pelan dan kembali bertanya kepada Fathan tentang cita-citanya nanti. Airil tidak pernah membatasi kedua putranya asal itu masih dijalan yang benar. Apapun yang membuat mereka nyaman, Airil pasti menyetujui keinginan mereka.


"Hmmm. Ya sudah Abang mau apa"


"Dokter bedah pah"


"Pengen kayak papa dong"


"Heem. Kan keren pah bisa lihat isi dalam manusia. Bukan hanya luarnya saja"


"Maksud Abang organ tubuh manusia gitu"


Bukan Fathan yang menjelaskan namun Thian. Thian mengatakan apa yang sebenarnya ingin Fathan ucapkan.


"Gini loh pah maksud Abang. Ada kata pepatah mengatakan. Dalamnya air laut bisa diukur. Dalamnya hati manusia siapa yang tahu. Jadi Abang ingin melihat hati manusia yang baik itu seperti apa"


Airil langsung melotot mendengar penjelasan Thian. Airil langsung bertanya kepada Fathan tentang perkataan Thian.


"Benar gitu bang"


"Ya seperti itu"


Airi bergumam pelan agar tidak terdengar kedua putranya.


"Kirain udah normal. Eh ternyata..."


Mereka bertiga sedang menghabiskan waktu bersama untuk sekedar berbicara hal-hal sepele. Itu mempererat kedekatan mereka. Si kembar juga sering bercerita tentang sekolah mereka dan teman-teman mereka. Bahkan Airil juga tau jika Fathan banyak penggemarnya.


"Pah. Thian mau minta ijin dong"


"Mau apa dek"


"Tian mau belajar menyulam"


"Menyulam. Memangnya kamu pengen jadi designer dek. Kok belajar menyulam"


"Kan Abang mau jadi dokter bedah. Thian mau belajar menyulam biar nanti saat selesai operasi jahitan mereka terlihat indah"


Airil semakin keheranan dengan ide anak bungsunya itu. Bahkan rasanya ingin dia berteriak keras. Namun hanya tawa yang keluar.


"Hahaha. Emangnya adek kira bikin jahitan orang operasi sama kayak jahit baju gitu. Kita itu jahit pakai benang khusus adek. Dan gak mungkin bisa dibuat motif"


"Ck. Makanya Thian mau belajar menyulam. Siapa tau ide Thian bisa terwujud"


"Pusing papa sama ide adek"


Mereka duduk bersantai diteras depan menikmati sore hari yang syahdu. Si kembar baru menyadari jika sudah beberapa hari bodyguard ekslusif mereka tidak nampak.


"Adek. KunNo kemana kok gak kecium baunya"


"Gak tau juga bang"


Airil yang mendengarkan percakapan keduanya ikut menimpali. Walaupun tidak terlalu sering berinteraksi dengan KunNo, Airil juga merasa aneh jika mereka tak ada disekitar mereka.


"Iya papa juga merasa es krim dikulkas aman"


"Apa sudah dapat majikan baru mereka"


"Memangnya mereka mau pindah kemana dek"


"Kemarin KunNo merajuk pah, bang"


"Merajuk kenapa"


"Thian kan penasaran, kalau misal Ono di make over bisa jadi tampan gak"


"Terus. Loe make over beneran dek"


"Hoo. Gue ambil make up mama"


Airil dan Fathan semakin penasaran dengan perkataan Thian. Mereka semakin kepo dan mendekat kearah Thian.


"Terus Ono gimana dek"


"Ono gak mau. Ya udah Thian paksa. Thian kasih lipstik warna pink. Pakai blas on. Terus eye shadow itemnya, Thian ganti warna biru muda. Tambah efek gliter blink blink gitu deh"


"Jangan bilang loe kasih bulu mata palsu mama juga dek"


"Iyalah. Kan biar keren. Alisnya gue gambar pakai cetakan garpu kak. Pokoknya cetar membahana"


"Buahahahahaha. Tak terbayangkan seperti apa wajah Ono"


"Benar bang. Nasibmu no"


"Kunkun gak sekalian dek"


"Kunkun juga kok pah"


"Kamu apakan"


"Rambutnya Thian kuncir dua tinggi gitu. Pakai efek sanggul kecil diatasnya. Terus poninya Thian roll. Habis itu make up nya semua warna cerah. Satu lagi rambut kunkun Thian cat warna kuning. Keren pokoknya"


"Adek kira kunkun sailor moon apa"


"Maunya dibikin gitu bang"


"Tapi kan kuku kunkun panjang dek"


"Gue mani pedi kemarin. Mama kan ada alatnya. Terus gue potong kukunya biar rapi"


"Gak sekalian dikasih rok mini dek. Hahaha"


"Sayangnya gak ada"


"Hahahaha. Pantes mereka ngambek. Papa yakin mereka sekarang sedang sembunyi. Haha"


"Iya pah. Abang yakin mereka masih belum menerima kenyataan yang ada. Hahaha"


Airil semakin penasaran dengan passion Thian. Anak yang bisa disebut serba bisa. Dan semua dia belajar secara otodidak melalui tuyub. Beberapa waktu yang lalu saat ban sepeda dia bocor, Thian menambalnya sendiri menggunakan peralatan seadanya. Sedok dan garpu sebagai alat untuk mengeluarkan ban dalam.


Namun karena hal itu, ekspektasi Thian semakin jauh melayang. Saat ban mobil Airil bocor, Thian ingin menambal dengan cara yang sama. Beruntung Airil melihat dan menasehati. Bisa dibayangkan bagaimana cara melepas ban mobil menggunakan sendok dan garpu.


Beberapa ilmu juga dikuasai Thian. Ilmu berdagang, ilmu bernegosiasi dan terutama ilmu merayu gadis. Thian paling ahli. Karena ilmu rayuan mautnya, pernah membuat Thian takut keluar rumah. Thian merayu anak gadis yang baru saja pindah ke kompleks mereka. Tak tahunya gadis itu benar menyangka jika Thian jatuh hati kepadanya. Setiap hari dia datang mencari Thian. Bahkan Thian sudah menjelaskan jika dia hanya bercanda. Namun gadis itu tetap mengejar Thian. Thian ketakutan dan tak berani keluar rumah. Sampai gadis itu akhirnya pindah kembali.


Mereka melanjutkan cerita disore yang indah itu. Eneng sedang pergi mengikuti majelis taklim bersama Jasmine dan Icha.


"Pah. Kapan kerumah Oma"


"Nenek emak"


"Hoo. Kapan pah. Thian kangen"


"Dua hari lagi papa libur. Bagaimana kalau hari itu saja"


"Asyik. Beneran ya pah"


"Insyaallah. Lagian sudah lama memang nenek emak tidak kesini"


"Apa Oma sakit"


"Tidak. Hanya saja sedang malas katanya"


"Pah boleh ajak KunNo"


"Ajaklah jika mau"


"Huh. Gak nongol sampai besok. Berarti sudah tidak mau kerja sama kita lagi"


"Hahaha. Kamu sih dek jahil"


Malam menjelang. Apa yang dikatakan Thian sore tadi kepada Airil, benar-benar dia lakukan. Thian sedang belajar menyulam. Walaupun otodidak dia cepat sekali belajar. Baru beberapa jam belajar, Thian berhasil membuat satu topi. Hasil karyanya dia tunjukkan kepada kedua orangtuanya.


"Mama. Lihat hasil sulaman Thian"


"Wah bagusnya. Buat siapa ini dek"


"Buat Oma"


Eneng kembali memeriksa topi sulaman Thian secara teliti. Topi yang berukuran sebesar kepala bayi memang sungguh indah.


"Dek. Kalau ukurannya cuma segini, bukan kepala Oma yang masuk. Tapi kepalan tangan Oma"


"Wah berarti harus dibesarkan dong mah"


"Iyalah. Ukuran Oma itu lima kali lebih besar ukuran normal"


"Pantes Oma sombong"


"Lah kok ngomong Oma sombong dek"


"Kan besar kepala. Artinya sombong"


"Bukan itu juga kali dek. Itu besar kepala dalam artian sesungguhnya"


"Sama saja. Sama-sama besar kepala. Buka kepala besar"


"Terserah kamu sajalah. Capek mama"


_______


Thian amazing....


Jangan lupa jempolnya gaesss


Jangan lupa bahagia